
Nando membuka pintu mobil untuk Raisa. Kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Raisa keluar.
"Siap?" tanya Nando untuk kesekian kalinya.
"Nervous, sayang..." Raisa mengadu dengan nada manja yang merupakan ciri khasnya.
"Semua akan baik-baik saja. Kamu adalah istri dan menantu idaman keluarga ini." mulut manis Nando sukses membuat Raisa tersipu.
Mereka berdua memasuki rumah dengan senyum yang mengembang.
"Pa, ma..." sapa Nando.
Sepasang suami-istri itu menoleh, bu Lisa melirik Raisa sejenak. Ingat, hanya sejenak. Pak Wisnu yang lebih bisa mengontrol emosinya, berusaha memasang senyum saat mereka datang.
"Raisa, ini mamaku." kata Nando.
"Malam tante..." mereka berjabat tangan sebentar.
"Duduk, nak." pak Wisnu menunjuk kursi kosong untuk mereka tempati.
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka lanjut makan malam bersama.
"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tanya bu Lisa tanpa melihat keduanya.
"Tujuh bulan ya?" Nando melirik Raisa untuk memastikan. "Tapi kita kenal sejak masih kuliah, ma." Nando tersenyum.
"Ternyata sudah selama itu Nando berkhianat." Batin bu Lisa merintih.
Pak Wisnu yang menyadari perubahan mimik sang istri, berusaha menenangkan dengan mengusap tangannya yang ada di bawah. Bu Lisa mengangguk, seolah bilang aku baik-baik saja.
"Kalian mau langsung menikah apa bagaimana?" tanya pak Wisnu.
"Aku terserah Nando saja, om." balas Raisa dengan sopan.
Bu Lisa menatap anaknya. Ketika Nando tersenyum sambil berkata mereka akan menikah, tubuh bu Lisa memanas. Tapi dia berusaha menetralkan semuanya.
Beberapa hari setelah acara makan malam itu, kedua keluarga saling bertemu. Dengan berat hati bu Lisa menerima keputusan Nando. Tapi dia enggan mengambil bagian dari segala persiapan yang dibutuhkan kedua mempelai. Beda halnya dengan Meilan, bu Lisa bahkan memilihkan dress untuk acara pertunangan. Bu Lisa juga berjanji akan mengajaknya Meilan bertemu desainer untuk mewujudkan gaun impiannya saat menikah nanti.
"Ma, temani aku dan Raisa fitting ya." pinta Nando.
"Pergi saja berdua." balasnya dingin.
"Ma, tidak seperti ada mama." kata Nando kemudian.
"Ajak saja mertua kamu!" bu Lisa menutup majalah wanita yang dia baca sebelumnya. Lalu beranjak ke kamar.
Tanpa mereka berdua sadari, Raisa mendengar semuanya dari balik tembok. Karena dia tadi sedang pergi ke toilet. Raisa sedih, bahkan sampai di titik ini dia belum bisa akrab dengan calon mama mertuanya.
Cukup lama Raisa terdiam, berusaha menahan tangisnya. Dan mencoba terlihat baik-baik saja.
"Sayang..." ujar Raisa.
"Eh, kamu..." Nando khawatir Raisa mendengar semuanya.
"Aku baru dari toilet." Raisa tersenyum. "Ayo jalan!" ajak Raisa.
"Baiklah..." mereka pun berangkulan keluar dari kediaman pak Wisnu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tante..." sapa Nando.
Bu Bilqis menyambut hangat kedatangan putra sahabatnya itu. Meski tidak dapat dipungkiri kalau dia juga terkejut dengan calon yang dia bawa.
Bu Bilqis merupakan desainer pilihan bu Lisa untuk Meilan kala itu. Jadi sangat wajar kalau dia kaget, tiba-tiba yang dibawa bukan Meilan.
"Bukannya mama sudah pernah menunjukkan gaun yang dia inginkan?" tanya Nando saat mereka melihat gaun yang ada di galeri bu Bilqis.
Bu Bilqis ragu untuk menunjukkannya. Karena itu spesial untuk Meilan.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana dengan ini?" Raisa tertarik dengan gaun soft blue di manekin.
Akhirnya bu Bilqis bisa bernafas lega.
"Itu bagus, coba saja. Tante baru saja menyelesaikannya." ujar bu Bilqis.
Lagi-lagi bu Bilqis dibuat terkejut, dan kali ini oleh interaksi mereka. Dimana Nando memeluk Raisa dari belakang ketika calon istrinya itu bercermin.
"Dulu dia tidak seperti ini. Meilan lebih bisa jaga sikap. Bahkan dia hanya mengizinkan Lisa menata gaun yang dia pakai."
"Sayang..., malu ah." ujar Raisa.
"Kamu cantik sih pakai gaun ini." Nando memegang pundak Raisa sambil menatap kagum dari pantulan cermin.
Setelah dari butik bu Bilqis, mereka pergi ke mall untuk mengambil cincin yang mereka pesan. Di mall itu mereka bertemu dengan Meilan yang sedang menemani Vivian mencari buku.
"Mei..." sapa Raisa.
Vivian melirik Meilan, karena dia tahu siapa dua orang yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Sudahlah, ayo sayang." Nando menarik tangan Raisa dan menautkan tangan itu pada lengannya. Seolah ingin menunjukkan bahwa inilah yang dia mau dari Meilan.
"Aku mau bicara sama Meilan." ujar Raisa.
"Sorry, aku ada urusan. Ayo, Vi!" kini giliran Meilan menggandeng tangan Vivian dan membawanya pergi.
"Sayang..., kita harus minta maaf juga sama dia." begitu kata Raisa sambil menatap kepergian Meilan.
"Kamu nggak tau gimana perasaanku. Aku dan Meilan jadi jauh, semua canggung sekarang." cicit Raisa.
"Terus..., kamu mau apa? Ninggalin aku demi Meilan?" sahut Nando. Dengan cepat Raisa menggeleng.
"Aku hanya mau memberikan pengertian padanya."
"Aku mengerti niat kamu baik. Tapi apa kamu yakin dia akan mengerti? Jadi lupakan niatmu itu. Kita fokus pada masa depan kita. Oke?!" Nando menakup wajah Raisa dengan kedua tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meilan baru saja kembali dari toilet setelah pertemuan tak terduga itu. Dia menemui Vivian yang tadi dia tinggalkan sendiri di toko buku.
"Udah kak?" tanya Vivian.
"Em." Meilan mengangguk.
"Apa ini buku titipan kak Raka?" Vivian menunjukkan buku yang dia temukan.
"Sebentar." Meilan mengambil ponselnya untuk memastikan. "Benar." dia menunjukkan foto di ponselnya pada Vivian.
"Punyamu udah?" Meilan bertanya balik.
"Udah, dong." balasnya.
Sejak peristiwa malam itu, Vivian menjadi akrab dengan Meilan dan keluarganya. Dia seperti menemukan keluarga baru, keluarga yang dia impikan selama ini.
Sepulang dari mall, mereka sudah disambut dengan ramah oleh bu Nadin.
"Vivian makan malam di sini kan?" tanya bu Nadin.
"Boleh..., boleh...!" sahut Vivian. "Aku rindu masakan ibu." ujarnya.
"Halaaah..., padahal cuma tempe goreng." balas bu Nadin.
"Beneran bu..." anak itu mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. "Aku akan beritahu kak Devan." ujarnya penuh bersemangat.
Bu Nadin dan Meilan sibuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Vivian berada di ruang keluarga bersama pak Romi dan Raka. Mereka sama-sama mengerjakan tugas sekolah untuk besok pagi.
Aktivitas Vivian terhenti ketika mendengar suara mobil sang kakak.
"Itu pasti kakak." kata Vivian.
__ADS_1
"Biar aku yang buka." Raka beranjak dari tempat duduknya.
"Om, kalau ini. Sudah benar kalimatnya?" tanya Vivian pada pak Romi.
"Sini om lihat." pak Romi melihat buku tugas milik Vivian. "Bagus." katanya kemudian. "Rapikan ya, kita makan malam dulu. Kakak kamu sudah datang."
"Selamat malam, om." Devan membungkukkan badannya sambil bersalaman.
"Malam..., ayo kita makan malam sama-sama. Ibu dan Meilan sudah menyiapkan semuanya."
"Tidak usah repot-repot, om." Devan merasa tidak enak hati.
"Kakak..., aku udah terima undangan ibu. Masa semua udah repot kita tinggalin pulang." rengek Vivian.
Devan menoleh ke arah pak Romi, lalu pak Romi mengangguk seraya tersenyum.
Mereka pun makan bersama layaknya keluarga besar. Orang tua dan empat orang anak mereka.
"Lain kali semua makan malam di rumah ya." celetuk Vivian. "Boleh kan kak?"
"Tentu." Devan mengiyakan permintaan Vivian.
Tidak ada alasan untuk menolak permintaan adiknya. Karena Devan sudah melihat sendiri perubahan positif pada sang adik sejak mengenal keluarga Meilan. Sehingga Devan pun tidak pernah melarang Vivian untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga yang saat ini menjamu mereka.
"Vivian benar, meski menu sederhana tapi sangat nikmat jika makan bersama seperti ini."
Devan merasakan sesuatu yang berbeda. Dia jadi merindukan kedua orang tuanya yang saat ini tinggal di luar negeri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa saja yang kamu lakukan seharian ini? Apa kamu merepotkan mereka?" tanya Devan ketika dia menemani adiknya sebelum tidur.
"Aku ke mall beli buku sama kak Meilan. Terus ngerjain PR dibantu om Romi dan kak Raka." balasnya.
"Sudah tidak butuh bantuan kakak rupanya." Devan pura-pura cemburu.
"Kan kakak bilang ada urusan tadi. Takut nggak keburu kalau nungguin." Vivian memeluk kakaknya.
"Terus ngapain lagi?"
"Itu doang sih." jawab Vivian sambil memainkan telinga boneka kelinci miliknya.
"Kakak pernah jatuh cinta?" tanya Vivian tiba-tiba.
Devan kemudian melepaskan tangan Vivian. Dia menyipitkan matanya.
"Mau coba-coba pacaran, hah...?" Devan bertanya balik.
"Enggak..., kakak iih...!!" Vivian merajuk. "Tadi di mall, kak Meilan ketemu mantannya. Mantan cinta pertamanya."
"Hus!!! Jangan ikut campur urusan orang." tegur Devan.
"Aku nggak ikut campur, aku cuma nanya pendapat kakak gimana? Cowok itu selingkuh sama temannya kak Meilan. Padahal dia cinta pertamanya kak Meilan."
"Itu urusan kak Meilan. Kenapa minta pendapat kakak? Kecuali kalau kamu di posisinya kak Meilan. Pasti sudah kakak bikin kapok cowok itu." ujarnya.
"Sudah malam, cepat tidur ya. Besok sekolah."
"Iya, kak." Vivian tersenyum. "Kak...?!"
"Apa lagi?"
"Kalau cari istri, yang baik kayak kak Meilan ya." celetuk Vivian.
Devan hanya menggelengkan kepalanya, kemudian keluar dari kamar adiknya.
"Jatuh cinta? Aku bahkan belum pernah merasakannya."
Lelaki berumur 28 tahun itu melenggang santai memasuki kamarnya.
__ADS_1