Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Es Penghangat


__ADS_3

Meilan merasakan tangannya ditarik paksa oleh seseorang hingga tubuhnya berputar arah. Saat berbalik ternyata orang itu adalah Raisa.


Plaaakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Meilan. Tubuhnya terjatuh karena dia belum siap menerima serangan yang tiba-tiba dari Raisa.


"Meilan...!!!"


"Mei...!!!"


"Meilan...!!!"


Luna yang posisinya lebih dekat, lebih dulu menolong Meilan. Tak lama setelah itu Devan mengambil alih Meilan dari tangan Luna. Dan membantunya berdiri.


Di saat yang sama, Raisa menatap tajam suaminya yang sempat berteriak menyebut nama Meilan.


"Apa-apaan sih? Main gampar kayak gitu!!" bentak Luna yang tak terima temannya disakiti tanpa alasan.


"Kamu tidak apa-apa?" Devan terlihat sangat panik.


"Nggak." Meilan masih memegang pipinya yang terasa panas bercampur perih.


"Dia pantas menerimanya. Gara-gara dia, sampai hari ini mertuaku tidak menerimaku. Dan selalu memujinya!" tanpa Raisa sadari, emosinya justru mengungkap masalah rumah tangganya sendiri. Yang seharusnya tidak untuk dijadikan konsumsi publik.


"Raisa, cukup!" Nando menarik tangannya.


"Hei, bro." Devan menatap Nando. "Kasih tau istrimu, jangan selalu menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri."


"Dan satu lagi, ajari dia agar tidak bermain kasar." ujar Devan. "Kalau sampai dia menyakiti Meilan lagi, aku pastikan aku yang akan turun tangan mengajarinya." Devan menatap Raisa dengan sorot yang penuh amarah.


"Kalau saja dia bukan seorang perempuan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Devan membawa Meilan masuk ke dalam mobilnya, Luna mengekor di belakang mereka.


"Sakit?" tanya Devan dengan nada yang sangat lembut. Meilan menggeleng.


"Tanganmu terluka." ujar Devan saat melihat luka gores di pangkal telapak tangan Meilan.


Devan mengambil kotak obat di dashboard mobilnya. Lalu membersihkan luka itu.


Luna yang ada di samping Meilan hanya diam memperhatikan saja.


"Ayolah..., ini hanya luka kecil. Kenapa dia sepanik itu?? Ya ampun..., sebuncin itukah dia pada Meilan."


Meilan dari tadi hanya diam. Dia tidak menyangka Raisa akan seperti itu padanya. Kemudian dia melihat Devan. Otaknya belum bisa berpikir, bagaimana Devan bisa tiba-tiba datang dan menolongnya.


"Pak Devan bisa antar Meilan pulang?" pertanyaan itu membuat Meilan kembali pada alam sadarnya.


Mata Meilan memberi isyarat, kalau dia tidak mau. Tapi Luna tersenyum dan mengusap bahunya.


"Raisa sangat emosi. Aku khawatir dia masih ingin menyakitimu. Aku pikir kamu akan lebih aman sama pak Devan. Daripada naik motor sama aku."


"Luna benar. Aku yang akan mengantarmu pulang." kata Devan.


Meilan tidak memiliki pilihan lain. Dia tidak ingin bertemu dengan Raisa dan Nando lagi untuk saat ini.


Mobil Devan melaju membawa Meilan menjauh dari taman itu. Saat melihat pedangang es keliling, Devan menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Tunggu ya."


Meilan melihat Devan turun, lalu menghampiri penjual es itu. Tak lama kemudian mereka terlihat saling berebut. Saat Devan kembali, dia membawa es batu dalam plastik kecil. Meilan melihat kembali ke luar jendela. Si bapak terlihat sangat bahagia sambil memegang uang pemberian Devan.


Jangan berharap ada adegan romantis bak drama korea. Dimana tokoh utama akan mengeluarkan sapu tangan dan tokoh lainnya akan menyimpannya setelah itu. Nyatanya Devan hanya membalut es batu dari si bapak dengan tisu basah milik Vivian yang selalu ditinggal sembarangan di setiap mobil yang dia naiki.


"Maaf..." satu kata itu cukup mewakili niat Devan. Minta izin untuk menempelkan es batu pada bekas tamparan Raisa.


"Ini akan terasa lebih baik." gumamnya.


Wajah mereka sangat dekat. Mata keduanya beradu. Semakin membuat dada keduanya bergemuruh dengan hebat. Sesaat kemudian Devan menjauh, dan membiarkan Meilan memegang benda dingin itu sendiri.


Tok... Tok...


Keduanya terkejut karena seseorang mengetuk jendela mobil yang tertutup rapat.


"Maaf, mas." ternyata bapak penjual es.


"Ini buat masnya." si bapak memberikan 2 gelas es pada Devan. Satu es teh, satu lagi es jeruk.


"Tidak perlu repot begini, pak. Saya hanya butuh es batunya saja." balas Devan.


"Tidak pa-pa. Ini karena mas sudah baik sama saya." ujarnya. "Semoga rejekinya lancar, dan segera diberi momongan." katanya.


"Aamiin..."


Meilan terkejut mendengar do'a yang kemudian diamini sama Devan.


"Apa menurutmu ini bisa diminum?" Devan menunjukkan minuman itu pada Meilan, setelah si bapak pergi.


Pertanyaan yang sangat konyol menurut Meilan. Hingga Meilan tertawa.


"Hati-hati..." Devan ikutan panik.


"Kamunya sih ada-ada aja. Ya jelas bisa, kan itu minuman." kata Meilan.


"Maksudku..., apa tidak akan bermasalah di perut kita?" Devan melirik es ta berdosa itu, seolah es itu sangat berbahaya.


Lagi-lagi Meilan ingin tertawa, tapi dia memilih menahannya. Dia memaklumi sikap Devan, sepertinya Devan belum pernah jajan di kaki lima seperti punya si bapak itu.


Tanpa keduanya sadari, drama es si bapak membuat suasana menghangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kedua orang tua Meilan kaget saat Meilan datang bersama Devan. Karena berangkatnya boncengan dengan Luna. Terlebih saat tahu pipi putrinya memerah dan ada plester di tangannya.


"Tolong biarkan Meilan istirahat." tutur Devan saat sang ayah mempertanyakan perihal luka pada Meilan.


Pak Romi mengerti, dia meminta istrinya mengantar Meilan. Kemudian dia ngobrol dengan Devan. Devan tanpa ragu menceritakan apa yang sudah menimpa Meilan.


"Terimakasih, nak. Kamu sudah menolong Meilan dan mengantarnya pulang. Kenapa mereka selalu saja mencari masalah??" pak Romi memijat pelipisnya.


"Sabar, om." hanya itu yang bisa Devan katakan. Padahal tadi dia sudah ingin menghajar Raisa.


Pak Romi melirik Devan, dia tersenyum. Seperti tahu apa yang sedang Devan pikirkan.


"Kamu bilang sabar. Padahal om yakin, kamu disana tadi pasti ingin membalas perbuatannya bukan?"


Merasa perkataan si om benar, Devan hanya bisa mengusap lehernya berulang kali.

__ADS_1


"Tidak ada seorang pun yang rela, melihat orang yang dia sayangi disakiti." tutur pak Romi.


Lagi-lagi Devan tersentil. Dia jadi salah tingkah.


"Om tau kamu sedang berjuang. Ingat, jangan menyerah sebelum perang."


"Ma..., maksud..., om...?!" Devan terbata.


"Semoga kamu adalah jodoh yang memang diciptakan untuk Meilan. Om merestui perjuanganmu."


Devan benar-benar ingin berteriak saking senangnya. Seolah menang tender ketika mendengar perkataan ayah Meilan.


"Terimakasih, om." katanya.


Pak Romi menepuk pundak Devan untuk memberi dukungan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Rupanya seru sekali." bu Nadin datang membawa minuman dan camilan.


"Urusan pria. Ibu tidak perlu kepo." balas pak Romi.


"Halaaah..., gayanya." bu Nadin kemudian duduk di samping suaminya.


Devan menahan tawanya melihat kedua orang tua Meilan.


"Apa mami dan papi juga merestuiku, kalau pilihanku adalah Meilan?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana di rumah Meilan yang begitu hangat, berbanding terbalik dengan suasana di kamar Nando.


"Sayang..., ayolah. Jangan diam saja." Nando masih membujuk istrinya yang sedang uring-uringan.


"Sebaiknya kita bersiap, karena kita akan pindah ke apartemen."


"Kamu jahat!" cetus Raisa. "Bisa-bisanya kamu lebih peduli sama Meilan daripada aku."


"Sayang..."


"Kalau Devan tidak lebih cepat, pasti kamu kan yang akan menolongnya. Dasar munafik. CLBK sama mantan. Iya?!"


"Cukup! Lebih baik aku pergi. Pusing di rumah mendengar ocehanmu!" Nando meraih kunci mobilnya yang tergeletak di nakas.


Braak


Pintu tak bersalah itu menjadi pelampiasan. Raisa mengejarnya tapi dia diabaikan.


"Sepertinya aku melewatkan sesuatu." cibir bu Lisa saat Raisa akan kembali ke kamarnya.


"Sudah lihat kan? Segala sesuatu yang diperoleh dari jalan yang tidak benar, tidak akan berakhir menyenangkan." katanya lagi.


Raisa tidak ingin membalasnya, dia memilih menaiki tangga dan kembali ke kamar membawa serta semua kekesalannya.


"Aaaahhh!!!! Brengsek semuanyaaa...!!!"


Dia membuat seisi kamar berantakan.


"Meilaaaann...!!! Ini belum berakhir." geramnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2