
Club menjadi tujuan Nando sekarang. Dia tidak ingin pulang, apalagi melihat istrinya. Pikirannya melayang pada beberapa waktu lalu, dimana dia mengkhianati Meilan karena tergoda dengan Raisa.
"Sesakit ini rasanya, Mei...!! Tuhan telah menghukumku sekarang. Aku mandul, istriku selingkuh dan dia sekarang hamil."
Nando meneguk habis minuman di hadapannya. Entah sudah berapa gelas yang dia habiskan.
Seseorang tidak sengaja menabraknya hingga gelas yang dia pegang jatuh dan pecah.
"Jangan mengusikku!!" bentaknya.
"Sorry bro, aku tidak sengaja." kata orang itu.
"Aaaahhh...!!!" teriak Nando.
Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, dan meninggalkannya di depan bartender. Lalu dia keluar dari tempat itu.
"Sepertinya dia sedang dalam masalah besar." gumam orang yang tadi menabraknya.
Nando mengendarai mobilnya tak tentu arah. Dia tidak tahu harus pulang kemana?...
Dan mengadu pada siapa?...
Dia hanya mengikuti saja kemana naluri akan membawanya pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di malam yang sama, Meilan sedang merajuk ingin makan makanan yang dijual di warung kaki lima. Bumil satu ini tidak ingin makanan yang dibungkus. Maunya langsung makan di tempatnya.
"Sudah malam, sayang. Biar aku yang beli, kamu di rumah ya..." bujuk Devan.
"Maunya makan di sana..." suara manja itu membuat Devan makin bingung.
"Kalau masuk angin, sakit, gimana?" tidak ada kata menyerah bagi Devan.
"Aku akan pakai jaket. Nggak bakal sakit." ucap Meilan dengan yakinnya.
"Kalau tiba-tiba hujan, terus kalau kita dihad..."
"Aku nggak peduli dan nggak mau tau!" potong Meilan. "Kalau kamu nggak mau, aku akan telepon Raka dan minta dia anterin aku. Titik. Nggak pakek koma."
Devan segera merebut handphone Meilan, saat istrinya itu hendak menghubungi Raka.
"Kita pergi..., kita pergi..." Devan menyerah. "Aku ambil jaket dulu ya. Duduk manis di sini. Oke, cantiiik...!!!"
Meilan sangat senang karena dia akan pergi makan malam ini. Entah mengapa tiba-tiba dia menginginkan masakan warung kaki lima. Mungkin ini bawaan bayi yang dikandungnya.
Sampai di pusat perdagangan kaki lima, Meilan dibuat terperangah karena banyak sekali makanan yang dijual di sana.
"Yakin makan di sini?" tanya Devan yang mulai ragu melihat kondisi di sana.
"Iyalah. Kamu tau kapan terakhir aku ke sini?" Meilan melihat ke arah suami. "Kelas 6 SD."
Devan sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia masih speechless dengan pemandangan di depannya saat ini.
Segala macam aroma makanan bercampur jadi satu dengan perasapan dari bakaran sate, jagung, bahkan umbi-umbian. Dan jangan lupakan gerobak yang aneka warna dengan tenda di atasnya.
"Tuhaaan..., begini rasanya punya istri ngidam..."
Batin dan mental Devan benar-benar diuji. Masuk ke sana rasanya berat sekali, membiarkan istrinya masuk dan makan sendiri malah tidak mungkin.
"Kenapa tidak minta beli tas, perhiasan, mobil pun aku kasih. Malah maunya jajan ke sini..."
Meilan berhenti di depan gerobak mie. Dia ingin makan mie kuah jawa di sana.
"Kamu mau?" tanya Meilan.
__ADS_1
"Kamu saja." katanya sambil menoleh ke sekelilingnya.
"Mie kuahnya 1, minumnya es jeruk. Esnya dikit saja ya, pak."
Setelah Meilan menyebutkan pesanannya, dia duduk di atas tikar yang sudah disediakan.
Devan benar-benar tidak menyentuh makanan itu. Dia hanya minum air mineral dalam kemasan yang ada meja mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam perjalanan pulang...
"Apa sayangnya papa sudah puas?" Devan mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap perut istrinya yang sudah mulai mengalami perubahan.
"Terimakasih ya..."
"Sama-sama sayang..." tangan itu kini beralih mengusap pipi Meilan.
Kemudian Devan kembali fokus menyetir. Di tengah perjalanan konsentrasinya mendadak buyar, lantaran sebuah mobil di hadapannya berjalan oleng.
"Ya ampun..., itu mobil kenapa coba?" gumam Devan kemudian.
"Pelan-pelan, Dev. Takutnya itu begal yang sedang jebak kita." balas Meilan.
"Eeh..., eeh...!!" pekik Meilan kemudian.
Mobil itu tidak belok di tikungan, malah lurus dan menabrak sebuah pohon. Devan pun menepikan mobilnya.
"Aku lihat dulu, sayang. Takut orangnya kenapa-napa." Devan melepas seatbeltnya.
"Hati-hati..."
"Jangan keluar ya!" titah Devan.
Saat Devan mendekat, pemilik mobil sudah membuka pintu sambil mengumpat.
"Siapa sih yang nanam pohon di tengah jalan?! Mabuk kali dia!" teriak Nando sambil menendang angin malam.
"Yang mabuk siapa, yang disalahin siapa..." gerutu Devan.
Nando menoleh setelah mendengar suara itu.
"Kamuuu..." Nando menyipitkan matanya sambil menunjuk Devan.
"Aah..., suaminya Meilan. De..., De..., aaahh sudahlaahh..." Nando yang masih dalam pengaruh alkohol tidak bisa mengingat nama Devan.
Dari dalam mobil, Meilan bisa mengenali siapa sosok yang sedang bersama suaminya. Saat itu dia pun turun dan menghampiri mereka.
"Nando kenapa?" tanya Meilan.
"Sayang!" Devan segera menarik Meilan agar berlindung di balik punggungnya. "Ngapain turun sih. Dia mabuk!"
"Mei..." Nando yang sedang duduk menatap Meilan begitu dalam.
Mata merah Nando, rambut yang berantakan, aroma asing yang berasal tubuh Nando, membuat Meilan sedikit takut. Meilan pun hanya mengintip dari balik punggung Devan.
"Duduklah sebentar..., aku beri tau sesuatu!" Nando menarik celana Devan.
Devan menurut saja, Meilan pun duduk di samping suaminya.
"Tuhaaaan, sedang menghukumku." Nando menunjuk langit.
"Aku meninggalkan Meilan." Dia menelengkan kepalanya dan melihat Meilan. "Karena dia tidak seperti Raisa. Raisa yang bisa aku bawa kemaaaanaaa sajaaa...!!!" hampir saja tanganya menyantap wajah Devan.
"Bahkaaan, kita tidur bersama." Nando memeluk tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Devan mengusap tangan Meilan.
"Biarkan saja." bisik Devan. Meilan hanya mengangguk.
"Kalian tau...?? Tau...??!!" dia menunjuk Devan dan Meilan bergantian.
"Kata dokter..., aku mandul." kalimat itu mengejutkan Devan dan Meilan.
"Tapiiii..., istriku..., haaa..., miiiil..." Nando memukul rumput di sampingnya.
Sesaat kemudian dia tiba-tiba menangis.
"Tapi itu bukan anakku." suara Nando melemah. "Dia hamil..., tapi bayi itu bukan anakku...!!!"
Devan dan Meilan saling pandang. Mencerna semua cuitan Nando. Tak berselang lama, Nando tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa menurutmu, orang mabuk selalu berkata benar?" tanya Meilan pada Devan.
Saat ini mereka sudah berada di rumah. Setelah mengantar Nando ke rumah orang tuanya.
"Entahlah, aku tidak tau sayang." balas Devan. "Apa kamu memikirkan Nando?" Devan sedikit kesal.
"Kamu tau aku akan cemburu, kenapa masih memikirkan dia..." celotehnya.
"Dev..., aku hanya nggak percaya ini bisa terjadi. Cuma itu." Meilan memeluk suaminya.
"Tetap saja. Berarti dia ada dalam pikiran kamu."
"Meski ada, tapi dia tidak akan bisa menggeser kamu yang sekarang memenuhi pikiran dan hati aku." Meilan merayu Devan.
"Merayuuu..." Devan masih konsisten dengan wajah kesalnya.
"Rupanya papamu sedang ngambek sayang. Kita bobok sama tante Vivian yaa..., atau sama oma saja."
Meilan bicara dengan perut buncitnya sambil mengelusnya dengan lembut.
"Aauh..." Meilan merasakan sesuatu bergerak dalam perutnya untuk pertama kali.
"Kenapa sayang?" Devan mendekatinya.
"Dia bergerak..., dia merespon suaraku, Deeev..." tetes air mata bahagia itu keluar dari sudut mata Meilan.
"Sungguh?!!" Devan mengusap perut istrinya, berharap merasakan hal yang sama.
Ekspresi kecewa tergambar jelas di wajah Nando saat dia menarik tangannya. Karena dia tidak mendapat respon yang sama saat mengusap perut Meilan.
"Berani sekali dia mengabaikanku." gumamnya. Meilan cekikikan.
"Apa yang lucu?" sahut Devan.
"Kamu." balas Meilan.
Devan menyipitkan matanya. Kemudian menarik pinggang Meilan hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Kita lihat apa aku masih lucu..." bisik Devan.
"Deev..., aku sangat lelah." Meilan pasang mode melas.
"Tapi aku ingin menyapa anak kita, dan memberinya sedikit pelajaran karena berani mengabaikan papanya." Devan mulai menciumi wajah istrinya.
"Aku akan bermain lembut, sayang..." bisiknya setelah kecupan itu mendarat di telinga Meilan.
"Aku tidak akan menyakitimu dan anak kita." tambahnya sambil tersenyum manis pada sang istri.
__ADS_1
Meilan mengangguk, mengiyakan permintaan suaminya. Karena memang selama ini Devan selalu memperlakukannya dengan baik dimana saja. Apalagi setelah hamil. Dan Meilan juga sudah berkonsultasi pada dokter Gisel tentang hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...