
Di dalam mobil Mario fokus dengan kemudinya, sedangkan Rinjani mulai mengeluarkan bedak dan lipsticknya, agar terlihat fresh kembali. Mario melirik ke arah kaca spion yang sebelah kirinya, sesekali memperhatikan Rinjani yang sedang memakai lipsticknya.
Rinjani merasa dirinya sedang diperhatikan oleh Mario mencoba untuk mengalihkan pandangannya menuju ke arah Mario, seperti biasa Mario diam tanpa sepeser kata pun.
"Aku yakin tadi dia ngelihatin aku kok" Gumam Rinjani seraya menatap Mario.
"jangan menatapku lama-lama nanti jatuh cinta" ucap Mario tanpa menoleh ke arah Rinjani.
Rinjani yang mendengar ucapan Mario pun reflek mengalihkan pandangannya menghadap ke kaca samping mobil. Jantung Rinjani pun berdegup kencang.
"tenang Rinjani, tenang... chill" Rinjani meyakinkan dirinya.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit dari rumah Rinjani, sampailah mereka berdua di salah satu pusat pemesanan souvenir dan undangan pernikahan.
"Ayo turun, sudah sampai" ucap Mario membuka pembicaraan.
Setelah kejadian tadi Rinjani masih terdiam, tidak tau harus mengawali sebuah percakapan bagaimana.
"I-iya.. " Melepas sabuk pengaman yang terpasang di tubuh Rinjani, dan bergegas masuk ke dalam pusat souvenir.
"Selamat sore Tuan, Nona ada yang bisa bantu?" ucap salah satu pegawai toko tersebut.
"Sore mbak.. ini saya lagi mau nyari souvenir-souvenir buat acara pernikahan. Boleh kami meliha-lihat terlebih dahulu?" ucap Rinjani.
"Baik Nona, silahkan" ucap Pelayan.
Rinjani mulai mengamati satu persatu contoh souvenir yang dipamerkan. Menurutnya bagus semua hingga membuatnya bingung buat milih souvenir yang mana.
"Mas...." panggil Rinjani.
"Hm?" jawab Mario dibelakang Rinjani membuatnya terkejut.
"Eh... Mas ya aampun... Mas bagusnya apa buat souvenir pernikahan?" tanya Rinjani.
"Terserah, yang penting bermanfaat" jawabnya.
"Contohnya?" tanya Rinjani lagi.
"Ya itu semua kan contoh, tinggal milih saja." sahut Mario yang mulai membuat Rinjani sedikit kesal.
"Bilang kenapa sih susah amat ngasih pendapat milih buat souvenir" gerutu Rinjani pelan namun Mario berhasil mendengar gerutu dari mulut Rinjani.
"Sekali-sekali cowok yang bilang terserah dan bikin ceweknya bingung" ucap Mario di tengkuk Rinjani, membuat bulu kuduknya meremang karena geli ada aliran nafas dari bicaranya Mario.
"ih.. Mas.. Jangan gitu aku merinding nih..." ucap Rinjani spontan.
Mario melihat tingkah laku Rinjani hanya dapat memendam tawanya, dan tetap dengan kondisi cool andalannya.
"Mas gak boleh bikin aku bingung, lagian aku juga gak pernah kan buat Mas bingung?" ucap Rinjani sedikit kesal, "Sudah ayo, pilih souvenir sama-sama habis itu bayar." imbuh Rinjani.
Mereka berdua akhirnya menemukan souvenir yang cocok setelah memperdebatkan 15 jenis souvenir sebelumnya.
Setelah membayar dan menentukan desain, mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Lho Mas, undangannya ga jadi pesan sekalian?" tanya Rinjani.
__ADS_1
"Besok-besok saja" ucap Mario.
"Kita mau pergi kemana lagi mas?" menatap Mario.
"Oh.. Jadi kamu masih mau pergi jalan-jalan sama aku?" goda Mario.
Pipi Rinjani bersemu merah, "Eh- enggak Mas, Rinjani cuma tanya aja."
"Oke, kita pulang" jawab Mario singkat.
......................
πππKantorπππ
Rapat kali ini sedikit beda, beda tidak ada Kinan yang selalu membuat Rinjani sampai menggelengkan kepalanya karena ribut dengan Andre, apapun itu hal besar maupun hal kecil pasti diributin.
"Ndre, tumben ya Kinan kagak ikut rapat.." ucap Rinjani memecah keheningan saat sedang mempersiapkan segala hal untuk meeting.
"Kayaknya lagi bantuin divisi lain deh Rin, iya nih gue kangen ribut ama dia" Andre membayangkan dirinya ribut dengan Kinan dan kadang membuat pipinya bersemu merah membuat Andre tersenyum membayangkannya. "Rin... Kinan kenapa kok sekarang jadi mood swing gitu?" imbuh Andre.
"Lagi PMS kali ndre" jawab ngasal Rinjani, bahkan Rinjani juga ngerasa apa yang diomongkan oleh Andre barusan itu benar, sekarang Kinan jadi mood swing. "Lagian baru juga sehari kemaren sih Ndre, bisa aja kemaren moodnya buruk ya karena ponselnya tertinggal dirumah gitu" imbuhnya.
"Kalau PMS menurut gue kagak sih Rin, Ya semoga aja moodnya hari ini udah baik lagi dia" ucap Andre.
Tepat jam 8 pagi meeting pun dimulai, Pak Ridwan menyuruh Rinjani dan Andre untuk menjelaskan setiap detail dari interior yang akan direvisi dari bentuk sebelumnya.
Saat Rinjani sedang memaparkan materinya, dirinya terkejut dengan keadaan Mario, sedari tadi ia rasa dirinya tidak bertemu dengan Mario. Matanya masih memperlihatkan, "Kenapa Mas Mario memakai baju yang bisa dibilang non-formal seperti ini sih" batin Rinjani.
Rinjani tanpa berkedip memperhatikan Mario yang mengenakan Celana jeans, kaos item serta di kursinya tersandar kemeja kotak-kotak berwarba biru dongker, ya baju yang pernah dipakai waktu itu.
"Rin, ssttt... Rin..." panggil lirih Andre, namun masih bisa di dengar oleh Rinjani. "Rin..!" panggilnya sedikit membesarkan suaranya.
"Biasa aja kali Rin ngeliatin Pak Marionya, tanpa kedip sama sekali, gak bakal kemana-mana juga" ucap Andre lirih.
Rinjani menoleh ke arah Andre, "bukan gitu Ndre, ya aneh aja gitu menurut gue."
Tanpa mereka sadari Mario melihat kedekatan mereka berdua dari cara berkomunikasi Andre dan Rinjani secara dekat. Mario merasa kurang nyaman saat melihat Rinjani berdekatan dengan Andre.
"Siapa laki-laki itu?.." gumam Mario.
Mario bahkan tidak menyadari jika dirinya pernah bertemu dengan Andre saat Rinjani dan teman-teman kerjanya mampir ke cafenya.
Mario masih menatap ke arah Rinjani, disaat mata mereka bertemu Mario dan Rinjani sama-sama mengalihkan pandangannya, entah kenapa menjadi seperti ini.
Tak lama kemudian Rinjani, Andre serta Pak Ridwan menuju ke tempat lokasi proyek. Rinjani dan Andre saling melakukan pengecekan kemajuan proyek saat ini tak terkecuali dengan Mario pun juga datang namun langsung ke ruang kepala proyek untuk pekerjaan lainnya tanpa menengok kanan kiri memastikan Rinjani ada dimana.
Setelah selesai melakukan observasi lapangan, Rinjani membuatkan laporan harian dan menyerahkannya kepada Pak Ridwan sebelum kembali ke kantor utama. Diperjalanan menuju ke parkiran, Rinjani berpapasan dengan Mario, bahkan Mario diam saja melihat Rinjani tanpa menyapa sama sekali, baik Rinjani sendiri pun juga tidak menyapa si Mario, canggung rasanya.
Sebelum Mario melangkah terlalu jauh, Rinjani mengejar dan memanggil Mario.
"Mas..." panggil Rinjani.
Mario terhenti langkahnya, membalikkan posisi tubuhnya menghadap ke sumber suara.
"Hmm?..." sahut Mario.
__ADS_1
"Mas... udah sarapan?" tanya Rinjani, sebenarnya Rinjani bingung ingin bicara apa, sesuka kata yang keluar dari otak saja.
Mario pun menautkan alisnya, "Sudah" jawab singkat.
"Mas... Jangan dingin" ingin sekali Rinjani berucap seperti itu, namun hanya suara batin Rinjani saja.
"Gimana? Bukannya dah mau balik kantor?" tanya Mario, tiba-tiba melunak.
"I-iya Mas ini udah mau balik" ucap Rinjani.
"Berdua sama laki-laki tadi?" tanya Mario dingin
"Oh Andre, gak Mas, ada Pak Supir juga yang nemenin." ucap polos Rinjani.
Mario mendengar Rinjani menyebut nama laki-laki itu kembali teringat pernah ikut gabung duduk bersama Rinjani dan teman-temannya saat berkunjung di cafenya.
"Ya sudah.. Aku masih banyak pekerjaan, hati-hati" ucap Mario seraya berjalan meninggalkan Rinjani yang sedang terdiam sambil mengembangkan senyumnya tak kala mendengar perkataan Mario.
Perkataan Mario sukses membuat mood Rinjani naik 100 persen. Pertama kali baginya mendengar Mario begitu perhatian padanya. "Aku tidak mimpikan? First Time Mas perhatian sama aku.." Rinjani bermonolog sambil berjalan menuju ke parkiran untuk menemui Andre dengan raut muka bahagia.
"Lah, moodnya beda ini, ada info apa nih?..." ucap Andre saat melihat Rinjani kembali ke mobil dengan raut wajah yang segar bahagia.
"Gak papa ndre, kepo Lu.. " ucap Rinjani meledek Andre.
"Gini nih habis ketemuan imun auto naik" ucap spontan Andre membuat Rinjani tertawa dibuatnya. "Lancar-lancar ya Rin..." imbuhnya.
"Aamiin... Makasih Ndreee..." ucap Rinjani.
"Wah ada kabar baik apa ini?" sahut Pak Supir yang ikut mendengar.
"Ini Pak, Rinjani lagi bahagia" ucap Andre membuat Pak Supir ikut senang.
"Selamat ya Mbak Rinjani.. Saya ikut senang" ucap Pak Supir.
"Hehehe makasih Pak... " ucap Rinjani sambil melirik ke arah Andre.. "Bentar lagi juga ada kabar bahagia dari Andre juga Pak.." imbuhnya.
"Wah iya kah ini... Saya ikut senang juga semoga bahagia selalu..." doa Pak Supir
"Terimakasih Pak, Rinjani dulu kok Pak" ucap Andre.
Pak Supir pun mulai memahami arah dari pembicaraan mereka berdua.
......................
Sesampainya di Kantor, Rinjani berjalan menuju ke meja Kinan terlebih dahulu.
Tok. Tok.. Tok..
Masuk Rinjani, "Ki... lagi ngapain?.. gue kangen sama lu" ucap Rinjani langsung duduk di kursi di depan Kinan.
"Wah udah balik, gimana Rin tadi? ada kendala gak?, tumbenan lu kangen sama gue" tanya Kinan.
"Aman Ki.... Sepi aja gue ga ada lu," ucap Rinjani.
"Kan ada Andre.." ucap Kinan
__ADS_1
"Kurang lengkap Kiiiii..." jawab spontan Rinjani.
"Bilang aja lu kangen liat gue ribut kan?" ucap Kinan, membuat mereka berdua saling tertawa.