Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Tak ingin berbagi


__ADS_3

Pak Herman, Fero, dan Devan sudah tiba di rumah. Dari ekspresi wajah mereka sudah bisa ditebak, kalau mereka kembali membawa kabar baik.


"Ssstt...!!!" bibi menginstruksi agar mereka mengecilkan suaranya.


"Istrimu tidur, ajak dia ke kamar. Kasihan." kata pak Herman.


Devan mendekati Meilan dengan hati-hati. Istrinya tidur sangat pulas, entah karena servis sederhana yang bibi berikan atau memang kelelahan.


"Ah!" Meilan terperanjat saat merasa ada yang menyentuh tubuhnya.


"Heiii, ini aku." Devan tersenyum. "Tidur saja, aku bawa kamu ke kamar."


"Tapi aku berat, sayang..." Meilan sangat sadar kalau tidak hanya perutnya yang membulat. Tapi badannya juga sama karena berat badannya selalu naik.


"Tidak bagiku." lagi-lagi Devan tersenyum manis.


Devan selalu ingin memanjakan istri kesayangannya. Terlebih setelah Meilan mengandung buah cinta mereka.


Tadinya Meilan tetap memilih jalan sendiri ke kamar. Tapi setelah dia mendengar suara Sintia yang izin pergi ke dapur pada pak Herman. Meilan mengurungkan niatnya.


"Terimakasih sayang..." kata Meilan.


Devan mengangkat istrinya ala bridal style menuju kamarnya


"Kakinya lemes banget. Beruntung ada bibi yang baik hati." ujar Meilan.


"Beruntung juga karena aku suami kamu. Iya kan?" balas Devan.


"Em." Meilan mengangguk dalam gendongan Devan.


"Dia milikku. Aku tidak ingin berbagi apapun dengan orang lain, termasuk foto sekalipun."


Meilan teringat wallpaper di handphone Sintia. Semakin kesal saja karena pemiliknya begitu santai menyimpan foto suami orang. Seolah itu hal yang biasa.


Untung saja Devan memilih menempati kamar tamu yang di bawah. Jadi tidak begitu repot membawa bumil menggemaskannya itu ke dalam.


Sintia yang masih berdiri di depan kamar nenek, melihat semua yang mereka lakukan. Setelah pintu kamar yang berhadapan dengan kamar nenek itu kembali tertutup, Sintia segera pergi ke dapur.


"Tidak baik melihat suami orang seperti itu. Karena bisa menimbulkan prasangka buruk." tutur bibi saat Sintia memasuki dapur.


"Ma, maksud bibi apa?" sahut Sintia sedikit gugup.


"Berhenti menatap den Devan seperti itu. Dia sudah menikah dan nyonya sedang hamil." balas bibi.


"Apa tidak boleh kalau aku menyukainya?"


"Berawal dari sekedar rasa suka, kagum, bisa saja nanti lebih. Karena setan melihat peluang besar untuk menyesatkan orang-orang yang terlalu terbuai akan sesuatu, apalagi yang terlarang." bibi seolah bisa membaca pikiran Sintia.


Sintia diam membeku mendengar ucapan bibi. Setelah mengambil air minum untuk nenek, dia pun segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Ya Allah..., jauhkanlah mereka dari hal-hal buruk. Mereka orang-orang baik..."


Bibi melanjutkan pekerjaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini berlangsung sebuah pernikahan sederhana di rumah nenek Sartika. Keputusan diambil setelah mempertimbangkan kondisi kesehatan nenek.


Nenek duduk di atas kursi rodanya. Jrum infus yang masih melekat di pergelangan tangan kirinya, membersamainya menyaksikan pernikahan Fero dan Luna.


"Bagaimana, sah?"


"Saaah...!!!" seru semua yang hadir di sana.


Mami Siska memeluk nenek Sartika, sebagai ungkapan selamat karena keinginan nenek melihat cucunya menikah terkabul.


Di tengah suasana bahagia itu, ada satu hal yang menarik perhatian Meilan. Sintia.


Sintia yang berada di sisi nenek, terlihat menyunggingkan senyum malu-malu. Meilan mengikuti kemana pusat perhatiannya. Ternyata dia menatap Devan yang sedang ngobrol dengan ayah dan papinya.


"Sebentar ya, bu." Meilan berdiri dari sisi ibunya. Lalu menghampiri Devan.


"Ada apa sayang?" tanya Devan.


"Aku boleh ke kamar? Kepalaku pusing sekali."

__ADS_1


"Ayo aku temani." Devan merangkul istrinya. "Aku ke kamar dulu ya, pi. Meilan tidak enak badan."


"Ah, iya. Pergilah. Jangan sampai menantu dan calon cucu papi kenapa-napa." ujar papinya.


"Aku tau kamu mengabaikannya, tapi aku tetap nggak suka dia menatapmu seperti itu."


Meilan merasa akhir-akhir ini memang dirinya lebih sensitif. Entah karena bawaan kehamilannya, atau memang dia sedang dilanda cemburu. Juga rasa takut akan kehadiran orang ketiga yang akan mengusik rumah tangganya bersama Devan.


"Istirahatlah sayang. Kamu pasti kelelahan karena ikut sibuk mempersiapkan semua ini." kata Devan sambil menata bantal untuk istrinya.


"Kamu akan kembali kesana?" tanya Meilan penasaran.


"Aku akan menemanimu, jangan khawatir." Devan mengusap pipi istrinya. Meilan pun mengangguk.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." katanya lagi.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa?" tanya Devan sebelum membuka pintu.


"Ini ibu, nak..."


"Aku buka dulu ya." Devan melepas genggaman tangannya, kemudian pergi membuka pintu untuk ibu mertuanya.


"Bu..., mari masuk!" Devan membuka pintunya dengan lebar agar ibu bisa masuk dengan leluasa.


"Sayang, ayah bilang kamu tidak enak badan. Apa yang kamu rasakan?" tanya ibu sambil mengusap bahu putrinya.


"Hanya sedikit lelah, bu." Meilan tersenyum.


"Apa kita bawa ke dokter ya, bu? Aku khawatir kenapa-napa." Devan minta pendapat sama ibu mertuanya.


"Tidak perlu, kalau hanya lelah tinggal istirahat saja." bu Nadin bersyukur putrinya mendapat suami yang penuh perhatian seperti Devan.


Karena pintu yang tidak tertutup, Meilan bisa melihat Nenek yang yang akan masuk ke kamarnya bersama Sintia.


"Oh Tuhan..., aku tidak ingin melihatnya. Kenapa dia malah ke sini...??"


Meilan rasanya ingin mengusir perempuan itu dari kamarnya. Tapi itu sangat mustahil untuk dilakukan.


Meilan melihat Devan turun dari kasur. Bahkan dia masih menjaga pandangannya. Sedikitpun dia tidak melihat ke arah Sintia.


"Jangan lupa tutup pintunya!" titah Devan setelah itu.


Meilan juga selalu memperhatikan nada bicaranya yang datar setiap berinteraksi dengan Sintia.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya nenek.


"Nggak pa-pa nek, jangan khawatir. Aku hanya lelah." Meilan tersenyum pada neneknya.


"Biarkan nenek menemanimu tidur di sini ya." kata nenek.


.


"Tentu..."


Meilan bergeser untuk memberi ruang pada neneknya.


Tubuh renta nenek membuat Devan begitu mudah membopongnya ke atas kasur. Sementara ibu menata posisi cairan infusnya.


"Lagi-lagi perasaan aneh ini datang setiap kali aku berada di samping nenek."


Meilan menatap dalam mata neneknya yang sayu.


"Nenek ingin menyapa calon bayi kamu." katanya sambil mengusap perut Meilan.


"Nenek akan segera melihatnya. Karena sudah mendekati HPL." sahut Devan.


Tidak ada balasan lagi dari nenek. Nenek hanya sesekali tersenyum dan memejamkan matanya saat merasakan pergerakan yang sangat lincah di dalam sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berikutnya, menjelang siang...


"Bu, aku baru saja mau keluar." kata Meilan saat ibunya memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa bu?" tanya Meilan.


Bu Nadin tersenyum simpul, lalu menakup wajah putrinya dengan kedua tangannya.


"Dengarkan ibu baik-baik. Jangan potong ucapan ibu." katanya dengan suara lembut.


"Ibu bikin aku penasaran. Ada apa?" tanya Meilan.


"Aku mendengar suara tangisan, ibu..." Meilan mulai gelisah.


"Nak..., ssstt...!! Tenanglah!"


"Ibu, apa nenek...?" Meilan tidak sanggup mengucapkan isi pikirannya.


Ibu mengangguk pelan, kemudian memeluk putrinya.


"Neneeekk..." Meilan menangis. "Aku mau melihat nenek, ibu..."


Meilan ingin sekali berlari menemui neneknya. Tapi kakinya seolah sangat berat melangkah, hingga ibu menuntunnya menuju kamar nenek.


Semua sudah ada di kamar itu. Terlihat Devan, Fero, dan Vivian memeluk tubuh nenek.


"Neneeekk..." kaki Meilan sudah tidak mampu menopang tubuhnya lagi.


"Meilan!!!" pekik ibu saat tubuh Meilan terkulai di lantai.


Di saat yang sama Devan menoleh, dan segera menghampiri istrinya. Devan menggendong dan membawanya duduk di atas sofa.


Meilan menatap tubuh kaku di hadapannya. Baru semalam mereka tidur berdua, dan nenek terus mengusap perutnya. Sesekali nenek terkekeh pelan saat si baby bergerak merespon sentuhan nenek.


Sore itu jenazah nenek langsung dimakamkan. Makam yang berdampingan dengan kakek, sesuai permintaannya pada pak Herman kala itu.


Luna yang baru saja menjadi menantu di rumah itu merasa sangat terpukul. Dia terus menangis dalam pelukan suaminya.


Sedangkan Meilan terpaksa ditinggalkan di rumah bersama ibunya. Devan melarangnya untuk ikut karena kondisinya yang kurang stabil. Devan khawatir Meilan ada kembali jatuh pingsan.


Malam harinya diadakan do'a bersama di rumah nenek. Anak-anak yang tinggal di yayasan pun turut hadir dalam acara malam itu.


"Sintia, tolong bantu bawakan minumannya." kata bibi.


"Baik, bi." Sintia mengambil nampan berisi minuman lalu menatanya di meja ruang tengah.


"Bibi, ada air biasa buat kak Meilan?" tanya Vivian.


"Sebentar bibi ambilkan, non." bibi meninggalkan meja makan.


Handphone di atas meja makan itu menyala, karena ada notif pesan masuk. Vivian tidak sengaja melihatnya, reaksinya pun sama seperti Meilan saat itu.


"Handphone siapa ya? Bukan punya kak Meilan deh."


"Apa nyonya Meilan baik-baik saja?" tanya bibi yang sudah membawa teko kaca berisi air berserta gelasnya.


"Ya begitulah bi. Bibi tau sendiri kan nenek selalu minta tidur sama kakak. Jadi pasti kakak sangat merasa kehilangan." balas Vivian.


Setelah itu Vivian pergi ke kamar Meilan. Vivian sempat melihat Sintia yang baru tiba, dan kemudian mengambil handphonenya.


"Mbak Sintia..."


Vivian sudah sampai di kamar kakaknya. Dia menaruh nampan di atas nakas.


"Aku pijat mau, kak?" Vivian duduk di tepi kasur.


"Nggak usah. Kamu kok nggak bantuin yang lain sih?" balas Meilan.


"Semua nyuruh aku temenin kakak di sini." katanya.


"Gimana ya kalau kakak tau soal handphone mbak Sintia?"


"Ada apa, Vi?" tanya Meilan.


"Nggak ada, kak." balas Vivian sambil menggelengkan kepalanya. "Kapan kita pulang?"


"Mami bilang selepas tujuh harian nenek." ujar Meilan.


Vivian mengangguk saja. Pikirannya masih melanglang buana mencari jawaban perihal foto kakaknya di handphone Sintia.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2