Cinta Rinjani

Cinta Rinjani
Diam


__ADS_3

Rinjani sampai tak mempercayainya apa yang barusan ia dengar, Rinjani meraih wajah Mario dan menatap kedua mata Mario. Rinjani melihat ketulusan dari kedua mata Mario, "Apa Mas sudah mencintaiku?" tanya Rinjani dengan tatapan polos matanya.


Mario pun terdiam, seketika menghentikan perbuatannya yang ia lakukan kepada Rinjani. Hati Rinjani sakit mengetahui respon Mario yang hanya diam saja bahkan mulai menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rinjani.


Rinjani menahan sesak di dada mencoba membalikkan tubuhnya membelakangi Mario "Betapa bodohnya diriku bagai punguk merindukan rembulan, ya itulah aku" batin Rinjani tak kuasa menahan air matanya yang mulai menetes.


Rinjani mencoba mengatur nafas dan suaranya sebisa mungkin agar tidak tertengar oleh Mario, Rinjani membangunkan dirinya untuk mematikan lampu kamarnya dan kembali dengan posisi semula. Rinjani dan Mario tidur dengan saling membelakangi tanpa sepatah katapun yang terucap, hanya keheningan yang terjadi.


Rinjani bahkan tengah malam pun belum dapat tertidur, ia sudah berusaha sekuatnya untuk terlelap, namun mata susah sekali untuk terpejam. Rinjani enggan untuk menatap ke arah Mario, melihatnya saja membuat perasaannya sakit karna mengingat penolakan Mario.


Rinjani membuka ponselnya untuk membuat sebuah coretan di catatan ponselnya, mengungkapkan semua yang terjadi hari ini. Rinjani memejamkan matanya, "Sudah dapat aku tebak, aku akan mendapatkan penolakan Mario dan tak bisa membuatnya jatuh cinta denganku" batinnya.


"Perasaanku sudah mati" Rinjani terngiang oleh ucapan Mario waktu itu.


"Sudah, aku tidak peduli dia mau bagaimana, aku juga tidak bisa memaksakan apapun" batin rinjani membuatnya semakin berpikir keras hingga timbullah rasa kantuk, membuatnya tertidur sengan ponsel yang masih menyala.


...****************...


Pagi hari pun tiba, alarm Rinjani berbunyi, menunjukkan waktu ibadah pagi, Rinjani bangun terlebih dahulu dan bergegas menuju ke kamar mandi, sementara Mario bangun tak kala mendengar suara alarm dari ponsel Rinjani.


Mario meraih ponsel yang sedang berdering alarnnya, Mario mematikannya. Mario mengedarkan pandangannya meraba kasur sebelahnya, nenyadari Rinjani tidak ada disampingnya membuat Mario bangun seketika dan mencari dimana Rinjanim


"Rin.." ucap Mario khawatir.


Bebarengan dengan Mario memanggil-manggil nama Rinjani, seketika Rinjani keluar dari kamar mandi dengan wajah yang telah basah akibat air wudhunya.

__ADS_1


"Ya ada apa?" ucap Rinjani seraya menghanduki wajahnya yang basah.


"aah-a itu tidak ada apa-apa" ucap Mario lansung berjalan menuju ke kamar Mandi. Sementara Rinjani menyiapkan tempat ibadah.


Rinjani menunggu Mario selesai dari kamar Mandi, Mario keluar masih sama-sama terdiam antara Rinjani dan Mario.


Selesai menunaikan ibadah, Mario menoleh ke arah Rinjani, seketika Rinjani menundukkan pandangannya dan Meraih tangan Mario untuk ia cium.


"Mau pergi kemana hari ini?" tanya Mario membuka percakapan.


Rinjani terdiam sejenak dengan merapikan mukenahnya, "Terserah Mas saja, Rin ngikut" ucap Rinjani singkat.


Mario menautkan kedua alisnya, menatap ke arah Rinjani tanpa mengatakan apapun lagi kepada Rinjani. Mario di tidak ingin perkataannya justru menyakiti Rinjani dan tidak sesuai dengan apa yang Rinjani harapkan.


.


Rinjani sedari pagi hanya diam tanpa mengawali percakapan begitu pun dengan Mario diam dengan seribu bahasa.


Rinjani dan Mario menyantap hidangannya tanpa adanya perbincangan sepatahpun, hanya suara dari dentuman garpu dan sendok yang menemani mereka makan.


Mario menautkan kedua alisnya menatap Rinjani yang sedang melahap makanannya dengan posisi menundukkan kepalanya.


"Ada uang jatuhkah sampe kamu melihat ke bawah terus?" tanya Mario mulai membuka percakapan diantara mereka berdua.


Rinjani menggelengkan kepalanya dengan posisi masih menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Mario mulai kesal, "kalau diajak berbicara orang lain itu menghadap ke orangnya, tidak sopan" ucap Mario ketus berdiri meninggalkan Rinjani.


Rinjani terkejut dengan tindakan Mario, dirinya segera berjalan menyusul Mario.


"Apa aku sungguh keterlaluan sampai-sampai Mas Mario pergi gitu aja?" gumam Rinjani yang sudah berjalan tepat dibelakang Mario dengan kepala yang menunduk.


Bugh.


Kepala Rinjani menatap punggung Mario,


"Aw..." teriak Rinjani sambil mengusap kepalanya.


"Maaf" ucap Rinjani.


Mario hanya terdiam lalu memasuki mobilnya.


Rinjani mulai kesal segera ia masuk kedalam mobil melalui pintu belakang, baru saja Rinjani meletakkan punggungnya di sandaan kursinya.


"Kamu kira aku sopir kamu?" ucap Mario membuat Rinjani bingung.


"Pindah depan!" ucap Mario dengan tatapan yang masih lurus ke depan.


Rinjani menghela nafasnya, "Kalau bicara tuh menghadap ke orangnya" kesal Rinjani.


 

__ADS_1


 


__ADS_2