Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Senyum Nenek


__ADS_3

Sebelum tidur, Meilan membuka album keluarga milik nenek. Sedikit banyak dia tahu apa yang terjadi pada nenek, karena mami dan papinya sudah menceritakan beberapa hal pada Meilan ketika mereka dalam perjalanan.


"Mau tidur sekarang?" tanya Devan yang baru saja selesai menelepon papinya untuk menanyakan kabar nenek.


"Aku belum ngantuk." jawab Meilan.


"Dev..., kamu belum cerita kenapa Fero memukulmu tadi?" sejak tiba di rumah sakit dia ingin menanyakannya. Tapi dia takut akan timbul keributan lagi.


"Hanya salah paham, sayang. Aku hanya minta mereka masuk setelah nenek bangun. Aku tidak mau nenek terganggu." begitu penjelasan Devan.


"Kenapa dia begitu? Nggak ada ramah-ramahnya juga."


"Kenapa tadi kamu tidak tanyakan langsung padanya, hah?!" goda Devan.


"Dev..."


"Iya, maaf..." Devan memencet hidung mancung Meilan.


"Dia tidak menyukaiku. Karena menurutnya nenek terlalu memprioritaskan aku. Padahal cucu kandungnya adalah dia." terang Devan.


"Apalagi setelah tadi pagi nenek mengatakan akan menyerahkan yayasan padaku. Om Herman dan Fero marah besar." tambahnya.


"Nenek bilang kamu lebih pantas. Karena kamu seperti kakek, jiwa sosialnya tinggi." sahut Meilan.


"Tapi aku tetap akan bicara pada nenek. Barang kali mereka bisa berubah, aku akan memberikannya pada Fero." Devan menatap langit-langit kamarnya.


"Apa menurutmu, orang yang sudah gila harta seperti mereka bisa berubah?" tanya Devan.


"Pasti bisa." Meilan sangat optimis.


"Kamu percaya diri sekali, sayang. Padahal kamu baru tadi bertemu mereka." Devan melirik istrinya yang masih memegang album foto.


"Aku hanya mencoba untuk selalu berpikir positif."


"Aku tidak salah memilihmu." Devan mengambil buku album itu. "Sekarang kita tidur ya. Aku sangat lelah."


"Em." Meilan mengangguk.


"Aku sangat merindukanmu, sayang..." Devan memeluk istrinya sangat erat.


"Aku juga."


Mereka berdua terlelap dalam pelukan hangat yang penuh kerinduan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit.


Pak Herman terlihat sedang duduk di sisi kasur nenek Sartika. Menatap ibunya yang sedang tertidur pulas.


"Mas..., lakukan sekarang!" bisik istrinya sambil memberikan selembar kertas.


Pak Herman tidak bergeming.


"Mas..., ayo!! Mumpung tidak ada orang." katanya lagi.


Pak Herman mengambil kertas itu. Tante Rosa tersenyum miring, dia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. Karena selalu bisa mengontrol suami dan anaknya.


Tapi senyum itu berubah jadi tatapan yang penuh amarah. Ketika suaminya meremas kertas darinya.


Tanpa banyak bicara pak Herman menarik tangan tante Rosa keluar dari kamar nenek.


"Sudah cukup Rosa, jangan lagi!" ujar pak Herman. "Kamu sudah mendapatkan semuanya. Aku, Fero, rumah, perkebunan. Apa masih kurang?!"


"Mas, kamu anaknya. Kamu berhak mendapatkan semuanya." balas tante Rosa.


"Tanpa kamu minta pun aku akan dapat segalanya. Kita hanya perlu menunggu." kata pak Herman.


"Tapi aku tidak ingin menunggu, mas." bantahnya. "Kamu lihat saja yayasan itu. Kamu terlalu lelet sehingga ibumu memberikannya pada Devan!"


"Kamu salah. Semua karena kita serakah." gumam pak Herman.


"Kita hanya mengambil hak kita, mas. Hak kamu dan Fero!" tandas tante Rosa.


"Cukup, Rosa. Saat ini aku hanya ingin ibuku sembuh. Dia orang tuaku satu-satunya." pak Herman menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terserah!" tante Rosa mengambil tasnya, lalu dia pergi dari rumah sakit.


Tak lama kemudian papi dan mami Devan datang.


"Aku bertemu Rosa di depan, mau kemana dia? Ini sudah malam." mami Siska duduk di samping adik sepupunya.


"Biarkan saja, mbak." balas pak Herman. "Aku hanya ingin fokus pada ibu. Dia orang tuaku satu-satunya." katanya.


Ada rasa lega di hati mami Siska. Dia kemudian merangkul pak Herman.


"Ibu akan baik-baik saja. Ayo masuk, kasihan nanti kalau ibu bangun tidak menemukan siapapun." ujar mami Siska.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, masih di rumah sakit yang sama. Nenek Sartika menitihkan air matanya saat melihat putranya tidur sambil menggengam tangannya.


Perlahan nenek mengangkat tangannya, mengusap rambut putranya penuh kasih sayang.


"Ibu..." pak Herman bangun. "Ibu sudah bangun. Apa yang ibu butuhkan?" tanya pak Herman.


Nenek Sartika menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum tulus pada pak Herman.


"Ibu tidak sedang bermimpi kan?" nenek Sartika mengusap pipi pak Herman.


"Tidak ibu, ini aku. Anak ibu." kata Herman.


"Aku minta maaf ibu..., aku mohon maafkan semua kesalahanku. Aku sudah durhaka pada ibu, bu...!!!" pak Herman menangis dalam pelukan ibunya.


Mami Siska mengurungkan niatnya untuk masuk, dia memilih menutup pintu itu lagi setelah melihat ibu dan anak sedang berpelukan di dalam sana.


"Kenapa, mam?" tanya suaminya.


"Mereka sedang melepas kerinduan. Kita biarkan saja dulu." mami Siska tersenyum.


"Semoga Herman tidak masuk dalam rayuan istrinya lagi." gumam papi Galang.


"Ibu pasti bahagia sekali sekarang." kata mami Siska.


Nenek Sartika sangat menikmati kebersamaannya dengan pak Herman. Seolah mereka baru bertemu setelah berpuluh-puluh tahun berpisah.


Dari kejauhan Devan dan Meilan melihat kebersamaan mereka.


"Itu om Herman sama nenek." kata Meilan.


"Kamu benar. Ayo kita ke sana!" ajak Devan.


"Nenek..." sapa Devan. "Om..."


"Kalian sudah datang." kata nenek.


"Apa kabar, nek?" sapa Meilan sambil berjongkok, untuk mengimbangi nenek yang berada di atas kursi roda.


"Kamu tau, hari ini nenek sangat bahagia." nenek menatap putranya, kemudian beralih pada Meilan.


"Aku bisa melihatnya. Hari ini senyum nenek lebih manis." nada bicara Meilan sungguh menyenangkan hati nenek.


Mereka berempat ngobrol santai di taman itu. Seolah tidak pernah ada keributan di antara mereka sebelumnya.


Hari makin siang, pak Herman pamit untuk pulang. Begitu juga dengan orang tua Devan. Giliran Devan dan Meilan yang menemani nenek Sartika.


"Kalau seperti ini terus, nenek akan pulang lebih cepat." ujar dokter Ilham.


"Tidak bisakah aku pulang hari ini?" tanya nenek.


"Tidak kalau untuk hari ini." dokter itu tersenyum.


"Nenek jangan khawatir, aku akan menemani nenek di sini sampai nenek sembuh." Meilan meraih tangan nenek.


"Sungguh?"


"Tentu, nenek..." Meilan tersenyum sangat manis.


Kemudian dokter Ilham pamit untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya.


"Devan..., ada ingin nenek bicarakan." ujar nenek.

__ADS_1


"Iya, nek." Devan yang tadinya duduk sofa, kini beralih duduk di tepi kasur neneknya.


"Sebenarnya pagi itu pengacara nenek belum selesai membacakan wasiat dari kakek." katanya.


Mendengar ucapan nenek Sartika, Meilan bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka. Dia merasa tidak enak pada suami dan neneknya.


"Nek, aku keluar dulu ya." pamit Meilan.


"Meilan, kamu tidak perlu pergi. Kamu istri Devan, cucuku. Kamu juga bagian dari keluarga kita." nenek tersenyum pada Meilan. Dan menyuruh Meilan kembali duduk di kursinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore itu Sintia datang ke rumah sakit. Dia bertemu Devan di ruang tunggu.


"Mas Devan..." sapanya.


Devan hanya menoleh tanpa mengatakan apapun.


"Kenapa di luar?" tanya Sintia.


"Meilan sedang menggantikan baju nenek." jawabnya datar, pandangannya tidak lepas dari benda pipih di tangannya.


Mendengar jawaban dari Devan dan sikapnya, Sintia langsung terdiam. Memilih duduk di kursi untuk menunggu.


"Mas Devan tidak berubah. Tetap dingin pada semua perempuan. Termasuk aku. Tapi dia begitu hangat pada Meilan. Ada apa pada Meilan, sehingga dia bisa meluluhkan mas Devan?"


Ceklek


Pintu terbuka, Devan langsung berdiri.


"Sudah?" tanya Devan sambil mengantongi ponselnya.


"Iya." Meilan melihat Sintia.


"Seberapa lama mereka di sini berdua? Eh, kenapa aku harus khawatir sih??"


Meilan tersenyum pada Sintia.


"Ada Sintia, ayo masuk!" ajak Meilan.


Devan masuk lebih dulu, di susul oleh Sintia. Meninggalkan Meilan yang masih menutup pintu.


"Nenek apa kabar?" Sintia menyalami nenek.


"Baik. Meilan merawatku dengan sangat baik." nenek melihat Meilan yang sedang duduk bersama Devan.


Sintia mengikuti arah pandang nenek. Dan dia menyesal melakukannya.


"Jangan begitu Sintia. Meilan istri Devan. Kenapa kamu cemburu melihat mereka bersama?"


"Bagaimana yayasan?" tanya nenek balik.


"Semua baik, nek. Mereka sangat berharap nenek segera pulang." kata Sintia.


Meilan beranjak dari duduknya, dia mendekati nenek dan Sintia.


"Nek, aku keluar sebentar ya. Nenek mau dibawain apa?" tanya Meilan.


"Tidak perlu repot. Pergilah. Ada Sintia di sini." ujar nenek.


"Sintia, aku nitip nenek ya."


"Iya, mbak. Jangan khawatir." balas Sintia.


"Terimakasih." Meilan tersenyum.


Nenek menatap kepergian keduanya dengan mata yang berbinar-binar dan senyuman. Dari situ Sintia bisa melihat kalau nenek sangat bahagia melihat cucunya bersama Meilan.


"Mungkin mereka sederajat. Sama-sama dari kalangan keluarga berada dan jelas asal-usulnya."


"Kalau aku..."


"Ya ampun Sintia..., kenapa kamu jadi berpikiran aneh seperti ini. Kenapa sejak kedatangan Meilan kamu jadi semakin memikirkan mas Devan, sih??? Dia sudah jadi suami orang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2