
Sementara Rinjani masih melepas segala pernak-pernik yang menempel di tubuhnya, dua puluh menit sibuk dengan melepas semua ornamennya Rinjani menuju ke kamar Mandi untuk membasuh membersihkan mukanya dari sisa make up.
Keluar dari kamar mandi, Rinjani memperhatikan Mario yang tengah memejamkan matanya, "ada apa?" tanya Mario dengan mata masih tertutup.
"Eh-em.. enggak, enggak apa-apa.. itu, mas kok ga ganti baju dulu?" ucap Rinjani langsung membuang mukanya dari wajah Mario.
"Aku lupa bawa baju.." ucap Mario
"Lalu itu apa kalau bukan bajumu?" ucap Rinjani dengam tangannya menunjuk. koper yang berdiri disamping lemarinya,
Mario seketika membuka matanya dan mengamati arah yang Rinjani tunjukkan, "Tadi adik kamu yang memasukkan ke dalam kamar aku" jelas Rinjani.
Rinjani membantu membuka koper itu dan mulai memasukkan beberapa baju Mari ke dalam lemarinya, sedangkan Mario mulai. melepskan bajunya dibelakang Rinjani.
Saat Rinjani menghadap ke belakang "Eh-eh, mas mau apa?" tanya Rinjani.
"Ya ganti baju, mau apa lagi?" ucap Mario ringan.
"Membuat Rinjani menghadap ke posisi semula sambil menutup dan merapikan kembali kopernya, tak terlalu banyak baju yang Mario bawa.
"Mas ga dzuhuran dulu? udah masuk waktu barusan.." ucap Rinjani yang melihat Mario sudah merebahkan kembali tubuhnya,
Mario melihat jam yang ada di samping ranjangnya seketika duduk dan menuju ke kamar mandi untuk bersuci.
Mario memimpin ibadah siang dikamar Rinjani, selesai menunaikan ibadah, Rinjani meraih tangan Mario dan mencium punggung tangannya, sementara Mario mencium kening Rinjani.
Mario mengamati wajah Rinjani terutama mata Rinjani, mata yang begitu cantik yang membuat Mario seakan larut terhipnotis dengan keindahan mata Rinjani, seketika Mario mendaratkan bibirnya tepat di bibir Rinjani,
Cup
Seketika mata Rinjani membolakan sempurna, Mario dengan cepat menjauhkan tubuhnya. "Maaf, belum ijin denganmu" ucap Mario dengan kikuk
Sementara Rinjani masih terdiam dengan posisi duduknya. Wajah Rinjani bagaikan kepiting rebus saat itu juga, entah dapat pikiran dari mana Rinjani hanya membalas ucapan Mario dengan anggukan kepala dengan melepas mukenahnya dan merapikan kembali.
Mario termenung dengan tindakannya barusan, "Bodoh.. bodoh bisa-bisanya lepas kontrol, kalau dia marah bagaimana " batin Mario.
Mario merebahkan tubuhnya kembali diranjang, Rinjani diam berdiri mengamati tempat tidurnya, bingung tidurnya bagaimana. "Kenapa masih berdiri? Sini?" ucap Mario menggoda Rinjani dengan menepuk-nepuk sisi sebelah ranjang Mario.
Rinjani yang merasa keheranan dengan kelakuan Mario hanya bisa bergidik ngeri, mau tidak mau Rinjani harus berbagi tempat tidur dengan Mario. Tidak mungkin dia keluar kamar malah membuat yang lain menjadi curiga.
Mario melihat Rinjani yang ragu untuk naik ke atas Ranjang pun membalikkan posisi tidurnya membelakangi bagian Rinjani tidur.
__ADS_1
Rinjani mulai merebahkan tubuhnya di samping Mario. "Susah sekali untuk menelan ludah rasanya tidur berdampingan dengan suami." batin Rinjani mencoba menyamankan posisi tidurnya.
Tak butuh waktu lama Rinjani dan Mario pun sama-sama terlelap hingga waktu mendekati pukul 3 sore.
Rinjani terbangun terlebih dahulu dengan posisi dirinya memeluk tangan Mario dan kakinya berada diatas kaki Mario, Rinjani merasakan yang aneh menyentuh kakinya, Rinjani menoleh ke arah kakinya, seketika Rinjani menarik dan menghadap membelakangi Mario.
"Ya ampun apa tadi?" batin Rinjani dengan perasaan malu. "Semoga saja dia belum bangun, taruh dimana muka gue.. "
Sedangkan Mario dibelakang Rinjani merasa lega, hampir saja Rinjani membuat sesuatu menjadi bangun. Mario mengatur nafasnya membalikkan tumbuhnya membelakangi Rinjani juga. "Hampir saja.. Bisa-bisanya bangun di waktu yang tidak tepat" batin Mario.
Rinjani dengan perlahan bangun dari ranjangnya dan keluar menuju ke dapur untuk mengambil minum untuk dirinya dan tak lupa juga untuk Mario.
Semua orang sedang mengistirahatkan dirinya masing-masing hanya beberapa orang-orang yang masih bekerja untuk membersihkan catering tadi pagi.
Rinjani menuangkan segelas air putih untuk dibawa menuju ke kamarnya. Rinjani menghela nafasnya sebelum dirinya masuk ke dalam kamarnya. "Semoga belum bangun" batin Rinjani.
Ceklek
Suara Rinjani. membuka pintu kamarnya, dilihatnya Mario yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Rinjani meletakan segelas airnya di meja samping ranjangnya.
Rinjani terdiam mengamati wajah Mario yang tertidur dengan pulas, lama Rinjani mengamati wajah Mario, "Sudah puas memandang wajah tampanku?" ucap Mario membuat Rinjani memalingkan mukanya gelagapan mendengar suara Mario.
"Ka-kamu.. berarti dari tadi sudah bangun?" ucap Rinjani terbata-bata.
"Apa-an sih Mas, siapa yang mandangin Mas.." Rinjani mengelak.
Mario terbangun mengambil gelas yang terisi air putih dan mulai meneguknya. "Makasih.. " ucap Mario.
Rinjani bergegas mrmbersihkan tubuhnya, sementara Mario sambil mengantri untuk Mandi mencoba mengecheck ponselnya. Ada banyak sekali pesan yang masuk saling berucap selamat, tak lupa juga Laras juga ikut mengucapkan selamat kepada Mario.
Laras : "Selamat atas pernikahanmu ya Rio, aku kasihan sama istrimu, yang tidak sama sekali dicintai oleh suaminya, karena cinta suaminya masih jadi milik masa lalunya, yaitu aku" -Laras
Mario hanya membaca isi pesan yang Laras kirimkan tanpa membalas pesannya. Rinjani masuk kamarnya mengamati Mario yang sedang menatap fokus pada ponselnya.
"Mas.... Kamu baik-baik saja?" tanya Rinjani.
"Hm... " sahutnya mematikan layar ponsel dan meletakkannya pada meja samping ranjang, lalu mengambil handuk yang Rinjani bawa.
Rinjani tidak menaruh curiga dan pikiran macam-macam kepada Mario.
Rinjani merapikan tempat tidurnya, sambil sesekali memainkan ponselnya membalas pesan dari teman-temannya yang saling mengucapkan selamat atas pernikahannya, senyum mengembang di bibir Rinjani. membaca satu persatu pesan dari teman-temannya.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum sendiri? nanti dikira orang gangguan" ucap Mario.
"Eh Mas... enggak, ini lucu aja mbaca satu-satu pesan dari teman-teman kantor" jelas Rinjani
Mario diam dengan posisi berdiri menghadap cermin makeup nya Rinjani sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan memakai kaos dalam dan sarung membuat Rinjani menatap Mario dengan mulut yang terbuka.
"Tutup mukutnya, nanti ada lalat masuk" ucap Mario sambil menyisir rambutnya.
"Hm... " ucap Rinjani kikuk.
Rinjani membawa gelas yang tadi menuju ke dapur.
...****************...
Tepat pukul 7 malam semua keluarga Rinjani dan juga Mario sudah selesai bersiap dan bergegas menuju ke tempat resepsi.
Acara pembukaan resepsi pun dimulai, para tamu mulai berdatangan mulai dari para kolega dari keluarga Mario, keluarga Rinjani dan juga rekan bisnis, tak lupaa ke tiga sahabatnya Rinjani pun datang Kinan, Andre dan juga Fika dengan mengenakan pakaian yang Rinjani berikan.
Rinjani tersenyum kepada sahabatnya, setelah menyadari kedatangan sahabatnya. satu-persatu rangkaian acara pun telah berlangsung.
Hingga prosesi akhir yaitu proses berfoto ria bersama pengantin.
"Yaa ampun Rinjaniiii, gilak sumpah, lu cantik banget malam ini.... " puji Kinan tak henti-hentinya pada Rinjani.
"Wah selamat ya Rin, Pak Mario.. Semoga bagahia selalu sampai surga" ucap Andre
"Aamiin.." ucap Rinjani dan Mario bebarengan.
"Selamat juga atas pernikahan Rinjani dan Pak Mario, segera bikinkan aku keponakan yang lucu-lucu yaaa" ucap Fika sambil memberikan bouqet bunga dan juga buket uang ratusan ribu, sementara Andre memberikan buket berisi k****m, tissu m***c dan juga tes p**k pada Mario, sementara Kinan memberikan paper bag yang berisikan baju dinas istri kepada Rinjani.
Mereka bertiga telah merencanakan untuk memberikan hal unik dipernikahan Rinjani dan juga Mario.
Mario tersenyum kaku merespon tingkah laku kocaknya teman-teman Rinjani, sementara Rinjani menahan malu dengan buket yang ada ditangan Mario.
Sesi foto pun berlangsung, beberapa kali shoot dengan komplotam Rinjani satu ini, "udah kalian nikmatin ya hidangannya, kasihan yang pada antri buat foto" ucap Rinjani kepasa ke tiga sahabatnya.
"Oke Rin.. Jangan lupa dipake ya" ucap Kinan terkekeh kemudian turun dari panggung bersama Fika dan juga Andre untuk menikmti hidangan yang sudah disajikan.
"Lu cakep banget Ki malam ini" ucap Fika memuji Kinan.
__ADS_1
"Hehehe biasa aja Fik, lu juga cantik banget malem ini" ucap Kinan, sementara Andre terdiam menatap Kinan dari ujung bawah sampai ujung rambut.