Cinta Rinjani

Cinta Rinjani
Siapakah Wanita Itu


__ADS_3

Rinjani merutuki dirinya karena mulutnya sudah berbicara sembarangan.


"Fitting? secepat ini? bukannya pernikahan masih dua bulan lagi?" Rinjani mengernyitkan dahinya.


"Kamu kira dua bulan itu masih lama? banyak yg harus di atur" jawab Mario.


Rinjani menghembuskan nafasnya menyandarkan punggungnya sambil menejamkan matanya. "Iya ya kenapa aku ga pikiran sampai situ" ucapnya Rinjani.


Rinjani membuka matanya dan menoleh ke arah Mario. "Mas... Kamu kenapa ketus terus sih nadanya?" tanya Rinjani.


"Perasaanmu aja" ucap Mario singkat


"Iya kah?" tanya lagi.


"Ayo turun" ajak Mario


"Maaf aku diem ga tanya-tanya lagi.. aku ga mau kalau harus diturunin dijalanan" Rinjani menundukkan pandangannya.


Mario menoleh ke arah Rinjani sedikit aneh mendengar perkataannya barusan.


"Siapa yang mau nurunin kamu... Maksudku turun udah sampe butik" Mario melepas seat belt nya.


Rinjani mendongakan kepalanya "Ooohh... udah nyampe" Rinjani menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Segera Rinjani melepas seat beltnya dan turun bersama Mario memasuki Butik.


......................


πŸ€πŸ€πŸ€ButikπŸ€πŸ€πŸ€


"Selamat datang nyonya tuan silahkan menggunakan handsanitizer dan cek suhu terlebih dahulu" ucap pegawai butik membukakan pintu.


Rinjani tersenyum di balik maskernya merasa aneh mendengar panggilan yang ia terima.


"Kamu pilih dulu yang kamu suka aku duduk disana.. aku menyutujui yang kamu pilih" ucap Mario pada Rinjani.


"Permisi nona, benar ini nona Rinjani?" ucap pelayan buntik yang menghampiri Rinjani.


"Benar, ada apa ya mbak? oh iya panggil Rinjani saja" Rinjani merasa risih dengan panggilan nona apa lagi nyonya seperti yang dilakukan pegawai tadi.


"Bu Nita telah memilihkan beberapa gaun pernikahan untuk anda, mari saya tunjukkan" ajaknya memasuki salah satu ruangan butik yang berisi beberapa gaun pernikahan.


"Ooohh.. jadi semua ini Mamah Nita yang mempersiapkan.. Baik sekaliii, aku kira Mario yang mempersiapkan semua ini, mana mungkin Mario peduli tentang ini semua" gumam Rinjani.


Dibukalah pintu ruangan tampaklah beberapa gaun yang terpasang di manekin maupun yang tergantung. "Wah cantik sekali" gumam Rinjani mengagumi gaun-gaun pernikahan.


"Ini nona silahkan nona memilih dan mencobanya" ucap pelayan butik.


Rinjani mengamati satu persatu gaun yang Bu Nita pilihkan. "Bagus sekali pilihan baju dari Mamanya Mas Mario" Rinjani bermonolog


Rinjani memilih satu gaun putih yang menurutnya bagus untuk ia kenakan di pernikahannya, "Mbak aku mau mencoba yang ini" Rinjani menunjuk gaun yang ia pilih.


Rinjani memasuki ruangan ganti untuk mencoba gaunnya.


"Wah cantik wekali gaunnya...." gumam rinjani di depan cermin memutar tubuhnya di cermin. "Apa aku harus menunjukkan diriku di depan Mario? tapi aku malu"

__ADS_1


"Lebih baik tidak" melepas gaunnya dan keluar dari ruangan menghampiri Mario.


Sementara Mario sedang mengotak-atilkan ponselnya "Mas..." panggil Rinjani.


Mario menoleh ke sumber suara melihat Rinjani di depannya membawa gaun pengantin.


Hening.


"Kenapa tidak dipakai?" berkata dengan sorot matanya mengarah pada gaun yang Rinjani bawa.


"Sudah, apa menurut mas ini bagus?" ucap Rinjani berhati-hati.


"Bagus, ayo kita pulang" Mario memasukkan ponselnya dan hendak berdiri dari duduknya.


"Sebentar Mas" cegah Rinjani, "Mas harus mencoba memakai baju pernikahannya, kan kita berdua yang menikah bukan aku saja, jadi mas harus mencobanya juga" bujuk Rinjani.


"Tidak perlu, aku percaya pada pilihanmu" ucap Mario singkat.


"Sebesar itukah Mas Mario tidak menginginkan perjodohan ini? mencoba pakaian pernikahan aja tidak mau" ucap Rinjani menundukkan wajahnya walau suara Rinjani pelan, namun masih dapat terdengar di telinga Mario.


"Tidak, Baiklah aku akan mencobanya" ucap Mario berjalan menuju ke ruangan dimana Rinjani memasukinya tadi.


Rinjani mengangkat wajahnya tersemat senyum dan berjalan mengikuti Mario. Pelayan butik telah memberikan pada Mario tuxedo berwarna putih yang senada dengan gaun yang Rinjani pilih.


Mario hendak berjalan memasuki ruangan ganti lengannya ditahan oleh Rinjani. "Mas.. emm.. apa a-aku boleh melihatmu menggunakan pakaian ini?" ucap Rinjani


Senyuman smirk ia tunjukan pada Rinjani, Mario mendekatkan kepalanya menuju telinga Rinjani "Tidak" Mario menarik kembali kepalanya.


"Kau saja tadi tidak memperbolehkanku melihatmu memakai gaun itu." ucap dingin Mario membuat tangan Rinjani melepaskan pegangan pada lengan Mario.


Rinjani terdiam mendengar perkataan Mario, takut salah paham dengan Mario, Rinjani ingin menjelaskan pada Mario bahwa sebenarnya dia malu pada Mario, namun Mario sudah memasuki ruangan gantinya.


Rinjani meremas jari-jari tangannya pikirannya terfokus pada Mario. "Ya aku harus menjelaskannya padanya" gumamnya.


Tak lama kemudian, Mario keluar dengan menenteng tuxedonya. Segera melakukan transaksi pembayaran dan bergegas pergi meninggalkan butik.


......................


πŸ€πŸ€πŸ€Di Dalam Mobil πŸ€πŸ€πŸ€


Selepas Mario mencoba pakaian pernikahannya, Rinjani hanya terdiam dengan pikirannya, ia takut untuk memulai percakapan dengan Mario.


Mario fokus mengemudi mobilnya sambil sesekali menengok kearah Rinjani yang menundukkan pandangannya serta meremas-remas jarinya.


"Kau kenapa?" tanya Mario membuka pembicaraan.


"Ah.. ti-tidak apa-apa Mas.. A-anu.." Rinjani tergugup


"Anu apa? bicara yang jelas" ucapnya seraya pandangannya fokus mengemudi.


"Mas..?" panggil Rinjani.


"Hm..." sahutnya.

__ADS_1


"Mas a-aku.. minta maaf" ucap Rinjani menoleh ke arah Mario.


"Maaf kenapa?" tanya Mario tanpa menoleh ke arah Rinjani.


"Soal tadi.. yang mencoba pakaian tapi a-aku tidak menunjukkan padamu Mas.." jelas Rinjani.


"Gak penting" ucap Mario dingin, membuat Rinjani terdiam mencebikkan bibirnya dan fokus menghadap ke arah jendela di sampingnya. sementara Mario menyunggingkan senyumnya tanpa terlihat oleh Rinjani.


"Sialan.. Sabar-sabar.. kok bisa ada cowok kayal dia..." umpat Rinjani dalam hati


"Tidak usah mengumpatku" ucap Mario datar membuat Rinjani menoleh ke arah Mario


"Siapa yang mengumpatmu" ketusnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, Mario dan Rinjani mampir sebentar ke Cafe milik Mario.


"Kenapa kita ke cafe? apa kita mau makan Mas?" Tanya Rinjani.


"Nggak.. kita mau mandi bareng" jawab asal Mario.


"Aapa?!!"teriak Rinjani membuatnya bergidik membayangkan mereka berdua mandi bersama.


Mario menunjuk-nunjuk kening Rinjani "Mulai pikiran-pikiran kotornya, ayo turun aku mau ngecek cafe dan makan sebentar"


"Ooohh..." cengir Rinjani


......................


*πŸ€πŸ€πŸ€*Cafe PromiseπŸ€πŸ€πŸ€


Mereka memasuki cafe, banyak pegawai yang membari ucapan selamat sore pada kita berdua.


"Kamu duduk disana sebentar" ucap Mario menunjuk kursi untuk dua orang di dekat tangga "aku mau mengecek kesana sebentar, pesanlah makanan sesukamu" imbuhnya.


"Mas mau makan dan minum apa?" tanya Rinjani sebelum mario meninggalkannya.


"Samakan denganmu" lalu berjalan meninggalkan Rinjani menuju ke salah satu ruangan.


Sebelum Rinjani menuju ke tempat duduknya yang Mario minta, ia mengambil buku menu lalu berjalan ke mejanya.


"Makan apa ya, kira-kira Mas Mario suka apa ya" gumamnya seraya membuka-buka buku menunya.


"Ah, aku pesan saja yang umum." bermonolog lalu memanggil salah satu pelayan agar menulis pesanannya "milkshake chocolate dua, dua kentang goreng ukuran medium dan dua double beef burger"


Untuk mengusir kegabutannya Rinjani memainkan ponselnya mencari hiburan. Lima belas menit berlalu Mario belum juga menuju ke mejanya hingga hidangan yang sudah Rinjani pesan sudah datang.


Rinjani memandangi orang keluar masuk dari cafe ini, hingga matanya terfokus pada satu wanita cantik yang berjalan menuju kasir dan menanyalan keberadaan Mario. Rinjani mendengarkan perkataan wanita itu karena tempat duduknya dekat dengan kasir. Mata Rinjani menelisik memperhatikan dari atas sampe bawah gaya berpakaian wanita itu, lalu memperhatikan dirinya.


Pelayan lalu menujukkan dimana Mario berada, tak tunggu lama wanita itu memasuki ruangan Mario.


"husss.." hembusan nafas Rinjani


"Siapa wanita itu" gumam Rinjani seraya mengunyah kentang yang ia pesan.

__ADS_1


__ADS_2