Cinta Rinjani

Cinta Rinjani
Masa Lalu Yang Tak Kembali


__ADS_3

Ceklek


Suara pintuk terbuka menampakkan sosok wanita memasuki ruangan. Mario yang sedang terfokus meneliti pembukuan cafe ini merasa terganggu mendengar suara dari wanita yang memasuki ruangannya.


"Sayang..." panggil wanita itu yang tak lain ialah Laras, berjalan mendekat ke arah Mario.


Mario sangat hafal betul mengenali sumber suara tersebut "Ruangan ini selain pegawai dilarang masuk!" ucap Mario dingin.


"Ih sayang.. ini aku.." berjalan mendekat ke arah Mario. "kok kamu jadi jutek sih sama aku.. aku itu kangen sama kamu" ucap Laras berjalan ke belakang kursi Mario dan memeluk leher dari belakang.


"Lepas!" melepas kasar pelukan Laras seraya berdiri dari kursinya. "Jangan pernah panggil sayang dengan mulutmu itu" ucap Mario sembari menujuk ke arah Laras.


"Emang kenapa kalau aku panggil sayang? apa kamu benar-benar telah melupakan aku Mario? apa kita sudah tidak bisa lagi bersama Mario?" tanya Laras dengan mata yang sayu memegang tangan Mario.


Mario menarik tangannya. Jantung Mario masih berdegup kencang bila dekat dengan Laras. Perasaan marah kembali membara di dadanya. "Apa kau lupa?! Aku akan menikah dan aku sudah mengikhlaskanmu dengan pria lain" tegas Mario.


"Apa kamu yakin akan bahagia dengan pernikahanmu ini? Apa kau yakin kau mencintainya?" tanya Laras.


"Apa perlunya kau mengerti tentang itu semua?!" Mario tersenyum dengan tatapan sinisnya.


"Sangat perlu!" jawab cepat Laras, "Karena Cintamu hanya untukku, aku tau itu".


"Ck, Ingat satu hal Laras!" ucap Mario dengan jarinya memberi peringatan kepada Laras.


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi!, Cintaku untukmu sudah Mati" tegas Mario.


Laras yang mendengar pernyataan dari mulut Mario hanya diam terpaku pada posisinya. "Tidak Mario.. Kau hanya mencintaiku" ucap Laras dengan mata yang berkaca-kaca berjalan mendekat ke arah Mario.


"Jangan berani menyentuhku!" sentak Mario, membuat Laras berhenti seketika.


"Keluar dari sini, atau aku yang keluar?" sambung Mario.


Laras hanya mampu membuanh nafasnya "Ok aku keluar. Ingat Mario kau hanya mencintaiku dan.." perkataannya terputus oleh suara Mario.


"Pergi!"


Laras pun berjalan keluar meninggalkan Mario. "Kau tidak akan pernah lepas dari gengamanku Mario, aku yakin kau masih mencintaiku dan aku akan mendapatkanmu kembali" gumamnya setelah menutup ruangan Mario.


Rinjani yang sedang menunggu Mario di mejanya, seketika melihat pintu ruangan Mario terbuka dan yang keluar ialah wanita cantik tadi membuat Rinjani memerhatikan raut wajah dari wanita itu, karena seingatnya sebelum masuk ruangan tadi ekspresinya sungguh senang namun berbeda dengan sekarang yang ia lihat. Wanita itu menunjukkan wajah marah dan kesal.


"Terjadi apa di dalam sana? kenapa dia keluar ruangan dengan raut wajah yang berbeda" gumam Rinjani memerhatikan wanita itu hingga berjalan keluar cafe.


Sementara Mario di dalam ruangan mengumpat "****!.." mengusap raut wajahnya.


"Astaga Rinjani.. aku melupakanmu" Mario baru teringat Rinjani telah menunggunya lama, Mario berjalan keluar ruangan menuju mejanya Rinjani.


Dilihatnya Rinjani sedang memainkan ponselnya dengan makanan yang telah tersajikan di hadapannya. Mario menghampiri Rinjani dan menduduknya tubunya.


Mario mengamati Rinjani yang sedark tadi asik dengan ponselnya hingga membuatnya tidak menyadari kehadiran Mario di depannya. "Mas Mario kenapa lama sekali" Rinjani bermonolog dengan memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Maaf lama" ucap Mario singkat seraya mengambil burger dan melahapnya.


Rinjani membelalakan matanya menatap mario "Berarti Mas mendengar ucapanku barusan, b*d*h sekali aku ini" bati Rinjani merutuki dirinya.


"E-eh.. Mas Mario.. Sejak kapan mas duduk disini?" tanya Rinjani.


"Barusan" balasnya


Rinjani meletakkan ponselnya di tas jinjingnya dan memulai menikmati hidangannya yang telah dingin.


"Syukurlah Mas suka sama hidangan yang aku pesankan" ucap Rinjani tersenyum melihat Mario cepat melahap makannya.


"Tidak dengan minumnya." ucap Mario singkat.


Membuat Rinjani mengernyitkan dahinya, "Maksudnya?"


"Aku tidak suka coklat" jelas Mario.


"Eh maaf mas aku ga tau apa yang Mas suka" ucap Rinjani merasa tidak enak telah memesankan minuman yang tidak sesuai dengan Mario suka. "Mas maunya apa biar aku pesankan lagi minumamnya" imbuh Rinjani.


"Tidak usah.. Mubadzir kalau dibuang" sahut Mario melarang Rinjani memesan minuman lagi.


"Bukan gitu Mas, nanti minumanmu biar aku yang minum." jelas Rinjani yang hendak memanggil pelayan cafe.


"Tidak usah!" ucap Mario menatap tajam Rinjani membuatnya terdiam. "Fokus makan" imbuhnya.


Mereka berdua menikmati hidangan yang telah dingin tanpa adanya obrolan.


"Aku ingin membayar dan memesankan makanan untuk orang rumah" sahut Rinjani.


"Yasudah mintalah ke kasir" Mario mengecek ponselnya untuk mengirimkan pesan pada kasir untuk memberikan makanan pada Rinjani tanpa harus membayar.


Sedangkan Rinjani yang sedang menunggu pesanannya, "Berapa mbak totalnya?" tanya Rinjani.


"Semua sudah dibayar oleh bos kami mbak" ucap pegawai kasir itu.


"Apa yang mbak maksud Mario?" tanya Rinjani.


"Iya mbak" jawabnya singkat lalu memberikan pesanan milik Rinjani.


Rinjani berjalan mendekat Mario, dan Mario yang melihat itu segera berdiri dari duduknya dan bersiap meninggalkan cafe menuju mobilnya untuk mengantarkan Rinjani pulang.


......................


🍀🍀🍀Mobil🍀🍀🍀


"Mas makananku yang tak bawa pulang habis berapa? aku ingin mengganti uangnya" tanya Rinjani.


"Gak tau" ucap Mario singkat.

__ADS_1


"Ih mas.... Mas udah bayarin aku makan juga gak enak aku kalau ini juga dibayarin sama mas" gerutu Rinjani.


"Sudah jangan dipikirkan, anggep saja oleh-oleh untuk orang rumah dariku" jelasnya.


"Makasih mas..." ucap Rinjani tersenyum ke arah Mario. "Tau gini tadi aku pesan banyak mas" imbuhnya.


"Hm.." jawab Mario singkat.


"Hehehe aku hanya bercanda Mas" sahut Rinjani. "Mas aku ingin tanya" imbuhnya.


"Apa?"


"Em... tadi aku melihat wanita masuk diruangan Mas Mario."


Deg.


"Dia berjalan keluar cafe dengan ekspresi marah Mas... Dia kenapa? apa ada masalah kerjasama dengan Mas yang tidak sesuai?" tanya Rinjani membuat Mario tersadar dirinya belum pernah cerita apapun soal masalalunya kepada Rinjani


Mario masih terdiam bingung bagaimana akan memberitahu Rinjani atau tidak, tapi lama-lama juga Rinjani akan mengetahuinya.


"Aku salah ya Mas menanyakan soal urusan Mas Mario? Maaf Mas" ucapan Rinjani semakin membuat Mario tak tega ingin mengatakannya.


"Tidak, kamu tidak salah, Dia datang tak diundang, aku mengusirnya." Jawab Mario.


"Hah?.. Kenapa bisa Mas usir? memangnya siapa dia?" tanya Rinjani.


"Dia masa laluku" ucap Mario singkat


Deg


Jantung Rinjani bergegup ada sedikit rasa nyeri di dada saat mendengar jawaban dari Mario, Rinjani sadar semua orang memiliki masalalu percintaannya masing-masing.


"Ingat Rinjani.. kamu jangan jatuh cinta dulu" guam Rinjani.


Hening.


"Namanya Laras.. Dia hanya masa laluku dan aku tidak akan pernah kembali lagi padanya" Ucap Mario sukses membuat perasaan nyeri di dadanya berkurang.


Mario menatap kearah Rinjani tersenyum tipis, sedangkan Rinjani masih terdiam, bingung ingin merespon bagaimana mengenai pernyataan Mario. "Iya Mas" jawaban Rinjani yang tiba-tiba lolos dari mulutnya.


"Iya apa?" tanya Mario


"Eh.. Tidak apa-apa.. Tapi kenapa dia keluar dari ruangan dengan ekspresi marah mas?" tanya Rinjani.


"Entahlah aku tidak tahu, mungkin karena aku mengusirnya" jawab enteng Mario.


"Kenapa Mas usir? memangnya dia kenapa?" pertanyaan yang sama kembali Rinjani lontarkan.


"Kenapa? kau ingin dia tetap di dalam ruanganku?" Tanya Mario membuat mata Rinjani membola.

__ADS_1


"Tidak!" jawab cepat dan tegas Rinjani.


Mario yang mendengar jawaban Rinjani hanya dapat tersenyum penuh arti pada Rinjani.


__ADS_2