Cinta Rinjani

Cinta Rinjani
Takut Cinta Sendirian


__ADS_3

"Aww Rin.." pekik Kinan melepas tangan Rinjani


"Rinjani cantik banget cincinnya ini cincin tunangannya ya? jadi makin ga sabar aja gue liat sahabat gue nikah, pasti cantik banget nanti" ucap Kinan membayangkan Rinjani menikah.


Pletak


"Rinjani kenapa kepalaku dijitak sih" Kinan mengusap keningnya dengan mencebikkan bibirnya.


"Husssttt... diem nanti orang-orang pada denger Kinan markonah" kesal Rinjani lalu melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena kedatangan Kinan.


"Rin.." panggil Kinan


"Hm" sahut Rinjani tanpa melihat ke arah Kinan fokus dengan laptopnya.


"Rin... serius ih gue mau tanya.." panggilnya lagi mletakkan dagunya di atas meja Rinjani.


"Gimana Kinan ada apa baginda kanjeng ratu Kinan Markonah.... Lu lagi ga ada kerjaan apa gimana sih?" ucap Rinjani sedikit menutup laptopnya.


"Rinjani mulai deh otak gesreknya.. serius gue mau tanya Rin.. Rin gimana rasanya udah tunangan?" tanya Kinan dengan memelankan suaranya pada pertanyaan intinya.


Rinjani diam sejenak mencerna pertanyaan Kinan, menautkan kedua alisnya "Kenapa emangnya? kalau mau tau ya tunangan aja sama si Andre Ki" ucap Rinjani terkekeh.


"Ihh Rinjani nyebelin part seribu kali" kembali Kinan mencebikkan bibirnya dengan pipi yang memerah. "Gue tanya serius Rin...." imbuhnya.


"Ck, gimana ya Ki, gue aja bingung sama apa yang gue jalanin sekarang.." jawab Rinjani membuang napas.


"Maksudnya? Kenapa harus bingung Rin?" tanya Kinan bingung.


"Ya bingung, Gue bingung dan takut nanti pernikahan gue gimana kalau tidak di dasari dengan cinta Ki" jelas Rinjani seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.

__ADS_1


"Hah kenapa bisa lu berpikiran kayak gitu sih rin?.. dan Rin.. kenapa lu ga nyadar-nyadar sih kalau lu itu cinta sama Pak Mario, kalau menurut gue kalau kalian sering bareng apalagi hidup bareng pasti cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya" jelas Kinan menasehati Rinjani.


"Gue gak boleh cinta duluan Ki.. Ya kalau jadi cinta Ki gue tetep mikirin dua sisi juga kan, kalau ga bagaimana? gue pingin nikah sekali seumur hidup dan bener-bener dengan orang yang gue cintai dan mencintai gue. Gue takut kalau misal gue jatuh cinta sendirian Ki..." ucap Rinjani dengan tatapan nanar menuju ke segala arah.


Kinan terdiam mendengarkan perkataan rinjani. Memang benar akan sakit rasanya bila mencintai orang yang tidak mencintai kita juga.


"Rin.. gue yakin, Pak Mario menerima perjodohan ini tidak mungkin hanya alasan orang tuanya pasti ada alasan tertentu.. aku yakin itu" ucap Kinan meyakinkan Rinjani.


"Gue gak tau Ki.. Gue cuma bisa pasrah aja gue Ki..." ucap Rinjani seraya tersenyum mengankat kedua bahunya dan kembali membuka laptopnya kembali "Udah gue mau lanjutin kerjaan gue Ki..." imbuh Rinjani.


"Yaudah gue balik ke ruangan gue Rin.. semangat ya Rinjani..." ucap kinan lalu berdiri, hampir Kinan meninggalkan ruangan Rinjani.


"Ki.. thanks ya udah dengerin curhatan gue" ucap Rinjani menatap Kinan yang hampir membuka pintu ruangan Rinjani.


Kinan menoleh ke arah Rinjani membalasnya dengan kode jari yang melambangkan OK.


Selepas kepergian Kinan dari ruangan, Rinjani termenung memikirkan perkataan Kinan "apa benar Mario memiliki alasan menerima pertunangan ini.. tapi apa?" gumam Rinjani.


.


"Cih tak tau malu.. Tidak salah dulu aku meninggalkanmu karena kelakuanmu sendiri, aku tidak menyesalinya" ucap Mario memukul setir mobilnya. Kejadian malam ini membuat Mario semakin yakin akan keputusannya dulu saat melepaskan Laras untuk laki-laki lain.


Mario menepikan mobilnya di minimarket terdekat untuk membeli minuman agar pikirannya kembali tenang. Mario mengguyurkan air minumnya ke kepalanya hingga rambutnya basah semua. Dirinya merasa sangat penat pikirannya.


Mata Mario memerah menunjukkan betapa sakitnya kenangan yang pernah Mario lalui semasa bersama Laras. Dadanya bergemuruh panas mengingat Laras memanggilnya dengan sebutan Sayang.


"Sial, kenapa dia kembali lagi, aku tidak akan pernah kembali kepadanya" ucapnya walaupun kenyataannya Mario masih menyimpan perasaan kepada Laras. Bagaimana tidak, mereka berdua menjalin hubungan selama lebih dari lima tahun sejak duduk dibangku SMA, namun Laras hanya menganggap hubungan yang menjalin mereka berdua hanya sebagai pengisi kekosongan waktunya saja dan berpaling ke laki-laki yang bekerja sebagai polisi.


Berbeda dengan Mario yang telah memberikan seluruh cinta pada perempuan itu, seakan perasaan dan cintanya telah habis untuk masalalunya. Hal inilah yang menyebabkan Mario takut untuk menaruh perasaan lebih kepada wanita mana saja yang berusaha mendekat kepadanya. Mario beranggapan cintanya telah habis dan tak punya hati untuk bisa mencintai lagi.

__ADS_1


Namun ketika Mario hendak dijodohkan dengan Rinjani oleh kedua orang tuanya dirinya tak menolak sama sekali. Mario sudah lelah dengan urusan percintaanya yang sering kali dipermainkan.


Mario berprinsip dirinya akan membalas apa yang dia terima. Misalnya dia diberi percaya makan dia akan memercayainya, apabila dia diberi setia maka dia akan membalas setia. Namun entah bila cinta Mario masih merasa susah untuk jatuh cinta lagi dan hatinya telah mati.


Mario masuk kedalan mobil dan melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah dengan kondisi baju yang sudah lusuh serta rambut yang acak-acakan basah akibat guyuran dari air yang dia beli barusan.


Sesampainya dirumah, "Rio.. kenapa kamu berantakan begini?" ucap Mamah Mario ketika melihat anaknya pulang dengan kondisi seperti ini (berantakan). "Kamu kenapa Rio? tidak ada masalah dengan Rinjani kan? Kamu sudah mengantarkannya pulang kan Rio sayang?" bertubi-tubi pertanyaan yang Mamah Nita ajukan kepada anaknya itu.


"Gak ada masalah Mah, Rinjani sudah dirumah.. Aku mau bersih-bersih dulu mah tadi Hujan dirumahnya Rinjani makanya basah semua rambutku" ucap Mario dan menuju ke Kamarnya.


"Hujan? Bagaimana mungkin, dari tadi aku tidak mendengarkan ada guyuran air dari langit" Gumam Mamah Nita berjalan keluar menuju halaman rumah dan tiba-tiba gerimis mulai mengguyur.


"Oh udah mau hujan ternyata, aku kira dia bohong" ucap Mamah Nita bermonolog lalu masuk kedalam dan mengunci pintunya.


...🍀🍀🍀...Throwback off


Kinan yang telah kembali dari ruangan Rinjani mendudukan dirinya dan terngiang dengan ungkapan hati Rinjani.


"Memang benar sakit rasanya kalau cinta sendirian" ucap Kinan pada dirinya seraya meletakan tangannya di dada sebelah kiri seakan ikut merasakan sakit.


"Siapa yang cinta sendirian" tiba-tiba suara laki-laki yang Kinan kenal menyahuti perkataan Kinan membuat kinan kaget dibuatnya.


"Aa Andre.. sejak kapan kamu di ruanganku?" gugup Kinan mengalihkan pertanyaan Andre.


.


.


.

__ADS_1


🍀Alhamdulillah author berusaha untuk bisa update lagi, tetap Ikuti novel karya author. Jangan lupa like, komen dan vote agar author lebih semangat lagi dalam menulisnya.... Mohon maaf apabila ada salah dalam penulisan cerita


Terimakasih semoga suka dengan alur ceritanya😘🍀


__ADS_2