Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Tidak bisa dilanjutkan


__ADS_3

"Kenapa kalian melakukan ini? Apa salahku?... Nando..., apa maksud semua ini? Setelah sekian lama kamu berjuang mengambil hatiku, kita jalani hubungan bersama, sekarang kamu seperti ini."


Meilan terus menangis tanpa suara di balik selimutnya.


Setibanya di rumah dia langsung masuk ke kamarnya. Dia tidak ingin bertemu dengan orang tuanya dalam keadaan hancur seperti ini. Dia malu sama ayah dan ibunya. Dia takut mereka akan shock.


"Kamu jahat Nando...!!!"


Sementara itu ayah, ibu, dan adiknya mulai khawatir.


"Sudah aku ketuk kamarnya, tapi nggak ada sahutan. Mungkin kakak tidur. Dia pasti capek." ujar Raka.


"Perasaan ibu tidak enak, yah. Ibu ke atas dulu ya." bu Nadin beranjak dari ruang keluarga untuk menemui anak sulungnya di kamar.


Tok... Tok...


"Mei..., kamu tidur?" tanya sang ibu dengan suara pelan. "Meilan, sayang...!!" ujar ibunya sekali lagi.


Mendengar suara sang ibu, Meilan tak kuasa menahan tangisnya.


"Ibuuu...!!!" dengan cepat dia menyibaknya selimutnya dan berlari mendekati pintu.


Saat pintu terbuka, Meilan memeluk ibunya yang belum siap itu. Hingga hampir terjatuh kebelakang.


"Kenapa, nak?" bu Nadin mengusap punggung putrinya berharap Meilan lebih tenang.


Dengan isakan tangis itu, tubuh yang bergetar, dan suara detak jantung yang sudah lepas kontrol. Sang ibu tahu kalau ada sesuatu yang sangat serius sedang menimpa putrinya.


Singkat cerita Meilan menceritakan semuanya sambil terisak. Membuat bu Nadin menitihkan air matanya juga.


Setelah bu Nadin berhasil menenangkan putrinya. Bu Nadin menyelimutinya sampai menutupi dada dan mengecup keningnya. Kemudian dia keluar dan segera menemui suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu dua sejoli penyebab luka di hati Meilan, kini sudah berada di rumah si perempuan. Raisa. Dia adalah teman seangkatan Meilan di kampus. Atas bantuan Meilan, dia bisa bekerja di perusahaan keluarga Nando sebagai admin marketing.


"Jangan cemberut terus. Nanti cantiknya ilang lho." Nando mencubit pelan pipi Raisa.


"Gimana dengan Meilan...?" rengeknya sambil menatap Nando.


"Sudah aku bilang, itu urusanku. Sekarang kamu masuk, bersih-bersih, dan istirahat. Oke cantik...!!"


"Baiklah. Hati-hati ya."


"Bye...!!!" Nando melambaikan tangannya. Dan dibalas dengan lambaian juga oleh Raisa.


Nando membuka pintu mobil, tapi dia tidak masuk. Dia justru kembali menghampiri Raisa.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Raisa.


"Ada yang ketinggalan." jawab Nando.


Muach!


Sebuah kecupan mendarat tepat di pipi Raisa.


"Nandooo...!!!" Raisa tersipu malu. Sambil melihat ke arah pintu rumahnya. Takut kalau ada yang melihat kelakuan Nando.


Sepeninggal Nando, Raisa memasuki rumahnya. Di ruang tengah terlihat kedua orang tuanya sedang menonton acara televisi kesukaan mereka.


"Ma, pa..." sapa Raisa.


"Malam sekali?" ujar pak Hendra.


"Kan aku udah telepon mama, kalau hari ini lembur." jawab Raisa. "Aku ke kamar dulu ya. Capek banget." katanya kemudian.


"Selamat malam, sayang..." kata bu Mona.


"Malam, ma..." Raisa kemudian menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Benar dia bilang mama kalau lembur?" si papa minta penjelasan.


"Iya, pa. Maaf mama lupa bilang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nando sudah sampai di rumah, dia disambut dengan tatapan yang tidak bersahabat dari papanya.


"Darimana?" tanya pak Wisnu.


"Nongkrong sama temen paa." jawabnya santai.


"Harus ya, nongkrong sama teman saja kamu mesti berbohong pada Meilan?!"


"Aku capek pa. Aku mau istirahat." Nando mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Dengar Nando. Kamu sudah bertunangan sama Meilan. Jaga perilaku kamu!" tegas sang papa.


"Iya, pa."


"Dan papa harap, desas-desus tentang pegawai marketing yang baru itu tidak benar."


Deg!!


Nando terperanjat, ternyata sudah ada yang menyebarkan kedekatan mereka. Padahal Nando merasa dia sudah bermain dengan sangat apik.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dengan segenap keberaniannya Meilan datang ke rumah keluarga Nando, setelah dia merasa lebih tenang.


"Sayang..., tumben pagi sekali." begitulah sambutan dari bu Lisa.


"Papa ada?" tanya Meilan.


"Ada, kok nyari papa? Tidak nyari Nando...?" godaan bu Lisa hanya dibalas dengan senyuman.


Tak lama kemudian pak Wisnu bergabung bersama mereka di ruang tamu.


"Paa, maa. Aku minta maaf jika selama ini sikapku tidak sopan atau kurang baik." ujar Meilan. Kedua orang tua Nando menatap serius calon menantunya.


"Ada apa nak? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya pak Wisnu.


Meilan mengambil cincinnya yang dia simpan dalam tas. Karena sejak kejadiam di kafe itu dia tidak memakainya lagi.


"Maaf paa, maa. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan ini." Meilan menaruh kotak cincin di atas meja.


Pak Wisnu mengerti mengapa Meilan melakukan ini. Tapi bu Lisa, dia merasa sangat sedih dan sedikit tidak terima karena Meilan memutuskan hubungan sepihak.


"Katakan Meilan, apa yang sebenarnya terjadi?" paksa bu Lisa. Meilan hanya bisa diam, tapi tidak dengan air matanya.


"Maa..., hanya Nando yang bisa menjawab." kata pak Wisnu.


"Ada apa dengan Nando? Ada apa ini?! Kenapa harus begini?!" geram bu Lisa.


Bu Lisa melihat Meilan dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan.


"Apa karena hari itu dia nongkrong, dan bilang ke kamu sedang lembur. Apa begitu? Meilan..., harusnya kamu bisa mengerti. Nando juga butuh bergaul dengan teman-temannya." bu Lisa yang tidak tahu apa-apa tetap membela putra pertamanya itu.


"Maafkan aku, ma..."


"Bukan salah kamu, nak." ujar pak Wisnu yang lebih bisa mengontrol emosinya. "Maa, sudah cukup!"


"Tidak, pa. Semua harus dijelaskan sekarang juga!" bantah bu Lisa.


"Nando main gila dengan pegawainya!" pak Wisnu akhirnya mengeluarkan semuanya.


"Main gila? Hahahaaa..., papa jangan ngarang." bu Lisa tidak percaya. "Mereka sudah bertunangan, bahkan mama sudah memilih gaun untuk Meilan." bu Lisa menunjuk Meilan.


"Papa benar, ma. Aku melihatnya sendiri." sahut Meilan.


"Nggak mungkin. Nandoku anak baik, paa... Hiks... Hiks...!!" kini bu Lisa yang menangis. Hingga dia merasakan sakit pada dada kirinya, kemudian tak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2