
Devan tersenyum melihat Meilan sudah siap untuk berangkat kerja. Dan di belakang Meilan, pak Romi terlihat mengangkat ibu jarinya. Membuat Devan semakin bersemangat memperjuangkan cintanya.
Setelah berpamitan, mereka segera berangkat. Meninggalkan kedua orang tua Meilan dengan senyum penuh harapan akan kebahagiaan putri pertamanya.
"Tumben bawa bekal?" tanya Devan saat melihat Meilan membawa tas bekal.
"Aku sengaja bikin buat kamu." jawaban itu membuat Devan kegirangan.
"Aku?!"
"Em." hanya deheman. "Vivian pernah cerita kamu kalau lagi sibuk suka melewatkan makan siang." tambahnya.
"Seberapa banyak dia mengekspose kehidupanku?" gerutu Devan pura-pura kesal.
Sesungguh dia ingin memberikan apapun yang Vivian mau, karena adiknya itu sudah mengatakan banyak hal tentang dirinya pada Meilan.
"Tunggu! Apa semua tentang hal baik? Atau..."
"Nggak banyak, dia hanya terkadang keceplosan mengatakannya." Meilan seolah tahu apa yang ada di pikiran Devan.
Tidak sampai 30 menit mereka sudah sampai di kantor Meilan.
"Aku jemput nanti." kata Devan.
"Jam empat yaaa." Meilan tersenyum.
"Oke."
"Hati-hati..., bye..." Meilan kemudian keluar.
Meilan melihat Luna yang sedang bertopang dagu di atas meja resepsionisnya. Meilan harus segera menyiapkan mental, karena Luna pasti akan menggodanya.
"Ciieeehh..., yang makin lengket..."
"Pagi..." sapa Meilan.
"Pagi juga..., ada kabar apa hari ini? Apakah benih-benih itu mulai menjadi kecambah?" Luna terus menggoda Meilan.
"Kacang ijo kaliii." Meilan masa bodoh dengan cuitan Luna. Dia memilih untuk segera pergi ke ruangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kantor Devan...
"Bos mana?" tanya Dewi.
"Mungkin sebentar lagi datang." kata Mario.
"Perasaan sekarang sering telat ya." Dewi memang selalu memperhatikan jam tangannya ketika bosnya datang.
"Yang penting sudah tidak seseram dulu." bisik Mario.
"Pagi..."
Suara itu mengejutkan Dewi dan Mario.
"Pagi, bos...!!!" jawab mereka kompak.
Devan masuk begitu saja ke ruangannya. Jangan tanya bekalnya ya. Karena Devan sudah pasti membawanya masuk.
"Bekal?!" gumam Dewi dan Mario bersamaan. Kemudian saling pandang.
"Sudahlah. Kerja..., kerja...!!!" kata Mario.
Mario kembali ke kursinya, begitu juga Dewi yang kini memeriksa pekerjaannya.
Hari makin siang, Devan masih berkutat dengan komputernya. Sambil sesekali membuka lembar demi lembar berkas untuk menyesuaikannya.
Handphonenya berdering, sebuah pesan masuk. Kalau saja bukan Meilan yang mengirim pesan, sudah pasti akan dia abaikan.
Meilan :
Jangan lupa makan
Devan terseyum, kemudian melihat tas bekal yang dia letakkan di mejanya. Seperti terhipnotis, Devan menyimpan pekerjaannya lalu meraih tas itu.
Selamat makan...
Begitulah pesan yang Meilan tulis untuk Devan. Hanya tulisan simpel di atas kertas putih sudah membuatnya sangat bahagia.
Di sela jam makan siangnya, handphonenya kembali berdering. Tapi bukan Meilan. Melainkan Vivian.
"Betah ya di sana, tidak usah pulang." Devan melahap makanannya.
"Makan apa kak?"
"Tebak coba!" cara makan Devan semakin dibuat-buat, seolah ingin menunjukkan kalau dia sedang makan makanan enak dan istimewa.
"Itu tas bekal milik kak Meilan kan?"
Devan hanya mengangguk. Dia kemudian tersenyum saat melihat adiknya kesal.
"Aku di sini, kalian ambil kesempatan berduaan gitu. Mamiii...!!!"
"Apa sih? Van, apa kabar nak?"
"Baik, mam. Mami sehat?"
"Iya. Apa yang kamu lakukan, adikmu ngambek itu."
__ADS_1
"Dia makan bekal buatan kak Meilan. Padahal biasanya nggak pernah, mam. Giliran aku di sini aja, kak Meilan buatin bekal buat kakak."
"Meilan itu siapa?"
"Mami, aku tutup dulu ya."
"Tidak, Devan. Diam di sana!"
Devan tidak bisa membantah ibunya. Dia harus mendengarkan ibunya sampai selesai.
"Siapa Meilan? Vivian bilang kamu makan bekal darinya? Kalian pacaran?"
"Wah iyaaa!!! Jangan-jangan mereka udah jadian mam..."
Vivian ikutan nimbrung lagi.
"Betul begitu?"
"Mam..., Vian itu..."
"Mami akan segera pulang. Kamu jangan macam-macam, Van. Ingat itu!"
"Mam..."
Tuut... Tuut...
"Viaaaan....!!!" Devan meremas tisu di tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Devan punya firasat buruk atas kedatangan kedua orang tuanya. Sorot mata keduanya terlihat sangat mengintimidasi. Tidak ada pembicaraan apapun sejak mereka bertemu di bandara. Bahkan Vivian yang biasanya banyak bicara, mendadak bungkam seribu bahasa.
Malam harinya...
Devan dipanggil oleh kedua orang tuanya di ruang keluarga. Sementara Vivian tidak diperbolehkan keluar dulu dari kamarnya.
"Jadi???" papi Galang menatap putra sulungnya.
"Tidak ada pacaran papi..., sungguh!" Devan berusaha meyakinkan orang tuanya.
"Niat ada?!" sahut papinya. Devan mengangguk.
"Bawa gadis itu kemari besok!" perintah papi Galang.
"Ta..." Devan menutup mulutnya karena papi Galang sudah mengangkat tangannya.
"Papi tidak suka dibantah!" tegas papinya.
"Aku akan bawa dia kemari. Asal papi sama mami bisa berjanji." sahut Devan sambil menatap kedua orang tuanya.
"Jangan pernah berkata kasar dan menyakiti Meilan." ujarnya.
"Hem!" papi meninggalkan ruangan itu.
Di kamar Devan...
Devan :
Mei...
Meilan :
Hhmmm
Devan :
Besok ada acara?
Meilan :
Nggak ada. Why?...
Devan :
Aku jemput ya?
Meilan :
Mau kemana?
Devan :
Besok aku kasih tau
Meilan :
Ok
"Haaahhh...!!" Devan menjatuhkan tubuhnya di kasur.
"Apa yang akan terjadi besok?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Devan menepi, dia menoleh ke arah Meilan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ada apa, Dev? Kamu sebenarnya mau ajak aku kemana?" tanya Meilan.
Sebenarnya Meilan sedikit takut, karena Devan lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Bicara hanya seperlunya saja.
__ADS_1
"Sebelum aku kasih tau. Aku mau tanya sekali lagi sama kamu." katanya.
"Apa sih? Kamu bikin aku bingung tau nggak?!" sahut Meilan.
"Apa aku sudah memiliki ruang di hatimu?"
Deg
Setelah begitu lama, akhirnya pertanyaan itu keluar lagi dari mulut Devan.
"Aku butuh kepastiannya, Mei. Please...!!" Devan meraih tangan Meilan, memohon dengan segenap kesungguhan dan ketulusannya.
Tangan kiri Meilan tergerak untuk mengusap tangan Devan yang sedang menggenggam tangannya.
"Aku harap nggak salah pilih kali ini. Yakinkan aku Dev..." ujar Meilan.
"Sungguh?!" mata Devan berbinar-binar saat Meilan mengangguk.
"Jadi, ada masalah apa? Kenapa mood kamu terlihat buruk sekali sejak tadi?"
"Orang tuaku datang, mereka ingin bertemu denganmu." jawabnya.
"Hah!!!"
Di rumah Devan...
Dua sejoli itu kini sedang berhadapan dengan papi Galang dan mami Siska.
"Apa Devan sudah bertemu keluargamu, nak?" tanya papi Galang.
"Sudah, om. Bahkan mereka sering ngobrol." balas Meilan.
"Sepertinya hubungan kalian sangat baik dengan Devan." mami Siska menimpali.
Meilan menggangguk sambil sedikit tersenyum, menandakan bahwa ucapan mami Siska itu memang benar adanya.
"Tapi, maaf." sahut papi Galang. "Kami tidak menghendaki kalian berpacaran."
Deg
"Papi...!!" sangat spontan Devan berdiri, menatap kecewa pada papinya.
"Dev..." Meilan menarik tangan Devan sambil menggelengkan kepalanya.
Devan yang patuh, akhirnya kembali duduk di samping Meilan. Tapi dengan sorot mata yang masih diliputi amarah.
"Hanya gerakan seperti itu bisa meredakan amarahmu, nak. Sungguh istimewa sekali gadis ini dalam hidupmu..."
Mami Siska terharu melihat dua pemuda di hadapannya.
"Papi belum selesai bicara, nak." Mami Siska angkat bicara.
"Jika kalian bersungguh-sungguh, kami mau kalian segera menikah." putus sang papi.
Meilan dan Devan saling pandang. Mereka sama-sama tidak percaya dengan semua ini.
"Kamu bersedia kan, nak?" mami Siska bertanya pada Meilan.
Mami Siska tidak perlu menanyakannya pada Devan. Karena mami Siska sudah tahu siapa yang paling bucin diantara mereka.
Meilan memberi pengertian pada mereka, bahwa dia harus membicarakan semuanya dengan orang tuanya. Mereka pun memutuskan besok akan menemui orang tua Meilan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Giliran hati Meilan yang tidak baik-baik saja. Dia tidak tahu bagaimana caranya bicara sama kedua orang tuanya. Terutama ayahnya. Karena itu dia tidak ingin langsung pulang ke rumah
"Kenapa, hem?!" tanya Devan.
"Dev..., apa besok itu nggak terlalu cepat? Orang tuaku pasti bingung." kata Meilan.
"Percaya padaku, ini tidak serumit yang kamu pikirkan." Devan tersenyum.
"Kamu percaya diri sekali sih." Meilan sedikit tidak sreg dengan kePDan Devan.
"Serahkan padaku." Devan menepuk-nepuk tangan Meilan.
"Kamu yakin?" Meilan masih ragu.
"Udah, ayooo!!!" Devan mengajak Meilan kembali ke dalam mobil.
Di rumah Meilan...
"Meilan, ini rumahmu. Ayo!" Devan gemas melihat Meilan yang tidak berani masuk ke rumahnya sendiri.
"Dev..." Meilan terus merengek.
Ceklek
Pintu terbuka, muncullah bu Nadin. Bu Nadin keluar karena mendengar suara mobil berhenti, tapi tak ada seorang pun yang datang. Ternyata Meilan dan Devan masih berdiri di depan rumah.
Beberapa saat kemudian...
"Melamar Meilan?" ucap pak Romi dan bu Nadin bersamaan.
"Syukurlah." pak Romi tersenyum. "Lebih cepat lebih baik."
Untuk kesekian kalinya Meilan dibuat terkejut. Tapi tidak dengan Devan. Karena dari awal dia tahu pak Romi sudah memberikan restunya.
"Ayah benar. Ibu juga sudah tidak sabar gendong cucu."
__ADS_1
Devan melirik ke arah Meilan yang masih setia dengan mimik ambigunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...