Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Foto Suamiku


__ADS_3

Meilan menghampiri Devan yang sedang berdiri di balkon kamar. Sudah cukup lama panggilan telepon itu berakhir, tapi Devan tak kunjung masuk.


"Kok nggak masuk sih, dingin tau. Nanti masuk angin." kata Meilan.


"Ada apa, hah?" Meilan mendapati mimik wajah Devan yang tak seceria tadi, sebelum menerima telepon dari Fero.


"Nenek sakit, sayang. Dia ingin bertemu kita." kata Devan. "Tapi aku mengkhawatirkan kamu dan anak kita." Devan mengusap perut istrinya.


"Aku akan baik-baik saja, sayang. Ingat kata dokter Gisel, ibu dan bayinya sangat sehat dan kuat." Meilan meyakinkan suaminya.


Sejak hamil, Meilan jadi suka memanggil suaminya dengan sebutan sayang. Dia hanya akan memanggil nama suaminya ketika suaminya mulai jail dan membuatnya kesal


"Serius??!"


"Iya, sayang..."


Esok harinya Devan, Meilan, juga Vivian, berangkat ke rumah nenek diantar oleh Fadil. Karena pak Jefri sedang ambil libur.


Nenek Sartika tidak ingin dirawat di rumah sakit. Hanya ingin di rumah bersama anak dan cucunya. Meski demikian, pak Herman tetap memanggil dokter dan perawat ke rumah.


Meilan dan Devan kaget saat melihat Luna menemani nenek Sartika.


"Dia di sini?" tanya Devan.


"Nenek ingin aku membawanya ke mari. Kemarin sore dia datang." kata Fero.


"Gimana nenek?" Meilan memegang pundak Luna.


"Sudah datang, duduklah." Luna berdiri dan memberikan kursinya pada Meilan.


"Nenek tidak mau ditinggal." kata Luna.


Meilan mengusap pipi keriput nenek. Ternyata nenek bisa merasakan sentuhan itu.


"Nenek..., sudah bangun." Meilan mencium tangan nenek Sartika.


"Kamu datang, nak..." sahut nenek dengan suara lemah.


Nenek melirik perut cucu menantunya yang sudah terlihat besar.


"Apa dia sehat?" sentuhan itu membuat hati Meilan sedikit bergetar.


"Iya, nek. Dokter bilang sangat sehat dan aktif. Makanya dia ikut kesini mau jenguk nenek buyutnya." kata Meilan.


"Dia bergerak..." senyum nenek mengembang.


"Dia menyapa nenek..."


Semua terlihat senang dengan interaksi itu. Kecuali Fero. Dia teringat semalam nenek terus meracau, seolah ngobrol dengan kakek.


"Nenek akan pergi kek, kakek tunggu saja. Sebentar lagi. Tidak akan lama..."


"Ada apa?" tanya Devan.


"Tidak." Fero kemudian meninggalkan kamar nenek.


"Aku tinggal dulu ya." ujar Luna saat melihat Fero keluar.


Setelah Luna keluar, giliran Devan yang mendampingi nenek.


"Nenek tidak ingin melihatku rupanya." Devan pura-pura ngambek.


"Sini..." nenek melambaikan tangannya pada Devan.


"Nenek belum memelukmu ya."


Nenek dan cucu itu berpelukan. Meilan memberi isyarat agar Vivian juga mendekat.


"Nenek..., Vivian juga datang lho." kata Meilan.


"Vivian..."


"Neeek..."


Vivian pun memeluk neneknya. Nenek menitihkan air matanya. Dia bahagia melihat keluarganya kumpul menemaninya.


"Rumah kita akan ramai." kata nenek.


"Van..." nenek menatap Devan.


"Iya, nek?"


"Beri tau Fero, suruh dia cepat menikah. Biar ada yang mengurusnya kelak kalau nenek pergi."

__ADS_1


Kalimat yang diucapkan nenek membuat semua yang ada di dalam kamar saling pandang. Pak Herman memberi kode dengan anggukan kepala.


"Devan akan bujuknya, nek." ucap Devan.


"Pergilah, katakan padanya!" titah nenek.


"Ah, i..., iya..." balas Devan.


"Meilan..., tidur sini sama nenek. Biar nenek bisa mengusap bayimu."


Dengan hati-hati Meilan merebahkan tubuhnya di samping nenek. Mencari posisi yang nyaman buatnya, dan nenek bisa mengelus perutnya sesuai keinginannya.


"Nenek..., apa yang ingin nenek sampaikan sebenarnya? Kenapa firasatku nggak enak?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di taman...


"Kenapa?" tanya Luna pada Fero yang menyendiri di taman.


"Kenapa kamu di sini?" Fero bertanya balik.


"Kamu belum jawab pertanyaanku." balas Luna.


"Aku punya firasat tidak baik tentang nenek." ungkapnya.


"Apapun perasaan yang mengganggu pikiran kamu, harusnya kamu nggak di sini sendirian. Temani nenek bersama yang lain." tutur Luna.


"Kamu tau kenapa aku membawamu ke rumah ini?" tanya Fero.


"Untuk jenguk nenek kamu." jawab Luna.


"Bukan hanya itu, Na." Fero menarik nafas sebelum kembali berbicara.


"Nenek minta aku membawa pacarku, dan segera menikahinya." Fero menoleh ke arah Luna.


"A..., aku..?!" Luna menunjuk dirinya sendiri. "Sejak kapan kita pacaran?"


"Memang belum, tapi aku sudah memikirkannya. Hanya saja..."


"Nenek lebih dulu jatuh sakit."


Suara itu mengalihkan pandangan mereka. Devan sudah ada di belakang mereka saat ini.


"Dan nenek menginginkan kalian segera menikah." kata Devan kemudian.


"Tidak ada permainan, Na. Aku serius." Fero mencoba meyakinkan Luna.


"Kamu pikir aku percaya? Kita baru beberapa kali bertemu, lalu tiba-tiba kamu ngajak aku nikah?! Hellooo...!!!" celoteh Luna.


"Ikut aku!" Fero menarik tangan Luna dan membawanya masuk ke rumah.


"Ikutin apa tidak ya?? Mereka cuma berdua, kalau Fero nekat bagaimana nasib anak orang? "


"Ikutin saja kali ya..."


Devan mengejar mereka yang sudah menuju lantai 2 rumah nenek.


"Kan..., kaaan..., mereka ke kamar."


Fero membawa Luna ke kamarnya, dan membiarkan kamarnya terbuka begitu saja.


Fero mengambil sebuah frame di atas nakas, lalu mengeluarkan isinya. Ternyata di balik foto itu ada foto Luna. Yang dia ambil secara diam-diam.


Lalu tangannya menarik laci, mengambil kotak cincin dan menunjukkannya pada Luna. Ada ukiran bertuliskan nama Luna pada cincin itu.


"Ini semua...??"


Luna mulai tergerak hatinya.


"Aku serius Luna..." ujar Fero.


"Beri aku waktu bicara sama orang tuaku." hanya itu yang bisa Luna katakan.


"Aku akan menemanimu." Fero meraih tangan Luna. Luna mengangguk.


Devan yang berada di balik pintu segera pergi setelah melihat apa yang terjadi pada Fero dan Luna.


"Ternyata benar, tidak ada yang bisa memilih jatuh cinta pada siapa dan kapan."


Devan tersenyum, dia kembali teringat kisahnya dengan Meilan. Yang dia tuduh sebagai tersangka penculikan Vivian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hari mulai malam, Meilan menyuapi nenek di kamarnya.


"Nenek tidak melihat Fero. Kemana anak itu?" gumam nenek.


"Fero sedang memperjuangkan menantu nenek bersama om Herman. Nenek do'akan yang terbaik saja untuk mereka ya." ujar Meilan.


"Devan bersama mereka?" tanya nenek.


"Iya, nek."


"Syukurlah, nenek lega kalau ada Devan. Dia lebih bisa mengambil sikap dibanding mereka berdua."


"Tapi cucu nenek itu terkadang menyebalkan." celetuk Meilan.


"Dia suka mengganggumu..." nenek terkekeh.


"Iya. Dan itu menyebalkan sekali."


"Tapi dia menyayangimu." tentu saja nenek membela cucunya. "Kalau melihat suamimu, nenek jadi merindukan kakek. Devan itu sama persis sifat dan kelakuannya dengan kakek."


"Nenek..." Meilan mengusap punggung neneknya.


"Nenek tau? Papi akan menjemput ayah dan ibuku juga. Jadi besok mereka akan datang bersama. Apa nenek senang?" Meilan mengalih pembicaraan karena tidak ingin membuat neneknya sedih.


"Tentu. Nenek ingin tau seperti apa orang tua dari menantu nenek yang cantik ini..." nenek tersenyum pada Meilan.


"Nenek..." seseorang muncul di pintu kamar nenek.


"Sintia. Masuklah...!" sahut Meilan.


"Mbak Meilan di sini rupanya." ujar Sintia. Dia melihat perut besar Meilan.


"Iya, tadi siang baru sampai." kata Meilan.


"Sudah selesai makannya? Aku akan bawa ke dapur dulu ya." Sintia mengambil nampan yang ada di atas nakas.


"Terimakasih." Meilan melihat Sintia sudah pergi menuju dapur.


"Dia sering menemani nenek ya?" tanya Meilan.


"Iya, dia selalu datang menemani nenek kalau malam." balas nenek.


Kemudian terdengar suara handphone berdering. Meilan menoleh ke sumber suara. Meilan tercengang dengan apa yang dia temukan.


"Deeev...!!"


Wallpaper handphone milik Sintia adalah foto suaminya, Devan.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya nenek.


"I..., itu. Milik Sintia, nek." jawab Meilan sedikit terbata.


"Kenapa dia menyimpan foto Devan? Ada apa dengan mereka?"


Beberapa saat kemudian Sintia kembali.


"Nenek sudah tidur." kata Meilan.


"Cepat sekali? Apa obatnya sudah diminum?" tanya Sintia.


"Sudah tadi." balas Meilan. "Tadi waktu aku ke kamar mandi, sepertinya handphonemu berbunyi." Meilan membual.


"Oh, iya?" Sintia menuju nakas dan mengambil handphone itu.


"Aku tinggal dulu ya." Meilan kemudian undur diri.


Meilan mengistirahatkan tubuhnya di ruang tengah. Sambil menunggu suaminya yang sedang dalam perjalanan pulang.


"Nyonya terlihat lelah sekali." ujar bibi yang datang mengantar minuman untuk Meilan.


"Sedikit pusing, bi." Meilan memijat pelipisnya sendiri.


"Bibi pijat ya. Nenek juga suka lho dengan pijatan bibi."


"Jadi merepotkan bibi nanti." Meilan tak enak hati.


"Tenang saja nyonya, pekerjaan bibi tinggal menunggu gelas nyonya kosong kemudian mencucinya." begitu katanya.


"Bibi..., bibi..." Meilan sedikit terhibur karena celoteh si bibi.


"Tunggu ya, bibi ambilkan air hangat."


"Hah?!" Meilan bingung air hangat buat apa.

__ADS_1


Ternyata bibi mengambil air hangat setengah ember untuk merendam kaki Meilan. Kemudian bibi memijat kepala Meilan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2