
Tidak butuh waktu lama aku tiba di kantor, dengan mengenakan seragam OB warna biru di padupadankan dengan celana warna hitam aku berjalan menuju lantai atas. Ada sesuatu yang aneh di hari itu karena setiap kali aku berpapasan dengan orang di kantor mereka selalu melihatku dengan sinis sadar akan kejadian kemarin aku memilih tidak perduli dan berusaha untuk bersikap biasa saja.
Aku langsung menuju lantai atas dan melaksanakan tugasku, setibanya di lantai atas kulihat mbak Susi sudah ada di mejanya.
"Selamat pagi mbak Susi?". Sapaanku pada mbak Susi.
"Iya selamat pagi". Mbak Susi membalas sapaanku namun ia tidak melihatku, dia memilih fokus pada layar di depanya itu.
Tanpa berpikir lagi aku langsung masuk ke ruangan Firman yang saat itu masih kosong karena yang mpunya ruangan tersebut belum datang. Selesai dari ruangan Firman aku beralih ke ruangan pak Riko, namun begitu aku masuk ternyata pak Rico sudah datang sama seperti Susi pak Rico pun kelihatanya sangat sibuk sama pekerjaanya.
"Pagi pak Rico, maaf saya mau bersihkan ruanganya?". Kataku
"Ohh.., pagi juga!", balas Rico. "Tapi bisa buatkan aku kopi dulu?". Tanya Rico
"Ohh.., tentu bisa pak, sebentar saya buatkan". Jawabku
Pak Rico tidak menjawabnya lagi dia hanya sedikit tersenyum dan sekilas melihat ke arahku.
Dengan bergegas aku pergi kedapur untuk membuat kopi, setelah selesai aku kembali ke ruanganya dan menaruh di meja tepatnya di samping pak Rico, dan aku pun kembali bekerja.
"Pprraaakkk...!!!"
"Ya ampun!". Aku terkejut saat mendengar sesuatu jatuh dan saat dilihat ternyata cangkir kopi yang berada di atas meja pak Rico jatuh dan pecah.
"Astagaa..!!". Kata pak Rico yang sama terkejutnya denganku, dia langsung bergeser dan berdiri melihat cangkir tersebut jatuh.
"Maaf Vida, saya nggak sengaja tadi sebenarnya saya mau mengambil cangkirnya tapi malah menyenggolnya". Kata pak Rico.
__ADS_1
"Nggak apa-apa pak, biar saya bersihkan". Ucapku dengan bergegas membersihkan pecahan cangkir tersebut.
"Ssh... Aawww!!". Ucapku sedikit berteriak karena kesakitan tanpa sengaja jari telunjuku terkena goresan pecahaan cangkir dan berdarah.
"Kamu kenapa Vida?". Tanya pak Rico
"Nggak apa-apa pak, cuma tergores sedikit". Balasku
"Sini coba aku lihat!!". Tanpa izin dariku pak Rico langsung mengambil tanganku dan membersihkan darah yang ada di telunjuku.
"Ahh biar saya saja pak, nggak apa-apa ini cuma luka kecil". Ucapku lalu menarik kembali tanganku.
"Biar saya obati, tunggu saya ambil kotak P3K", pak Rico langsung berjalan menuju lemari dan mengambil kotak itu, lalu ia kembali dan mengambil tanganku lagi.
"Biar saya saja pak". Kataku dengan menarik tanganku tapi pak Rico malah memegangnya dengan erat.
"Sudah nggak apa-apa cuma sebentar". Ucap pak Rico.
"Cekleekk...!!". Suara pintu terbuka di saat pak Rico masih mengobati lukaku.
"Co, tolong ka-..!!". Firman masuk dan terkejut setelah apa yang dilihat di depanya.
"Ooh.., ada apa Man?". Tanya Rico yang masih memegang tanganku.
Namun Firman tidak menjawab pertanyaan pak Rico dia hanya memandangiku dengan sinis, sedangkan aku tidak tau harus berbuat apa melihat tatapan Firman seperti itu aku yakin dia sedang marah, tapi aku tidak tau dia marah sama siapa.
"Sudah pak, biar saya sendiri yang melanjutkanya". Ucapku dengan kembali menarik tanganku, karena di sisi lain aku merasa tidak enak dengan tatapan Firman padaku.
__ADS_1
"Vida...!". Panggil Firman
"Iya pak". Jawabku
"Ikut ke ruanganku". Kata Firman
Aku hanya sedikit menganggukan kepalaku, lalu berjalan mengikuti Firman ke ruanganya.
Setibanya di ruangan Firman kami hanya saling berdiri berhadapan untuk sesaat kami hanya terdiam, sedangkan aku kebingungan.
"Untuk apa aku di bawa kemari?, apa aku berbuat kesalahan?". Ucapku dalam hati.
"Apa kamu sedang balas dendam sekarang?". Kata Firman
"Balas dendam?, maksud bapak apa yaa?". Kataku yang masih kebingungan.
"Jangan berbuat sesuatu yang aku tidak suka, atau apa kamu suka di pegang-pegang sama laki-laki lain, iyyaa..?". Pekik Firman.
"Deeggg...!" Jantungku seolah-olah berhenti mendengar perkataan Firman barusan, aku tidak menyangka kalau Firman bisa mengatakan itu padaku.
"Aku tau dulu aku pernah salah padamu tapi apakah kamu harus melakukan hal yang sama padaku?, maaf Vida aku tidak suka melihat laki-laki lain menyentuhmu!". Kata Firman
"Maaf pak, tadi pak Rico hanya membantu mengobati lukaku, tidak lebih dari itu". Balasku yang akhirnya aku tau kalau sikap pak Rico tadi yang jadi masalahnya.
Firman lalu terdiam dan melirik ke arah tanganku.
"Kenapa bapak harus marah?, dan lalu mengungkit kejadian di masa lalu pak?". Kataku.
__ADS_1
"Bapak harus tau kalau kejadian hari ini tidak bisa dibandingkan sama dengan kejadian di masa lalu, karena jelas semuanya berbeda". Ucapku dengan nada kesal.
"Dan bapak juga harus tau kalau untuk membalas semua perbuatan bapak dulu, tidak cukup hanya dengan balas dendam saja, percuma pak karena rasa sakitnya pun masih terasa sampai sekarang". Akhirnya aku bisa meluapkan semuanya pada Firman kekecewaan dan rasa sakit yang selama ini aku rasakan.