Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Istirahatlah, kamu lelah...!


__ADS_3

"Pagi..." sapa Meilan pada resepsionis Luna.


"Pagi, cantik..." balas Luna. "Ada kiriman nih." kata Luna kemudian.


"Thankyou..., aku ke atas dulu ya."


Setelah sampai di ruangannya, dia membuka paketnya.


"Pagi-pagi udah dapet kiriman aja." goda Faiz.


"Berisik." sahut Meilan. "Mau kemana?"


"Kantin."


"Nitip kayak biasa ya."


"Wokeh!"


Deg


Yang dia terima adalah undangan pernikahan Nando dan Raisa. Meilan mengatur nafasnya.


"Keep calm, Mei...!!"


Tidak disangka, setelah menyerang dirinya dengan perselingkuhan. Kini dia kembali dihajar dengan pernikahan dua sejoli itu.


"Belum puaskah kalian?"


Meilan tidak mau terbawa suasana. Dia segera menyalakan komputernya dan melanjutkan pekerjaannya kemarin. Saking fokusnya, dia tidak sengaja menjatuhkan undangan yang belum dia masukkan dalam tas.


"Tehnya, manis...!!" seru si Faiz. "Kalau kurang manis, bisa sambil lihatin aku ya." guraunya.


"Yang ada malah enek." jawab Meilan asal.


Faiz melihat undangan di samping kakinya. Lalu mengambilnya.


"Nando?!" seru Faiz.


Meilan menoleh. Lalu merebut undangan itu dari tangan Faiz.


"Dia ngajak perang." gerutu Faiz. "Kamu harus datang, Mei. Tunjukin kalau kamu tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi sama mereka. Dasar manusia sampah." geram Faiz.


Meilan menatap Faiz, sambil berpikir.


"Salah ngomong lagi..." menerima reaksi seperti itu membuat nyali Faiz menciut, dia kemudian berjalan menuju meja kerjanya.


"Apa iya harus datang? Mereka sengaja mengirim ini. Masa iya aku nggak datang, mereka pasti senang karena merasa menang."


Selesai bekerja Meilan mengajak Luna pergi mencari dress untuk acara pernikahan sang mantan.


"Kamu cocok pakai itu, Mei. Perfect!" puji Luna.


"Yakin...?!" Meilan masih ragu dengan dress pilihan Luna.


"Kamu pernah dengar nggak. Buat dirimu lebih cantik agar mantan menyesal ninggalin kamu." cicit Luna.


"Teori lama." sahut Meilan.


"Biar lama tapi terbukti ampuh, lho." kata Luna. "Apalagi kalau kamu datang sama pacar baru. Beeehh..., kepanasan pastinya."


Meilan hanya menggelengkan kepalanya. Dia bersyukur ada Luna. Setidaknya setiap ocehan Luna bisa sedikit membuat dia terhibur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari itu pun tiba. Bu Nadin mengkhawatirkan Meilan yang pergi ke acara itu. Tapi Meilan berhasil meyakinkan sang ibu. Kalau semua akan baik-baik saja.


Taksi yang Meilan tumpangi telah sampai di depan hotel. Dia turun dengan anggun, lalu berjalan santai menuju lift yang akan membawanya ke tempat acara itu diselenggarakan.


Di dalam lift ternyata ada Devan. Devan terkesima melihat penampilan Meilan malam itu. Biasanya dia hanya melihat Meilan dengan baju kerja atau baju santainya di rumah. Tapi kali ini sungguh berbeda. Meilan dengan dress yang indah, tampak anggun, cantik, dan membuat jantung Devan tak tenang.


"Meilan..."


Meilan menoleh ke belakang, ternyata ada Devan di dalam lift itu.


"Dev, kamu di sini?" balas Meilan. "Vivian nggak ikut?"


"Dia tidak tertarik katanya, jadi aku datang sendiri. Kamu?"


"Seperti yang kamu lihat." Meilan tersenyum.


Devan mengingat sesuatu.


"Kak, ini cowok tuh mantan kak Meilan yang selingkuh itu. Males ah, nggak tertarik. Pergi aja sendiri."

__ADS_1


Sebelum memasuki ruangan, Devan menarik tangan Meilan.


"Kenapa?" tanya Meilan bingung.


"Ikut aku!" Devan mengajak Meilan pergi sedikit menjauh.


"Ada apa?" tanya Meilan ketika mereka sudah tinggal berdua saja.


"Aku tahu semuanya. Kamu yakin akan masuk seorang diri?"


Meilan terdiam. Dia kemudian menarik nafas panjang.


"Ikut saja bersamaku." Devan mengangkat lengannya, agar Meilan bisa menautkan tangannya.


Deg... Deg... Deg... Deg...


Jantung mereka sama-sama berdebar hebat.


"Tenang, Meilan. Ingat jangan berani jatuh cinta lagi. Luka kamu aja belum sembuh."


Meilan kembali menetralkan perasaannya dengan mengatur nafas.


"Oh God..., perasaan macam apa ini?!!"


Devan berusaha stay cool, meski jantungnya sedang merontah di dalam sana.


Seorang workaholic yang terkenal tidak pernah berkencan itu, membuat sebagian undangan terkejut saat dia tiba-tiba datang dengan perempuan. Padahal biasanya dia akan datang membawa sang adik. Mereka bertanya-tanya, siapa perempuan itu yang berhasil meluluhkannya?...


Devan mengusap tangan Meilan, memastikan tidak akan terjadi sesuatu padanya. Meilan pun tersenyum.


"Bos muda ini, kami sudah menunggu dari tadi." sapa seorang undangan.


"Maaf, ada sedikit gangguan di jalan." balas Devan dengan sopan.


"Ini? Calon nyonya Devan?" celetuk yang lain.


Devan hanya tersenyum. Lalu dia permisi mau menemui mempelai dan keluarganya.


"Meilan dan Devan??!! Bagaimana bisa?!"


Nando sedikit tidak terima melihat Meilan sudah menemukan penggantinya.


"Selamat." ucapan yang sangat singkat dari Meilan.


Lalu keduanya turun bergantian. Devan turun lebih dulu, tangannya dia ulurkan untuk menolong Meilan.


"Ma..., selamat ya." kata Meilan.


"Kamu harus lebih bahagia, nak. Mama akan selalu menyayangimu." tutur bu Lisa.


"Makasih ma. Mama Lisa jaga kesehatan juga. Jangan terlalu capek dan banyak pikiran."


Meilan dan bu Lisa saling berpelukan. Pemandangan itu membuat Raisa kesal. Jangankan berpelukan seperti itu, ngobrol santai saja tidak pernah.


"Ma..., menurut mama bagus yang mana?"


"Terserah kamu."


"Mama aku bawa sup kesukaan mama."


"Taruh saja di meja."


"Mama masak apa? Aku bantuin ya?"


"Tidak usah. Temani Nando saja."


Cuek, dingin, dan tidak peduli. Itulah sikap bu Lisa pada Raisa.


Di sela acara Meilan ingin pergi ke toilet. Dan Devan menemaninya sampai koridor yang terhubung dengan toilet.


"Sudah?" tanya Devan saat Meilan kembali. "Kita pulang sekarang?"


"Boleh."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selama dalam perjalanan pulang, Meilan terus bertanya-tanya bagaimana Devan bisa mengetahui semuanya? Meilan tidak pernah menceritakan apapun padanya. Tidak juga pada Vivian.


"Sedang memikirkan sesuatu?" tanya Devan sambil melirik sebentar ke samping. Karena dia harus tetap fokus menyetir.


"Nggak ada." balasnya singkat.


"Makasih ya udah mau nemenin aku." kata Meilan kemudian.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan." ujar Devan. Meilan tersenyum.


"Cantik sekali..."


Mobil Devan sudah sampai di depan rumah Meilan. Ada pak Romi dan Raka sedang bermain catur di teras rumah.


"Ayah..." Meilan mencium punggung tangan ayahnya.


"Om..." Devan pun melakukan hal yang sama.


"Kok kalian bisa bareng?" tanya pak Romi, karena pak Romi tahu tadi Meilan berangkat pakai taksi.


"Kebetulan tadi ketemu di hotel, ternyata dapat undangan yang sama." ujar Devan.


"Oh, pantas..."


"Aku pamit ya, om."


"Hati-hati, jangan ngebut." pesan pak Romi.


"Baik, om." Devan tersenyum. "Aku balik ya." Dia berpamitan pada Meilan. "Raka..." Devan mengangkat tangannya.


"Oke kak." balas Raka.


Mobil Devan pun berlalu dari hadapan mereka.


"Bagaimana?" pertanyaan bernada khawatir itu keluar dari ayahnya.


"Aku nggak apa-apa, ayah. Semua baik-baik aja." kata Meilan. "Aku masuk ya, ngantuk."


Meilan merebahkan diri setelah membersihkan dirinya. Dia lega bisa hadir ke acara itu, tak dapat dipungkiri kehadiran Devan juga turut membuat semuanya berjalan lancar. Sehingga dia bisa tampil percaya diri di sana.


"Tunggu! Meilan kamu nggak butuh cinta lagi. Cinta keluarga adalah segalanya."


Meilan menarik selimutnya hingga menutupi dadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di kamar yang lain, Devan sedang mengeringkan rambutnya sambil mengingat kejadian di acara yang baru saja dia datangi. Bagaimana dia bertemu Meilan, pesona Meilan, senyuman Meilan, bagaimana semua mata menatap kagum padanya saat berjalan bersama Meilan. Meilan..., Meilan..., dan Meilan...


"Kenapa aku tidak bisa melupakannya?"


Devan merebahkan diri di kasurnya, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Menatap langit-langit kamarnya, dan sekali lagi wajah Meilan hadir di sana.


"Aaahhh...!!!"


Devan mendengus kesal pada dirinya sendiri.


"Ayolah, aku lelah. Biarkan aku tidur dengan nyenyak...!!!"


Devan menutupi wajahnya dengan guling. Berharap bisa tidur dengan nyenyak. Tapi semua sia-sia, segala cara yang Devan lakukan tidak bisa membuatnya tertidur. Dia memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya dan membuka beberapa file yang belum dia periksa.


"Istirahatlah, kamu lelah..."


Lagi-lagi bayangan Meilan dengan senyuman manisnya mengusik konsentrasi.


"Oh, God...! Bagaimana aku bisa istirahat, kamunya selalu mengusikku...!!"


Devan mengusap wajahnya frustasi.


"Please Meilan, ini nggak lucu..."


Tiba-tiba pintu terbuka.


"Apa lagi sekarang...???!" spontan Devan menoleh ke arah pintu.


"Kak..., aku cuma bawain susu hangat." ternyata yang datang adalah sosok nyata sang adik, bukan bayangan dari Meilan.


"Maaf..."


Vivian mendekati kakaknya, lalu menaruh segelas susu di meja kerja kakaknya.


"Aku lihat lampunya nyala, ternyata kakak masih kerja. Jadi aku buatin susu hangat."


"Terimakasih..." kata Devan.


"Ini udah malem banget, kak. Kenapa nggak tidur? Besok kan bisa dilanjutin." ujar Vivian.


"Kamu tidurlah. Sebentar lagi kakak juga selesai." Devan terseyum pada adiknya.


"Oke. Aku ke kamar ya." Vivian keluar dan kembali ke kamarnya.


Devan meneguk susu hingga tidak tersisa. Lalu dia menutup laptopnya.

__ADS_1


"Aaaahh...!!!" Devan mendaratkan tubuhnya di kasur. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2