Cinta Seorang Mantan TKW

Cinta Seorang Mantan TKW
Dia Berbeda


__ADS_3

"Apa kau akan pulang?". Tanya Firman


"Iya Pak, sebentar lagi setelah pekerjaan saya selesai". Jawabku


"Kalau begitu, selesaikan tugasmu dan tunggu aku!". Kata Firman lagi


"Maksud bapak?". Tanyaku heran


"Aku tidak suka pengulangan!". Ucap Firman tapi dia masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


Aku sedikit mengerutkan kedua alisku bertanda aku tidak paham apa maksudnya "*t*unggu".


Setelah semua selesai aku bersiap siap untuk pulang, tiba di depan lift sambil menunggunya terbuka aku menoleh ke arah ruangan Firman pikiranku masih bertanya-tanya, "apa maksud Firman tadi?".


Setibanya di lobi aku bertemu dengan Nia kami pun akhirnya pulang bersama-sama.


Hari sudah semakin gelap, bintang-bintang di langit sudah mulai terlihat berkelap kelip bersama indahnya cahaya bulan walau pun hanya terlihat separuhnya saja. Jam 7 malam aku dan Nia sudah selesai makan malam kami hanya duduk-duduk santai di depan tv yang berukuran 14 inc, sedangkan Nia kulihat sibuk dengan hpnya, senyum-senyum sendiri mungkin dia sedang chat-an dengan kekasihnya. Dan aku hanya memandangi tv yang saat itu sedang acara "talk show" tetingat sesuatu yang mengganjal di pikiranku


"Ehh Nia, kenapa pak Firman masih jomblo ya?, padahal dia ganteng dan juga mapan pasti banyak cewek-cewek yang mau denganya". Tanyaku. Jujur aku memang penasaran tentang kehidupanya sekarang, dan ada rasa ingin tahu tentang apa dan bagaimana kehidupan Firman sekarang.


"Entahlah aku juga nggak tau pasti, tapi banyak gosip dan rumor yang beredar di kantor". Jawab Nia yang masih mengutak-ngatik hpnya.


"Rumor?, rumor apa emangnya?". Tanyaku balik sambil mengambil minuman "Teh pucuk" dia atas meja.

__ADS_1


"Yaaa, yang aku dengar dari rumor yang beredar kalau Firman itu belum bisa melupakan cinta pertamanya gitu!". Tutur Nia.


"Uuhhuukkk...uhhuukkk..uuhuukk..!!".


Sontak saja aku yang saat itu sedang meminum "teh pucuk" langsung tersedak saat mendengar ucapan Nia.


"Kamu kenapa Vidaa, pelan-pelan dong kalau minum". Nia langsung menepuk-nepuk pelan punggungku.


Setelah mendengar apa yang di katakan Nia tadi ada rasa aneh di pikiranku terlebih lagi di hati dan jantungku. Membayangkan kejadian dulu yang tiba-tiba saja Firman berada di bandara memandangku dengan matanya yang berkaca-kaca serta lambaian tangan Firman yang seakan-akan ingin menarikku kedalam pelukanya. Apa sebenarnya yang terjadi antara Firman dan Astrid dulu, kenapa dia mendua jika memang mencintaiku? dan kenapa sikap Firman sekarang berubah?.


Hari itu sengaja aku berangkat lebih pagi, agar aku bisa leluasa membersihkan ruangan Firman karena meskipun aku berusaha untuk profesional dalam bekerja tapi hatiku tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ada sedikit rasa canggung terlebih lagi apa yang dikatakan Nia tadi malam malah membuatku lebih tidak nyaman.


Di kantor suasana masih sangat sepi, hanya ada beberapa OB yang sudah datang, tiba di lantai atas aku langsung membersihkan semuan ruangan termasuk ruangan Firman lalu ruangan pak Rico karena letak ruangan mereka yang bersebelahan. Di depan ruangan Firman terdapat meja sekertaris Firman yaitu mbak Susi, aku pun sudah membersihkanya.


Setelah semua beres aku turun kebawah membawa dua kantong plastik yang sudah penuh dengan sampah dan hendak membuangnya, tanpa sengaja di waktu yang sama Ella juga membawa satu kantong sampah yang hendak di buangnya. Aku tersenyum saat melihat Ella namun dia tidak peduli dan memalingkan mukanya. Setelah sama-sama membuang sampah, kami berjalan bersama meski agak berjauhan.


Aku memilih diam tak perduli sama apa yang di ucapkan Ella, aku terus berjalan berpura-pura tidak mendengar apapun.


"Kerjanya yang bagus ya, pak Firman kan galak, jangan pec***lan". Ucapan Ella lagi yang saat itu menghentikan langkahku. Aku menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya, dan saat itu juga aku memilih diam lalu berjalan cepat agar menjauh dari Ella.


"Bisa-bisa hilang kesabaranku jika berdekatan terus dengan dia!". gerutuku dengan nada kesal.


Setibanya di atas kulihat sudah ada Susi, dan pak Rico baru saja masuk ruanganya sedangkan Firman aku tidak tau sudah datang atau belum, meskipun sudah juga nggak apa-apa toh semua pekerjaanya sudah beres. Namun saat aku mau berbalik menuju dapur seseorang memanggilku.

__ADS_1


"Vidaaa...!"


"Iya mbak Susi, ada apa?".Tanya ku


"Kamu di panggil pak Firman"


"Ahh baik mbak".


"Tok...tok...tok.."


"Permisi pak, bapak memanggil saya?". Ucapku dengan berjalan dan menghadap meja Firman, Firman yang saat itu sedang berdiri di depan jendela langsung menoleh ke arahku lalu ia berjalan dan duduk di atas meja menghadap ke arahku alhasil posisi kami jadi saling berhadapan.


"Degg...deg...deg...". Jantungku yang kembali berdetak kencang ketika Firman melihat ke arahku, kedua telapak tanganku tiba-tiba terasa dingin padahal ACnya saat itu tidak menyala karena masih pagi. Aku menunduk melihat ke bawah lantai karena tidak berani melihat tatapan Firman.


"Kenapa tidak menungguku?". kata Firman dengan nada yang sangat lembut tatapan matanya yang seperti tidak mau lepas ke arah wajahku.


"Maksud bapak menunggu apa yaa?, jujur saya tidak mengerti". Jawabku, karena memang saat itu aku tidak mengerti menunggu apa atau siapa, dengan terus mengepalkan keduan tanganku seperti sedang menahan sesuatu tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku tahan.


Firman tidak menjawabku dia hanya memandangku, melihat dengan tatapan sayu dan lembut seakan-akan penuh arti di dalamnya. Sedangka aku hanya bisa berdiri mematung, membolak balikan mataku ke kiri dan ke kanan karena aku bingung harus bagaimana di hadapanya.


Lama Firman memandangiku hingga aku tidak bisa berkutik,


"Hhhmmm... Apa bapak mau saya buatkan kopi?". Tanyaku tadinya aku pikir bisa mencairkan suasana tapi aku salah, Firman malah berdiri dan berjalan dia mendekatiku lalu

__ADS_1


"**Apa luka itu belum juga sembuh?"


"Degg..degg..degg**.."


__ADS_2