
Kinan berjalan mendahului Rinjani menuju ke tempat duduk. Rinjani merasa ada yang aneh dengan Kinan, tiba-tiba moodnya berubah total.
"Ki.. Lu kenapa?" tanya Rinjani selepas mendudukkan dirinya.
"Hm..? Enggak kenapa-kenapa Rin.. Lha emang kenapa?" tanya balik Kinan.
"Ya enggak juga.. Tumben aja gue ngerasa ada yang aneh sama lu hari ini Ki..." jawab Rinjani sembari ingin memesan pesanan. "Lu mau apa Ki? Gue traktir deh, biar mood lu balik" ucap Rinjani.
Seketika membuat Kinan tersenyum smirk, "Hehehe gitu dong.. Matcha late sama salad aja"
"Hm.... Giliran soal makan aja mood berubah yaaa..." ucap Rinjani seraya memesan makannya.
Saat Rinjani sedang memesan makanan, ekspresi Kinan kembali murung. Entah kali ini dirinya merasa tidak bisa menyembunyikan ekspresi murungnya. "Rin.. Gue ga tau kenapa mood gue lagi swing banget hari ini, dan gue juga masih belum bisa cerita apapun" batin Kinan dalam lamunannya hingga tak sadar bahwa Rinjani telah duduk kembali dihadapannya.
Rinjani yang duduk mengamati kebelakang apa yang sedang Kinan perhatikan, namun tidak menimbulkan kedipan padanya hingga Rinjani menjitak kepala Kinan dengan sumpit yang ada dihadapannya.
Pletak!
"Aduh" keluh Kinan teradar dari lamunannya, "Ihhh Rinjani....." protes Kinan sambil merapikan rambutnya.
"Ye... Lagian lu ngalamun... Ngelamunin apa sih?" tanya Rinjani.
"E-enggak.. gue gak-" belum sempat Kinan menjawab pesanan makanan mereka sudah datang.
"Ki..." tanya Rinjani dengan tatapan yang menyelidik "Lu kenapa?" sambungnya.
Kinan hanya diam tidak bisa menjawab perganyaan Rinjani.
"Gue dah kenal lu lama, gue paham kapan lu ada apa-apa dan kapan lu baik-baik aja" ucap Rinjani menatap pada Kinan.
Kinan merasa dirinya sedang ditelisik oleh Rinjani bingung ingin menjawab mulai dari mana dan malu untuk cerita dengan masalah perasaannya. Kinan hanya terdiam dengan tatapan mata yang menandakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
"Ya sudah, makan Ki.. Habis itu balik ke ruangan.. Nanti dikira kita bolos." ucap Rinjani memahami Kinan yang belum siap untuk cerita, dan mrlanjutkan menikmati hidangannya.
"Rin..." panggil Kinan
"Hm?..." sahut Rinjani.
"Sorry Rin.. Gue ga tau mau cerita apa dan-.." ucapan Kinan terpotong oleh Rinjani.
"Gak papa gue paham.." jawab Rinjani tenang sambi menikmati hidangannya.
"Makasih Rin..." balas Kinan.
......................
__ADS_1
Rinjani kembali ke meja kerjanya, bingung ingin melakukan kegitan apa, semua sudah Rinjani kerjakan, Rinjani menonton video-video lucu di laptopnya. Menatap layar ponsel sudah menunjukkan waktu jam pulang. Membuka nomor Mario namun nihil tak ada pesan darinya, membuat Rinjani merasa sebal dengan Mario.
Rinjani memasukkan laptop dan menata kembali meja kerjanya sebelum pulang. Menenteng tas laptopnya dan mencangklongkan juga ransel mini dipunggungnya berjalan keluar menuju loby.
"Rinjani" ucap Pak Ridwan memanggil Rinjani.
Rinjani menghadapkan tubuhnya menuju ke sumber suara. "Ya Pak.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rinjani.
"Besok kamu dan Andre ikut meeting bulanan ya, dan siapkan semua materi yang akan kita paparkan untuk besok dan besok kita juga melakukan observasi langsung kelapangan." jelas Pak Ridwan.
"Apa besok kita akan meeting diluar Kantor pak?" tanya Rinjani.
"Enggak, besok meeting tetap di sini.. Selepas itu kita langsung observasi. Besok pihak owner dari proyek apartment ini ingin mengubah beberapa konsep interior jadi besok persiapkan berkas desain semuanya dan bersiap jam 8 pagi persiapan meeting harus siap. " ucap Pak Ridwan.
"Baik Pak.." jawab Rinjani.
"Oh iya si Andre belum saya kabari, kabari kamu saja ya" ucap Pak Ridwan seraya berjalan meninggalkan Rinjani.
Rinjani hanya menanggukkan kepalanya menatap Pak Ridwan yang sudah keluar dari gedung kantor.
Rinjani merasa aneh dirinya pulang tanpa teman-teman kerjanya yang super duper kocak. "Aneh juga pulang tanpa kalian" batin Rinjani. Belum ada satu menit membatin,
"Rin....." panggil Kinan saat keluar dari lift. "Lu dari mana aja sih.." imbuhnya.
"Ada apa Rin?" tanya Kinan.
"Besok ada rapat sama observasi Ki.... Katanya juga owner mau minta ganti juga interiornya" jelas Rinjani.
"Wah lembur nih..." ucap Kinan.
"Kok lu sendiri Ki... Andre mana?" tanya Rinjani
Kinan terdiam sejenak. "Masih diatas... Ga tau lagi ngapain... ya udah aku nyari lu aja Rin.." jelas Kinan.
"Sama siapa si Andre?" tanya Rinjani.
"Sama Fika" sahut Kinan. "Yaudah Rin.. Ayo pulang.. Udah sore juga" ajak Kinan.
Rinjani teringat akan pergi dengan Mario untuk mencari souvenir pernikahan langsung mengiyakan ajakan Kinan dan segera pulang.
...****************...
Rinjani dikamar sudah bersiap mengenakan jumpsuit dan sepatu sambil mencangklongkan sling bag nya di lengan kirinya. Membuka ponselnya ingin mengirimkan pesan pada Mario karena sedari tadi pesannya tidak dibalas oleh Mario.
Rinjani : Mas jadi pergi tidak?
__ADS_1
selang dua menit Mario membalas.
Mario : Maaf, hari ini sibuk mungkin besok perginya- balasan Mario.
Membuat Rinjani malas untuk membalas pesan Mario dan langsung menghapus makeup tipisnya dan juga mengganti pakaiannya.
"Hm...." hela nafas Rinjani, "aku lupa kalau kemaren Mas Mario gak bilang hari ini mau pergi-pergi, kenapa aku jadi antusias begini..." Rinjani bermonolog. "Bisa ke-PDan tingkat dewa si Mario" kesalnya saat melihat ponselnya yang masih terpampang pesan dari Mario tadi.
Aahhh...
Rinjani menjatuhkan tubuhnya di kasur, ingin tidur saja rasanya kali ini. Rinjani teringat pesan dari Pak Ridwan buat ngabarin si Andre, segera Rinjani mengirim pesan ke Andre sesuai yang Pak Ridwan sampaikan.
"Rin... Kamu lagi ngapain?" ucap Bu Rima dibalik pintu kamar Rinjani.
"Lagi ganti baju bu.." ucap Rinjani asal.
"Dari tadi belum selesai?" ucap Bu Rima sambil menggelengkan kepalanya.
Rinjani keluar dari kamarnya menuju ke sumber suara ibunya yang sedang mengobrol dengan seseorang di ruang tamu.
Betapa terkejutnya Rinjani orang yang sedang mengobrol dengan ibunya tak lain ialah Mario. Rinjani melongo dan menatap dirinya yang menggunakan kaos tipis dan celana pendek di depan Mario langsung lari menuju kamarnya.
"Ya ampun Rinjani pakai baju yang bener" ucap Bu Rima terkejut melihat anaknya keluar memakai kaos tipis dan celana pendek.
"Ya Buk.." jerit Rinjani di balik pinti kamarnya.
"Astagaa... kenapa dia bisa disini... Dia kata sibuk juga" ucap Rinjani didalam kamarnya seraya menekan dadanya yang masih berdenyut cepat, "kenapa aku tidak dengar suara mobilnya." menengok ke arah jendela, benar saja terdapat mobil Mario terparkir di depan.
Rinjani menatap dirinya di cermin, "Ya ampun.. mana gue gembel banget sekarang" gerutunya sambil mencari celana panjangnya dan bergegas keluar menemui Mario yang sedang duduk bersama ibunya.
Rinjani mendudukkan dirinya di dekat ibunya. Bu Rima memberi ruang untuk anaknya dan calon menantunya agar bisa berkomuniksi.
Rinjani menatap Mario, Mario yang ditatapnya pun menatap balik ke arah Rinjani, membuat Rinjani salah tingkah.
"udah siap kan? nunggu apa lagi? ayo pergi" ucap Mario.
"Hah?" spontan Rinjani. "Kata mas, tadi sibuk makanya aku hapus semua make upnya dan ganti baju. Aku juga lupa kalau kita ga janjian hari ini mau pergi apa nggak" ucap Rinjani.
"Gak papa gitu aja, gak usah make up segala, ayok pergi" Mario berdiri dari duduknya.
Membuat Rinjani berdiri juga "Iya-iya bentar mau ambil tas dulu sama pamit ke ibuk" ucap Rinjani.
Mario ingin sekali tertawa melihat tingkah laku Rinjani yang menurutnya absurd dan mulutnya yang suka ceplas-ceplos, namun ia bisa menahannya dan menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun my silly fiance" gumam Mario.
__ADS_1