Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Melewati batas


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, Meilan melihat Sintia yang diam-diam mengamati Devan yang sedang menerima panggilan dari Mario. Dan handphonenya di arahkan pada Devan. Entah itu untuk mengambil gambar atau merekam video.


Tanpa berpikir lagi, Meilan menghampiri Sintia. Dan merebut handphone itu tanpa permisi.


"Mbak..., mbak Meilan..." Sintia tampak gugup.


"Tolong kembalikan, mbak!" pinta Sintia memohon.


"Diam di situ dan jangan mendekat!" perintah Meilan dengan tegas.


"Kembalikan, mbak. Aku mohon...!!"


"Aku bilang diam!" nada Meilan sedikit lebih tinggi.


"Kaaak..." Vivian tiba-tiba sudah ada di samping Meilan.


Vivian melihat Meilan dan Sintia saat dia sedang mencari Devan. Sehingga dia memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Tahan dia, Vi!" Meilan sedikit menjauh, dia mencari kursi untuk duduk dan memeriksa handphone yang bukan miliknya itu.


"Mbak jangan, mbak...!!" pekik Sintia yang begitu sangat khawatir.


Wajah Meilan memerah, matanya berkaca-kaca. Dalam hitungan detik air mata itu menetes, membasahi pipinya.


Sementara di taman, Devan yang kembali mengantongi handphone miliknya. Ketika berbalik dia melihat Vivian yang sedang mengunci tangan Sintia dari belakang. Devan segera mendekat, khawatir adiknya akan berbuat yang tidak-tidak.


"Apa semua ini, Sintia?!" Meilan melihat Sintia dengan tatapan yang sangat tajam.


"Begitu banyak foto suamiku di HP kamu. Buat apa?!" tanya Meilan.


"Itu hakku mbak." Sintia menghempaskan tangan Vivian dengan kasar.


"Aku mau simpan foto siapa terserah aku, ini HP milikku." balas Sintia. "Kembalikan!" Sintia merebut handphonenya dari tangan Meilan.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Devan sambil melihat istrinya.


Devan kemudian merangkul sang istri setelah menyadari istrinya menangis.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Devan.


"Ayo kita pergi!" Meilan mengajak Devan meninggalkan tempat itu.


"Nyimpan tuh foto idol, bukan suami orang." celetuk Vivian sebelum pergi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa yang terjadi, sayang? Cerita sama aku." bujuk Devan, tapi istri tetap bungkam.


"Kalau kamu diam seperti ini, aku mana tau..." lanjutnya.


"Aku mau cepat pulang." kata Meilan.


"Tapi kenapa? Bukannya kemarin kamu bilang mau menunggu sampai tujuh hari, saat ibu pamit pulang?" balas Devan.


"Aku nggak tahan. Perempuan itu selalu memperhatikan kamu, bahkan semua foto kamu ada di HP-nya!" Meilan yang tadinya diam tiba-tiba keceplosan dan mengatakan segalanya.


"Sintia?" Devan memastikan.


"Siapa lagi kalau bukan dia." balas Meilan. "Kamu tau, bahkan dia mengedit foto kamu. Apa itu wajar?!" Meilan mulai terbawa emosi.


Karena sudah kejebur dan terlanjur basah, tanggung kalau tidak dilanjutkan. Begitu pikir Meilan.


"Kamu bercanda?"


Wajar kalau Devan tidak percaya, karena Devan mengenal Sintia sudah lama. Bahkan dia juga tahu kalau Sintia menolak ketika mami papinya berniat menjodohkan Sintia dengannya.


"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, gimana dia memperhatikan setiap gerak-gerik kamu. Bahkan aku melihat editan foto kalian yang menjijikkan itu." ujar Meilan kesal.


"Apapun yang dia lakukan. Itu tidak akan mengubah apapun. Aku tetap suami kamu, dan kamu istriku." Devan mengecup kening Meilan.


"Tapi aku nggak rela dia melakukan itu. Ini sudah di luar batas normal." gumam Meilan.


"Tapi kamu percaya sama aku kan?" Devan membawa Meilan dalam pelukannya. "Cinta pertama dan terakhirku hanya kamu." kembali Devan menghadiahi Meilan dengan ciuman.


"Dan juga anak kita." sambung Devan.


Mereka sama-sama memberi sentuhan lembut pada calon buah hati. Hingga Meilan terlelap dalam dekapan suaminya.


Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman, Devan beranjak dari kamarnya. Dia bicara dengan Sintia.


"Vian..., ikut kakak!" perintahnya.


"Kemana?"


"Ada yang harus diselesaikan. Dan kakak tidak mau timbul fitnah."


Vivian masih ambigu, tapi dia tetap mengikuti sang kakak.

__ADS_1


"Sintia." panggil Devan.


Saat itu Sintia sedang menata barang untuk dibawa ke yayasan.


"Mas..., ada apa?" tanya Sintia sambil tersenyum.


"Berikan handphonemu padaku!" titah Devan.


"Untuk apa?!" Sintia terkejut dengan permintaan Devan. Dia melirik Vivian.


"Berikan saja!" perintah Devan untuk yang kedua kalinya.


"Udah sini!" Vivian tidak sabar dengan gerak lelet Sintia. "Lama amat!"


Vivian mengambil paksa handphone itu, lalu menyerahkan pada kakaknya.


"Kamu sadar apa yang kamu lakukan ini tidak benar?" ujar Devan setelah menghapus semua file di handphone Sintia. Termasuk arsip-arsipnya.


"Kamu terlalu lancang melewati batasanmu." katanya.


Devan benar-benar tidak menyangka Sintia yang bisa bertingkah seperti itu.


"Mas..., kenapa aku tidak boleh menyimpannya?" Sintia sudah berani melakukan pembelaan pada dirinya sendiri.


"Perbuatanmu menyakiti istriku. Berhenti melakukan hal konyol seperti itu lagi!" tegas Devan.


Devan berlalu meninggalkan Sintia yang masih meratapi galeri handphonenya yang sudah kosong.


"Sekedar saran nih, mbak ya." Vivian mendekati Sintia.


"Cari pacar gih, terus nikah. Biar nggak haluin suami orang mulu. Kalau gini kan mbaknya juga yang nyesek. Cari pacar ya!"


Vivian menepuk bahu Sintia sebelum pergi. Sintia hanya membalas dengan kibasan bahunya.


"Jahat sekali kamu, mas... Kamu menghapus semuanya..."


Sintia pun menangis.


"Aku sadar kalau aku tidak bisa menggapaimu mas, tapi setidaknya biarkan foto-foto itu tetap ada. Hanya itu yang bisa aku miliki..."


Sejak Sintia melihat keharmonisan Devan dan Meilan. Cara mereka saling mengungkapkan kasih sayang, dan memberi perhatian. Sintia mulai merasa iri, dan ingin mendapat perlakukan yang sama seperti Meilan. Dia ingin memiliki Devan, sekalipun itu hanya dalam dunia perhaluannya.


Tapi hari ini semua hilang. Dan yang membuat Sintia sangat sedih, karena Devanlah yang melakukannya. Dia merasa semua ini tidak adil baginya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2