Cinta Rinjani

Cinta Rinjani
Percaya Padaku


__ADS_3

Rinjani yang tersadar akan ucapannya seketika diam seribu kata. Rinjani malu dengan sikapnya.


"Kenapa? Kamu cemburu?" ucap Mario menggoda Rinjani.


"Ti-tidak.. Siapa yang cemburu..." sangkal Rinjani.


Mario hanya diam saja mendengar respon dari Rinjani, tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua hingga sampai di kediaman Rinjani.


"Terimakasih Mas sudah diantar pulang dan makasih juga buat makanannya" ucap Rinjani meraih makanannya. "Apa Mas mau mampir ke rumah sebentar? Soalnya pasti Ibu akan menanyakan dirimu kalau Mas tidak mampir." sambungnya.


"Bilang saja kau merindukanku." Jawab Mario menggoda lagi seraya melepaskan seat belt dan keluar dari mobil meninggalkan Rinjani menuju ke dalam Rumah.


"Ih enak saja.. Mana ada aku merindukanmu" ucapnya kesal terburu-buru membuka pintu mobil tanpa melepaskan seat beltnya.


"Ah.. " teriaknya karena tidak jadi keluar dari mobil. "Sialan.." gumamnya seraya melepas seat beltnya dan berjalan menyusul Mario yang hendal memasuki rumah Rinjani.


......................


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€Rumah Rinjani๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


"Assalamualaikum... Bu.. Rinjani Pulang, Mas Mario juga mampir" teriak Rinjani memasuki Rumahnya.


"Bisa tidak gak usah teriak-teriak, nanti jendelamu kacanya pecah semua." ucap Mario disamping Rinjani.


"Gak bisa" ketusnya hendak berjalan mencari ibunya langkahnya terhenti karena suara Mario.


"Oh begitu, tamu tidak diperijinkan duduk..." Mario berlata dengan mengamati foto-foto Rinjani yang terpasanh diruang tamunya.


Rinjani beralih menghadap ke arah Mario, "Eh-... Silahkan duduk Mas Mario..." memelankan suaranya selembut mungkin.


"Telat" ucap Mario mendudukkan dirinya di sofa .


Rinjani menahan dirinya agar tidak terpancing emosi, "Mas ingin dibuatkan minum apa?" tanya Rinjani karena dirinya tidak ingin salah kedua kalinya dalam memilihkan minuman untuk Mario.


"Terserah, yang tersedia di rumahmu saja" ucapnya.


Rinjani tampak berpikir sejenak. "mana mungkin aku mengetahui apa yang kamu inginkan, aku ini bukan cenayang yang bisa menebak-nebak" batinnya.


"Hmm... oke mas.. tunggu sebentar" ucap Mario meninggalkan Mario sendiri di ruang tamunya.


Sesampainya di Dapur, Rinjani melihat ibunya sedang keluar dari kamar mandi, "Ibuk kenapa rumah sepi? pada kemana bu?.." tanya Rinjani.

__ADS_1


"Bapakmu lagi keluar sebentar ke toko bangunan, Dimas biasa main ke rumah temannya." jelas Bu Rima.


"Ini bu.. ada makanan tadi habis mampir ke cafe sama Mas Mario." meletakkan makanan diatas meja, segera membuat minuman dingin untuk Mario.


Bu Rima mengeluarkan makanan yang rinjani beli dari bungkusnya dan menata rapi di meja makannya, "Bu... itu Mas Mario ada di depan.." sambungnya seraya menuangkan sirup jeruk di gelas yang diambil.


"Benarkah? Yaudah buruan bikin minumnya.. ibuk ambilkan snack" ucapnya seraya membuka lemari yang berisi makanan ringan.


"Rinjani keluar duluan ya buk..." berjalan membawa gelas minum untuk Mario.


Sementara Mario diruang tamu sedang asik dengan menatap foto-foto Rinjani dan keluarganya yang terpasang di dinding, menghentikan tatapannya ketika melihat Rinjani datang dengan segelas sirup jeruk, lalu meletakkan di depan mejanya Mario.


"Diminum mas.." ucapnya.


Bu Rima menuju ke ruang tamunya dengan tangannya menenteng 2 toples makanan ringan dan meletakkannya di meja. Mario menyalami Bu Rima. " Dinikmati Rio.. seadanya ya, ibu hanya punya snack ini" ucap Bu Rima.


"Iya bu.. maaf bu merepotkan." ucap Mario mengambil minuman yanh dibuatkan Rinjani.


"Gimana tadi sudah dapat baju untuk resepsi pernikahannya?" tanya Bu Rima.


"Sudah bu, Bu Nita ternyata sudah memilihkkan beberapa gaun dan tadi aku sudah memilih 1" jelas Rinjani.


Rinjani membukakan tutup snacknya, "Mas silahkan dicicipin ini aku dan ibuk bikin sendiri" ucap Rinjani membuka dua toples yang berisi brownis coklat cookies dan nastar. Mario mulai mencicip nastarnya, Rinjani mengamati Mario makan.


Mario memperhatikan jam, sudah menujukkan setengah 7 malam. "Rin aku numpang buat ibadah" ucap Mario.


"Yaampun.. iya mas mari tak tunjukin buat wudhunya" bangun dari duduknya berjalan menuju ke dapur.


"Aku siapin sajadah dulu mas.. mau pakai sarung ndak mas?" tanya Rinjani.


"Sajadah aja gak papa" ucapnya sambil melipat celanan panjangnya.


Rinjani mengambil sajadah di Kamarnya dan menggelarkan sajadahnya di ruang keluarga, Mario sudah berada di dekat Rinjani. "Sini Mas..."


Mario menganggukan kepalanya, dan Rinjani mensucikan diri dan badah di kamarnya.


Setelah selesai beribadah, Mario dan Rinjani kembali ke ruang tamu.


"Mas.. apalagi yang perlu kita persiapkan lagi sehabis fitting?" tanya Rinjani.


Mario menjelaskan semua apa saja yang akan dipersiapkan dengan detail dimana dan apa saja. Rinjani memerhatikan dengan sungguh dan juga tak menyangka begitu banyaknya yang akan diurus untuk pernikahan yang akan di adakan dua bulan lagi, lebih tepatnya dua bulan kurang.

__ADS_1


"Ini semua yang mengatur strategi?" tanya Rinjani kagum dengan semua planning yang dijelaskan Mario.


"Bukan.. Mamah semua yang mengatur, kita hanya disuruh memilih... " jelas Mario.


"Sangat matang sekali planningnya mas... aku bahkan tidak kepikiraj akan banyak sekali." ucap Rinjani.


"Begitulah mamah, kalau sudah berkeinginan semua akan diatur secara matang-matang" ucap Mario.


"Maksudnya keinginan Mas?" ucap Rinjani merasa ada yang mengganjal dari perkataan Mario.


Mario sadar dengan perkataannya yang dapat membuat Rinjani salah paham langsung membenahi perkataannya, "Maksudku keingin untuk mengatur semua agar kita yang tidak tahu persiapa apa saja jadi lebih cepat selesai" jelas Mario.


Seketika Rinjani diam terlihat tenang tidak tahu ingin merespon bagaimana, namun masih merasa ada yang mengganjal di hatinya. Mario menyadari Rinjani yang melamun "Rin.. percaya padaku jangan memikirkan hal yang tidak penting" ucapnya seraya meraih tangan Rinjani dan menggenggamnya.


Rinjani terkejut tangannya digenggang oleh Mario, membuyarkan lamunannya, reflek menarik tangannya namun masih di genggam Mario dengan erat.


"Percaya padaku, tidak usah memikirkan hal yang tidak penting" ucap Mario meyakinkan Rinjani.


Eh- kenapa Mas berbicara seperti itu?" aku tidak memikirkan apa-apa" bohong Rijani, Mario dapat melihat itu.


"Tidak apa-apa aku hanya merasa ada yang mengganggu pikiranmu." ucap Mario.


"Mas?..."


"Hm? Apa yang membuat Mas yakin untuk memilihku sebagai istrimu?" tanya Rinjani memberanikan diri.


Mario menghela nafasnya, "Kamu masih mempertanyakan sampai saat ini? sampai aku dan keluargaku datang melamarmu masih mempertanuakan soal itu?" jawab Mario pelan naum wajahnya menunjukkan ada yang ingin diucapnya namun tidak bisa.


"Aku ingin mendengar jawabanmu Mas, aku juga melihat semua perjuanganmu melamarku walau hanya didasari dengan perjodohan" ucap Rinjani tertunduk.


"Rin... aku bukan tipe-tipe cowok yang dengan mudahnya mengungkapkan isi hatinya." ucapnya mengeratkan mlhenggenggaman tangan Rinjani, membuatnya tersadar akan semua tindakan Mario selama ini.


"Maafkan aku mas tidak bisa memahamimu.." Rinjani masih menundukkan wajahnya dengan menahan agar air matanya tidak jatuh.


"Jangan tanyakan pada laki-laki yang telah membuktikan bukan hanya berkata saja" ucapnya meyakinkan Rinjani.


Mario duduk mendekat ke Rinjani, mengangkat dagu Rinjani dan menghadapkan padanya, membuat air matanya lolos ketika dari pelupuk matanya. "Maafkan aku mas.." ucap Rinjani.


Mario menghapus air mata yangembasahi pipi Rinjani. "Hm... iya... Percaya padaku" ucap Mario membuat Rinjani tersentuh hantinya.


Mario menoleh jam ditangannya, "Waktunya aku pulang." seketika Rinjani menujukkam raut wajah sedihnya membuat Mario tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2