Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Maaf


__ADS_3

Raisa sedang termenung di atas tempat tidurnya. Dia memutar ulang setiap kejadian yang menimpanya. Hari dia mengetahui ada kehidupan lain dalam rahimnya. Kenyataan bahwa suaminya tidak bisa memberikan keturunan, membuat Raisa sangat yakin ayah dari bayi itu adalah Mark. Karena hanya dengan Mark dia melakukan hubungan yang seharusnya hanya dilakukan oleh pasangan suami istri itu.


Fakta lain yang semakin membuat dirinya hancur adalah ketika dia menemui Mark di apartemennya.


Mark tidak mengakui kalau bayi itu miliknya. Mark mengatakan dirinya seorang jal*ng yang haus belaian, dan akan tidur dengan siapapun yang membuatnya nyaman.


Lamunan itu seketika buyar karena deringan handphone di atas nakas. Papa mertuanya memberitahu kalau suaminya sedang ada di rumah mereka dalam kondisi yang tidak baik.


Raisa pun pergi menemui Nando. Dia akan minta maaf dengan cara apapun. Dia akan terima jika nantinya Nando memberi syarat apapun untuk memberikan maaf padanya. Termasuk menggugurkan kandungannya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Raisa yang duduk di samping Nando yang sedang berbaring.


Diam...


"Minumlah dulu, aku sudah buatkan teh hangat." Raisa mengambil secangkir teh di atas nakas.


Pyaaar


Dalam hitungan detik pecahan cangkir dan air teh berserakan di lantai kamar Nando.


"Siapa yang menyuruhmu datang, hah?!" hardik Nando sambil mencengkram pergelangan tangan Raisa.


"Nando sakiit..." Raisa merintih kesakitan, tapi Nando tidak peduli.


"Sakit mana dengan luka yang aku dapatkan karena kelakuan bejat kamu itu?!!" balas Nando dengan kasar.


Raisa menangis.


"Air matamu tidak akan membuatku iba. Dasar mur*ha*n!!!"


Buuggh


Tubuh Raisa terhempas hingga membentur lemari. Dan dia terjatuh.


"Aku minta maaf, Nando..." ujar Raisa di tengah isak tangisnya.


"Ada apa ini?!"


Orang tua Nando datang karena mendengar keributan. Pecahan cangkir teh, Nando yang terlihat sangat marah. Dan...


"Raisa kamu kenapa?!" pak Wisnu mendekati menantunya yang merintih kesakitan sambil memegang perutnya.


Lain halnya dengan bu Lisa, dia memilih menenangkan putranya.


Saat pak Wisnu membantu Raisa berdiri, dia melihat darah mengalir di kaki menantunya itu.

__ADS_1


"Darah?!!" pak Wisnu semakin panik.


Seketika Nando menyibakkan selimutnya, lalu beranjak dari kasur. Nando memang sangat marah, tapi ketika melihat snag istri berdarah seperti itu hatinya seolah teriris.


"Paa, siapkan mobil!" katanya.


"Sakiit..." guman Raisa.


"Tenang, sayang...!!!"


Ada rasa bahagia di balik kesakitan yang Raisa rasanya. Ternyata Nando masih peduli padanya, setelah apa yang dia lakukan.


Bu Lisa menatap kepergian mereka.


"Apa dia hamil?"


Bu Lisa segera menyusul mereka. Dan ikut bersama ke rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nando masih bungkam. Dia belum mengatakan apapun pada kedua orang tuanya, juga mertuanya.


"Tolong selamatkan istriku. Ini bukan cuma kesalahannya. Tapi kesalahanku juga Tuhan. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Tak lama kemudian dokter datang. Dokter menghela nafas. Kemudian menatap wajah Nando dan keluarganya.


"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin dalam kandungan istri anda tuan." katanya.


"Bayiii...???!"


Semua shock, tapi tidak dengan Nando.


"Bagaimana dengan Raisa?" tanya Nando.


"Masih belum sadar. Setelah sadar kami akan membawanya ke ruang perawatan."


"Kenapa dia tidak cerita kalau sedang hamil?" bu Mona menangis dalam dekapan suaminya.


Bu Lisa dan pak Wisnu menatap tajam anaknya. Mereka menyalahkan Nando atas apa yang menimpa menantunya. Karena mereka melihat sendiri kekacauan di dalam kamar itu. Teriakan dan tangisan masih terdengar jelas di telinga mereka. Bu Lisa hampir saja lepas kendali. Tapi pak Wisnu segera menenangkannya.


Di ruang rawat...


"Kenapa tidak cerita sama mama, nak?" tanya bu Mona.


Raisa melihat Nando sebelum menjawab.

__ADS_1


"Aku tidak tau, ma."


"Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?" tanya bu Mona lagi.


Keluarga Nando mulai dilanda kecemasan.


"Aku terjatuh di kamar mandi, karena tiba-tiba kakiku kram."


Nando menatap istrinya yang masih terbaring lemah itu.


"Kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya...?! Kalau akulah yang menyebabkan semua ini terjadi."


"Lain kali hati-hati makanya."


"Sudahlah, ma. Kelak mereka akan mendapatkannya lagi. Bisa jadi lebih banyak." pak Hendra berusaha mencairkan suasana yang tegang.


"Benar sekali." sahut pak Wisnu. "Kita akan memiliki banyak cucu di masa depan."


"Aamiin...!!!" semua mengaminkan.


Nando hanya tersenyum getir. Raisa bisa melihat ketidaknyamanan itu.


"Boleh aku bicara berdua dengan suamiku?" Raisa menatap orang tuanya bergantian.


"Baiklah. Mari kita tinggalkan mereka." ujar pak Wisnu.


Bu Lisa mendekati Raisa sebelum keluar.


"Semua akan baik-baik saja, nak. Maafkan mama ya." bisiknya, lalu mengecup kening Raisa.


"Maa..." sungguh Raisa sangat bahagia mendengar suara lembut dari ibu mertuanya.


Bu Lisa tersenyum tulus padanya sebelum dia pergi menyusul yang lain.


"Maafkan aku, sayang..." Nando menangis sambil memegang tangan istrinya dan menempelkannya di pipinya.


"Aku juga minta maaf. Aku yang salah." balas Raisa.


"Dengan kesadaran penuh akan statusku, aku sudah berani membawa orang lain masuk dalam rumah tangga kita." Raisa pun tidak bisa menahan tangisnya.


"Tidak. Kalau saja aku bersikap baik, semua ini juga tidak akan terjadi. Aku bukan suami yang baik. Akulah penyebab rumah tangga kita tidak sempurna seperti yang lain." ujar Nando.


Tangisan, ucapan maaf, dan rasa bersalah tak henti mereka haturkan bergantian. Hingga pada puncaknya mereka sepakat untuk membuka lembaran baru dalam rumah tangga mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2