Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Penculik Vivian


__ADS_3

"Vi..., udah enakan?" tanya Meilan saat melihat Vivian keluar dari kamar mandi.


"Emm." Vivian mengangguk sambil tersenyum.


"Cepatlah, semua menunggu kita untuk sarapan." kata Meilan sambil memeriksa isi tasnya. Karena dia akan berangkat kerja.


"Aku nggak enak sama keluarga kakak. Udah sangat merepotkan." Vivian tertunduk malu.


"Enggak kok. Kamu jangan khawatir." Meilan tersenyum.


Raka terkejut saat melihat kakaknya turun tidak sendirian. Karena ketika mereka pulang, Raka sudah berada di alam mimpi.


"Siapa, yah?" bisik Raka.


"Vivian." jawab sang ayah.


Mereka menikmati sarapan bersama. Vivian merasakan sesuatu yang membuat hatinya menghangat.


"Vi..., dimakan dong." suara bu Nadin membuyarkan lamunannya.


"Ah, iya bu."


"Pasti kamu tidak biasa makan seperti ini ya. Sarapan hanya pakai sayur bening dan ikan goreng." ujar Meilan.


"Sarapannya pasti roti." sahut pak Romi disusulan kekehan kecil.


"Ini enak kok. Apalagi makannya sama-sama." balas Vivian sambil tersenyum.


Setelah sarapan, semua berangkat tempat tersibuk mereka. Meninggalkan bu Nadin dan Vivian. Sementara Meilan izin datang terlambat ke kantor, karena dia akan pergi ke sekolah Vivian. Diam-diam dia membuka isi tas Vivian saat empunya tertidur lelap. Dia mengambil gambar ID card milik Vivian.


Jarak dari rumah ke sekolah Vivian ternyata cukup jauh. Dia harus oper bus dua kali, lalu jalan kaki menuju lokasi.


"Akhirnya..., demi anak orang gini amat ya...!!"


Baru saja Meilan menghela nafas setelah lelah berjalan, tiba-tiba dua orang tidak dikenal menyeretnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Lepas!!" teriak Meilan.


"Dimana kamu sembunyikan Vivian?!" pertanyaan itu membuat Meilan terkejut sesaat.


Meilan memperhatikan satu per satu makhluk serba hitam di dalam mobil. Di sampingnya, orang yang menanyakan Vivian. Dia sangat tampan, rapi dan wangi. Meilan yakin ini bosnya.


"Dalang penculikan Meilan?!"


Lalu drivernya adalah pria besar semalam. Dan di luar ada dua lagi, yang tadi menyeretnya.


"Katakan dimana Vivian?!" katanya lagi.


"Aku nggak kenal Vivian." bantah Meilan.


"Orang aku mau mulangi Vivian, kenapa harus kasih tau dimana dia pada kalian."


"Dia bersamamu malam itu." balas orang itu.


"Ya terus dia pulanglah. Ngapain ikut sama aku? Bukan ibunya ini." sahut Meilan sekenanya.


"Tapi dia tidak sampai di rumah!" suara itu meninggi.


"Rumaaah...?!" gumam Meilan.

__ADS_1


"Dia tidak ada di rumah. Katakan, sama siapa dia pergi? Kamu tau orangnya?" pertanyaan itu membuat Meilan bingung.


"Tunggu, kamu ini sebenarnya siapa?" tanya Meilan balik.


"Kakaknya."


"Dih, dia pikir aku percaya..."


Seketika Meilan menutup mulutnya. Ketika orang disampingnya menunjukkan fotonya bersama Vivian dan kedua orang tuanya. Orang yang dia pikir penculik Vivian, ternyata adalah kakaknya.


Saat itu juga Meilan membawa mereka ke rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua mata menatap dua mobil mewah asing yang beriringan. Terlebih saat mobil berhenti di depan rumah Meilan. Seorang pria membuka pintu belakang, lalu keluarlah lelaki dengan setelan kerja serba hitam. Dia adalah Devan, kakak Vivian. Disusul kemudian oleh Meilan.


"Si Meilan itu..."


"Itu siapa?"


"Pacar barunya kali..."


"Lebih kaya dari yang kemarin ya..."


"He'em. Diselingkuhi, eh sekarang dapat yang lebih. Beruntungnya Meilan ya*..."


Suara itu samar, tapi masih bisa di dengar oleh Meilan. Meilan kembali merasakan sakit yang sebelum sepenuhnya sembuh.


"Kak..." Vivian berlari menuju kamar Meilan.


"Vian!!!" seru kakaknya.


"Kenapa adikmu lari?" Meilan menyipitkan matanya.


"Tolong panggil dia untuk turun!" titah Devan.


"Katakan dulu. Biar aku ngerti ada apa." balas Meilan.


"Mei..." bu Nadin menggelengkan kepalanya. Sebagai kode bahwa sikap Meilan itu tidak dibenarkan.


"Bu, pasti ada apa-apa ini. Sampai dia mengaku diculik sama orang yang sebenarnya satu rumah sama dia. Terus dia juga lari lihat kakaknya." Meilan berusaha membela diri.


"Tapi kita orang luar, tidak bagus ikut campur urusan keluarga orang lain." ujar bu Nadin dengan bijak.


"Nak Devan, silakan susul sendiri ke atas. Tapi tolong jangan buat keributan ya. Di sini padat penduduk, khawatir ada yang terganggu."


"Iya, bu. Terima kasih. Permisi."


Devan naik ke lantai 2. Ada dua kamar dengan pintu tertutup. Devan bingung adiknya berada di dalam kamar yang mana.


"Di situ." suara itu membuat Devan menoleh.


Ya, Meilan disuruh ibunya naik, untuk menunjukkan kamarnya. Devan mengangguk. Kemudian Meilan kembali turun.


"Mau apa kakak kemari?!" ucap Vivian ketus.


"Menjemputmu. Ayo kita pulang!" balas Devan.


"Aku mau di sini!" Vivian sama sekali tidak mau melihat kakaknya.

__ADS_1


"Ini bukan rumah kita, jangan merepotkan orang. Ayo bawa barangmu!" titah Devan tapi tetap dengan nada lembut.


"Aku nggak mau..., hiks..., hiks...!!" Vivian menangis, lalu Devan memeluknya.


"Ini bukan rumahmu, Vian. Pulang sama kakak ya." katanya.


"Itu bukan rumah, itu kuburan. Nggak ada siapapun." ujar Vivian di sela isak tangisnya.


"Ada kakak, ada bibi, paman, dan yang lain juga kan."


"Siapa mereka? Mereka hanya pekerja yang dibayar. Dan kakak." Vivian menghentikan kalimatnya. "Kakak selalu sibuk dengan pekerjaan. Sama dengan mami dan papi."


"Sssstt..., kakak janji setelah ini akan lebih banyak waktu buat kamu." bujuknya.


"Aku nggak percaya! Kakak pulang saja. Aku masih mau di sini. Aku akan bayar semuanya, biar mereka nggak ngerasa direpotka." putus Vivian.


"Vian, tidak semua bisa diselesaikan dengan uang." ujar Devan.


"Dengarkan kakak! Please..., sekali ini saja!!" Devan mengubah posisi jadi jongkok di lantai dengan bertumpu pada salah satu lututnya. Dan tangannya menggenggam erat tangan sang adik.


"Apa kamu tau keluarga ini baik-baik saja? Bagaimana kalau sebenarnya mereka sedang memikul beban berat. Dan kamu datang menambah beban mereka." Devan mengatakan hal itu lantaran dia sempat mendengar tetangga yang bergunjing saat dia tiba.


"Kita selesaikan masalah kita di rumah, ya?!" ujar Devan kemudian.


Tak lama kemudian mereka berdua turun. Vivian sudah membawa tasnya.


"Kak Meilan, ibu. Terimakasih..." katanya.


"Iya, nak. Sama-sama." bu Nadin mengusap rambut Vivian.


"Jangan kabur-kaburan lagi!" ujar Meilan sambil menggoda Vivian. Vivian hanya tersenyum tipis.


"Maaf merepotkan semuanya." Vivian menundukkan kepalanya.


Baru beberapa langkah keluar dari rumah, Vivian kembali sambil berlari. Dia memeluk Meilan dan bu Nadin.


"Aku boleh main-main ke sini lagi?" pintanya bersungguh-sungguh.


"Tentu, nak." balas bu Nadin.


Meilan mengangguk sambil mengacak-acak rambut Meilan.


"Telepon dulu sebelum datang ya!" pesan Meilan.


"Iya, kak!" jawab Vivian patuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berat sekali kaki Vivian melangkah masuk ke rumahnya sendiri. Mewah tapi sangat sepi. Beda dengan rumah Meilan. Sederhana tapi penuh kehangatan. Bahkan dia bisa tidur sangat nyenyak di kamar Meilan, meski kasurnya tak seempuk miliknya. Mandi tanpa bathtub, dan aroma terapi pun bukan masalah baginya.


"Rindu rumah kak Meilan..."


Vivian memeluk tubuhnya sendiri, saat ingat bagaimana nyamannya pelukan Meilan dan ibunya. Vivian tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka menerima orang asing sepertinya?...


Tiba-tiba Vivian teringat sesuatu. Dia menghubungi Fadil. Si pria besar yang malam itu mengejarnya.


"Cari tau soal kak Meilan. Semuanya, jangan sampai ada yang terlewat!" titahnya.


Vivian tersenyum penuh harap. Kemudian dia merebahkan diri di kasur king size berbalut seprei nuansa pink.

__ADS_1


__ADS_2