
🍀🍀🍀Cafe Promise🍀🍀🍀
Rinjani masih terdiam sejak kejadian didalam mobil tadi membuatnya menjadi diam seribu bahasa, canggung rasanya berbicara dengan Mario, dirinya paham dari tadi Mario selalu menggodanya.
"Mau pesan apa?" tanya Mario
Hati Rinjani senang hari ini, melihat hari ini lebih bayak Mario yang berbicara ketimbang dirinya, walaupun dirinya malu dengan pertanyaan yang Mario lontarkan setidaknya Mario hari ini lebih banyak berbicara dari pada biasanya.
"'Hmmm, Chocolate milk shake sama double cheese burger Mas" ucap Rinjani memesan menu andalannya.
Mario segera meuju ke tempat pemesanan, setelah memesan Mario menuju ke ruangan yang biasa ia masuki, Rinjani yang memperhatikan Mario memasuki ruangan kerjanya, ada sekelibat pikiran mengenai wanita yang bernama Laras pun muncul.
"Apa ada dia didalam ya?" Rinjani bermonolog.
"Ah tidak.. tidak mungkin, gak boleh negatif thinking Rinjani, kalau Mas Mario tau aku mikir yang tidak-tidak malah membuatnya kecewa karena tidak mempercayainya. gumamnya pelan berusaha membuang pikiran negatif yang terbesit.
Rinjani mengalihkan pikirannya dengan membuka ponselnya untuk mencarii-cari hiburan, hingga tak sadar Mario sudah terduduk disebelahanya sambil membawa pesanan yang Mario pesan tadi, Mario sengaja membawanya sendiri, sebelum memasuki ruangannya Mario sudah berpesan terlebih dahulu pada salah satu pegawainya untuk meletakkan didekat kasir jangan langsung menaruh ke meja makannya.
"Ehm.." Mario berdeham membuat Rinjani menoleh kehadapan Mario, meletakkan ponsel yang digenggamnya di atas meja..
"Eh-Mas-" ucap Rinjani.
"Tertawa sendiri nanti dikira kena gangguan loh.." ucap Mario.
"Iihhhh Mas... ngeselin" ketus Rinjani seraya mencebikkan mulutnya.
"Udah dimakan dulu nanti menguap burger sama milk shakenya" goda Mario.
Mario jadi memiliki hobi baru, yakni menggoda Rinjani, entah ada rasa sendiri saat mendengar suara wanita tersebut sebal, bahkan merengek tak kala Mario mencoba menggodanya.
Mereka berdua menikmati makanan yang sudah dipesan dengan lahapnya. Mario sesekali memerhatikan Rinjani yang sedang fokus menikmati hidangannya,, bergumam dalam hatinya, "Tak disangka sekali dia yang akan menjadi istriku, menjadi teman dalam hidupku, bahkan tak pernah terpikir sekalipun aku akan menikah dengannya, namun hatiku belum yakin apa aku sudah mencintainya atau belum" batin Mario, membuat hatinya merasa bersalah hingga berubah mood seketika.
Rinjani yang merasa diperhatikan oleh Mario merasa tidak nyaman, memberanikan diri untuk bertanya pada Mario, "Mas kenapa?" tanya Rinjani dengan burger yang tersisa setengah masih ditangannya
"Tidak ada apa-apa" jawab dingin Mario, membuat Rinjani merasa aneh.
__ADS_1
Rinjani menautkan kedua aliasnya "Aneh sekali dia, tadi hangat-hangat saja, sekarang kumat lagi mood swingnya" batin Rinjani sedikit kesal.
"Maafkan aku Rinjani, aku akan berusaha membuka hati**ku untukmu" batin Mario saat melihat raut wajah Rinjani, seraya menghabiskan makanannya.
Setelah menghabiskan hidangannya Rinjani dan Mario langsung menuju ke dalam mobil, setelah menaiki mobilnya, Rinjani membuka suara mengawali
"Mas... mulai besok, kita berdua sudah dipingit, tidak diperbolehkan bertemu sampai hari pernikahan tiba" ucap Rinjani setelah memasuki mobil Mario.
"Hm, terus?" tanya Mario singkat
Sebenarnya Rinjani sudah memendam kesal dihatinya mendengar jawaban singkat-singkat dari Mario. "Ya berarti besok aku berangkat kerja sendiri, Mas ga nganterin aku gitu" jelas Rinjani.
"Oh... Seperti itu, oke" sahut Mario.
Entah sedari tadi pikiran Mario tidak karuan, hingga bingung ingin menyahuti perkataan Rinjani.
Rinjani sedang malas untuk menyahuti perkataan Mario, fokus dengan pandangannya menghadap ke samping jendela mobil. Terdengar suara musik dari audio mobil, Mario sengaja menyalakan musik agar tidak terlalu hening.
Benar saja Rinjani bergumam mengikuti alunan musik yang terputar di audio,
Seketika Rinjani terdiam dari nyanyiannya, dirinya tersadar jika suaranya semakin keras, dan dirinya termenung dengan liriknya, seolah-olah sedang menggambarkan dirinya.
Bibir Mario tersemat senyum tipisnya, ikut terhanyut dalam suara Rinjani, masuk ke dalam alunan musiknya.
Rinjani dan Mario masih sama dengan posisi semula dan dengan pikirannya masing-masing. Lima belas menit berlalu Rinjani dan Mario telah sampai di depan rumah Rinjani.
"Mas makasih udah nganterin aku" ucap Rinjani.
"Iya..." jawab singkat Mario.
"Mas mau mampir tidak?" tanya Rinjani.
"Tidak usah, lain kali saja, titip salam buat Bapak sama Ibu ya" ucap Mario.
"Iya Mas, hati-hati kalau sudah sampai kabarin ya" ucap Rinjani.
__ADS_1
"Iya" ucap Mario sambil menganggukkan kepalanya.
Rinjani turun dari mobil Mario dan mengamati Mario mengendarai mobilnya hingga hilang dari jangkauan Rinjani, kemudian Rinjani masuk ke dalam rumahnya.
***Pagi Hari di Kantor***
Hari ini dimana hari terakhir Rinjani bekerja, sebelum dirinya cuti untuk pernikahannya dengan Mario. Rinjani berangkat menuju ke kantor menaiki motor maticnya.
Ya... Hari ini Rinjani sedang dipingit dengan Mario, bahkan dari semalam Rinjani sudah tidak lagi saling berbalas pesan dengan Mario, setelah Mario memberi kabar bahwa dirinya telah sampai di rumah.
"Rin.. "panggil Kinan saat melihat Rinjani sedang berada diparkiran motornya.
"Eh Ki... Ayok masuk" ajak Rinjani, saat melihat Kinan yang barusan sampai juga di parkiran.
"Sendirian Rin? Ga dianter sama Mario lagi?" tanya Kinan sambil berjalan memasuki gedung kantor.
"Gak... hari ini gue ga boleh ketemuan dulu sama si Mas Mario" jelas Rinjani.
"Oo ceritanya lagi dipingit nih" ucap Kinan.
"Iya... " jawab Rinjani.
"Lancar-lancar ya Rin, gue doain" ucap Kinan turut senang.
"Aamiin.. makasih banyak Ki.... jangan lupa dateng juga" ucap Rinjani.
Rinjani dan Kinan berpisah karena memasuki ruangannya masing-masing, hari ini tidak terlalu padat bagi Rinjani, ditengah-tengah Rinjani sedang fokus dengan kerjaannya, tiba-tiba Rinjani merasa jenuh, membuka ponselnya untuk mengisi kejenuhannya.
Dibukalah galeri, melihat foto undangan Rinjani dan Mario, Rinjani mengamati dengan seksama, "Sebentar lagi, statusku berubah menjadi seorang istri, semua orang sangat mendambakan pernikahan yang bahagia dan saling mencintai, entahlah denganku, aku bahkan tidak tahu bagaimana persaan calon siamiku" gumam Rinjani sambil mengamati foto undangan pernikahan diponselnya.
Rinjani memejamkan matanya, begitu terasa menyesakkan didada, "Aku hanya tidak ingin berekspektasi tinggi dicintai oleh Mario, aku takut salah dengan ekspektasiku yang mungkin bisa membuatku sakit" gumamnya pelan.
Rinjani teringat saat Mario pernah bercerita, bahwa perasaannya telah Mati oleh cintanya yang dulu, maka dari itu Rinjani tidak ingin berimajinasi terlalu tinggi, takut hatinya akan terluka, yang perlu ia lakukan saat ini cukup menerimanya dan menghargainya sebagai suami, dan percaya sama takdir tuhan itu baik.
Rinjani menggeser foto digalerinya, melihat foto Mario yang ia simpan di galeri ponselnya, mengamati dan mengusap foto itu, dengan perasaan dan pikiran yang tak menentu.
__ADS_1