
"Kenapa lu liatin gue kayak gitu sih Ndre? Ada yang salah sama penampilan gue ya?" tanya kinan sambil merapikan bajunya.
"Enggak, baru kali ini aja gue liat lu pake pakaiam feminim gini, cocok lu ki, cantik" ucap Andre sukses membuat pipi Kinan merah merona bak kepiting rebus membuat hening seketika. b
"Ehem... Ayo kita nikmatin menunya.. " ucap Fika memecah keheningan
"Eh.. Iya Fik.." ucap Kinan mengikuti Fika yang sudah mulai mengambil salah satu hidangan.
"Enak banget sumpah hidangannya, nambah boleh ga sih? hehehe" cengir Andre.
"Iya enak banget sumpah.." ucap Kinan menikmati makanan pembuka yang telah disajikan.
Sementara Fika hanya terdiam menikmati hidangannya, "Fik.. Are you okay?" tanya Kinan pada Fika yang sedari tadi diam saja. Kinan merasa aneh dengan perilaku Fika jika mereka berkumpul bertiga dengan Andre.
"Apa Fika ada rasa ya sama Andre?" gumam Kinan dalam hati.
"Eh.. im okay Ki... " ucap Fika, "Iya enak banget.. pasti cateringnya terbaik" imbuhnya.
"Habis ini kita menikmati maincoursenya jangan pada kenyang dulu" ucap Andre bersemangat.
"Mulai nih anak, kalau urusan makan maju terdepan ya Ndre?" ucap Kinan.
"Oh ya jelas dong Ki... " ucap Andre
Fika tergesa hingga menjatuhkan sendok dan juga harpunya.
Prang!
"Aduh.. eh maaf gue ceroboh..." ucap Fika membersihkan bajunya. "Gue ke toilet dulu" imbuhnya seraya berdiri meninggalkan tempat duduknya menuju ke toilet.
"Huh... " memegang dadanya, "Ada apa denganku, kenapa rasanya nyeri sekali. melihat Kinan sama Andre deket begitu... Bukannya mereka memang sudah sekat lama ya" batin Fika membasuh bajunya yang terkena sendoknya
"Fik... Nih sarung tangan buat bersihin baju lu" ucap Kinan menyodorkan sarung tangannya kepada Fika.
"Eh Ki.. Kagak usah nanti kotor.. "tolak Fika
"Nggak papa jadi kotor asalkan berguna" ucap Kinan menyerahkannya pada tangan Fika, "Gue mau buang air dulu, dipake aja ya" imbuh Kinan seraya memasuki salah satu toilet.
Fika membersihkan bajunya dengan sapu tangan itu. Kinan keluar dari toilet, "Ki, nih sapu tangannya, maaf jadi kotor" ucap Fika menyerahkan kembali sapu tangan milik Kinan.
Kinan meraihnya, "Gak apa, santai aja, yuk balik lagi" ajak Kinan, mereka berdua berjalan menuju ke tempat duduk mereka.
__ADS_1
"Beruntung banget Rinjani menikah sama orang yang dia cintai, kalau dilihat-lihat dari mata si Mario jatuh cinta juga sama Rinjani, cuma Rinjani aja yang gak peka" batin Kinan memandang ke arah Rinjani dan Mario yanh sedang berpose dengan kolega kerja Mario.
"Jangan ngalamun woy" ucap Andre ke arah Kinan.
"Eh enggak... siapa yang ngalamun? orang gue lagi asik ngelihatin Rinjani sama Pak Mario serasi banget" ucap Kinan.
"Betul banget Ki, gue setuju sama ucapan lu" sahut Fika.
"ikut baper gue.. Kapan ya gue" lirih Kinan.
"Ya besok kalau udah ada calonnha" Andre mendengar ucapan Kinan.
"Apan sih ndre nyahut mulu" ucap Kinan.
Sementara dipelaminan Gio datang bersama wanita yang tampak terlihat lebih muda dari Gio, Rinjani sangat senang melihat Gio datang dengan teman ceweknya atau mungkin memang ceweknya. "Selamat yo Mar, Rin.. Semoga bahagia selalu" ucap Gio memeluk Mario dan bersalaman dengan Rinjani.
"Thanks Bro... buruan nyusul yah..." ucap Mario
"Makasih Gio..." sahut Rinjani.
"Doa-in aja ya supaya bisa kayak kalian berdua hehehe" ucapnya Gio.
"Aamiin.. " ucap Mario dan Rinjani bebarengan
Rinjani dan Mario memasuki kamarnya, Rinjani mendudukkan dirinya di ujung ranjang, sementara Mario tengah melepaskan tuxedo yang ia kenakan.
Pikiran Rinjani menjadi melayang, "Apakah akam terjadi sesuatu malam ini ya.. " batin Rinjani dengan menggengg jari-jarinya yang terasa dingin.
"Aku harus ngapain sekarang.. "gumam Rinjani gusar.
"Kamu ga mau ganti baju?" tanya Mario yang sudah mengganti bajunya dan terlihat basah wajah dan rambutnya.
"i-iya ini mau ganti mas" ucap Rinjani gugup, Rinjani menautkan alisnya, "Kenapa mas basah semua?" imbuhnya.
"Kamu ga mau sholat isya jamaah?" tanya Mario.
Seketika Rinjani ingat bahwa dirinya belum menunaikan sholat isya, "eh iya mas.. mau.. sebentar aku mau beresin ini dulu" ucap Rinjani yang kesusahan menarik resletimg gaunnya bagian belakang.
"Perlu bantuan?" tanya Mario memberanikan diri menawarkan bantuan.
"Bo-boleh mas.." ucap Rinjani membalikkan tubuhnya membelakangi Mario.
__ADS_1
Mario menarik nafasnya, mencoba menurunkan resletingnya, terlihat punggung yang mulus milik Rinjani membuat Mario susaj untuk menelan salivanya.
Glek.
"Sudah mas.. Terimakasih aku siap-siap dulu mas" Mario diam hanya menganggukkan saja kepalanya.
Huh...
Hembusan nafas Rinjani menghadap pada cermin di toilet, "Kenapa denganku, kenapa aku jadi gugup seperti ini" ucap Rinjani seraya memegang dadanya merasakan getaran denyut jantung yang cepat.
"Ah.... bisa gila kalau sering dekat-dekat sama Mas Mario" lirihnya pelan, Rinjani mulai. membersihkan bekas makeup yang tersisa. Mulai mensucikan dirinya sebelum. menunaikan ibadah sholat isya.
Rinjani keluar dari kamar mandi dan bersiap. menata shaff dibelakang Mario. Mario dengan khusuyuk memimpin ibadah.
"Assalamualaikum warrahmatullah" ucap Mario selesai ibadah.
Selepas itu Rinjani meraih tangan Mario untuk menciumnya, Mario menyentuh kepala Rinjani sambil memanjatkan doa agar pernikahannya selalu dalam lindungan tuhan.
Cup.
Satu kecupan bibir Mario mendarat tepat pada di kening Rinjani, terasa menyejukkan hati. Rinjani memajamkan matanya merasakan bibir Mario mencium keningnya.
Mario tersenyum, Rinjani merapikan mukenahya, tiba-tiba Mario mendekat ke arah Rinjani, memeluknya dari belakang.
"Eh-Mas..." kejut Rinjani merasakan tangan yang kekar memeluk tubuhnya dari belakang, bulu kuduk Rinjani pun meremang.
Mario mulai mengangkat menggendong tubuh Rinjani menuju ke ranjang mereka, dan merebahkan tubuh Rinjani. Mario mengamati setiap detail dari wajah Rinjani.
Mario mulai menyibakkan sebagiam rambut Rinjani yang menjulur di wajahnya, Mario elus wajah Rinjani, hidung Mario mulai menyentuh pipi Rinjani dan merasakannya aroma harum dari wajah Rinjani. Mario mulai menciumi semua bagian wajah dari Rinjani dengan lembut menghirup wajah Rinjani.
Cup,
Kecupan pertama bibir Mario tepat di atas bibir Rinjani, mata Rinjani pun terpejam merasakan bibir kenyal nan basah mendarat dibibirnya.
Mario mulai mencoba memainkan lidahnya memasuki bibi Rinjani, Rinjani hanya terdiam dengan perlakuan Mario, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Mario mencoba untuk membuka celah bibir Rinjani dengan menggigit pelan bibir Rinjani, sehingga Mario dapat dengan mudah menjamah lebih pada bibir Rinjani.
"Ehm.. Ah... " suara Rinjani melepas pagutan bibirnya dengan Mario, Rinjani merasa seperti kehabisan oksigen.
Rinjani menelan salivanya dengan tubuh yang bergetar. "Mas.. " Panggil Rinjani.
"Iya sayang" ucap Mario dengan sebutan yang berbeda, seketika membuat raut wajah Rinjani. merah merona ingin terbang rasanya.
__ADS_1
Sungguh ini merupakan pertama kali bagi Rinjani mendengar Mario menyebutnya dengan sebutan Sayang.
Rinjani sampai tak mempercayainya apa yang barusan ia dengar, Rinjani meraih wajah Mario dan menatap kedua mata Mario. Rinjani melihat ketulusan dari kedua mata Mario, "Apa Mas sudah mencintaiku?" tanya Rinjani dengan tatapan polos matanya.