Cinta Rinjani

Cinta Rinjani
Mood yang Buruk (Kinan)


__ADS_3

Setelah Andre keluar dari ruangan Kinan, seketika membuat Kinan meyakinkan dirinya "Ingat Ki, lu ga boleh baper sama Andre, dia sahabatmu" gumam Kinan dalam hati meyakinkan dirinya. Entah Kinan merasa kurang nyaman ketika Andre menyebut dirinya dengan kata sahabat, tapi kenyataannya memang mereka sahabatan.


Kinan memfokuskan pandangannya di depan komputernya, namun pikirannya jalan-jalan, bahkan membayangkan Fika dengan sifat dewasanya dan feminimnya membuat Kinan semakin merasa tidak percaya diri untuk mengharapkan hubungan yang lebih dengan Andre dan memilih untuk berjaga jarak dengan Andre supaya tidak terjebak terlalu dalam dengan perasaannya.


"Apalah diriku yang masih kekanak-kanakan, aku harus berubah gak boleh kekanakan terus... Aku juga ingin dipandang sebagai seorang wanita dewasa." gumamnya.


" Astagaa.... Gue mikirin apa sih.. kenapa jadi ngaco gini.." Monolog Kinan kembali fokus dengan pekerjaannya sembari mengusap raut wajahnya.


......................


Sedangkan di ruang lain Rinjani sedang mengamati ponselnya, mencoba mengecek kontak Mario, melihat kapan terakhir Mario membuka ponselnya.


"Huh.. Lupa kali ya dia, tanpa kabar sama sekali.. Padahal online.. Bodoamatlah" Rinjani kesal tak memperdulikan Mario mau ingat atau tidak rencana sore ini.


Kling.


Suara notifikasi ponsel Rinjani, namun Rinjani tak membukanya, dirinya berasumsi "Hmm palingan hanya pesan grub saja" gumamnya tanpa mengamati nama yang tertera dalam notifikasi dan fokus dengan pekerjaannya.


Tiba-tiba Rinjani teringat dengan tingkah laku Kinan saat di Kantin. "Ada apa dengan Kinan ya, tumben-tumbenan sekali dia moody gitu" gumam Rinjani.


"Masa iya Kinan cemburu dengan kedekatan Fika dan Andre.." Gumamnya lagi sambil memainkan bolpoin di tangannya. "Ga tau ah ga mau mikir yang nggak-nggak.. Semoga saja tidak.." Rinjani mencoba untuk positif thinking kembali fokus pada pekerjaannya.


Setelah kurang lebih satu jam, pekerjaan Rinjani telah selesai. Rinjani membuka ponselnya untuk mencari hiburan, ketika membuka ponselnya pada tampilan layar tampaklah notifikasi pesan dengan atas nama Mario. Rinjani menyimpulkan senyumnya dan membuka isi pesannya.


Mario : Bersiaplah jam 5 pergi, jangan membuatku menunggu - Begitulah isi pesan Mario membuat Rinjani senang karena berhasil untuk tidak mendahului chat.


Rinjani : Iya - Balasan pesan Rinjani, dan seperti biasa Mario yang sedang online dengan ponselnya tidak membalas bahkan tidak membuka pesan Rinjani sama sekali😂


"Huh... Gabut.. Nyamperin Kinan ah.." Rinjani menutup laptopnya dan keluar dari ruangannya menuju ke ruang kerja Kinan.


Tok-tok-tok.. Ceklek

__ADS_1


Ketukan pintu oleh Rinjani sebelum masuk ke ruang kerja Kinan. Kinan yang sedang fokus dengan kerjaannya seketika menoleh saat Rinjani membuka pintu.


"Ki... Gue gabut.. Heheehee.. Gue temenin lu ya" ucap Rinjani setelah memasuki ruangan Kinan.


"Sekalian bantuin kerjaan gue juga boleh Rin..." Balas Kinan seraya tertawa. "Tumben-tumbenan lu gabut.. Biasanya paling sok sibuk.." sambung Kinan dengan jari yang sedang menari diatas keybord komputer lipatnya.


"Ya sini mana gue bantuin, ntar gaji lu sehari transfer ke gue ya.." jawab enteng Rinjani sambil mendudukkan dirinya di kursi depan Kinan. "Gabut gue ki.. udah kelar semua tadi..." Rinjani menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Yaelahh.. sombong amatt.." jawab Kinan diiringi tertawa mereka berdua.


Rinjani mencomot cemilan yang ada di meja kerja Kinan.


"Laper lu Rin?, makanya dateng ke ruangan gue?" tanya Kinan.


"Hehehe... Ga juga, sayang aja sama jajan yang ada di atas meja lu tapi kagak ada yang makan, dari pada mubadzir terus lu buang mending gue makan dong, jadi bermanfaat." ngeles Rinjani.


"Yeeeeee bilang aja laper pake acara mubadzir segala" sahut Kinan. "Eh Rin..." panggil Kinan.


"Menurut lu, tadi kelakuan gue ada yang salah ga Rin?" tanya Kinan.


"Kelakuan yang mana?" Jawab Rinjani seolah-olah mengingat tingkah laku Kinan, "Bukannya kelakuan ku kaga ada yang bener?" ucap rinjani terkekeh.


"iiihhh... Rin serius... Yang tadi waktu di Kantin... Menurut lu gimana Rin?" kesal Kinan pada Rinjani.


Rinjani terdiam sejenak sambil menutup makanannya dan meletakkan diposisi semula, "Menurutku fine-fine aja sih ki, lagian juga mungkin ada perkataan yang kurang menyenangkan buat lu, dan kita-kita lagi kurang paham dengan kondisi hati lu, jadi menurut gue ya fine-fine aja Ki..." jelas Rinjani mengelap jarinya dengan tisu basah yang berada di dekat tempat snack Kinan.


"Iya Rin.. gue lagi bad mood hp gue ketinggalan dirumah makanya ngegas..." ucap Kinan berbohong. Memang Kinan paling jarang cerita tentang masalah hati seperti ini.


Kinan memang belum siap cerita perasaannya pada Rinjani, dirinya lebih baik tidak ada yang tau akan masalahnya ini, dan tidak ingin persahabatannya jadi renggang walaupun kenyataannya perasaannya bertepuk sebelah tangan.


Mata Rinjani menelisik raut wajah Kinan lalu "Iya Ki, kaga usah dipikirin lagian juga udah berlalu" jawab Rinjani.

__ADS_1


Kinan tersadar ditatap oleh Rinjani, dirinya tak berani menjawab dengan menatap mata Rinjani. "I-iya Rin." ucap Kinan dingkat sambil fokus ke komputer lipatnya.


"Pasti Rinjani udah mulai curiga sama gue, maaf Rin gue bohong sama lu, gue belum sjap cerita aja" gumam Kinan dalam hati seraya memandang laptopnya.


"Ki.. Gue haus... Lu kagak haus gitu ?" ucap Rinjani membuka suara seusai keheningan sejenak.


Kinan menatap Rinjani, "Lumayan..." ucapnya.


"Ayo beli minum Ki, lagian lu ada cemilan tapi kagak ada minum... Gue kan jadi haus Ki.." protes Rinjani.


"Yeeeee... ni bocah, bukannya terima kasih udah dikasih makanan.... boro-boro ya masuk tinggal langsung makanan jajan orang, kalau kagak lu, sama Andre kagak ada lagi Rin." protes balik Kinan.


"Hmm...?" Rinjani mengernyitkan dahinya. "Andre juga sering juga makan di ruangan kerja lu Ki?" tanya Rinjani.


"E-eh.. Maksud gue.. Pernah waktu itu main comot aja liat snack-snack gue nganggur" jelas Kinan. "Udah ayo beli minum.. Katanya haus... tenggorokan gue juga kering nih" menutup komputer lipatnya seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Lets Go..." ucap Rinjani berjalan mengikuti Kinan.


Perjalanan menuju Kantin, tidak sengaja Rinjani dan Kinan berpapasan dengan Andre dan Fika terlihat berbarengan dengan menenteng plastik minuman dua botol.


"Eh.. kalian mau kemana?" tanya Andre melihat Kinan dan Rinjani.


"Kantin" jawah singkat Kinan.


Mendengar respon Kinan, membuat Rinjani berpikir sejenak "Ada yang tidak beres dengan Kinan" batin Rinjani.


"Wah. kita juga baru aja dari kantin, maaf ga ngajak kalian, takutnya kalian lagi sibuk, jadinya gue sama Andre soalnya kita satu ruangan kerja tadi" jelas Fika.


"Gak papa Fik santai aja... Lagian juga ini kita mau ke Kantin juga." sahut Rinjani.


"Iya udah, kita duluan.." ucap Fika melanjutkan langkahnya dengan Andre menuju ruangan kerjanya, berlawanan dengan Rinjani dan juga Kinan.

__ADS_1


Andre hanya terdiam saja selepas mendengar sahutan Kinan yang singkat tadi, tidak berani ingin menjahilinya seperti biasanya. Barusan juga dirinya meminta maaf dengan Kinan masa ingin mengajak perang lagi.


__ADS_2