
Devan tampak sedang melamun di meja kerjanya. Dia sibuk memikirkan cara untuk bisa bertemu lagi dengan Meilan. Sedangkan adiknya saat ini sibuk belajar untuk ujian akhir semesternya. Jadi dia tidak pernah minta diantar ke rumah Meilan lagi beberapa minggu ini.
Bisa dikatakan sejak pesta itu mereka belum bertemu kembali. Dan itu membuat Devan jadi...
"Kenapa aku ingin sekali melihatmu lagi...??"
Di tempat yang berbeda, tepatnya di kantor Meilan. Tiba-tiba hidung Meilan terasa gatal dan beberapa kali bersin.
"Kenapa Mei?" tanya Faiz.
"Tau nih, gatel banget." Meilan mengusap hidungnya dengan tisu.
"Ada yang kangen kaliiii..." ucapan Faiz itu sukses menciptakan tatapan mata setajam ujung pisau yang siap menghunus Faiz.
"Kaliii, Mei. Gitu amat...!!" sahut Faiz. "Sensi banget..." gumamnya, tapi masih bisa didengar Meilan.
Kembali ke Devan...
"Bos..." tidak ada jawaban. "Bos Devan..."
Devan kemudian menoleh. Ternyata Mario sudah berada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Devan.
"Satu jam lagi ada pertemuan dengan PT. Tiara Mas. Mau berangkat sekarang? Biar mobil disiapkan." kata Mario.
"Siapkan. Kita berangkat 15 menit lagi."
"Baik!" Mario keluar dari ruangan bosnya.
"Ada apa?" tanya sekretaris Dewi saat melihat wajah Mario diliputi kebingungan.
"Bos kenapa ya? Belakangan suka melamun." bisik Mario.
"Tanyain dong, kamu tanya aku terus aku tanya siapa?" balas Dewi.
"Kali aja tau, kan cewek biasanya biang ghoship." celetuk Mario.
"Mulutnya..., ganteeeeng banget!" Dewi geregetan.
Tak lama setelah Mario pergi, bosnya keluar dari ruangan.
"Saya akan pergi dan sepertinya nanti langsung ke rumah. Jadi kalau ada yang mencari, minta dia kembali besok."
"Baik, bos." jawab Dewi patuh.
"Tumben nggak balik lagi...??"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama dalam perjalanan, Devan hanya diam dan lebih sering memantau layar handphonenya. Dan itu sangat aneh. Karena biasanya dia akan ngobrol dengan Mario sang asisten tentang pembahasan di pertemuan yang akan didatangi.
"Bos..." panggil Mario.
"Hem..." hanya deheman.
"Bos sedang tidak enak badan?" Mario memberanikan diri untuk bertanya.
Mario adalah orang yang ditunjuk oleh tuan Bramasta, untuk mendampingi putranya sejak terjun dalam bisnis keluarga. Selain membantu Devan dalam pekerjaan, dia juga bertanggungjawab atas kondisi Devan dan Vivian. Termasuk kesehatan mereka.
"Tidak." jawabnya singkat. Mario hanya mengangguk.
"Kalau ada sesuatu yang mengganggu, bos bisa cerita. Siapa tau saya bisa bantu."
Devan melirik Mario sekilas. Mario lebih tua 2 tahun dari Devan. Tidak dapat dipungkiri, Mariolah yang kerap kali membantu Devan dalam berbagai urusan.
"Kamu pernah bertemu seseorang, dan tiba-tiba tidak bertemu lagi. Tiba-tiba dia mengganggu pikiranmu, dan kamu..." Devan tidak melanjutkannya.
"Merindukannya..." Mario tersenyum. Seolah tahu apa yang sedang terjadi pada bosnya.
"Rindu...??" Devan tertegun.
"Aku pernah merindukan mami dan papi, Vivian. Tapi tidak sama seperti ini."
"Apa ini soal nona Meilan?" terkaan yang tepat. Devan menoleh ke arah Mario.
"Saya hanya menebak bos. Karena sejak acara pesta itu, sepertinya bos sangat sibuk dan mungkin tidak pernah bertemu dengan nona Meilan lagi." Mario mengurai pemikirannya.
Sayangnya obrolan mereka terpaksa dihentikan, karena sudah sampai di restoran tempat pertemuan.
Pertemuan itu berlangsung hampir 2 jam. Mario mendekati meja kasir ketika klien bosnya sudah meninggalkan restoran itu.
"Apa ada yang kurang?" tanya Mario.
__ADS_1
"Mohon ditunggu." balas pegawai itu dengan sopan.
Mario membalikkan badannya sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut kafe.
"Nona Meilan..." gumamnya saat menemukan sosok Meilan di salah satu meja.
"Permisi, pak."
"Iya, sudah?" tanya Mario balik.
"Iya."
"Terimakasih." Mario kemudian kembali ke ruangan VIP dimana bosnya masih berada di sana.
"Bos bisa tolong tunggu di depan. Saya mau ke toilet sebentar." kata Mario saat mereka menuruni anak tangga.
Devan hanya mengangguk, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar. Sementara Mario tidak benar-benar pergi ke toilet. Dia mengintip bosnya dari balik dinding penyekat menuju toilet.
Seperti prediksi Mario, bosnya benar-benar bertemu Meilan.
"Untung tidak terlambat."
Mario mengirim pesan agar bosnya pulang sendiri, karena dia bertemu familinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pulang sama siapa?" tanya Devan.
"Sendiri." jawaban singkat dari Meilan membuat Devan tersenyum.
"Aku antar." katanya.
Meilan tidak langsung menjawab, dia melihat jam tangan terlebih dulu.
"Boleh." katanya kemudian.
Sesekali Meilan melirik Devan. Dia melihat ada yang berbeda dari kakak Vivian itu.
"Kamu sakit, Dev?" tanya Meilan sambil mengubah posisi duduknya agar bisa melihat Devan lebih jelas.
"Tidak. Kenapa semua orang sering menanyakan itu?" balas Devan diikuti kekehan kecil.
"Beda aja, nggak kayak terakhir kita ketemu." ucap Meilan. "Kurang fresh aja." imbuh Meilan.
Meilan tersenyum, bahkan sedikit tertawa mendengar jawaban dari Devan.
"Nggak salah sih kalau mereka bilang kamu workaholic." katanya.
"Bagaimana dengan kamu. Bukankah kita sama?" Devan pun tersenyum.
"Bedalah. Kamu bos. Aku hanya pegawai biasa. Aku giat kerja karena itu memang tugasku. Kamu kan punya anak buah, harusnya bisa lebih santai dong."
"Bisa saja kamu."
"Mampir mini market bentar ya." pinta Meilan. Devan mengangguk patuh.
Devan pun ikut turun bersama Meilan. Devan mengambil beberapa minuman segar. Sedangkan Meilan mengambil beberapa masker wajah.
"Sama saja dengan Vivian."
Devan tersenyum dalam hati. Lalu Meilan mengambil beberapa coklat kesukaan Vivian.
"Jadikan satu mbak." kata Devan.
Meilan menoleh pada Devan yang berdiri di sampingnya. Meilan hanya bisa menghela nafas.
"Padahal aku niatnya kasih kamu dan Vivian. Kenapa jadi kamu yang bayarin?" gerutu Meilan setelah mereka berada di luar.
"Bukannya ini buat kamu?"
"Aku beli makser ini buat kamu, dan coklatnya buat adik kamu."
Braaakk!!!
Semua orang menoleh pada sumber suara. Ternyata ada tabrakan di depan mini market.
"Ya ampun..." gumam Devan.
"Aaahh...!!!" Meilan berteriak ketakutan.
Bersamaan dengan teriakan itu, dia menjatuhkan botol minuman dari Devan. Dan menenggelamkan wajahnya di dada Devan. Pasalnya salah satu korban dibawa ke pos security depan mini market. Kaki korban luka parah dan berlumuran darah.
"Ssstt..., tidak pa-pa." Devan mengusap lembut rambut Meilan. "Ayo!" dia menuntun Meilan masuk dalam mobil.
__ADS_1
"Minum dulu." kata Devan setelah keduanya berada dalam mobil.
Nafas Meilan masih memburu, tubuh masih bergetar. Devan meraih tangan Meilan saat itu. Dan mengusapnya, berharap bisa membuat Meilan lebih tenang.
"Kita pulang?" tanya Devan dengan nada lembut. Dan direspon dengan anggukan oleh Meilan.
Devan mengambil arah lain untuk pulang. Sebelum jalanan semakin macet dan membuat Meilan semakin tidak nyaman. Sepanjang jalan tangan kiri Devan terus menggenggam tangan kanan Meilan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya...
Devan :
Sudah tidur?
Meilan :
Belum
Devan :
Tidurlah ini sudah sangat larut. Jangan bilang kamu masih takut.
Meilan :
Itu mengerikan Dev...
Devan :
Lupakan, cepat tidur. Atau aku akan datang ke rumahmu menunggu sampai kamu tertidur.
Meilan tidak lagi membalas cuitan Devan. Tubuhnya meremang saat mengingat kejadian sore itu. Dia kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tak lama kemudian pintu kamar Meilan sedikit terbuka. Raka mengintip sang kakak.
Raka :
Sepertinya kakak tidur
Devan :
Baiklah. Thanks bro
"Udah pada tua gayanya kayak abg." cicit Raka, lalu dia kembali ke kamarnya. Melanjutkan jam tidur yang sempat terganggu.
Pagi harinya...
"Tidur nyenyak, kak?" tanya Raka.
"Lumayan." Meilan melihat adiknya masih yang masih memakai kaos oblong dan celana kolor.
"Nggak sekolah?" tanya Meilan setelahnya.
"Kan libur. Baru selesai ulangan." balas Raka.
"Oh..."
"Udah kasih kabar pacarnya?" tanya Raka.
"Pacar???!"
"Iya, kak Devan. Dari kemarin dia ngawatirin kakak. Sampai malem-malem aku suruh lihatin kakak udah tidur apa belum. Katanya kakak kemarin ketakutan..." Raka tidak melanjutkan ceritanya.
Raka tahu kakaknya itu sangat takut melihat kecelakaan. Sejak dia jadi saksi mata kecelakaan yang menimpa omnya, adik pak Romi.
"Dia bukan pacar kakak." balas Meilan. Lalu menuruni anak tangga.
"Yakiinn...??" goda Raka. "Padahal kalian itu best couple. Ganteng dan cantik."
"Rakaaa..." geram Meilan.
"Emang kenyataannya iya." Raka tidak menyangkal hal itu. Dia selalu bangga memiliki kakak seperti Meilan. Cantik dan baik.
"Ayah dan ibu juga merestui kalau kalian bersama. Ayo kak..., gaskeun...!!!" celoteh Raka.
"Diam, nggak...??!!!" titah Meilan.
"Heeeii..., apa sih ini? Pagi-pagi sudah debat." sahut sang ayah.
Raka hanya tertawa, dia senang sekali menggoda kakaknya. Sementara Meilan sudah hampir menjewer telinga Raka, kalau saja ayahnya tidak muncul tiba-tiba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1