Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Menutup Hati


__ADS_3

Bu Lisa terbaring di kasur rumah sakit. Wajahnya yang pucat dengan mata sembap, membuatnya terlihat semakin tak berdaya. Bu Lisa yang memiliki masalah dengan jantungnya, seketika mengalami syok ketika mendengar ada masalah pada anak dan calon menantu tersayangnya.


"Maaf, pa. Mama nggak akan seperti ini kalau saja aku nggak datang hari ini." ucap Meilan penuh penyesalan.


"Bukan salah kamu, nak." pak Wisnu berusaha menenangkan Meilan.


Ceklek...


Keduanya menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Mata yang menatap tajam, ekspresi yang penuh amarah, terpancar di wajah pak Wisnu. Sementara Meilan langsung melengos ketika melihat siapa yang datang.


"Mamaa...!!" Nando mempercepat langkahnya, tapi pak Wisnu lebih sigap menghalaunya.


Pak Wisnu mendorong dada putranya. Tanpa banyak bicara, dia membawa Nando keluar.


"Pa, aku mau melihat kondisi mama." ujar Nando.


"Tidak perlu!" sahut pak Wisnu dingin. "Jangan pernah temui mamamu, sampai dia benar-benar sehat."


"Tapi, paa...!!!"


"Pergilah!!" titahnya.


"Paa...!!!"


Pak Wisnu kembali ke dalam kamar tanpa mempedulikan putranya lagi.


Beberapa saat kemudian Meilan pamit pulang. Sebelum pergi dia berjanji akan datang lagi besok sepulang kerja. Pak Wisnu terharu mendengarnya. Dia tidak menyangka Meilan tetap perhatian pada istrinya, sekalipun anaknya telah membuat hatinya hancur berkeping-keping.


"Semoga tidak ada trauma setelah ini, nak. Papa tau Nando adalah cinta pertamamu, dan besar harapanmu untuk selalu hidup berdampingan dengannya."


Tak di sangka Nando masih berada di ruang tunggu. Melihat Meilan keluar, dia segera menghampiri dan menarik tangannya menjauhi kerumunan.


"Lepasin!" Meilan menghempaskan tangannya.


"Ini gara-gara kamu kan?!" tuduh Nando pada mantan tunangannya itu. "Kenapa kamu harus datang ke rumah dan mengatakan yang tidak-tidak pada mama?!" hardiknya.


"Aku hanya mengatakan sebuah fakta." balasnya dengan nada datar tanpa ekspresi.


"Hah!!" Nando tersenyum miring. "Dengar ya, apapun yang kamu katakan pada orang tuaku. Aku tetap tidak akan kembali padamu." tegasnya.


Perkataan Nando bagai pedang yang menusuk dadanya. Menggoreskan luka parah, tapi tak berdarah.


"Aku kesana tidak untuk memohon kembali padamu." Meilan tidak mau kalah. "Aku sudah mengakhiri semuanya. Permisi!"


Baru saja berbalik, tapi Nando menarik tangannya.


"Dengar Meilan, lelaki normal tidak akan bisa tahan dengan sikap kamu." bisik Nando.


"Berarti selama ini aku menjalin hubungan dengan lelaki nggak normal." celetuk Meilan, lalu menarik tangannya.


"Sial...!!!" Nando mendengus kesal sambil menatap kepergian Meilan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cinta pertama memang indah dan sulit dilupakan. Apalagi luka yang menyertainya. Sangat dalam dan bekasnya akan sulit dihilangkan.

__ADS_1


Sempat terpikir untuk memaafkan Nando dan memberikan kesempatan kedua. Tapi mustahil. Karena kedua orang tuanya sudah menegaskan, tidak akan mau menerimanya lagi dengan dalih apapun. Dan lagi, Meilan selalu tergiang ucapan Nando hari itu di rumah sakit.


"Dengar Meilan, lelaki normal tidak akan bisa tahan dengan sikap kamu."


Meilan terkadang berpikir, apa sebenarnya salahnya?...


Sikap yang mana?...


Bukankah selama ini semuanya baik-baik saja?...


Tapi semua pertanyaan itu tak kunjung mendapatkan jawaban.


Butuh banyak waktu bagi Meilan untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Meski dia sendiri tidak tahu sampai kapan. Pasalnya masih ada sebuah rasa yang sulit dihilangkan.


"Mei, nggak pulang?" tanya Faiz, rekan kerjanya.


"Masih banyak yang harus aku kerjakan." jawabnya dingin.


"Tapi ini sudah lewat jam kerja. Kamu mau lembur?" tanya Faiz lagi.


"Sebentar lagi aku akan pulang." kata Meilan.


"Baiklah..." Faiz pun beranjak dari mejanya dan segera pulang ke rumah.


Meilan sengaja melakukannya. Dia hanya ingin sibuk dengan pekerjaannya, daripada harus diam, kemudian menghabiskan waktu memikirkan masalah hatinya.


Ketika jarum jam berada di angka delapan, barulah Meilan menyimpan filenya dan mengemasi barangnya.


Langkah yang gontai, mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin segera sampai rumah. Tapi dia juga bingung, kalau tidak pulang ke rumah lantas dia harus ke mana??...


"Tolooong...!!!"


"Tolooong...!!!"


Suara itu terdengar lagi. Seperti seseorang yang sedang teriak sambil berlari.


Kemudian dari tikungan keluarlah sosok perempuan yang masih memakai seragam sekolahnya.


"Too..., loong...!!" katanya terbata sambil menunjuk ke belakang, setelah dia menabrak Meilan.


"Ada apa?" tanya Meilan yang juga ikutan panik.


"Heiii...!!"


Sekali lagi Meilan dikejutkan dengan teriakan. Kali ini suaranya terdengar kasar dan berat. Semakin merinding ketika seorang pria bertubuh kekar berbalut pakaian serba hitam berlari mendekatinya.


"Lari, kak...!!" anak sekolah itu menarik tangan Meilan.


Anak itu membawa Meilan lari ke sembarang arah, asal dia selamat.


"Ssstt...!!" dia menutup mulutnya dengan jarinya sambil mengarah pada Meilan.


Saat ini mereka sembunyi di balik semak-semak.


"Kemana???" pria besar itu terlihat sangat kelelahan. Sesekali dia mengusap keringatnya sambil melihat di sekitar.

__ADS_1


"Aaahh...!!! Gagal lagi!" keluhnya. Kemudian dia pergi meninggalkan lokasi itu.


Meilan dan anak itu menghembuskan nafas lega. Lalu Meilan menatap sosok di sampingnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Meilan penuh selidik.


"Pria itu berusaha menculikku." adunya sambil menunjuk ke arah pria itu pergi.


Meilan menatap anak itu. Menurutnya anak itu pasti berasal dari keluarga yang tidak biasa. Cukup wajar kalau seseorang ingin menculiknya. Tubuh mungkinnya saja dibalut dengan barang mahal, bahkan tasnya adalah merk ternama yang go internasional. Seragamnya juga bukan seragam sekolah seperti milik adiknya. Pasti orang tuanya akan dimintai uang tebusan yang tidak sedikit.


"Sebaiknya kita cari tempat yang aman. Lalu telepon orang tuamu. Aku akan menemanimu sampai mereka tiba." tutur Meilan.


Mendengar penuturan Meilan, si anak jadi terdiam. Dia mengiyakan ataupun menolak.


"Mereka membawa ponselmu? Berapa nomor orang tuamu?" Meilan mengeluarkan handphonenya.


Anak perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya. Meilan menarik nafas panjang. Kemudian anak itu menangis tanpa suara. Membuat Meilan merasa sangat iba.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meilan tiba di rumah dengan selamat. Dan dia membawa anak perempuan itu ke rumahnya.


"Ini Vivian, bu. Dia hampir diculik tadi, dan berhasil kabur. Tapi dia tidak ingat nomor keluarganya, jadi aku pikir sebaiknya di sini. Kasihan." Meilan mencoba menjelaskan pada ibunya.


"Kamu ingat alamat rumahmu, nak?" tanya bu Nadin. Vivian menggeleng pelan.


Setelah Vivian tidur di kamar Meilan. Meilan kembali menemui keluarganya.


"Apa mungkin dia mengalami amnesia?" tanya pak Romi sambil menatap istri dan anaknya bergantian.


"Mungkin dia masih syok aja, yah. Karena nggak luka di kepala yang memicu amnesia." balas Meilan.


"Ibu jadi khawatir..." bu Nadin mulai cemas.


"Lupakan dulu soal Vivian." ujar pak Romi. "Meilan, tadi ayah bertemu om Farid." pak Romi melihat putrinya.


"Ada apa, yah?" tanya Meilan, meski dia tahu apa yang akan dibicarakan sang ayah.


"Om Farid sudah mendengar kabar soal kamu. Jadi dia kembali membicarakan soal putranya, Bima. Yang ingin sekali melamarmu."


"Ayah. Aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Sampaikan maafku ke om Farid dan Bima." Meilan menunduk.


"Nak..." bu Nadin meraih tangan Meilan dan mengusapnya lembut. "Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Ini sudah hampir tiga bulan. Bahkan Nando sudah akan melangsungkan pernikahannya."


"Tolong mengertilah..." pinta Meilan, lalu dia pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


"Mei...!!!" bu Nadin hendak menyusul Meilan. Tapi dicegah oleh suaminya.


"Biarkan saja, bu. Mungkin dia masih butuh waktu." ujarnya.


"Iya, yah."


"Sebaiknya kita tidur. Ini sudah malam."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2