Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Anak Siapa?!...


__ADS_3

Luna langsung datang mengunjungi Meilan setelah dia mendengar kabar kalau Meilan sedang hamil. Meilan yang sudah resign sejak dia menikah, membuat keduanya tak sering bertemu. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon.


"Apa dia sangat rewel?" tanya Luna.


"Tidak sama sekali." jawab Meilan. "Apa mungkin belum ya...?" Meilan mengusap perut ratanya.


"Luna, nanti makan siang di sini ya." mami Siska datang membawa camilan untuk disuguhkan.


"Jadi ngerepotin, tan."


"Sama sekali tidak. Malah tante senang, rumahnya ramai." katanya. "Tante tinggal dulu ya, mau lanjut nata kamar. Ponakan mau datang."


"Iya, tante. Terimakasih."


"Si Fero mau datang. Nanti aku kenalin, siapa tau jodoh."


"Diih.., kayak aku saking nggak lakunya." balas Luna.


"Bukan gitu, Naa... Kan kalau jodoh kita jadi saudari." Meilan menyenggol bahu Luna.


Iya, hari ini Fero datang berkunjung. Nenek menyuruhnya mengantar buah untuk Meilan. Kebetulan pohon jambu di belakang yayasan berbuah lebat.


"Ya ampun..., sebanyak ini?!!" Meilan terkejut karena Fero membawa satu kardus buah jambu.


"Itulah nenekmu. Untung nggak sama pohonnya dibawa." balas Fero.


"Eh, dia nenek kamu juga." sahut mami Siska.


"Tidak usah diperjelas, tante..." Fero melihat sebuah tas di atas sofa. "Ada tamu ya?" tanya Fero.


"Ada temanku." kata Meilan. "Itu dia." Meilan menunjuk Luna yang baru dari kamar mandi.


Mereka pun saling berkenalan.


"Mau jualan apa gimana ini?" celetuk Luna saat melihat buah di dalam kardus.


"Anggap saja begitu." sahut mami Siska.


Obrolan, canda, dan tawa tercipta begitu saja. Membuat rumah mewah itu jadi lebih hidup. Tidak dapat dipungkiri, sejak kehadiran Meilan, rumah keluarga Devan jadi lebih hangat dan berwarna. Begitulah yang dirasakan para pekerja di rumah itu.


"Bibi, tolong pisahin buahnya biar dibawa pulang Luna, ya." pinta Meilan dengan sopan.


"Baik, nyonya."


"Ini terlalu banyak, bibi bisa bagi-bagi sama yang lain juga. Sayang nanti kalau nggak kemakan."


"Iya. Nyonya mau makan rujak jambu? Nanti bibi buatkan."


"Boleh. Nanti kita buat sama-sama." kata Meilan.


"Mau dibagikan?" tanya Fero yang tiba-tiba masuk ke dapur.


"Iya, sebagian biar dibawa Luna."


"Sudah mau pulang?" tanya Fero lagi. Meilan mengangguk.


"Mau nganterin nggak. Biar nggak naik taksi?" Meilan memulai aksinya.


"Emang mau?" Fero sedikit ragu.


"Mau. Aku akan bilang padanya." jawab Meilan.


Meilan membawa buah yang sudah disiapkan bibi, lalu menemui Luna.

__ADS_1


"Naa, kamu makan nanti sama anak-anak di sana." ujar Meilan. "Fero mau keluar juga katanya. Kamu bisa bareng dia."


Luna melirik temannya itu. Dia bisa menebak apa yang sedang Meilan rencanakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beda rumah tangga, beda cerita. Jika Meilan dilimpahi banyak kasih sayang dan perhatian. Berbanding terbalik dengan kondisi rumah tangga Raisa dan Nando.


Raisa frustasi karena belakangan ini Nando lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja. Seperti saat ini, sudah jam delapan malam tapi Nando belum juga pulang.


Raisa yang sedang menunggu di ruang tamu sambil menonton drama favoritnya, tiba-tiba merasa sangat mual. Dia berlari ke wastafel untuk memuntahkan sesuatu. Tetapi yang keluar hanya cairan putih kekuningan.


"Pusing banget..." Raisa merintih.


Tubuhnya tiba-tiba goyah ketika akan masuk ke kamar. Beruntung suaminya berhasil menahan tubuhnya.


"Kamu kenapa?" Nando panik, lalu dia menggendong Raisa ke dalam kamar.


"Sayang..." gumam Raisa.


"Iya, ini aku. Apa yang sakit?" tanya Nando.


"Perutku, kepala juga pusing." jawabnya lirih.


"Maafkan aku, kamu pasti sakit gara-gara aku."


Nando mengoleskan minyak kayu putih pada perut Raisa. Dengan harapan bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.


Saat menyentuh perut istrinya, dia merasakan perbedaan. Lalu dia menatap sang istri yang sudah tertidur.


"Tidak Nando, kamu tidak boleh berpikir seperti itu."


Keesokan harinya, Nando membawa Raisa periksa ke dokter.


Deg


Nando seperti tertampar dengan ucapan dokter.


"Poli kandungan?!"


"Maksud dokter kemungkinan saya hamil?" beda sekali reaksinya dengan Nando. Raisa terlihat sangat bahagia.


"Jika benar, anak ini pasti akan membuat Nando betah di rumah."


"Sayang..., apa kamu tidak senang? Kemungkinan ini tanda kehamilan. Mamamu pasti akan menerimaku setelah ini. Ternyata aku nggak mandul." cicitnya.


"Nyonya Raisa...!!"


Namanya sudah dipanggil, Raisa memasuki ruangan itu. Nando mengikuti saja.


Untuk kesekian kalinya Nando merasakan detak jantungnya begitu cepat dan sangat menyakitkan. Bahkan dia tidak merespon ketika dokter mengatakan usia kandungan Raisa sudah hampir 4 bulan.


Sejak pulang dari rumah sakit Nando terus terdiam. Pikirannya sangat kacau.


"Takdir macam apa ini Tuhaaaann...!!!"


Nando menonjok dinding kamar mandinya.


"Sayang...!!"


Tok... Tok... Tok...


"Kamu kenapa? Kenapa lama sekali?!" seru Raisa.

__ADS_1


Nando muak mendengar suara istrinya di luar sana. Nando membuka pintu, kemudian menutupnya dengan sangat kasar.


Braaakk!!!


Raisa terkejut. Dia melihat tangan suaminya memerah.


"Ya ampun..., kamu kenapa sayang?"


Nando menepis tangan Raisa yang hendak menyentuhnya. Sakit hati Raisa mendapat penolakan dari Nando.


Nando melepas kemejanya yang basah karena keringat. Membuang ke sembarang arah, lalu memakai kaos yang baru dia ambil dari dalam lemari. Tanpa banyak bicara, dia pergi meninggalkan Raisa.


"Kenapa dia seperti ini?!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tanpa diketahui oleh siapapun, Nando kembali menemui dokter yang sebelumnya menanganinya. Dia memastikan lagi sesuatu yang masih terasa janggal.


"Hasilnya masih sama."


Kalimat itu, dan kertas yang dia bawa, membuatnya semakin merandang.


Malam itu dia kembali ke apartemen. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah ruang tamu yang kosong.


"Raisaaa!!!" suara itu terdengar penuh amarah.


Braaakk!!!


Lagi, pintu menjadi pelampiasan. Membuat Raisa terbangun dan ketakutan.


"Sayang, kamu membuatku takut." katanya mengetahui suami yang datang.


"Siapa ayah dari bayi itu?!" teriak Nando.


"Pertanyaan macam apa ini? Ya jelas kamulah. Kamu suamiku." Raisa tidak percaya suaminya meragukan bayi dalam kandungannya.


"Aku memang suamimu, tapi dia bukan anakku!" Nando melempar amplop yang dia bawa tepat di wajah istrinya.


"Kamu mabuk atau apa sih. Jelas-jelas ini anak kamu." Raisa masih keukeh.


Karena penasaran, Raisa membuka amplop yang jatuh di pangkuannya. Seketika dia membeku, detak jantungnya berpacu. Rasa takut, sedih, bingung, semua bercampur jadi satu.


"A-KU... MAN-DUL!!" Nando memperjelas isi dari hasil pemeriksaan yang sudah dia lakukan diam-diam selama ini.


"Enggak..., nggak mungkin..." air mata Raisa seolah tak ingin berhenti mengalir


"Kamu mengkhianatiku, Raisa. Selama ini aku merasa bersalah padamu, aku menutup diri, aku malu. Aku merasa tidak pantas untukmu. Tapi balasanmu sungguh di luar nalar. Harusnya aku menceraikan kamu sejak aku tau kondisiku." Nando mengungkapkan semua isi hatinya yang lama terpendam.


Raisa terdiam dengan air mata yang terus terurai.


"Aku pergi ke dokter selama 3 bulan ini. Dan hasilnya masih sama. Dan bayi itu!" mata penuh kebencian itu mengarah pada perut Raisa.


"Dia ada di sana selama 4 bulan." Nando meringis, antara marah, kecewa, dan meremehkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangganya.


"Siapa pria yang sudah merebut milikmu?!!" Nando mendorong Raisa hingga terjatuh ke kasur.


"SIAPAAA???!"


PLAAAKK


Tangan besar itu akhirnya lepas kendali dan jatuh tepat di pipi kanan Raisa.


Beberapa detik kemudian Nando menangis, dia pergi lagi meninggalkan Raisa dengan segala rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2