Cinta Seorang Mantan TKW

Cinta Seorang Mantan TKW
Depresi


__ADS_3

Jam 7 pagi aku baru berangkat ke kantor, sebenarnya hari ini aku kurang enak badan dari tadi malam kepalaku pusing dan demam.


Setibanya di kantor aku berjalan menuju lift ada keraguan untuk aku kembali masuk keruangan Firman, masih terbayang di kala Firman tergeletak pingsan sana.


Sejak kejadian di hari itu sudah 3 hari Firman tidak masuk kantor, karena mungkin dia masih di rawat di rumah sakit.


Flash Back on...


"Pak.."


"Pak.."


"Bapak bangun..!, bapak kenapa?". Aku terus mencoba membangunkan Firman yang masih terbaring di lantai.


Saat itu aku panik entah apa yang harus aku perbuat, aku shyok melihat keadaan Firman, terbayang di benaku saat kepergian suamiku mas Wahyu dulu.


"Tidak.., jangan.., dia nggak boleh pergi, tidak..!!". Gumamku saat itu.


Aku tersadar dari lamunanku lantas aku berteriak meminta tolong.


"Tolong...!!!, tolong...!!!". Teriaku


"Ceklekk..!". Pintu terbuka.


Tidak butuh waktu lama Susi datang dan langsung menghampiri kami yang berada di lantai.


"Yaa ampun, ada apa dengan pak Firman kenapa dia?". Tanya Susi panik.


"Pak Firman pingsan Mbak". Jawabku dengan keadaan terisak menangis.


"Tunggu sebentar saya panggil pak Rico!". Tanpa berkata apa-apa lagi Susi berlari memanggil pak Rico.


Dan tidak butuh waktu lama juga pak Rico dan Susi kembali datang ke ruangan.

__ADS_1


"Astaga Firman kamu kenapa?". kata pak Rico panik dengan mengangkat kepala Firman ke sebelah tanganya. Lalu pak Rico melirik kearah tangan Firman yang masih memegang tanganku. Pak Rico lantas menatapku, tatapan pak Rico penuh tanya.


"Apa sebenarnya yang terjadi?, siapa wanita ini?, kenapa Firman memegang tanganya begitu kuat?". Batin pak Rico.


Namun pak Rico sadar kalau saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan itu semua, pak Rico lalu meminta bantuan security untuk membopong Firman masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Sepertinya pak Rico tau keadaan Firman saat itu, untuk itulah dia tidak menanyakan apapun malah langsung membawa Firman ke rumah sakit.


Flass back of...


"Tiing...!!!". Pintu lift terbuka


Begitu pintu lift terbuka betapa terkejutnya aku saat melihat seseorang yang berada di dalam lift.


"Mbak Ningsih". Aku langsung memeluk mbak Ningsih melepas sejenak kecemasanku agar terasa lebih baik.


"Mbak Ningsih apa kabar?". Tanyaku


"Aku baik-baik saja, tapi apa ini kerjaanmu setiap hari seperti ini datang terlambat dan malas-malasan. Jadi terpaksa saya yang harus membersihkan ruangan pak Firman". Kata mbak Ningsih sedikit kesal karena aku yang datang terlambat.


"Maaf mbak aku kurang enak badan jadi aku terlambat bangun". Kataku memberi alasan.


"Iya kamu sedikit demam, sebaiknya kamu libur hari ini biar saya cari pengganti kamu sementara". Kata mbak Ningsih khawatir saat menyentuhku yang saat itu memang demam.


"Ya udah mbak, tapi aku ingin ngobrol-ngobrol dulu sama mbak, boleh?". Kataku.


"Hhmm boleh, berhubung pekerjaanku juga sudah beres sekalian aku juga belum sarapan, gimana kalau kita ke kantin saja". Ajak mbak Ningsih


"Hhmm..!". Aku hanya menganggukan kepalaku.


Suasana kantin saat itu masih sepi hanya terlihat beberapa orang saja, mungkin sama seperti mbak Ningsih yang belum sarapan.


Mbak Ningsih menyantap bubur ayamnya dengan lahap, sedangkan aku hanya meminum teh manis hangat.


"Deerttt...derrtt...". Suara ponsel mbak Ningsih.

__ADS_1


Mbak Ningsih tersenyum setelah melihat isi pesan masuk tersebut, lalu menyimpan ponselnya lagi dan kembali menyantap makananya.


"Alhamdulilah pak Firman sudah keluar dari rumah sakit, sekarang dia ada di rumahnya mungkin untuk beberapa hari dia tidak akan masuk kantor, karena dia butuh ketenangan dulu". Kata mbak Ningsih.


"Alhamdulilah..". Ucapku yang sedikit lega mendengar ucapan mbak Ningsih.


"Mbak, kalau boleh saya tau sebenarnya ada apa dengan pak Firman?, apa dia sakit?", Aku bertanya dengan hati-hati.


Mbak Ningsih lalu melihatku, untuk sesaat dia memandangiku lalu dia tersenyum.


"Hmm baiklah, karena aku percaya kamu bukan orang yang suka gosip". Kata mbak Ningsih.


"Sebenarnya keadaan pak Firman dalam 2 tahun ini keadaanya sangat baik bahkan dokter yang merawatnya selama ini pun menyatakan pak Firman sudah sembuh dari apa yang di alaminya, itulah kenapa ayah pak Firman memberinya kepercayaan untuk membantu mengurus perusahanya". Kata mbak Ningsih


Aku terdiam sejenak mencerna apa yang dikatakan mbak Ningsih.


"Memang apa yang di alami pak Firman sehingga dia harus di rawat?". Tanyaku heran


Mbak Ningsih menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya sepertinya pertanyaanku tadi membuat membuat mbak Ningsih sedih.


"Pak Firman pernah mengalami DEPRESI". Ungkap mbak Ningsih bernada sedih.


Aku tercengang mendengar apa yang di katakan mbak Ningsih barusan.


"Depresi?, maksud mbak apa?, kenapa pak Firman mengalami itu?, apa yang terjadi padanya?. Kataku yang tidak percaya sama apa yang di katakan mbak Ningsih.


"Dia mengalami kesedihan dan luka yang amat dalam sehingga dia tidak bisa menahanya". Ungkap mbak Ningsih


"Berawal dari sewaktu pak Firman masih SMA, dia mempunyai kekasih yang amat dia cintai, tapi karena pak Firman melakukan suatu kesalahan setelah kekasihnya lulus dia pergi meninggalkan pak Firman. Lalu tidak lama kemudian ibunya pak Firman meninggal, ibu yang sangat pak Firman sayangi selama ini, bahkan ibunya yang selalu mengerti kemauan dan keadaan pak Firman, bukan Pak Firman tidak menyayangi ayahnya tapi pak Firman dan ayahnya tidak begitu dekat". Tutur mbak Ningsih


"Pak Firman kehilangan 2 orang yang sangat berarti dalam hidupnya sekaligus, sehingga dari kejadian itu pak Firman sering menyendiri dan tidak mau bergaul atau bertemu siapa pun. Lama-kelamaan kondisi pak Firman semakin buruk hingga akhirnya dia di rawat di RS, namun setelah berhari-hari pak Firman di rawat tetap tidak ada perubahan, sehingga dokter menyarankan agar dia pindah dari kota tersebut untuk mendapatkan suasana baru, agar pak Firman bisa cepat melupakan semua kejadian yang menimpanya". Tutur mbak Ningsih lagi.


Aku hanya terdiam mendengar semua cerita dari mbak Ningsih, aku tidak percaya kalau Firman mengalami itu semua.

__ADS_1


NEXT....


__ADS_2