Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Perselisihan


__ADS_3

Dua buah mobil terlihat memasuki pekarangan sebuah yayasan. Beberapa orang di dalamnya menyeringai saat melihat mobil Devan sudah berada di sana.


"Dia lagi..." gumamnya.


Mereka yang datang adalah pak Herman dan anaknya, Fero. Merekalah yang bersikeras menjadikan yayasan peninggalan kakek menjadi sebuah pusat perbelanjaan dan hiburan.


Suasana menjadi tegang, ketika pak Herman dan Fero memasuki ruang pertemuan itu.


"Apa kabar, om. Fero?" Devan menyapa keduanya dengan sopan.


"Tidak usah banyak basa-basi." kata Fero.


"Duduklah dulu." balas Devan.


Tak lama kemudian nenek Sartika datang bersama pengacaranya dan Sintia. Sintia adalah anak yatim piatu yang sudah dirawat nenek sejak dia masih bayi. Kini umurnya 25 tahun.


Pengacara nenek mengatakan, bahwa nenek satu-satunya yang berhak memiliki yayasan itu. Dan nenek juga yang bisa menentukan kepada siapa yayasan itu akan diberikan.


Pak Herman naik pitam ketika nenek menyebut nama Devan sebagai orang yang berhak atas yayasannya.


"Kau pasti sudah menghasut ibuku!" tuduh pak Herman.


"Nenek, yang benar saja?" sahut Fero. "Aku cucu nenek. Bukan dia!" imbuhnya.


"Aku tidak terima, bu!" pak Herman merobek dokumen yang ada di tangannya.


"Bagaimana bisa seorang anak menuntut haknya tanpa menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang anak..." cibir Devan.


"Jangan banyak bicara kamu!" pak Herman menunjuk Devan.


"Yang saat ini nenek butuhkan adalah kasih sayang dan perhatian keluarganya. Kenapa kalian justru meninggalkannya? Kalian hanya datang ketika menginginkan sesuatu dari nenek." tutur Devan.


"Kalau saja kalian menginginkan yayasan ini dengan maksud baik. Meneruskan perjuangan kakek yang ingin mensejahterakan orang-orang yang membutuhkan. Aku yakin nenek akan memberikannya tanpa banyak pertimbangan." tambahnya lagi.


"Sudahlah, Van. Mereka tidak akan mengerti." sahut nenek.


"Bukan aku yang tidak mengerti." bantah pak Herman. "Tapi ibu yang selalu memanjakan anak sialan ini!" lagi-lagi dia menunjuk Devan. "Dari dia lahir hingga sekarang, dia selalu jadi prioritas ibu."


Pak Herman meninggalkan yayasan dengan penuh amarah, Fero mengekor di belakangnya.


"Nenek...!!" Devan mendekati sang nenek yang sedang memegangi dadanya.


"Panggil ambulans!" teriak Devan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit...


"Jangan bebani nenek Sartika dengan apapun. Usianya semakin tua, dan jantungnya semakin lemah." ujar dokter Ilham.


"Saya memberinya obat tidur, agar nenek bisa istirahat dengan baik." katanya lagi.


"Terimakasih dokter." balas Devan.


"Tenanglah, nenek akan baik-baik saja. Nenek sangat kuat." dokter Ilham menepuk pundak Devan.


Tak lama setelah dokter keluar, Mario masuk ke kamar rawat nenek Sartika.


"Bos, nyonya Meilan telepon. Menanyakan keadaan bos." bisik Mario.


"Meilan..." Devan melihat neneknya. "Kamu di sini jaga nenek. Aku keluar sebentar." Devan meninggalkan ruangan itu.


"Mas Devan mau kemana?"


Sintia yang sedang duduk di ruang tunggu, terus memperhatikan Devan.


Devan langsung menhubungi Meilan. Dia sangat menyesal karena lupa menonaktifkan mode senyap pada handphonenya. Pasti istrinya sangat cemas memikirkannya.


"Iya sayang. Maafkan aku."


"Apa yang terjadi? Kamu membuatku takut karena kamu nggak angkat panggilanku."


"Nenek jatuh sakit. Aku menemaninya di rumah sakit, sayang. Maaf ya..."


"Nenek Sartika sakit? Apa mami dan papi tau?"

__ADS_1


"Aku belum sempat memberitahu mereka."


"Aku akan kasih tau mereka."


"Terimakasih, sayang. Aku tutup dulu ya. Nanti aku telepon lagi."


Devan mengakhiri panggilannya. Saat berbalik, dia melihat Sintia.


"Sintia, kamu bisa kembali ke yayasan. Biar aku yang menjaga nenek." kata Devan.


"Tapi nenek?"


"Kamu harus ke yayasan. Katakan pada semuanya kalau nenek sudah ditangani dokter dengan sangat baik. Mereka pasti khawatir."


"Baik, mas."


Akhirnya Sintia pulang ke yayasan diantar oleh pak Jefri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam itu pak Herman dan keluarganya datang ke rumah sakit. Saat itu Devan sedang ngobrol di ruang tunggu bersama Mario. Karena di dalam sudah ada Sintia. Dia kembali setelah menyelesaikan tugasnya di yayasan.


"Sebaiknya tunggu sampai nenek bangun. Karena nenek harus banyak istirahat." Devan mencoba memberi pengertian.


"Devan, kami ini keluarganya." sahut tante Rosa


"Aku tau, tan. Tapi nenek sedang istirahat." balas Devan lagi.


"Kenapa kamu melarang kami bertemu nenek?!" Fero menarik kerah kemeja Devan.


Mario hampir menarik tangan Fero, tapi Devan mencegahnya.


"Aku tidak melarang, aku hanya bilang temui nenek setelah bangun." Devan masih memberi pengertian dengan sabar.


"Bilang saja kalau kamu tidak ingin nenek tau kita berada di sini untuk menjenguknya." balas Fero. "Biar kita selalu terlihat buruk di mata nenek, begitu?!"


"Bukannya dari awal memang sudah seperti itu." ucapan Devan membuat Fero makin kesal.


"Tutup mulutmu!"


Devan menerima bogeman dari sepupunya itu.


"Deeevv...!!!"


Suara itu membuat semuanya berpaling.


"Mei..."


Meilan berlari menghampiri Devan. Ada papi Galang dan mami Siska juga di belakangnya.


"Dev..." Meilan menakup wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Apa-apaan ini?!" papi Galang tampak murka.


"Papi...,.sabar. Ini rumah sakit." mami Siska menahan suaminya yang hendak menampar Fero.


Sementara Meilan membawa Devan duduk.


"Aku tidak pa-pa. Jangan khawatir." Devan mengecup tangan istrinya.


Suasana jadi hening. Semua duduk tanpa suara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai pintu kamar nenek tiba-tiba terbuka. Sintia keluar dari sana.


Sintia langsung disambut dengan pemandangan yang sangat manis. Dimana Devan sedang merangkul Meilan yang bersandar di pundaknya.


Deg


"Apa mereka pacaran? Bukannya pak Galang melarang anak-anaknya untuk berpacaran?"


"Sintia, bagaimana ibu?" tanya tante Rosa.


"Nenek sudah bangun, dan mencari mas Devan." Sintia melirik Devan.


Mendengar nama suaminya disebut, Meilan segera mengangkat kepalanya.


"Ikut bersamaku." Devan mengajak Meilan menemui nenek Sartika.

__ADS_1


"Nenek..." Devan mengecup kening neneknya.


"Nenek mau pulang, Van." katanya.


"Ini sudah malam, nek. Kita tunggu dokter datang besok pagi ya." bujuk Devan.


"Nenek, lihat siapa yang Devan bawa." Devan menarik pinggang istrinya agar lebih dekat.


"Nenek..." Meilan tersenyum, lalu mengecup punggung tangan nenek.


"Istrimu?" nenek tersenyum.


"Iya, nek. Namanya Meilan." Devan memperkenalkan istrinya.


Devan menyuruh Meilan duduk di kursi yang sudah di disediakan.


"Apa yang nenek rasakan?" tanya Meilan dengan lembut.


"Nenek sangat baik, apalagi setelah bertemu kamu. Kamu cantik sekali." puji nenek.


"Nenek jauh lebih cantik..." balas Meilan.


"Devan..."


"Iya, nek?"


"Keluarlah. Nenek mau ngobrol sama..." nenek melupakan nama Meilan.


"Meilan." sahut Meilan.


"Iya, itu. Pergilah!" nenek mengusir Devan.


"Tapi, nek..."


"Dev..." Meilan memberi kode agar Devan segera keluar.


Semua heran ketika Devan keluar seorang diri.


"Nenek ingin ngobrol dengan Meilan." begitu kata Devan saat melihat tatapan semua orang.


Fero semakin kesal, dia berdiri dan meninggalkan semua yang ada di sana. Dia merasa benar-benar tidak dianggap oleh neneknya. Bahkan neneknya lebih memilih bersama orang asing seperti Meilan.


"Van, ini sudah terlalu lama. Coba kamu lihat mereka sedang apa!" perintah mami.


Baru saja Devan mendekati pintu, pintu itu terbuka dan Meilan keluar.


"Nenek sudah tidur lagi." katanya.


"Kalau begitu kalian pulanglah. Biar mami dan tante Rosa yang menjaga nenek." mami Siska tersenyum pada tante Rosa.


"Mami serius?" bisik papi.


"Papi..., tidak apa-apa." balas mami.


"Kalau begitu papi juga akan tinggal di sini." putus papi Galang.


Tak disangka keputusan papi Galang membuat pak Herman turut tinggal di rumah sakit juga bersama istrinya.


"Ya sudah, kalian pulang sekarang. Istrimu sangat lelah, Van. Ini pertama kalinya dia ke sini. Perjalanan sangat jauh." kata papi Galang.


"Istri? Jadi mas Devan sudah menikah?"


"Sintia juga sebaiknya pulang. Biar beristirahat."


"Iya, bu." Sintia mengangguk patuh.


Devan begitu posesif, dia tidak pernah melepaskan tangannya dari pinggang Meilan. Apalagi saat beberapa mata manusia tak bisa melepas pandangan dari istrinya.


Di belakang ada Mario dan Sintia yang berjalan berjauhan mengikuti mereka.


"Kapan mereka menikah? Apa sudah lama? Kenapa aku tidak tau?"


Banyak sekali pertanyaan di benak Sintia yang tak kunjung mendapat jawaban.


"Andai saat itu aku menerima tawaran pak Galang dan bu Siska. Pasti aku yang ada di posisi Meilan sekarang."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2