Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Bayangan Masa Lalu


__ADS_3

Ada yang penasaran bagaimana kabar Nando dan Raisa??....


Tidak biasanya Raisa melihat mama mertuanya sudah rapi sepagi ini. Tidak mungkin akan pergi bersama suaminya, karena pak Wisnu sudah berangkat ke kantor bersama Nando sejam yang lalu.


"Mama mau pergi? Mau aku antar?"


"Tidak perlu. Ada driver."


Raisa mulai kesal mendengar nada dingin dari mertuanya itu.


"Ma, aku tau aku pernah melakukan kesalahan. Tapi aku sudah minta maaf. Nando memilih aku dan sekarang aku istrinya, ma. Kenapa mama masih saja seperti ini?" Raisa mulai berani melayangkan protes, setelah 2 bulan memendamnya.


Bu Lisa tersenyum sinis, lalu menatap tajam mata menantunya.


"Maafmu tidak bisa mengubah kenyataan, bahwa kamu orang ketiga dalam kehidupan putraku dan Meilan." balasnya dengan nada pelan tapi sangat menusuk.


"Iya, sekarang kamu istri Nando. Tapi jalanmu mendapatkan status itu sangat kotor." ucap bu Lisa dengan dua kata terakhir yang penuh penekanan.


Raisa tidak menyangka, mamanya yang pendiam itu bisa mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan.


Belum sempat Meilan membalasnya, mertuanya itu sudah beranjak pergi terlebih dulu. Dan membiarkan Raisa sendiri dengan kekesalannya. Ingat ya, kekesalannya. Bukan penyesalannya.


Malam harinya dia mengadukan semua yang terjadi pada Nando.


"Aku istrimu, menantunya. Tapi mamamu itu selalu saja membela si Meilan." Raisa sangat kecewa.


"Sayang, sudahlah. Kan yang penting hubungan kita." balas Nando.


"Tapi aku kesel, setiap hari seperti itu. Nggak dianggap. Sebaiknya kita keluar dari sini saja. Aku nggak tahan!" suara Raisa mengeras.


"Baiklah..., tapi tunggu sampai renovasi apartemenku selesai ya." Nando mengecup kening istrinya.


"Janji?" nada suaranya menjadi manja.


"Iya. Sekarang tidur ya. Jangan marah-marah terus."


Raisa merasa lebih baik. Dia pun terlelap dalam dekapan suaminya.


"Sulit sekali membuat hubungan mereka akur. Tidak seperti sama Meilan. Mama langsung menyukainya ketika aku membawanya ke sini pertama kali."


Nando menarik nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Entah apa yang tertulis dalam buku takdir mereka. Setelah malam itu Nando memikirkan tentang Meilan. Tiba-tiba saja dia bertemu dengan Meilan ketika di apartemen.


"Meilan..." gumamnya lirih.


"Sayang..., kita perlu..." Raisa menghentikan langkahnya, menatap tajam sosok yang sedang bersama suaminya.


"Ada apa ini?!" tanya Raisa dengan ketus. Tidak lagi lembut seperti sebelumnya.


Dulu Raisa masih merasa tidak enak dengan Meilan karena posisinya sebagai orang ketiga. Tapi sekarang, dia sangat membenci Meilan karena mama mertuanya tidak bisa move on dari mantan calon menantunya.


"Nggak ada apa-apa. Aku hanya mengantar seseorang melihat apartemen milik bosku." Meilan menjawab dengan tenang.


"Bosmu?!" Raisa beralih menatap suaminya. "Kamu memilih apartemen ini karena dia? Iya kan? Karena dia bekerja disana!"


"Sayang..., bisa tidak kamu tidak seperti ini." Nando berusaha meredam emosi istrinya.


"Ada apa?" tanya Devan yang baru saja tiba.


"Kamu udah datang. Aku menunggumu. Ayo kita lihat sekarang!" Meilan mengajak Devan pergi.


"Kenapa sama Devan lagi? Apa benar dia sudah move on dariku? Tidak mungkin?!"


"Aku nggak mau tinggal di sini!" teriak Raisa. Hingga membawa Nando kembali pada kesadarannya.

__ADS_1


"Kita bicarakan baik-baik. Jangan emosi terus dong." pinta Nando sambil mengajak istrinya masuk ke unit apartemennya.


Setelah Raisa tenang...


"Apa masalahnya kalau ini memang rekomendasi Meilan. Yang penting sekarang kamu yang tinggal di sini. Bahkan semua sudah aku desain seperti kemauan kamu. Bukan Meilan."


"Aku hanya takut kamu akan meninggalkanku karena bayang-bayang Meilan." gumam Raisa.


"Sayangnya bayangan masa laluku sama Meilan memang sering datang akhir-akhir ini."


Nando memeluk Raisa sambil memejamkan matanya.


Awalnya dia bosan karena Meilan tidak bisa diajak bersenang-senang layaknya pasangan kebanyakan. Sehingga dia berpaling ketika bertemu kembali dengan Raisa yang begitu welcome dan bisa dia bawa kemanapun. Termasuk menemaninya bermalam di apartemen yang kini jadi perdebatan.


Rasa tidak rela kehilangan itu muncul sejak Meilan datang bersama Devan pada pesta pernikahannya. Dia sangat tahu statusnya adalah cinta pertama Meilan. Tidak mungkin semudah itu Meilan melupakan kenangan bersamanya.


"Apa yang mereka lakukan di sini? Apa mereka mencari hunian untuk ditempati setelah menikah?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku suka yang ini. Cocok untuk mereka." kata Devan.


"Ya, aku juga berpikiran sama." balas Meilan.


"Baiklah, katakan pada bosmu. Aku ambil yang ini. Atur jadwal untuk pertemuan selanjutnya."


"Siap!!"


Meilan sangat senang. Akhirnya dia bisa menjual 1 unit apartemen. Meskipun sebenarnya itu bukan bagian dari tugasnya.


Kalau saja Meilan tahu, ada permainan di balik semua ini. Devan sengaja menghubungi bos Meilan kalau dia hanya mau Meilan yang menemaninya. Bukan yang lain. Karena yang minta adalah Devan, bos Meilan tidak bisa menolaknya. Kapan lagi orang besar keturunan Bramasta menjamah apartemen miliknya. Mungkin hubungan Meilan dan Devan akan membawa keberuntungan bagi perusahaannya juga. Begitulah pikir bos Meilan.


Di koridor, Meilan dan Devan kembali dipertemukan dengan Nando dan Raisa. Mereka sama-sama menunggu lift untuk turun.


Satu lift terbuka, Devan menahan tangan Meilan. Membiarkan Nando masuk terlebih dulu.


"Luas, manusianya aja kebanyakan." balas Meilan sekenanya.


"Yuk!" Devan mempersilakan Meilan masuk setelah lift lain terbuka.


"Kita makan dulu, ya. Laper nih." Devan mengusap perutnya yang rata.


"Oke."


"Kamu tau? Sejujurnya aku merindukan masakan di rumahmu." kata Devan tiba-tiba.


"Oh ya??" Meilan tertawa.


"Gimana kalau sekarang kita makan di tempat favorit keluargaku?" usul Meilan setelah menghentikan tawanya.


"Tunjukkan jalannya!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Devan menurut saja kemana Meilan membawanya. Setidaknya hari ini dia akan menghabiskan waktu berdua bersama Cinta Pertamanya.


"Ini pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Apa benar aku jatuh cinta?"


Mobil Devan memasuki area yang sangat teduh karena dipenuhi pepohonan. Kemudian mencari tempat untuk parkir. Lalu mereka berjalan menuju tempat yang dimaksud oleh Meilan.


"Bagaimana bisa ada tempat seperti ini?" Devan terus melihat sekelilingnya.


Pohon yang rindang, bunga, spot bermain anak-anak. Ada gazebo juga.


"Belum pernah ke sini?" tanya Meilan.


"Ini perdana. Lain kali aku akan membawa Vivian kemari." ujarnya.

__ADS_1


"Kita turun." kata Meilan.


Mereka menuruni tangga batu. Ada danau dan beberapa warung di sana. Beruntung tidak ramai pengunjung, karena bukan weekend. Jadi mereka bisa memilih gazebo yang paling nyaman. Nyaman untuk menikmati makanan, dan juga pemandangan.


"Lama nggak datang, Mei. Aku pikir pindah planet." kata waiter yang mendatangi mereka.


"Lebay deh. Apa kabar?"


"Gini-gini bae." si waiter terkekeh.


"Akrab sekali mereka."


"Aku seperti biasa ya. Kamu apa Dev?"


"Samakan saja."


Devan benar-benar tidak menyangka ada tempat yang sangat menyenangkan seperti ini.


"Sepertinya kamu suka?" Meilan menyeruput minumannya.


"Ya. Thanks ya, sudah bawa aku ke sini." Devan tersenyum.


"Lain kali kita dateng bawa rombongan." celetuk Meilan.


"Bisa diatur." balas Devan.


Dua insan manusia itu kini sedang menikmati pemandangan indah dari gazebo. Air danau yang tenang, beberapa pengunjung yang bermain perahu, dan hembusan angin yang sejuk.


Devan menoleh pada sosok di sampingnya. Lalu tersenyum.


"Pernah ke sini sama siapa saja?" tanya Devan sambil kembali menatap danau di hadapannya.


"Keluarga, dan Luna." katanya. "Sekarang kamu." Meilan melihat Devan sedang tersenyum.


"Apa kamu berpikir membawa pacarmu ke sini?" goda Meilan.


"Aku bahkan tidak pernah pacaran." jawaban yang sangat jujur.


"Menurutmu aku percaya? Mana mungkin kamu nggak punya pacar. Pasti banyak cewek yang rela bersaing buat dapetin kamu." celotehnya.


"Maybe. Tapi aku tidak tertarik." katanya.


"Kamu pemilih kali..." sahut Meilan.


"Entahlah, tidak ada cewek yang membuatku tertarik. Kecuali..." Devan menatap mata Meilan. "Kamu!"


Deg


Meilan tidak tahu harus bagaimana menyikapinya.


"Kenapa aku?" hanya itu yang bisa dia ucapkan.


"Entahlah. Kamu satu-satu yang selalu memenuhi pikiraku, Meilan. Awalnya aku pikir aku sedang sakit, atau apalah. Tapi semakin kesini aku semakin yakin kalau aku jatuh cinta padamu."


Meilan berusaha menetralkan perasaannya. Dia mengatur nafas sebelum angkat bicara.


"Kamu jatuh cinta pada orang yang salah." cetusnya. Devan terkejut.


"Buang jauh-jauh perasaan itu, Dev. Aku nggak bisa membalas cintamu."


"Apa alasannya? Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau perempuan bahkan rela bersaing memperebutkan aku. Kenapa kamu tidak? Padahal aku sendiri yang memilihmu."


"Lupakan. Kita pulang saja, udah mau gelap." Meilan beranjak dari gazebo. Dan berjalan lebih cepat dari biasanya.


Tidak ada lagi obrolan setelah itu. Suasana dalam mobil sangat hening. Bahkan Meilan tidak mempersilakan Devan untuk mampir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2