
"Mau kemana sih?" tanya Meilan pada Devan yang fokus menyetir.
"Menemui Fero." balasnya singkat.
Tak lama kemudian mobil Devan memasuki sebuah apartemen.
"Dia tinggal di apartemen?" tanya Meilan.
"Seenaknya dia saja. Kadang di rumah, kadang di sini."
"Ooh..." Meilan manggut-manggut saja.
Fero terkejut melihat kedatangan sepupunya bersama sang istri.
"Mau apa?" tanya Fero ketus.
"Boleh aku masuk dulu?!" Devan balik bertanya.
Dengan terpaksa Fero mempersilakan mereka masuk.
"Baru pulang kerja?" tanya Devan, karena dia melihat Fero masih mengenakan setelan celana bahan dan kemeja putih dengan lengan yang tergulung sampai siku.
"To the point saja. Aku tidak punya banyak waktu." katanya.
"Aku membawa ini." Devan memberikan handphonenya.
Sebuah rekaman suara nenek. Devan dengan sengaja merekam semua pembicaraannya bersama nenek tadi siang.
"Nenek menyayangi kalian berdua. Tidak pernah membandingkan. Sejujurnya nenek ingin sekali bicara berdua dengan Fero dan mengatakan semuanya. Kalau kakek dan nenek sudah menyiapkan sesuatu untuk masa depan Fero. Tentunya tanpa campur tangan orang tuanya. Terutama ibunya. Entah kenapa, nenek merasa semua akan sia-sia kalau sampai ibunya tau."
"Perkebunan kakek sudah habis dijualnya, sekarang meminta hak atas yayasan. Jika benar-benar jatuh pada mereka, apa jadinya."
"Bagaimana bisa tante Rosa menjual perkebunan itu, nenek?"
"Ommu mengalihkan semuanya atas nama istrinya. Termasuk rumah yang mereka tempati saat ini. Dan firasat nenek tidak tenang karena hal itu."
Fero menghentikan rekaman audio yang dia dengar.
"Perkebunan? Kenapa mereka tidak pernah mengatakannya. Rumah? Rumah yang mana? Bukannya itu rumah sewa?!"
"Temui nenek, Fero!" suara Devan membuyarkan lamunannya.
"Pergilah. Aku akan menemuinya nanti." balas Fero.
"Baiklah. Kami pamit."
Setelah kepergian Devan, Fero menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja.
"Fero..." gumam Devan saat dia baru keluar dari pintu area apartemen.
"Ada apa?" tanya Meilan yang tidak mengerti.
"Fero keluar. Mau kemana dia ngebut begitu?!" Devan tancap gas dan mengikuti Fero.
"Pegangan sayang." Devan memperingatkan istrinya.
"Ya ampun, pada kenapa sih orang-orang ini?!!"
Mobil Fero memasuki perumahan tempat orang tuanya tinggal. Fero membanting pintu mobilnya dengan keras, lalu memasuki rumahnya.
"Jangan turun, Dev. Ini bukan urusan kita." cegah Meilan.
"Fero itu nekat sayang, aku harus masuk." kata Devan.
Mau tak mau Meilan turun mengikuti suaminya. Dia juga mengkhawatirkan suaminya. Tidak menutup kemungkinan suaminya kena tonjok lagi.
__ADS_1
Benar dugaan Devan, Fero sedang menghakimi ibunya sendiri di ruang tamu.
"Kenapa mama melakukan ini, ma?!" ucap Fero dengan suara nyaring dan sedikit bergetar. Terasa sekali kekecewaan yang dia rasakan saat ini.
"Mama membuat drama seolah kita menderita karena kakek dan nenek. Tapi kenyataannya apa? Mereka memberi kita segalanya, tapi mama yang gila harta menghabiskan semuanya. Bahkan menjual rumah kita! Kenapa maa???!!"
"Cukup Fero!" tante Rosa tak kalah berang. "Kamu sudah berani membentak mama. Anak durhaka kamu!"
"Mama pikir mama apa? Anak yang baik, menantu yang baik begitu?!" serangan balik dilakukan oleh Fero.
"Ferooo!!!" hardik mamanya.
"Diaaaammm!!!" bentak Fero.
Pyaaar
Fero membanting vas bunga di hadapannya sebagai pelampiasan. Biar bagaiamana juga, Fero tidak akan bisa memukul ibu kandungnya. Devan segera menghampiri Fero dan menenangkannya.
"Tenangkan hatimu, Ro. Bagaimanapun dia ibumu." bisik Devan.
"Dengar, ma!" Fero menunjuk mamanya.
"Sekarang jangan pernah cari aku lagi untuk mengikuti semua keinginan mama yang nggak masuk akal itu. Dan kalau sampai mama menyakiti nenek lagi, mama berurusan sama aku."
"Kamu mengancam mama, hah?!" mamanya tersenyum miring. "Kamu tidak akan bisa menyakiti mama, sayang." cibirnya.
"Fero, sudah!" Devan menyeret paksa si Fero keluar dari rumah itu.
Atas permintaan Devan, Meilan membawa mobil milik Fero. Sedangkan Fero satu mobil bersama Devan. Tak ada pembicaraan apapun di antara mereka. Devan ingin memberi kesempatan Fero untuk meredakan amarahnya.
Sampai di rumah sakit, mereka bertiga duduk di lobi. Tidak langsung menemui nenek Sartika.
"Tenangkan dulu, baru nanti temui nenek." ujar Devan.
"Thanks." Fero menerimanya, dan menenggak air itu hampir setengah bagian.
"Sorry. Aku sudah berbuat kasar." katanya sambil menatap lantai.
"Jangan pikirkan." Devan menepuk pundak Fero.
Sesaat kemudian kedua lelaki bersaudara itu saling berpelukan.
"Ayolaaah..., jangan terlalu lama. Mereka melihat kalian seperti seorang pasangan." celetuk Meilan.
Keduanya segera melepas pelukan. Devan pindah posisi merangkul istrinya.
"Bisakah kalian tidak bermesraan di hadapanku..." cicit Fero. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Devan dan Meilan.
Kedatangan mereka disambut orang tua Devan, dan juga Sintia. Fero memberi salam pada keduanya.
"Papamu di dalam. Masuk saja!" kata mami Siska.
Fero melihat ke arah Devan. Devan menganggukkan kepalanya.
"Mam..." Meilan memeluk mertuanya.
"Maaf ya, kamu harus melihat banyak hal seperti ini." katanya.
Meilan hanya tersenyum. Dia mengakui kalau dia sempat shock saat pertama datang sudah melihat suaminya dipukul.
Di dalam kamar nenek, suasana menjadi haru. Tangis bahagia nenek seakan membuat Fero tak ingin melepas pelukannya.
"Cucu nenek..." begitulah kalimat yang diucapkan nenek.
"Ini seperti mimpi..." katanya lagi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari demi hari berlalu, nenek Sartika sudah kembali ke rumah. Pak Herman dan Fero ikut bersamanya.
"Nenek sangat bahagia meja makan nenek penuh lagi." celetuk nenek saat makan malam.
"Bahkan cucu nenek sudah ada yang membawa istrinya." nenek menatap Meilan.
"Sebentar lagi Fero menyusul." sahut papi Galang.
Uhuk... Uhuk...
Fero tersedak mendengar ucapan omnya. Yang lain justru tertawa.
"Pacar saja tidak punya." cicit papanya.
"Jangan salah om, tidak punya pacar bukan berarti tidak akan menikah." sahut Devan.
"Itu kan kamu." balas pak Herman.
"Carikan jodoh saja, nek!" kata mami Siska.
"Makanlah, kenapa kalian jadi sibuk bahas jodohku sih." Fero mulai protes karena merasa terus dibuli.
Setelah makan malam, Devan dan Fero ngobrol di taman.
"Nenek sudah mengatakannya?" tanya Devan. Fero mengangguk.
"Apa menurutmu aku bisa melakukannya? Ini pertama kalinya bagiku." ujar Fero.
"Om Herman akan mengajarimu. Aku yakin hotel itu akan makin berkembang setelah kalian pegang." Devan menyemangati sepupunya yang sedikit tidak percaya diri.
"Bagaimana kalau mama mengusikku?" pertanyaan itu tiba-tiba muncul, karena Fero teringat ibunya.
"Aku percaya seseorang tidak akan mau jatuh terperangkap pada lubang yang sama."
"Kamu benar."
"Soal yayasan itu. Aku tidak benar-benar yakin bisa mengaturnya. Aku akan serahkan pada kalian juga." kata Devan.
"Jangan bercanda, Van. PR ku saja belum selesai, kamu sudah menambah lagi pekerjaanku!" protes Fero.
"Mumpung masih lajang, kamu harus bekerja keras. Kalau sudah menikah nanti, kamu tinggal menikmati hasilnya sama istri kamu." tutur Devan.
"Lagian aku sudah memiliki Meilan, aku tidak akan bisa sering-sering datang ke sini. Aku harus menyelesaikan mega proyek yang tertunda."
"Mega proyek? Proyek apa lagi?" tanya Fero.
"Aku sedang berusaha membentuk komunitas Devan junior." bisik Devan.
"Sialan!" Fero reflek menabok bahu Devan.
Devan tertawa melihat reaksi Fero.
"Pergilah, selesaikan proyekmu itu!" Fero mendorong bokong Devan dengan kakinya.
Devan masih saja tertawa sambil masuk ke dalam rumah. Sementara Fero terdiam sambil menatap langit malam yang indah.
"Aku akan berbakti padamu, nek. Untuk menebus semua perbuatanku selama ini. Maafkan aku ma, aku terpaksa melakukan ini karena mama sudah keterlaluan."
Nenek Sartika menitihkan air mata bahagia untuk kesekian kalinya, saat melihat interaksi kedua cucunya dari balik jendela kamarnya.
"Kalianlah harta paling berharga yang aku miliki."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1