
Rinjani menggeser foto digalerinya, melihat foto Mario yang ia simpan di galeri ponselnya, mengamati dan mengusap foto itu, dengan perasaan dan pikiran yang tak menentu.
.
.
.
Teringat disaat Rinjani berkunjung ke rumah Mamah nita membawa rainbow cake, Mamah Nita bercerita tentang perubahan sikap Mario yang dulu periang menjadi dingin, pendiam karena masalah percintaan dimasa lalunya, dan disaat itu juga Mario juga sedikit terbuka tentang masalalunya tepatnya ketika Mario mengantar Rinjani pulang.
πππFlashback Onπππ
Mario dan Rinjani memasuki mobil, Rinjani fokus memegang kue kering yang Mamah Nita bawakan sebagai buah tangan, sedangkan Mario fokus dengan mengemudi mobilnya.
"Pasti mamah sudah cerita sedikit mengenai masa laluku" ucap Mario mengawali percakapan sambil fokus dengan kemudinya.
"Hm.. iya" ucap Rinjani pelan tanpa menatap kearah Mario, sungguh kali ini Rinjani merasakan perasaan yang tidak enak.
"Itu benar" ucap Mario
Deg!.. jantung Rinjani seakan berhenti berdetak
"Perasaanku telah mati sejak saat itu, perasaanku telah habis karena yang dulu, bahkan jika kamu ingin marah, marahlah..., salahkan orang yang membuat aku jadi seperti ini" sambung Mario terbuka pada Rinjani.
Rinjani masih terdiam mencermati setiap kata yang Mario ucapkan, sungguh rasanya begitu menyakitkan mendengar pengakuan dari bibir Mario langsung, tatapan Rinjani sendu menatap ke satu arah depan kaca mobil dengan perasaan yang berkecamuk. Rinjani masih belum bisa berkata apapun, hanya dapat terdiam.
Rinjani memberanikan diri untuk menatap ke arah Mario, melihat Mario dengan perasaan bercampur ego jadi satu, Rinjani terbawa ke suasana hati Mario yang hancur.
"Aku bahkan sudah tidak mempunyai hati lagi untuk bisa mencintai, perasaan ini sudah habis karena yang dulu, marahlah pada orang yang telah membuatku seperti ini" ucap Mario namun tidak menyebut siapa wanita yang ia maksud.
Rinjani sudah tidak bisa lagi membendung air matanya, perasaannya sungguh tak menentu, "Cukup Mas..." ucap Rinjani mencoba menghentikan ucapan Mario, meletakkan telunjukknya tepat dibibir Mario, sungguh Rinjani tidak ingin mendengar ucapan menyakitkan lagi, "Cukup, aku tidak akan marah pada siapa pun... Yang berlalu biarlah sudah berlalu, sekarang aku dengan kamu, fokusku hanya satu yaitu kamu" Bergetar bibir Rinjani menghentikan ucapan Mario.
"aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, aku sendiri yang akan membuatmu jatuh cinta padaku dengan caraku sendiri. Aku gak akan memaksamu untuk bisa mencintaiku, biarkan cinta itu datang dengan sendirinya, aku hanya ingin dicinti dengan tulus, bukan dengan paksaan atau bahkan pura-pura mencintaiku hanya untuk menyenangkan hatiku saja." ucap Rinjani dengan berderai air mata, begitu menyesakkan dada saat bibir Rinjani melontarkan perkataan tersebut kepada Mario.
Mario terdiam mendengar jawaban dari Rinjani, Ada perasaan yang tak menentu dalam hatinya, saat melihat wanita itu menangis, sungguh menyesesakkan dada melihat Rinjani menangis seperti itu.
__ADS_1
Mario meraih tangan Rinjani dan menggenggam tangan Rinjani, "Sudah, cukup jangan menangis lagi" ucap Mario masih dengan menggenggam hari jemari Rinjani.
Rinjani merasakan kehangatan genggaman tangan dari Mario, namun Rinjani hanya terdiam menghapus air matanya, sedangkan Mario masih dengan fokus mengemudinya dan menggenggam tangan Rinjani.
.
πππFlashback Offπππ
Rinjani memejamkan matanya mengingat perkataannya kala itu, benar dirinya tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, tapi siapa yang tidak ingin dicintai ?... Semua orang pasti ingin sekali dicintai dan mencintai dalam pernikahan sekali dalam hidupnya. "Ya tuhan, inikah nasibku menikah dengan orang yang belum atau bahkan tidak mencintaiku?" gumam Rinjani dalam hatinya sambil memejamkan kedua matanya, seraya menyandarkan punggungnya dikursi kerjanya.
"Apa aku salah jika aku juga ingin dicintai oleh Mas Mario calon suamiku sendiri, tuhan..." tak terasa air mata Rinjani mengalir dipipinya, dengan cepat Rinjani mengusap.
"Aku yakin takdir tuhan bagus untukku, aku percaya itu" batin Rinjani meyakinkan dirinya.
Disisi lain lubuk hatinya berkata "Cukup Rinjani, jangan terlalu berekspektasi tinggi pada perasaan Mario, seperti biasa saja, kalau bisa aku ga boleh terlalu suka atau terlalu jatuh cinta terlalu dalam pada Mario. Aku harus bisa menjaga hatiku" tekad Rinjani.
"Mungkin Mas Mario menerima perjodohan ini bisa jadi karena menuruti permintaan orang tuanya" batin Rinjani menyingkirkan pikiran bahwa Mario memiliki perasaan padanya.
"Ya Rin... kamu tidak boleh ke-PDan selagi tidak mendengar langsung dari bibir Mario" ucap Rinjani menjaga hatinya agar tidak terlalu jatuh ke dalam cintanya.
......................
Waktu istirahat pun tiba, seperti biasa Rinjani selalu dihampiri oleh Kinan untuk menuju ke Kantin.
Kinan memperhatikan wajah Rinjani dengan seksama, Rinjani yang dirinya ditatap oleh Kinan pun membuka suara, "Lu kenapa Ki? ada yang aneh apa sama muka gue?" ucap Rinjani.
"Kagak, cuma perhatiin aja, kok matalu sedikit sembab gitu Rin? Ada masalah ya?" tanya Kinan.
"Eh- Enggak Ki.. gue ga ada masalah apa-apa" ucap Rinjani
Disudut lain Fika dan juga Andre berjalan mendekat ke Kinan dan Rinjani.
"Ki, Rin.. " panggil Andre, mengakhiri obrolan antara Kinan dan Rinjanu.
"Tuh dia patnerlu dateng Ki" ucap Rinjani menggoda Kinan,
__ADS_1
"Yeeeee, partner dari hongkong" ucap Kinan sambil mencebikkan bibirnya.
"Ada apa nih, napa Kinan cemberut?" tanya Andre. "Nanti cantiknya luntur loh" goda Andre.
"Masa bodo" ucap Kinan
Membuat Andre terkekeh karena tingkah laku Kinan.
"Wah.. bentar lagi ada yang ganti status nih... Lancar-lancar ya Rin.... Ikut seneng gue Rin. " ucap Fika setelah mereka semua mendudukkan tubuhnya di salah satu tempat duduk.
"Eh, iya.. Makasih Fik... hehehe aamiin semoga doa baiknya balik lagi ya" ucap Rinjani.
"Kira-kira sehabis Rinjani siapa lagi ya yang bakalan nyusul diantara kita bertiga yang masih pada jomblo" ucap Andre.
"Enak aja nyebut jomblo, Lu aja jomblo" ucap Kinan.
Rinjani, Fika, Andre bengong mendengar ucapan Kinan.
"What?, Lu dah punya cowok Ki? Siapa? Sejak Kapan? " tanya Fika terkejut
Hah? Serius lu Ki?" tanya Rinjani juga tak kalah terkejutnya.
Berbeda dengan Andre yang hanya terdiam, mengamati dengan seksama raut wajah Kinan.
Kinan tergagap mendengar pertanyaan beruntun yang Fika dan Rinjani lontarkan.
"Eh, bukan gitu maksud gue, ga enak aja gitu nyebut jomblonya, ya kali jomblo nyebut jomblo juga" jelas Kinan menggaruk telinganya yang tidak gatal.
Andre masih terdiam, Rinjani sedari tadi mengamati tatapan Andre kepada Kinan.
"Kalem gaes, Hehehe kenapa muka kalian jadi tegang begini" ucap Kinan canggung.
"Gue kira beneran, lu dah ada cowok Ki, awas aja kalau gue kagak dikasih tahu" ucap Rinjani.
"Udah, ayok pesan makan dulu, nanti pada pingsan gimana, repot ntar gue" ucap Fika mengakhiri kecanggungan.
__ADS_1