Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Sakit


__ADS_3

Mobil Devan sudah tiba di halaman sekolah elit. Seperti biasa dia mengantar adiknya.


"Nanti kalau meetingnya belum selesai, Fadil yang akan jemput kamu ya." kata Devan sebelum Vivian keluar.


"Oke." Vivian mengacungkan ibu jarinya, tanda tak keberatan.


"Belajar yang serius. Bye...!!"


"Bye..., take care kak."


"Vivian...!!!" seru Helen, teman sekelasnya.


"Haiii...!!!!" Vivian dan Helen berjalan beriringan menuju kelas mereka.


"By the way, cewek di story kamu kemarin itu siapa?" tanya Helen sambil menaruh tasnya.


"Kak Meilan. Cantik kan?" jawab Vivian dengan bangga.


"Cantik banget. Apa dia seorang model?" tanya Helen lagi.


"Bukan kali..." Vivian tertawa. "Cocok nggak sama kak Devan?"


"Oh, jadi pacarnya kak Devan. Ya ampun..., aku boleh cemburu nggak sih...?!!" sahut Helen.


"Lebay deh." balas Vivian dengan malas. "Belum pacaran sih, aku baru niat nyomblangin mereka." katanya.


"Seru nih kayaknya. Butuh pasukan?" Helen menaik-turunkan alisnya.


"Kamu?!"


Helen mengangguk dengan cepat lalu mengedip-ngedipkan matanya.


"Aku pikir-pikir dulu ya."


"Yaaa, Vian...!!! Serius nih akunya."


"Lihat nanti ya."


"Vian sih sukanya gitu...!!!"


Vivian menahan tawanya ketika melihat temannya merajuk.


Ketika jam istirahat Vivian makan siang bersama Helen di kantin. Vivian tersedak karena Helen selalu mengajaknya bicara. Hingga dia tidak melihat minuman milik siapa yang dia minum.


"Enakkan, Vi?" Helen mengusap punggung Vivian.


"Mendingan. Makanya jangan ngomong mulu." ujar Vivian.


"Ya kamunya jawab mulu." Helen enggan disalahkan.


"Wait..." Vivian merasakan sesuatu. Kemudian dia melihat gelas yang dia pegang.


Menyadari yang dia minum adalah es kopi milik Helen, dia segera meminum air mineral botol di hadapannya.


"Nggak pa-pa, Vian. Cuma dikit. Lagian bukan kopi murni ini." Vivian berusaha berpikir positif.


"Minumanku kamu minum itu." gerutu Helen.


"Sorry..." Vivian hanya bisa nyengir.


Awalnya tidak ada masalah, masih baik-baik saja. Tapi di akhir pelajaran, Vivian mulai merasakan sesuatu uang tidak beres pada perutnya. Dia pun berkeringat dingin.


"Antar aku ke toilet dong." bisiknya pada Helen.


"Ya ampun, Vi. Kamu sakit?"


Helen menuntun Vivian ke toilet. Dia memuntahkan isi perutnya hingga lemas. Baru beberapa langkah keluar dari toilet, Vivian jatuh pingsan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Helen masih setia mendampingi temannya di rumah sakit. Sementara Devan sedang berada di ruang dokter yang menangani adiknya.

__ADS_1


"Gimana, Vi? Masih sakit?" tanya Helen.


"Dikit. Kak Devan udah dateng?"


"Iya, lagi bicara sama dokter. Bentar lagi juga balik." Helen mengusap punggung tangan Vivian.


"Sedih banget mukanya. Biasa aja." Vivian menggoda Helen.


"Gimana bisa biasa aja. Kamu sakit gara-gara minum es kopiku. Kalau kakak kamu tau..." Helen mengkidik membayangkan Devan memarahinya.


"Kan mulai lebaynya." Vivian tersenyum.


Ceklek...


Devan masuk ke kamar rawat adiknya. Helen pindah posisi agar Devan bisa duduk di tempatnya.


"Sudah baikkan?" Devan mengecup kening sang adik. Vivian hanya tersenyum.


Pandangan Devan beralih pada Helen.


"Terimakasih Helen, kamu sudah menemani Vivian. Kalau kamu mau pulang sekarang, om Fadil akan mengantarmu. Dia sudah menunggu di depan."


Helen belum menjawab, dia menatap Vivian.


"Aku nggak pa-pa. Kak Devan di sini." ujar Vivian.


"Baiklah. Aku pulang dulu ya."


Helen pun pamit pada Devan dan juga Vivian.


Handphone Vivian berdering, panggilan video dari Meilan.


"Siapa kak?" tanya Vivian.


"Meilan." Devan memberikan benda pipih itu pada adiknya.


"Ada apa kak?"


"Kamu kenapa? Sakit?"


"Nggak apa-apa, kak. Udah mendingan kok."


"Sharelok ya. Aku akan ke sana."


Sambungan terputus, tanpa ragu Vivian mengirim lokasinya pada Meilan. Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya.


Dan benar saja, tak sampai satu jam Meilan tiba di kamar Vivian.


"Dia tidak bisa minum kopi. Tapi di sekolah tadi dia minum dengan buru-buru karena tersedak." terang Devan.


"Ya ampun, lain kali dilihat dulu kalau minum." tutur Meilan. "Udah makan?" tanya Meilan.


"Udah dikit. Masih agak mual, kak." adunya.


"Besok aku bawain sup. Biar nggak mual terus." Meilan mengusap pipi Vivian.


"Makasih, kak." Vivian sangat senang ada Meilan di samping.


Diam-diam Devan memperhatikan interaksi keduanya. Dan tanpa sadar dia tersenyum tipis.


Usapan lembut dari Meilan mengantarkan Vivian dalam tidur nyenyaknya. Dirasa sudah pulas, Meilan merapikan selimutnya. Lalu beralih ke sofa untuk memberikan kenyamanan pada punggungnya.


"Sudah tidur?" tanya Devan ketika masuk.


"Iya. Aku balik ya, besok aku ke sini lagi." kata Meilan.


Devan melihat jam tangannya, hampir jam delapan malam.


"Biar Fadil yang antar kamu." ujar Devan.


"Aku bisa naik taksi."

__ADS_1


"Bahaya, ini sudah malam. Tolong jangan menolak, bisa-bisa Vian kecewa sama aku kalau tau kamu pulang pakai taksi." terang Devan. "Dia menyayangimu." imbuhnya.


Meilan tersenyum sambil menatap wajah Vivian yang tertidur pulas.


"Baiklah."


Devan mengantar Meilan hingga depan pintu. Karena Fadil sudah berada di sana.


"Kabari aku kalau sudah sampai di rumah." pesan Devan. Meilan hanya mengangguk.


Sepeninggal Meilan bersama Fadil, Devan kembali ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri. Beberapa saat kemudian dia dilanda kecemasan lantaran Meilan tak kunjung memberikan kabar.


"Kenapa jadi khawatir begini?"


Tak lama kemudian dia menerima pesan dari Meilan.


Meilan :


Aku udah sampai.


Kalau ada apa-apa kabari aku ya.


Devan :


Baiklah


Selamat istirahat.


Meilan :


Kamu juga


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelum berangkat kerja Meilan mampir ke rumah sakit untuk mengantar sup yang dia janjikan.


Devan mengurungkan niatnya keluar dari kamar mandi, saat mendengar suara Meilan. Jantungnya mendadak berdebar dengan sangat kencang.


"Kakak kamu mana?" tanya Meilan.


"Di kamar mandi." Vivian menoleh ke arah kamar mandi.


"Baiklah, aku harus kerja. Nanti makan sama kak Devan ya. Baik-baik, obatnya diminum." ujar Meilan.


"Siap, kak."


Setelah mendengar suara pintu, Devan keluar dari kamar mandi.


"Barusan kak Meilan datang, bawa ini buat kita sarapan." Vivian melapor pada sang kakak.


"Oh ya?" Devan membuka tas bekal di atas nakas. "Mau makan sekarang." Vivian mengangguk penuh semangat.


Devan menyuapi adiknya terlebih dulu, baru setelahnya dia makan. Dua bersaudara itu seolah kecanduan masakan keluarga Meilan.


"Mami tadi kirim pesan, tanyain kabar kita." kata Vivian. "Telepon handphone kakak, katanya nomor tidak aktif."


"Sedang dicas." Devan menunjuk handphone yang tergeletak di meja. "Kamu bilang sedang sakit?"


"Nggak. Aku nggak bilang apa-apa." jawab Vivian datar.


"Bagaimanapun mereka, mereka tetap orang tua kita. Jangan ada benci ya." tutur Devan sambil membelai rambut adiknya.


Vivian langsung memeluk sang kakak. Dan lagi dia menangis.


"Aku merindukan mereka..." ungkapnya.


"Kakak akan berusaha membawa mereka kembali bersama kita lagi." balas Devan.


Vivian mengangguk dalam dekapan sang kakak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2