Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Sedang isikah?!!...


__ADS_3

Nenek sudah berkumpul kembali dengan anak dan cucunya. Membuat mami Siska merasa lebih tenang saat kembali pulang.


Lalu bagaimana dengan istri pak Herman, tante Rosa?...


Tentunya keluarga nenek Sartika masih mengharap itikad baik tante Rosa untuk minta maaf. Jika memang dia bisa memperbaiki sikapnya, nenek dan pak Herman tidak akan keberatan menerima keberadaannya lagi. Kecuali Fero.


Karakter Fero yang keras, pasti susah untuk menerima seseorang yang telah membuatnya sangat kecewa. Sekalipun itu ibu kandungnya.


Setelah segala urusan di tempat nenek Sartika teratasi, Devan dan yang lain kembali pulang. Orang tua Devan juga sudah kembali ke Australia, mengurus pekerjaan mereka. Meninggalkan anak-anaknya di rumah seperti sebelumnya.


Tok... Tok... Tok...


Devan menggeliat di balik selimutnya saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dia melihat ke arah Meilan yang tidur dengan pulasnya. Kemudian dia beranjak dari kasur king sizenya, menyambar piyama kimono yang tergeletak sembarangan di lantai.


Ceklek


Sosok sang adik sudah berdiri di depan pintu.


"Why...?! Ini masih pagi, Vian." kata Devan.


"Kak Meilan belum bangun?" tanya Vivian tanpa berusaha mengintip.


Karena sangat percuma, tidak akan terlihat apapun kecuali dinding. Ada penyekat di sana, sehingga bagian dalam kamar tidak bisa terlihat dari luar.


"Kak Meilan sangat lelah, dia masih tidur. Kalian ada janji?" Devan bertanya balik.


"Nggak ada sih, kak. Sebenarnya acara dadakan juga. Mau ajak pergi belanja." jawab Vivian.


"Kita pergi setelah kakak iparmu bangun. Oke?" putus Devan.


Devan tidak ingin membuat adiknya bersedih, tapi dia juga tidak mau mengusik waktu istirahat Meilan. Setelah mendengar hal itu dari sang kakak, Vivian pergi tanpa protes. Dia akan menunggu dengan senang hati, sambil menyelesaikan pekerjaan rumahnya.


Saat Devan kembali, ternyata Meilan sudah membuka matanya. Meski wajah lelahnya itu masih terpampang nyata.


"Kenapa sudah bangun, hah?"


Cup


Kecupan singkat dia berikan pada istri tercinta.


"Aku mendengar kamu ngobrol di depan." gumam Meilan.


"Itu Vivian. Dia mengajak kita pergi keluar nanti." jawabnya.


"Mau mandi duluan? Aku akan siapkan air hangat untukmu." ucap Devan dengan sangat manis.


"Harusnya aku yang melakukan itu untukmu." balas Meilan.


"Tapi hari ini aku ingin manjain kamu." Devan menoel hidung Meilan. "Karena kamu sangat manis sekali semalam." bisik Devan di telinga Meilan.


Devan segera pergi setelahnya, sebelum mendapat hadiah cubitan bertubi-tubi dari istrinya. Seperti sebelum-sebelumnya.


"Deeeev...!!!" Meilan mendengus kesal, dia sangat malu lantaran Devan menyinggung kembali aktivitas intim mereka semalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu mereka pergi berbelanja bertiga.


"Ambil yang banyak sayang, kan kita nanti akan ke rumah ibu juga." ujar Devan yang mendapat tugas mendorong troli.


"Ayah tidak suka udang, aku akan belikan yang lain." sahut Meilan.


"Vivian mana sih?" tanya Devan, karena adiknya itu tak kunjung muncul.


"Dia sedang mengumpulkan snacknya. Katanya akan bertempur dengan Raka nanti." Meilan terkekeh.


"Mereka benar-benar gila game." gumam Devan.

__ADS_1


"Meilan...!!"


Suara itu membuat Meilan dan Devan menoleh. Itu adalah bu Lisa, mama Nando.


"Mama Lisa." Meilan meyalami bu Lisa, kemudian mereka berpelukan.


Devan pun dengan sangat sopan menyalami bu Lisa.


"Apa kabar kalian?" tanya bu Lisa sambil menatap keduanya bergantian.


"Baik, tante. Tante apa kabar?" Devan bertanya baik.


"Tante baik." bu Lisa memperhatikan Meilan.


"Nak, kamu lagi isi ya?" bu Lisa tersenyum hangat pada Meilan.


"Isi?!" Meilan belum bisa menangkap maksud bu Lisa. Begitu juga dengan Devan.


"Hamil maksudnya..." kata bu Lisa.


"Belum, ma." balas Meilan.


"Tapi aura kamu berbeda, segar sekali. Coba diperiksakan." bu Lisa memberi saran pada keduanya.


"Iya, tante. Pasti. Terimakasih." kata Devan.


Devan mengusap perut rata istrinya setelah bu Lisa pergi.


"Apa benar anak Devan junior di dalam sini, hah?" katanya.


"Semoga saja." sahut Meilan.


"Aku akan telepon Felix. Siapa dokter kandungan yang bertugas hari ini."


Devan sangat antusias, dia segera menelepon temannya yang berprofesi sebagai dokter.


Meilan hanya tersenyum. Dia tahu Devan sangat bahagia. Suaminya itu selalu mengharapkan kehamilannya. Beberapa bulan ini dia selalu bertanya...


"Sayang..., sudah telat?"


"Dokter kandungannya baru ada nanti sore, sayang. Tapi aku sudah minta tolong Felix dibuatkan janji. Nanti dia akan menghubungi kita."


Meilan mengangguk saja. Kemudian mereka menuju kasir sambil menunggu Vivian dan snacknya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah keluarga Meilan.


"Ibu merindukan kalian..." ibu memeluk Meilan dan Vivian sekaligus.


"Ibu tidak merindukanku?" Devan tersenyum jail.


"Tentu merindukan kamu juga, nak." ibu mengusap kepala Devan saat menantunya itu menyalaminya.


Devan kemudian beralih pada ayah mertuanya yang baru bangun dari tidur siangnya.


Setelah menyantap makan siang bersama. Mereka mulai melakukan kegiatan masing-masing. Raka dan Vivian sudah sibuk dengan game mereka di ruang tengah. Devan menemani sang ayah bermain catur. Sementara ibu dan Meilan sedang membereskan sisa makan siang, dan membersihkan dapur.


"Sayang, kamu lagi hamil?" pertanyaan yang sama terdengar lagi.


"Belum tau, bu. Tadi aku ketemu mama Lisa, mama Lisa juga bilang begitu." jawab Meilan. "Memangnya kelihatan ya bu?"


"Kamu terlihat berbeda, sayang. Sulit buat ibu menjelaskannya. Cepatlah periksa ya. Jangan sampai tidak ketahuan lebih awal. Takutnya tanpa sengaja aktivitas kamu menyakiti janin dalam kandunganmu." kata bu Nadin memperingatkan.


"Iya, bu. Kami sudah membuat janji bertemu dokter kok sore ini. Karena menantu ibu itu maunya dokter perempuan. Jadi bisanya baru nanti sore."


"Dia seperti ayahmu." kata bu Nadin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di rumah sakit...


Dokter Gisel tersenyum melihat pasangan di hadapannya sebelum memberi tahu hasil pemeriksaannya.


"Dari hasil pemeriksaan, nyonya Meilan positifbhamil." dokter Gisel tersenyum.


Devan dan Meilan terkejut, mereka saling memandang dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang..." Devan memeluk istrinya, lalu mengecup keningnya.


"Aku akan menjadi seorang ayah...!" Devan tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


Dokter Gisel dan dua orang suster di ruangan itu ikutan haru karena reaksi mereka.


"Usia kandungannya 5 minggu." dokter Gisel lanjut membaca hasilnya.


"Nyonya Meilan terlihat sangat sehat, dan tidak ada keluhan. Itu sangat bagus. Tapi sebaiknya mulai sekarang dikurangi aktivitas yang berat-berat, dan mencukupi asupan nutrisi buat ibu dan calon bayi dalam kandungannya."


"Iya dokter." balas Devan.


Kebahagiaan itu sangat jelas terpancar pada keduanya. Saking sayangnya, Devan bahkan menggendong istrinya ala bridal style saat keluar dari poli kandungan.


"Dev..., malu ah..." bisik Meilan yang menyembunyikan wajahnya di dada Devan.


"So sweet banget...!!"


Tak hanya suster dan dokter dalam poli yang tersenyum senang melihat mereka. Pengunjung rumah sakit lainnya pun turut bahagia melihat pasangan yang baru keluar itu.


"Aku akan jadi seorang ayaaahh...!!!" seru Devan.


Perlakuan manis seorang Devan mengundang berbagai reaksi di sepanjang koridor yang mereka lewati.


"Mereka terlihat bahagia sekali..."


"Sisakan satu untukku yang seperti dia, Tuhan..."


"Mama..., pengen cepet nikah...!!!"


Meilan yang pasrah dengan sikap suaminya itu tidak ingin menampakkan wajahnya.


Sampai di rumah mereka melakukan video call dengan kedua orang tua dan juga nenek, untuk menyampaikan kabar bahagia itu.


"Mami akan pulang, mami akan menemani Meilan bersama ibu Nadin. Iya kan bu?"


"*Benar. Ini calo*n cucu pertama kita."


"Calon buyut pertama nenek juga."


"Mega proyekmu rupanya sudah terlihat hasilnya, bro..."


Kemunculan Fero di samping nenek Sartika membuat Devan teringat perihal mega proyek. Yang sempat membuat Fero sangat kesal padanya.


"Nenek..., carikan istri buat cucu nenek itu. Biar ada teman anakku nanti." kata Devan.


"Nenek mau jodohkan dia dengan Sintia."


"Nek..., aku nggak mau..!!"


Seketika tawa terdengar bersahutan dari handphone Devan.


"Dijaga baik-baik ya, nak. Kalau pengen sesuatu katakan pada ibu."


"Katakan pada mami juga."


Sungguh beruntung sekali Meilan, memiliki keluarga yang penuh perhatian seperti mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2