
"Kan ada Andre.." ucap Kinan
"Kurang lengkap Kiiiii..." jawab spontan Rinjani.
"Bilang aja lu kangen liat gue ribut kan?" ucap Kinan, membuat mereka berdua saling tertawa.
......................
"Oh iya Ki.. tadi Andre curhat sama gue" ucap Rinjani tenang.
"Curhat apa Rin?" membuat Kinan yang fokus dengan komputernya menjadi menghadap ke arah Rinjani.
Rinjani yang ditatap Kinan pun tersenyum penuh arti, "kepo cieeee..."
Ucapan Rinjani sukses membuat Kinan kesal dibuatnya. " Nih orang kagak niat..." ketus Kinan.
Rinjani tertawa kecil, "Andre bilang kangen sama lu" perkataan Rinjani membuat Kinan terdiam. "Kangen ribut sama lu ki" ucap Rinjani serius.
Kinan sudah menduga apa yang ingin dikatakan oleh Rinjani. "Udah gue duga Rin, dia kan kalau kangen gue mesti ributnya" ucap Kinan berusaha untuk tidak kenapa-kenapa.
"Lha kamu maunya gimana Ki? pingin Andre kangennya serius begitu?" selidik Rinjani.
"Eh-eng Gak gitu Rin... Maksud gue, ya biasa udah bisa gue tebak gitu" balas Kinan mencoba menutupi kegugupan dirinya dihadapan Rinjani.
"Oh...." jawab singkat Rinjani.
Kinan sudah paham kalau Rinjani mulai curiga dengan dirinya, "Suatu saat lu bakal paham kok Rin, kenapa gue gak cerita apa-apa sama lu, maafin gue Rin." batin Kinan.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Kinan ada yang mengetoknya dari luar, lalu masuklah pria dan wanita kedalam ruangan Kinan, ya siapa lagi kalau bukan Andre dan Fika.
"Lah kalian lagi ngenggosip disini ternyata.." ceplos Andre.
"Iya, kita lagi nggosipin lu!" ucap Rinjani bercanda.
Kinan menyenggol kaki Rinjani dengan kakinya, Rinjani paham dengan arti itu.
"Gossipin apa nih, pantesan gue tadi makan lidah gue kegigit, ternyata lagi jadi bahan makanan." ucap Andre.
"Ada berkas apa lagi Ndre Fik?" tanya Kinan.
"Enggak ada Ki, gue kesini cuma lagi kangen sama kalian aja.. Kangen aja gitu, padahal jarak ruangan kita deket, kangen ngobrol aja" Fika membuka suara.
"Iya betul" sahut Andre.
Mereka semua berkumpul di ruang kerja Kinan, saling bercerita apa saja, bahkan sampai menghabiskan stok makanan ringan milik Kinan.
"Enak ki, beli dimana nih cookies coklatnya?" tanya Fika
__ADS_1
"Nyokap gue yang bikin Fik." jelas Kinan.
"Enak banget Ki, jadi pingin terus ki, gimana nih..." ucap Fika.
"Ya kalau lain waktu nyokap gue bikin lagi ntar gue bawa" sahut Kinan.
......................
Dua bulan kemudian...
Dimana bulan ini merupakan bulan yang sangat teramat penting untuk Rinjan, bagaimana tidak dibulan ini Mario akan mengubah statusnya menjadi suami Rinjani, Rinjani berharap semuanya dimudahkan sambil menata undangan yang sudah tertera nama satu persatu, serta ada tiga paper bag.
Hubungan Rinjani dengan Mario akhir-akhir ini bisa dibilang baik-baik saja, dan sifat Mario sedikit berkurang dinginnya. Begitupun dengan Kinan dan Andre mereka menjalani pekerjaan seperti biasanya, walaupun Kinan mengurangi sifat kekanak-kanakannya, bahkan bisa dibilang sedikit kalem sekarang, entah dapat ilmu dari mana Kinan menjadi feminim sekarang.
Sebelum berangkat ke Kantor Rinjani memasukkan semua undangan ke dalam tasnya, berpamitan dengan kedua orang tuanya sebelum pergi bekerja.
Tin!
Suara klakson mobil terdengar dari depan rumah Rinjani, "Seperti tidak asing dengan suara klaksonnya" ucap Rinjani melangkah menuju ke halaman rumahnya.
"Mas Mario?" ucap Rinjani melihat Mario keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.
"Ayo berangkat" ucap Mario.
"Hah?" Rinjani masih merasa ada yang aneh,
"Aku tidak suka mengulang perkataan, cepat pamit sama orang tuamu langsung berangkat" ucap Mario memasuki Rumahnya, diikuti oleh Rinjani dibelakangnya.
"Sini masuk dulu, sarapan dulu nak Rio, Sudah sarapan belum?" tanya Bu Rima.
"Sudah Bu, tadi sarapan dirumah sama mamah, saya kemari ingin menjemput Rinjani sekalian berangkat kerja" ucap Mario.
Rinjani baru menyadari perkataan Mario, "Aku biar berangkat naik motor aja Mas, kan arah kita berlawanan, nanti Mas telat lagi" ucap Rinjani berusaha menolak.
"Ayo Rinjani" tegas Mario dengan tatapan tajamnya.
"I-iya Mas.." ucap Rinjani tanpa penolakan lagi.
Percuma saja Rinjani menolak, karena Mario tidak suka penolakan. Mereka berdua berpamitan kemudian memasuki mobil.
"Tumben sekali Mas, ada imun dari mana pagi-pagi jemput aku segala?" tanya Rinjani.
Mario sedang fokus dengan kemudinya, ia jeda pertanyaan Rinjani beberapa menit sebelum mananggapunya, "Kenapa? Kamu tidak menyukai aku menjemputmu?" ucap Rinjani.
"Bukan... Bukan seperti itu-" ucap Rinjani terpotong oleh Mario.
"Lalu?" tanya spontan Mario.
__ADS_1
"Ya aneh aja, aku dijemput pagi-pagi sama Mas, for the first time Mas nganterin aku kerja" jelas Rinjani.
"Lalu?" jawab Mario lagi.
"Lalu? kok lalu lagi Mas?" tanyanya.
"Tadi aku bertanya apa?" tanya Mario
Rinjani berfikir sejenak, "Oh, aku senang atau tidak dijemput Mas..." cengir Rinjani.
"Lalu?" ucap Mario membuat Rinjani mencebikkan mulutnya.
"Senang" ucap Rinjani datar seraya kesal, sedari tadi dengar Mario bilang lalu-lalu mulu.
Mario mendengar ucapan Rinjani hanya diam saja tanpa menanggapinya, pandangannya tetap fokus dengan kemudinya. Lima belas menit berlalu, "Nanti pulangnya aku jemput jam setengah empat sore, jangan pulang sebelum aku datang, ingat itu!" tegas Mario.
"Iya Mas... Terimakasih sudah diantar, hati-hati dijalan" ucap Rinjani.
Setelah Rinjani turun dari mobilnya, Mario segera menancap gas menuju ke tempat kerjanya, sedangkan Rinjani mulai menuju ke tempat kerjanya.
Seperti biasa Rinjani mulai mengecek email yang baru-baru, hari ini ada cukup banyak email masuk, membuat kerjaan Rinjani cukup padat.
Tiba-tiba ruangan Rinjani diketuk, "Masuk" ucap Rinjani.
Ternyata Kinan yang mengetuk pintunya, "Gue kira Lu kagak masuk Rin, soalnya gue kagak liat motor Lu diparkiran" ucap Kinan duduk di kursi depan Rinjani duduk.
"Hehehe cie kangen gue ya Ki?" ucap Rinjani.
"ngapain ngangenin Lu? kerjaan gue masih banyak Rin..... Mana sempat" ucap Kinan membuat mereka berdua ketawa.
"Gue dianterin tadi Ki..." jelas Rinjani.
"Sama Mas itu?" kepo Kinan.
"Iya, Mas mana lagi emangnya?" sahut Rinjani, Rinjani teringat sesuatu ditasnya, segera mengeluarkannya. "Nih buat Lu Ki...." ucap Rinjani menyerahkan undangan atas nama Kinan Prameswari.
Kinan menerima undangan dengan mut yang melongo, "Rinjani dan Mario.." mulutnya membaca nama yang tertera, "What, seriusan Rin? Lima hari lagi? cepat sekali, masih kagak percaya gue... Semoga lancar terus ya Rin, gue doain" Bahagia Kinan setelah membuka undangan tersebut, matanya berkaca-kaca mengetahui teman karibnya akan segera menjadi istri orang lain.
"Jangan sedih dong Ki...." ucap Rinjani menggoda Kinan.
"Gue tergaru bego... Temen gue udah laku" sahut Kinan membuat Rinjani terkekeh.
"Lu kira gue barang apa, laku-laku" ucap Rinjani protes.
"Gue ikut seneng Rin..." ucap Kinan.
"Oh iya Ki, satu lagi, ini baju buat seragamannya ya hehehe biar seru gitu kita-kita sama bajunya" Rinjani menyerahkan paper bag ke depan Kinan. "Aku doain jug yang terbaik buat kamu Ki..." imbuh Rinjani.
__ADS_1
Kinan menerima paper bag dari Rinjani dengan mata yang berbinar, "Makasih Rin.. Aamiin Rin..." ucap Kinan. "Gue balik ke meja kerja gue dulu Rin, semangat kerja Rin.. gue bawa ya, makasih lho..." imbuh Kinan.
"Hmmmm.." balas Rinjani, memperhatikan Kinan yang sudah menghilang dari pandangannya. "Gue aja juga nggak nyangka Ki, udah dekat banget" Rinjani bermonolog.