
Meilan memasuki kamarnya, meletakkan tasnya di atas meja rias, kemudian melepas flatshoesnya.
"Aaahh..." Meilan menyandarkan punggungnya di sofa.
"Capek ya?" Devan baru saja masuk sambil menarik koper.
"Banget... Tangganya berasa makin tinggi saja..." keluh Meilan.
Devan berjongkok untuk merapikan sepatu Meilan.
"Bukan tangganya yang makin tinggi, sayangku... Tapi si baby ini yang makin berat." Devan mencium perut istrinya.
"Benar kata mami, sebaiknya kita pindah ke kamar tamu deh." ujar Devan lagi.
"Boleh." Meilan menyetujuinya.
"Besok aku akan minta tolong bibi menyiapkan semua ya." Devan mengusap pipi istrinya penuh sayang.
"Aku akan siapkan air hangat buat kamu mandi ya. Sudah sore ini."
"Terimakasih suamiku..."
Devan membalasnya dengan senyuman.
"Terimakasih sudah memberiku jodoh yang sangat baik, ya Allah."
"Semoga nggak ada lagi orang-orang menyebalkan dalam rumah tangga kita. Karena sekarang ini aku mudah sekali terbawa suasana dan cemburuan."
Malam harinya Meilan turun ke lantai 1 untuk makan malam bersama keluarga. Devan menuntunnya menuruni tangga dengan hati-hati. Sementara maminya sudah merasa ngilu setiap kali melihat menantunya berjalan atau beraktivitas dengan perut sebesar itu.
"Haduuuh..., perut mami sakit lihat kamu nak. Pindah kamar tamu saja nanti tidurnya ya." kata mami Siska.
"Iya, mam. Besok aku akan minta tolong bibi merapikan kamar tamu." sahut Devan.
"Telat kamu." papi ikutan bersuara. "Mami sudah menyiapkan semuanya sama bibi tadi. Sekarang sudah bisa ditempati."
"Oh ya?!" Devan tidak menyangka maminya sudah menyiapkan segalanya.
"Hem. Tinggal kamu bawa barang-barang yang dibutuhkan saja." tutur mami. "Mami ingin memberikan yang terbaik buat menantu dan cucu mami." mami Siska tersenyum pada menantunya.
"Terimakasih, mam..." Meilan sangat bahagia dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.
"Aku juga akan berusaha jadi tante yang baik." Vivian yang dari tadi diam, kini mulai ikutan nimbrung.
"Papi khawatir cucu papi malah habis di tangan kamu, Vian..." gurau papinya.
"Diiih, papi pikir aku apaan..." Vivian tidak terima diledekin papinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Banyak sekali pekerjaan yang tertunda karena ditinggal ke rumah nenek Sartika. Jadi selama 2 minggu ini Devan sangat sibuk di kantor. Bahkan terkadang dia melanjutkan pekerjaannya di rumah.
"Sayang..." Devan memanggil istrinya.
"Iya." balas Meilan yang sedang membaca buku panduan perawatan bayi pemberian maminya.
"Temani aku makan boleh? Laper..." Devan mengusap perutnya yang rata.
Dia merasa sangat lapar setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Ayo, mau makan apa?" tanya Meilan sambil berdiri dari kasur. "Ssstt..."
"Kenapa? Sakit?" Devan selalu was-was kalau mendengar istrinya merintih menahan sakit.
"Biasa sayang. Mami bilang karena bayinya sedang mencari jalan keluar." balas Meilan sambil tersenyum.
"Tenang ya nak. Nanti papa sharelok." canda Devan.
Puk
Meilan menepuk bahu suaminya.
__ADS_1
"Ada-ada saja." katanya. Devan malah tertawa.
Beberapa menit kemudian Devan sudah menghabiskan nasi goreng buatan istrinya. Meilan juga melahap habis buah yang dipotong Devan saat dia memasak tadi.
"Aaahh...!!" Meilan kembali merintih saat hendak beranjak dari kursi.
"Sakit lagi?" Devan mengusap perut istrinya.
"Ini lebih sakit, sayang..."
Meilan semakin pucat dan berkeringat.
"Mam..., mami...!!!" seru Devan.
"Sakiit...!!"
"Kita ke rumah sakit." kata Devan.
"Ya ampun Meilan." mami terkejut melihat Meilan yang kesakitan di atas kursi.
"Papiii...! Siapkan mobil...!!!" seru mami.
Beruntung jalanan tidak begitu ramai, karena sudah larut malam. Jadi mereka bisa sampai di rumah sakit lebih cepat.
"Aku akan menemanimu, sayang..." Devan mencium punggung tangan istrinya.
"Sakit sekali..." Meilan terus merintih di atas brankas persalinan.
"Sabar ya, nyonya. Bukaannya belum sempurna." kata suster.
Meilan terus mengikuti instruksi yang diberikan dokter Gisel.
"Atur nafas lagi nyonya. Sedikit lagi." kata dokter Gisel.
"Aaahh..., ini sakit...!!"
Meilan sudah tidak tahan lagi, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Setiap kali rasa sakit itu merundung, dia terus menarik tangan suaminya dengan kuat.
Meilan kembali mengatur nafas ketika merasakan sesuatu akan keluar.
"Sudah kelihatan, ayo nyonya pasti bisa!!" ujar dokter Gisel.
"Bisa, mama bisa sayang. Mama pasti bisa!"
Meilan berusaha meyakinkan dirinya sendiri yang sudah sangat kepayahan.
"Dalam hitungan tiga. Satu..., dua...,"
"Aaaahhhh...!!!!" Meilan mengeluarkan seluruh tenaganya yang tersisa.
Oeeek... Ooeeekk... Ooeeeek...
"Alhamdulillah...!!!" seru semua yang ada di dalam sana.
"Sayang..." nafas Meilan tidak beraturan.
Dia menangis bahagia karena sudah berhasil melahirkan buah hatinya dengan selamat.
"Terimakasih sayang... Terimakasih atas perjuangan kamu yang luar biasa." Devan menyatukan keningnya dengan Meilan.
"Aku jadi seorang ibu, sayang..." ujar Meilan di tengah tangis bahagianya.
"Iya..., iya..., sayang. Ibu yang luar biasa..." balas Devan.
Bersamaan dengan suara tangisan itu, para orang tua di depan sana teriak kegirangan sambil berpelukan.
"Bagaimana suster?" tanya pak Romi saat seorang suster keluar.
"Semua baik-baik saja, pak. Bayinya laki-laki, sedang dibersihkan di dalam. Ibu dan bayinya sangat sehat." terang suster itu.
"Alhamdulillah...!!!"
__ADS_1
"Saya permisi dulu, mau mengecek kamar yang akan di tempati nyonya Meilan." pamit suster.
"Ah, iya. Terimakasih suster."
"Sama-sama. Permisi..."
"Akhirnya kita punya jagoan kecil, pak." celetuk papi Galang.
"Benar, jagoan kita telah lahir." balas pak Romi. Kedua kakek itu berpelukan ala pria sejati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua tetap terjaga hingga matahari menampakkan kembali bersinar. Saking bahagianya menyambut malaikat kecil hadir di tengah-tengah mereka. Bayi menggemaskan itu diberi nama Brian oleh papanya.
"Ya ampuun..., rasanya mami tidak mau jauh dari ini bayi. Gemas deh mami..." kata mami.
"Kita tidak usah pulang saja, bu." sahut ibu.
"Mami lupa masih punya Vivian di rumah." kata papi.
"Ibu juga, Raka bagaimana? Dia harus ke sekolah hari ini." sahut pak Romi.
Mami dan ibu akhirnya pulang ke rumah untuk mengurus tante dan om baby Brian.
Meilan dan Devan hanya bisa tersenyum melihat wajah melas mereka yang tidak meninggalkan sang cucu.
"Aku akan menidurkannya di boks." Devan mengambil alih baby Brian dari pangkuan Meilan.
"Pindah dulu ya, nak. Papa harus mandiin mama kamu dulu. Biar kamu tidak kebauan." ujar Devan.
"Sayang, iih..." Meilan melempar bantal hingga mengenai punggung suaminya.
Tok... Tok...
Devan dan Meilan menghentikan langkah mereka yang hendak menuju kamar mandi. Seorang suster memasuki ruangan.
"Selamat pagi..." suster cantik itu memberi salam dengan ramah.
"Pagi..." jawab mereka.
"Butuh bantuan, nyonya?" tanya sustee.
"Tidak suster, terimakasih. Biar saya saja. Suster tolong temani anak saya ya." balas Devan.
"Baik, tuan."
"Ya ampun..., tumben-tumbenan ada suami yang mau melakukan semua sendiri. Apalagi sosok seperti tuan Devan."
Suster mendekati boks baby Brian.
"Beruntung sekali kamu, sayang. Memiliki orang tua seperti mereka."
Beberapa menit kemudian Meilan dan Devan keluar. Setelah Meilan duduk dengan nyaman, suster segera melakukan pemeriksaan.
"Semua stabil, nyonya." katanya. "Asinya bermasalah?" tanya suster kemudian.
"Sangat lancar." jawab Meilan.
"Beruntung sekali baby Brian ya..."
"Alhamdulillah..."
"Baiklah kalau begitu saya permisi."
"Terimakasih suster..."
Meilan memperhatikan suaminya yang terus memandangi baby Brian.
"Terimakasih sudah memberikan keluarga yang sempurna..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1