Cinta Rinjani

Cinta Rinjani
Menuju Pernikahan Part 2


__ADS_3

Semua keluarga Rinjani pun telah datang, Rinjani di dalam kamar merasa gugup. Acara pun dimulai dan Rinjani berjalan menuju ke tempat siraman dirinya, namun sebelum sampai ke tempat siraman, Pak Bagus selaku orang tua Rinjani menggendong Rinjani, hal ini sudah menjadi tradisi dimana putri yang akan menikah sedang melakukan siraman pasti bapak atau saudara laki-lakinya akan menggendongnya menuju ke tempat siraman.


Satu-persatu keluarga Rinjani menyiramkan air bunga dengan gayung yang terbuat dari kayu dan batok kelapa tepat di ubun-ubun kepala Rinjani serta mendoakan kepada calon pengantin lancar hingga ke pelaminan tiba.


Acara siraman calon pengantin wanita pun telah usai. Begitupun acara siraman calon pengantin dari pihak laki-laki pun juga berlangsung dengan khidmat.


Rinjani membersihkan tubuhnya lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya untuk acara pengajian sore nanti. Rinjani selalu mengecek ponselnya melihat histori terakhir kali Mario online, perasaan rindu menyelimuti hati Rinjani, membayangkan bagaimana ekspresk wajah Mario besok, Rinjani tersenyum sendiri.


Namun senyum itu tidak bertahan lama,, sekelibat bisikan ucapan Mario masih membekas diingatan Rinjani. "Hatiku telah mati" itulah kata-kata yang masih membekas diingatan Rinjani, sungguh menyesakkan dada bila mengingatnya. Rinjani meletakkan ponselnya di meja didekat ranjangnya.


Rinjani memejamkan matanya namun tidak terlelap, pikirannya sedang entah berjalan kemana pun membuat pikirannya tak menentu. "Apa Mas Mario tertekan dengan pernikahan ini? aku tidak bisa menghentikan pernikahan ini, tidak mungkin aku melukai hati orang tuaku" batin Rinjani.


"Aku akan terima semua konsekuensi dalam pernikahan ini menikah dengan orang yang tidak mencintai diriku, aku akan terus memperjuangkan hati Mario, aku yakin Mas Mario masih dapat merasakan cinta" gumamnya pelan menyemangati dirinya sendiri, terlalu banyak berpikir akhirnya pun Rinjani terlelap dalam tidurnya.


Tak terasa Rinjani tidur cukup lama sekitar 3 jam, dan waktu sudah menujukkan setengah tiga sore. Rinjani dibangunkan oleh Bu Rima, "Rin bangun.. udah setengah tiga sore, sudah ibadah belum" ucap Bi Rima seraya menggoyangkan tubuh Rinjani.


Rinjani meregangkan tubuhnya, membuka peelahan kedua matanya, "Ya ampun bu, Rinjani ketiduran.. udah jam berapa ini bu tanya Rinjani terbangun.


"jam setengah 3 sore, udah ibadah dulu, habjs itu mandi nanti dirias sama mbak yanti (tukang rias), ibu keluar dulu mau memeriksa semuanya dulu, buruan bangun" ucap Bu Rima berjalan menuju ke pintu kamar Rinjani.


Rinjani segera bergegas dari ranjangnya untuk ibadah, Rinjani berdoa agar semua urusannya dilancarkan dan dimudahkan, Rinjani hanya dapat pasrah terhadap urusan percintaannya, terus optimis.


Rinjani saat ini sedang dirias untuk persiapan pengajian sebentar lagi, hati Rinjani saat ini sudah mulai tenang dan relax tidak seperti tadi pagi.


"Cantik... " puji mbak yanti setelah memoleskan make up terakhirnya di wajah Rinjani

__ADS_1


Rinjani tersipu malu, "Terimakasih mbak Yanti yang cantik".


Acara pengajian menuju pernikahan Mario dan Rinjani bernuansa hijau menambah keanggunan Rinjani sore ini.


Kerabat dekat serta beberapa tetangga telah berdatangan memenuhi kediaman Rinjani. Lantunan kitab suci dibacakan dengan indah oleh Rinjani, tak kuasa menahan air mata Rinjani meminta restu kepada kedua orang tuanya.


Alunan terbangan (semacam sholawat) di lantunkan oleh grub yang sudah Bu Rima panggil untuk mengisi acara pengajian.


Semua acara berlanjut dengan khidmat, malam hari pun masih ada beberapa orang yang mendekorasi rumah Rinjani untuk acara pernikahan yang akan berlangsung besok pagi, tepatnya pukul 9 pagi.


Tertulis di dinding nama Rinjani dan Mario yang sudah dihias dengan beberapa kain dan bunga mawar putih kesukaan Rinjani. Rinjani menatap pada tulisan itu, ada perasaan haru menyelimuti hatinya, besok ia telah menyandang status sebagai istri, "Ya.. Istri, Istri yang tidak dicintai oleh suaminya" , batin Rinjani menghela napasnya.


Cukup memperhatikan beberapa dekorasi di rumahnya, Rinjani berjalan menuju ke ruang makan, seperti biasa keluarga Pak Bagus selalu makan bersama, selalu saja terjadi pertengkaran kecil antara Rinjani dan Dimas, hal ini lah yang menambah hidup suasana makan keluarga Pak Bagus.


Selesai beberes semuanya, Rinjani menuju ke dalam kamarnya, mengistirahatkan tubuhnya. Menatap ke arah langit-langit, pikirannya tak menentu. Rinjani mengambil ponselnya beberapa pesan telah masuk dari sahabatnya dan beberapa rekan kerjanya, sebelum membalas satu persatu Rinjani seperti biasa mengecheck nomor milik Mario terlebih dahulu.


Rinjani menghela nafasnya, membalas pesan dari ketiga sahabatnya di grubnya, seperti biasa pesan spam dari Kinan dan Andre, hingga membuat Rinjani tertawa dibuatnya.


Kling.


Notif pesan milik Rinjani berdering, Rinjani membuka ponselnya, terdapat pesan masuk, bertuliskan nama Gio pada pesan yang tertera.


Gio : Rin? Serius ini lu nikah besok sama Mario? tadi gue dapet undangan pernikahan Mario dan nama mempelai wanitanya itu lu Rin..." -isi pesan Gio.


Gio yaitu teman Rinjani sewaktu kuliah, dirinya juga menjadi partner kerja Mario di perusahan Anggara Department. Gio pernah mencoba mendekati Rinjani, bahkan orang-orang dulu mengiranya Rinjani dan Gio berpacaran, namun nyatanya tidak. Mereka berdua hanya berteman biasa. Bahkan Gio juga pernah mengutarakan perasaan sukanya kepada Rinjani. Namun Rinjani kala itu sedang menata hatinya dan tidak ingin terburu-buru menjalin sebuah hubungan dengan pria manapun.

__ADS_1


Sejak itulah Gio mulai terlihat biasa saja bila bertemu dengan Rinjani. Rinjani bisa memahami itu.


Rinjani : Iya Gio -Balas Rinjani.


Tak menunggu waktu lama, Gio pun membalas,


Gio :Selamat ya Rin, aku ikut bahagia, bahagia selalu -Balas Gio


Rinjani : Terimakasih Gio -Balas Rinjani.


Rinjani meletakkan ponselnya, tiduran dengan posisi yang berubah-ubah mencari kenyamanan tidur. Jam sudah menunjukkan tengah malam, Rinjani masih dengan posiso belum tertidur, entah matanya tidak dapat diajak untuk terpejam. Berguling kekanan kiri, mencari hiburan di ponselnya, sampai jenuh dibuatnya.


"Ya ampun, besok harus bangun awal, tapi jam segini masih belum ngantuk sama sekali, bagaimana besok kalau mengantuk...." batin Rinjani mengusap raut wajahnya mengecheck ulang ponselnya untuk menyalakan alarm tepat pukul 5.30.


1 jam kemudian Rinjani terlelap dalam mimpinya.


...****************...


Kring.. Kring..


Suara alarm pun lama membangunkan Rinjani, bahkan Rinjani bangun hanya untuk mematikan alarmnya saja. Rinjani masih dengan posisi tidur nyenyaknya sambil memeluk gulingnya. Sungguh mata Rinjani begitu berat untuk berpaling dari ranjanganya.


"Tok Tok. "


Ketukan pintu, Bu Rima memegangi gagang pintu yang ternyata tidak Rinjani kunci. "Ayo bangun... Rin.. Bangun udah siang ucap Bu Rima menepuk pelan pipi putrinya itu.

__ADS_1


Rinjani hanya berpindah berpaling membelakangi Bu Rim, "Bangun rin. Habis itu bersih-bersih sebelum di make up pengantin sundanya" ucap Bu Rima.


Rinjani mendengar ucapan ibunya teringat acara pernikahannga, yang akan berlangsung beberapa jam kemudian. Rinjani terbangun


__ADS_2