
Raisa mendapat undangan syukuran sekaligus reuni, di rumah baru milik Veronica.
"Tidak pa-pa kan aku tidak ikut? Aku harus menggantikan papa pergi ke Bali." kata Nando.
"Aku ikut denganmu saja ya..." Raisa masih berusaha merayu suaminya agar bisa menemaninya.
"Aku akan sangat sibuk di sana. Kamu pasti kesepian aku tinggal sendiri. Lagian cuma 2 hari." balas Nando.
"Benar cuma 2 hari kan...?!"
"Iyaaa."
Karena tidak berhasil membujuk suaminya, akhirnya Raisa menyerah. Dan dia pergi seorang diri.
"Raisaaa..., kangen banget...!!!" Veronica memeluk Raisa yang baru saja datang.
"Mana suamimu?" tanya temannya yang lain.
"Tadi pagi dia berangkat ke Bali. Biasa sibuk banget." katanya.
"Ciiieehhh, yang suaminya super sibuk. Pasti dia akan memberikan segalanya untukmu kan..., secara dia sibuk cari cuan." goda temannya lagi.
"Sudah..., sudah... Ayo masuk!" ajak Veronica.
Raisa sempat kaget saat melihat keberadaan Mark di sana. Mantan pacarnya sewaktu kuliah.
"Lama tidak jumpa, nyonya Nando." sapa Mark dengan senyum tipisnya. "Suamimu tidak ikut?"
"Dia ada bisnis di Bali, bro.." sahut Veronica. "Aku ke sana dulu ya. Bersenang-senanglah kalian."
Mark menatap Raisa dari ujung rambut hingga kaki.
"Tidak ada yang berubah, tetap cantik. Semoga dia selalu memperlakukan kamu dengan baik ya."
"Dia sangat baik padaku, dan sangat mencintaiku." balas Raisa.
"Kalau dia tidak mencintaimu, dia tidak akan meninggalkan Meilan. Bukan begitu?" Mark tersenyum miring.
"Ah, sorry. Aku tidak bermaksud..."
"Lupakan." potong Raisa.
"Aku ambilkan minum untukmu, masih suka jus apel?" tanya Mark.
"Ya." Raisa tersenyum.
Raisa pergi mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Sedikit ada penyesalan kenapa dia datang. Dia hanya melihat beberapa temannya bercengkerama dengan pasangannya masing-masing. Sementara dia hanya duduk seorang diri di bangku taman.
Terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Dia menoleh, ternyata Mark.
"Minumlah." dia memberikan segelas jus pada Raisa.
__ADS_1
"Aku juga bawakan kamu camilan." tambahnya.
"Thanks."
"Dimana kamu tinggal sekarang?" tanya Mark.
"Di apartemen suamiku." jawabnya singkat.
"Sudah punya anak?" tanya Mark lagi. Raisa menggelengkan kepalanya.
"Semoga disegerakan." lanjut Mark.
Hening...
Tiba-tiba Raisa teringat ucapan mertuanya.
"Meilan saja sudah hamil. Kamu mana? Apa jangan-jangan memang kamu bermasalah lagi."
"Maksud mama aku mandul, begitu?!!"
"Pikir saja sendiri!"
Air mata Raisa terjatuh, dengan mudahnya Mark mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Kenapa?" tanya Mark.
Meski mereka sudah lama tidak berhubungan, tetap saja rasa peduli pada Raisa masih ada. Dia tidak tega melihat mantan kekasihnya itu menangis.
Malam semakin larut, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan rumah Veronica. Tak terkecuali Raisa.
"Masuklah!" Mark membukakan pintu untuknya.
Mereka sudah sepakat pulang bersama, karena Mark khawatir kalau Raisa naik taksi online sendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di basement apartemen...
Mark menahan tangan Raisa ketika akan keluar.
"Aku tau ini tindakan bodoh, Raisa. Karena kamu sudah memiliki suami. Tapi..., aku sangat merindukanmu." ujar Mark.
Deg
"Izinkan aku memelukmu sebentar saja." katanya.
Raisa mengabulkan permintaan Mark. Singkat cerita, mereka terbuai dengan hubungan terlarang itu. Hingga mereka berakhir di atas ranjang tempat tidur Raisa dan Nando.
"Apa kamu menyesal telah melakukan ini?" tanya Mark yang masih memeluk Raisa.
"Entahlah Mark. Tapi aku merasa lebih baik saat ini." jawab Raisa.
__ADS_1
"Aku juga." Mark tersenyum.
"Meski aku bukan yang pertama, tapi aku senang kalau kamu menyukainya."
"Iiih..." Raisa mencubit perut Mark.
"Sakit, baby..." pekik Mark.
"Mulai sekarang kamu boleh hubungi aku kapan pun kamu butuh. Aku akan selalu ada di sisimu dan membuat kamu lebih nyaman."
Cup
Mark mengecup puncak kepala Raisa.
"Bagaimana kalau pacarmu marah?" tanya Raisa.
"Tidak ada yang benar-benar membuatku jatuh cinta, kecuali kamu. Sampai saat ini aku belum bisa melupakanmu, baby..." ucapan manis itu membuat tubuh Raisa bergetar.
Baby adalah panggilan sayang mereka saat berpacaran dulu.
Raisa sangat menikmati kebersamaannya bersama sang mantan. Yang mungkin sekarang berubah status menjadi simpanan.
Sejak malam itu, mereka jadi sering berhubungan. Tak jarang mereka bertemu dan melakukan hal yang sama. Tapi tidak lagi di apartemen Nando. Melainkan di apartemen milik Mark.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lain Raisa, lain pula Nando. Setelah istrinya cerita kalau mamanya menganggapnya mandul, Nando memutuskan pergi ke dokter. Karena dia tidak ingin membuat istrinya tersinggung, dia memutuskan pergi seorang diri secara diam-diam.
Ternyata dia bermasalah. Tapi dokter terus menyemangatinya untuk terus melakukan terapi.
Tapi hingga berbulan-bulan hasilnya tidak berubah. Dia mulai menyerah. Dia bingung bagaimana mengatakan kekurangannya itu pada sang istri.
"Bagaimana aku mengatakannya, Raisa. Kamu terlihat sudah semakin baik setiap harinya. Aku tidak mau membuat mood kamu buruk lagi."
"Mungkin dia sudah bisa pasrah dengan apa yang Tuhan gariskan."
"Lalu apa yang akan terjadi kalau dia tau, akulah penyebab keluarga kita tidak sempurna."
"Sayang..." suara Raisa membuyarkan lamunannya.
"Kopinya sampai dingin, lho." kata Raisa.
Tanpa banyak kata, Nando meneguk kopi buatan istrinya.
"Aku berangkat. Tidak usah menungguku, mungkin aku akan terlambat pulang." kata Nando.
"Lembur lagi? Apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Raisa.
"Ya, tapi kamu jangan khawatirkan itu." katanya.
Lembur hanyalah alasan. Faktanya adalah dia seolah tidak memiliki harga diri lagi di hadapan istrinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...