Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Minta Bekal


__ADS_3

Devan sudah meninggalkan hotel dan membawa pulang istrinya ke rumah. Semua menyambut Meilan dengan suka cita. Apalagi Vivian, orang pertama yang menginginkan Meilan menjadi bagian dalam keluarganya.


Sebelum tidur Meilan mempersiapkan semua kebutuhan suaminya untuk pergi ke luar kota esok hari.


"Udah kayak cerita novel aja. Baru juga menikah udah ditinggal kerja. Apa baik seperti itu...?"


Meilan mengambil satu pouch kecil obat yang mungkin akan suaminya butuhkan.


"Bukan masalah status sebagai pengantin baru. Tapi kan canggung di rumah mertua tanpa suami..."


Saking sibuknya bergulat dengan pikirannya, Meilan sampai tidak sadar kalau Devan sudah ada di belakangnya. Dan kini tangannya melingkar di pinggang Meilan.


"Aaah!" Meilan terkejut. "Ngagetin aja sih...!!"


"Maaf. Sudah selesai?" tanya Devan. Meilan mengangguk.


"Biar aku angkat." Devan melepas pelukannya, lalu menurunkan kopernya dari atas kasur.


"Memangnya ada masalah apa di sana?" tanya Meilan sambil melihat pergerakan yang dilakukan Devan.


"Aku harus menemui orang-orang yang ingin mengajakku bermain-main." ujarnya, kemudian berbalik menghampiri istrinya yang sedang duduk di tepi kasur.


Meilan tahu pasti ada masalah serius, meski Devan selalu menganggap remeh semua masalah yang sedang dia hadapi.


"Kenapa wajahnya begitu, hah?" Devan mengangkat dagu Meilan. "Semua baik-baik saja."


"Bagaimana bisa hal biasa sampai membuatnya pergi tiba-tiba begini..."


"Kita tidur yuk, sudah malam. Jangan berpikir yang aneh-aneh." katanya lagi.


Malam itu Devan memeluk istrinya dengan sangat erat.


"Dev..., engap..." gumam Meilan.


"Maaf..." Devan mengecup kening istrinya setelah memberi sedikit jarak.


"Aku selalu berpikir ini mimpi. Karena semua terlalu cepat." Devan menatap mata indah Meilan. "Tapi aku sangat bahagia. Terimakasih kamu bersedia menikah denganku. Cinta pertamaku..." lagi-lagi Devan memberikan kecupan pada kening Meilan.


"Apa aku akan jadi yang terakhir?" goda Meilan.


"Tidak jika anak-anak kita lahir. Kamu akan memiliki banyak saingan." Devan pun tak segan membalas.


Seketika wajah Meilan memerah, dan dia memukul pelan dada suaminya.


"Sayang..."


"Heemmm...?!"


"Boleh aku minta bekal buat besok?" Devan mengusap pipi istrinya.


"Boleh dong, mau dimasakin apa?" Meilan akan dengan hati menyiapkan bekal buat Devan. Apalagi waktu di hotel Devan sempat bilang ingin sekali makan masakannya.


"Aku maunya kamu." bisik Devan.


Meilan cukup mengerti kode yang diberikan suaminya. Meilan tersipu malu.


"Malam ini boleh? Sebelum aku pergi." pinta Devan lagi.


Masih dengan malu-malu dan wajah yang merona, Meilan mengiyakan permintaan suaminya dengan anggukan kepala.


Devan mengecup lembut bibir Meilan, kemudian menyatukan keningnya dengan Meilan.


"I love you sayang..." bisik Devan.


"Me too..." balas Meilan.


Malam itu menjadi malam pertama penyatuan cinta mereka. Tidak banyak untaian kata yang terucap dari keduanya. Tatapan mata dan senyuman keduanya, sudah cukup mewakili rasa syukur keduanya atas apa yang mereka miliki saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Devan merapikan helaian rambut yang sedikit menutupi wajah istrinya. Kemudian mencium pipinya penuh kasih. Meilan sedikit terusik, kemudian kembali terlelap. Devan tersenyum teringat dengan apa mereka lakukan semalam.


"Terimakasih sayang. Kamu menjaganya dengan baik."


Devan beranjak dari kasurnya. Tidak ingin mengganggu kekasih halalnya yang masih pulas. Dia sangat sadar, apa yang dia lakukan semalam pasti membuat Meilan sangat kelelahan. Dia pun memilih menyiapkan air mandinya sendiri, tanpa membangunkan Meilan.


Ketika Devan berada di dalam kamar mandi, perlahan Meilan membuka matanya. Dia tidak menemukan Devan di sampingnya. Meilan merasa ada yang aneh, dia kemudian memperhatikan tampilannya sendiri. Sangat polos dan hanya berbalut selimut. Meilan tersipu lalu menutup wajahnya dengan selimut.


Meilan berpikir untuk segera bangun dan mengambil baju tidurnya yang tergeletak di sofa sebelum suaminya selesai mandi.

__ADS_1


"Aaahhh!!"


Meilan merintih. Dia merasakan sakit yang luar biasa ketika hendak berdiri


Ceklek


Devan keluar dari kamar mandi. Meilan menoleh ke arahnya.


"Sayang, kenapa?" Devan segera menghampiri Meilan ketika melihat istrinya itu seperti sedang menahan sakit.


"Sakit, Dev..." Meilan mengadu.


"Apa yang sakit?" Devan panik.


Meilan tidak menjawab, dia hanya terus melihat ke bawah. Devan tersenyum tipis, lalu mengecup kening istrinya.


"Itu akan segera hilang, sayang. Diamlah di sini aku siapkan air untukmu." Devan kembali lagi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Beberapa saat kemudian...


Devan mendekati istrinya yang sedang menyisir rambutnya.


"Kalau masih sakit, kita sarapannya di kamar saja ya?" Devan mencium puncak kepala Meilan dari belakang.


"Nggak pa-pa kok. Nggak enak juga sama yang lain sudah menunggu." Meilan tersenyum sambil menatap suaminya dari pantulan cermin.


"Serius? Tidak masalah kok kalau kita makan di sini." ujar Devan sekali lagi.


"Kamu nggak masalah, aku yang nggak enak sama mami dan papi." balas Meilan.


"Ya sudah, ayo!" Devan menggandeng istrinya, mereka berdua keluar dan bergabung dengan yang lain di meja makan.


"Nyenyak tidurnya, nak?" tanya mami pada Meilan.


"Iya, mam." jawab Meilan.


"Kakak beneran nggak ikut kak Devan pergi kan?" Vivian ikutan nimbrung.


"Tidak, kak Meilan di rumah." Devan yang membalas.


"Iyeeesss!!!" seru Vivian. "Kita bisa jalan-jalan, iya kan kak?" Vivian mengedipkan matanya pada Vivian.


"Koper sudah masuk pak?" tanya Devan pada pak Jefri.


"Sudah, tuan." jawabnya.


"Sayang, aku berangkat. Baik-baik di rumah ya." Devan membelai surai hitam istrinya. "Kalau mau kemana-mana minta antar sama Fadil." Meilan mengangguk.


"Kamu hati-hati ya." balas Meilan. "Jangan lupa kabari aku."


"Iya, sayang..."


Cup


Devan mengecup bibir Meilan secara tiba-tiba, membuat Meilan terpaku dan malu karena ada Mario dan juga pak Jefri di sana.


"Mentang-mentang pengantin baru..."


Mario hanya bisa mengumpat dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tok... Tok... Tok...


Meilan segera membuka pintu kamarnya.


"Mami, masuk mam." Meilan mempersilakan maminya masuk, lalu dia kembali menutup pintunya.


"Sini nak." Mami yang sudah duduk di tepian kasur, menepuk kasur di sampingnya.


"Ada apa mam?" tanya Meilan.


"Devan minta mami menemuimu. Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya maminya.


"Iya, mam. Aku baik-baik aja."


"Syukurlah. Devan sangat mengkhawatirkan kamu nak." mami mengusap tangan menantunya itu.


"Kalau kamu butuh sesuatu, katakan sama mami. Karena mami juga orang tua kamu sekarang. Jangan sungkan ya."

__ADS_1


"Iya, mam. Terimakasih..." Meilan memeluk maminya.


Setelah lama mengobrol, akhirnya mami keluar agar Meilan bisa beristirahat.


Meilan baru saja ingin pergi tidur, tapi handphonenya berdering. Entah sudah berapa kali Devan menghubunginya hari ini. Padahal ini baru hari pertama dia pergi.


"Sudah mau tidur?"


"Iya. Mami baru saja keluar." kata Meilan.


"Mami mengatakan sesuatu?"


"Mau tau aja..."


"Begitu ya sekarang..."


Meilan hanya tersenyum.


"Ya sudah, tidurlah sudah malam. Mimpikan aku ya."


"Kamu juga cepat istirahat, jaga kesehatan ya."


"Iya sayang. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Mereka mengakhiri panggilan video itu dengan penuh senyuman.


"Aku kangen sama kamu, Dev..."


Meilan menaruh handphonenya di atas nakas. Dia kembali merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan memeluk gulingnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mengakhiri panggilan videonya, Devan keluar dari kamarnya. Dia ingin mengisi gelasnya yang sudah kosong.


Senyum Devan mengembang ketika mendapati seorang nenek sedang duduk di ruang makan sambil menikmati teh hangatnya.


"Nenek belum tidur?" tanya Devan.


"Belum bisa tidur." katanya.


"Apa yang sedang nenek pikirkan?" Devan meraih tangan nenek itu.


"Nenek mengkhawatirkan yayasan itu. Bagaimana kalau mereka benar-benar mengambilnya?" mata nenek berkaca-kaca.


"Nek, nenek tau kan kenapa Devan ada di sini sekarang? Devan datang untuk mempertahankan yayasan itu. Jadi nenek jangan khawatir." Devan mengecup punggung tangan yang sudah keriput dimakan usia itu.


"Apa bisa?" nenek masih terlihat ragu.


"Yakin bisa, nek. Nenek harus percaya sama Devan dan terus do'ain Devan ya."


"Do'a nenek selalu menyertaimu, nak." nenek mencium kening Devan.


"Sekarang nenek istirahat, ya. Sudah malam."


"Iya..."


"Bibi...!!" seru Devan. Tak lama kemudian bibi datang.


"Tolong antar nenek ke kamarnya."


"Baik, den."


Baru beberapa langkah, nenek berhenti. Dia menoleh ke arah Devan.


"Kamu sudah telepon istrimu?" tanya nenek.


"Sudah, nek." Devan tersenyum.


"Lain kali bawa dia kemari. Nenek ingin melihat seperti apa dia." katanya.


"Iya, nek..."


Nenek Sartika adalah adik dari neneknya Devan. Nenek Sartika merupakan satu-satunya orang tua yang tersisa dalam keluarga besar Devan. Suaminya juga sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Meninggalkan sebuah yayasan yang kini dijadikan rebutan oleh anak dan cucunya.


Dan Devan datang untuk membantu nenek Sartika mempertahankan yayasan peninggalan sang kakek. Agar tidak jatuh di tangan orang-orang yang serakah, yang hanya mengincar harta kakek dan nenek mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2