
Saat hati Rinjani mulai bergemuruh, Rinjani teringat ucapan dirinya sendiri tadi siang.. "Ingat Rinjani.. kamu bukan siapa-siapa Jangan berharap lebih" ucap rinjani meyakinkan dirinya sendiri.
.
.
.
*** Di Rumah ***
Sesampainya dirumah, Rinjani memasuki rumahnya tak lupa memgucap salam.
"Assalamualaikum" suara Rinjani saat membuka pintu rumahnya, namun tak ada yang menyahutinya.
Dirinya segera bergegas memasuki kamarnya. Meletakkan barang bawaan dari kantor di atas meja belajar Rinjani, dilanjutkan dengan merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk kamarnya.
"Nikmatnya" suara Rinjani saat merebahkan dirinya sambil memijat pelan keningnya.
Hari ini melupakan hari yang panjang dan melelahkan bagi Rinjani. Bagaimana tidak, seharian moodnya begitu turun ketika melihat kedekatan antara Mario dengan Arin sekretarisnya itu.
" huaaaaaaah.. Kenapa gue jadi mikirin Mario mulu yaa.. heran sendiri gue, sama diri sendiri.." kesal Rinjani terhadap dirinya.
"ceklek" terdengar suara pintu kamar terbuka, Rinjani pun menoleh ke sumber suara.
"Ibu..." sapa Rinjani kepada ibunya.
"Sudah pulang nak? ibu liat motor kamu Ada di teras, ibu juga ndak dengar kamu ucap salam tadi" tanya Ibu Rima seraya berjalan kearah ranjang Rinjani.
"Hm... Rinjani tadi udah salam bu, tapi rumah hening semua kayak ga ada penghuninya" sahut Rinjani.
"Gimana kerjaan kantor mu tadi nak? melelahkan?" tanya Ibu Rima saat melihat anaknya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Alhamdulillah bu... lumayan sibuk tadi dikantor, tadi pagi ikut meeting project baru" jelas Rinjani.
"Kamu sehat kan nak?" tanya Bu Rima seraya memegang kening putrinya itu.
"Alhamdulillah sehat bu... " ucap Rinjani. "Ada apa bu?" imbuhnya.
Bu Rima terdiam sebentar, ingin mengutarakan tujuannya tentang kelanjutan hubungannya dengan Mario putra temannya itu terpaksa ia urungkan dikarenakan melihat kondisi putrinya itu sedang lelah karena pekerjaannya.
"Hm... ndak papa nak... buruan mandi udah adzan magrib juga cewek pamali mandi malam-malam" jelas Bu Rima.
Rinjani menoleh ke jam tangan yang Masih menempel pada tangannya..
"Astagaaa... Iya bu, Rinjani mandi" gegas Rinjani terbangun dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi luar.
*****
Di ruang makan.
Semua berkumpul makan bernama menyantap hidangan yang dimasak oleh Bu Rima, kali Ini beliau memasak hidangan Rica-rica Ayam lauk gorengan tak lupa sambal. Keluarga ini memang senang sekali dengan hidangan sambal.
"Wahh enak nih kesukaan Dimas.." ucap Dimas adik Rinjani saat duduk di kursi makannya.
"Habiskan habiskan.." ucap Rinjani menggoda adiknya...
"Habis ini kamu mau pergi kemana Rin?" tanya Pak Bagus. Melihat putrinya sudah berpakaian rapi
"Mau kumpul sama temen-temen kerja pak" jelas Rinjani.
"Jangan pulang malam-malam" sahut Pak Bagus memberi tahu putrinya
"Baik Pak.." ucap Rinjani.
"Pulang bawa Jajan ya kak..." imbuh Dimas..
"Mana duit.... " sahut Rinjani menodong adiknya.
"Yang pergi dong yang beli, enak aja.." Tanya Dimas.
__ADS_1
"Iya iya bawelll..." sahut Rinjani.
"Mau pergi kemana kak? ikut dong" tanya Dimas.
"Di cafe promise.. ah nanti kamu rese.. tumben kagak keluar sendiri? biasanya juga kluyuran sama temen-temen kamu..." tanya Rinjani seraya berpikir, lumayan juga Kalau Dimas ikut bisa buat boncengin dirinya.
"Wah enak tuh kak... sekarang lagi ada menu baruu. . apa gitu lupa iku pokoknya yang lagi hits.. " ucap senang Dinas saat mengetahui tempat tujuannya. " Boleh ikut ndak kak?" tanya Dimas sekali lagi pada kakaknya.
"Hm yaudah. .. Buruan ganti baju.." suruh Rinjani kepada adiknya.
"Makasih kakakku yang pualinggg cantikk.. Nanti jajanin juga ya kak... hehehe" ucap Dimas nyengir.
"Hm ada maunya..." sahut Rinjani.
Seusai makan Rinjani ngabarin teman-temannya kalau dirinya ngajakin adiknya nongkrong, respon temannya pun pada open semua apalagi Kinan.
"Pak Rinjani sama Dimas pamit dulu... Assalamualaikum" ucap Rinjani.
"Waalaikumsalam, jangan pulang malam-malam ya" ucap Pak Bagus.
"Pake helm nya dim..." ucap Rinjani.
"Loh kita pake motor kak? ga mobil aja? sekalian biar aku tambah lancar kak..." jelas Dimas.
"Alasan aja kamu...ayok buruan udah mau jam 8 nih" sahut Rinjani.
Saat kedua orang tua Rinjani memperhatikan anaknya yang sudah melaju pergi, Bu Rima terlihat gusar wajahnya Pak Bagus pun bisa menebak apa yang ada dipikiran istrinya itu.
"Sudah bu, Jangan risau.. anakmu sudah pada dewasa sekarang.. Soal perjodohan Rinjani dengan Mario nanti ibu bicarakan sama Rinjani kalau sudah agar santai" jelas Pak Bagus.
"Iya pak" sahut Bu Rima pelan lalu masuk kedalam rumahnya.
*** Cafe Promise ***
"Ini adik kamu Rin?" tanya Kinan menatap ke arah Dimas.
"Cakep juga kamu Dek hahaha.. berondong.. beda jauh sama kamu Rin..." Ucap Kinan.
karena tampang Dimas memang bagus dan tubuhnya pun tinggi melebihi Rinjani sering sekali mereka kalau pergi berdua dikira orang bukan kakak beradik melainkan sepasang kekasih.
"Udah... Cepet kalian pesen makanan, nanti keburu habis tau rasa kamu" jalas Andre.
Semua memesan makanan satu sama lain Rinjani hanya memesan minuman sama snack saja.
"Tumben kak... cuma jajan itu aja ga mau nyobain mentai kak? " tanya Dimas.
"Masih kenyang Dim, kan tadi kakak habis makan" sahut Rinjani. "Nanti kakak nyicip punyamu Dim" imbuh Rinjani.
"Hm....... " jawab Dimas.
Mereka semua saling bercengkrama, tak butuh waktu lama untuk Dimas bisa akrab dengan teman-teman Rinjani. Canda tawa mereka lontarkan satu sama lain, hingga diujung kasir dekat tangga ada sepasang mata memerhatikan mereka berempat, tersenyum menyaksikan mereka tertawa hingga berjalan menuju ke arah mereka berempat.
"Mas Mario" ucap Dimas.
Senyum Mario, "Iya Dim.. Gimana enak menu barunya?" tanya Mario.
"Enak kak... Dimas suka.." jelas Dimas.
"Lho Dim kamu kok kenal sama Pak Mario?" tanya Andre.
"Iya kenal lah... a.. " sahut Dimas, seketika diam saat Rinjani menendang kakinya Dimas.
Pandangan bingung Kinan dipancarkan terhadap Rinjani, terdapat banyak perkataan yang ingin dirinya ucapkan kepada Rinjani.
"Sini gabung bareng kami Pak.." ucap Andre kepada Mario.
"Panggil Mario saja, jangan formal-formal kan udah gak jam kantor lagi" jelas Mario.
__ADS_1
"Baik pak, maksud saya Mario" ucap Andre.
Mereka semua saling menimbrung obrolan satu sama lain dengan Mario. Tak disangka-sangka Sesok Mario yang kelihatannya judes bisa ramah juga kumpul bareng Rinjani dan juga teman-temannya.
Saat Mario duduk bergabung bersama, Rinjani hampir tak berani menatap wajah Mario saat lelaki itu mengajaknya berbicara. Hampir semua balasan omongan Mario dibalas oleh Rinjani dengan kepala tertunduk malu. Sungguh Rinjani tak kuasa untuk menatapnya.
"Kalau orang lain sedang berbicara sama kamu, sebaiknya kamu tatap yang mengajakmu berbicara" ucapan Mario yang ia tujukan pada Rinjani.
"Hm... iy... iyaa Mas" ucap Rinjani mengangkat wajahnya.
Hingga tak kerasa waktu berjalan cepat. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam.
"Gaes udah malam nih, apalagi aku ngajak adikku, pasti bapakku udah nungguin dirumah" ucap Rinjani.
"Nanti aja kak... Nanggung jam 10 aja" balas Dimas.
"Hush ngarang kamu, kasihan bapak. Ayok pulang Dim" Ajak pulang Rinjani.
"Udah pulang, ntar kapan-kapan kesini lagi nanti aku traktir" ucap Kinan pada Dimas.
"Wah siap kak... gak bakalan nolak hehehe" ucap Dimas.
Sekalian mereka berempat bergegas pulang terkecuali Mario yang masih stay di cafe miliknya.
******
Setibanya di rumah
"Assalamualaikum" ucap Dimas dan Rinjani, kepada bapak dan ibunya yang sudah menunggunya diruang televisi.
"waalaikumsalam salam" jawab Pak Bagus.
"Pak, bu tadi Dimas ketemu sama mas Mario gabung kumpulan ngopi sama kakak" ucap Dimas nyeplos kepada orang tuanya.
Bu Rima seketika melemparkan senyuman kepada Rinjani.
"Iya kah Dim?" tanya Bapak.
"Iya Pak... masaa Dimas bohong" jelasnya.
"Rin... Ibu mau bicara sama kamu" ucap Bu Rima kepada Rinjani.
Rinjani yang tadinya hanya berdiri langsung mengikuti ibunya menuju ke kamar Rinjani.
"Ada apa bu?" tanya Rinjani penuh keseriusan.
"Gimana hubunganmu sama Mario nak?, " tanya Bu Rima.
"Gimana apanya bu?" sahut Rinjani.
"Ihh kamu ini ya... ibunya Mario ingin agar kalian segera kehubungan yang lebih serius nak.. menikah" jelas Bu Rima.
Seketika mulut Rinjani seakan membisu mendengar kata menikah, dan pria yang akan menjadi pendamping hidupnya itu ialah Mario
"Apa bu?.. Me.. menikah? sama Mas Mario?" Tanya Rinjani memperjelas.
***
.
.
.
.
maaf apabila masih ada salah dalam penulisan, karena author baru pertama kali membuat suatu karya
terimakasih buat teman-teman yang sudah mampir dan terus suport author terus ya.
__ADS_1
jangan lupa vote, like dan rate bintang 5 Terimakasih.