Cinta Seorang Mantan TKW

Cinta Seorang Mantan TKW
Satu Cinta Dua Hati


__ADS_3

"Aku masih mencintaimu". Kata Firman yang masih memeluku.


Aku mengepalkan kedua tanganku jantungku rasanya sudah tidak beraturan untuk berdetak, entah kenapa setelah mendengar kata-kata itu hatiku takut untuk menerimanya lagi.


"Cekklek...". Suara pintu terbuka.


"Pak Rico...!". Ucapku yang kaget melihat pak Rico tiba-tiba datang.


"Ahh maaf!, aku tidak tau kalau...?". Kata pak Rico yang juga sepertinya terkejut setelah apa yang di lihatnya.


"Lain kali ketuk dulu pintu sebelum masuk, ganggu aja!". Kata Firman.


Pak Rico lantas melirik ke arahku, dia menatapku entah mengapa tatapanya seperti orang yang tidak menyukai sesuatu dan juga dia kelihatan berbeda.


"Kalau begitu saya permisi dulu". Aku melangkah untuk meninggalkan mereka berdua di ruangan, namum Firman kembali menarik tanganku dan menghentikan langkahku.


"Kamu mau kemana lagi?". Tanya Firman.


"Saya mau kembali bekerja pak, pekerjaan saya masih banyak". Jawabku.


"Tapi aku masih membutuhkanmu di sini, aku kan boss kamu". Kata Firman.


"Tapi pak!". Kataku yang saat itu sungguh aku merasa tidak enak karena ada pak Rico, aku melirik lagi ke arah pak Rico dia sedang menatapku aneh tidak seperti biasanya.


"Sudahlah Man, biarkan dia pergi. Ingat ini di kantor kalau mau pacaran di luar sana!". Kata pak Rico.


Tanpa persetujuan Firman aku langsung bergegas keluar dari ruangan, entah kenapa perasaanku jadi tidak enak melihat tatapan pak Rico, aneh rasanya melihat sikap pak Rico tadi.


"Aahhh, mungkin ini perasaanku saja!". Gumamku sambil berlalu pergi.


Yaa, sikap pak Rico memang baik, rendah hati dan murah senyum untuk itulah dia di kagumi oleh semua wanita di sini, jadi aku tidak pernah menyalah artikan sikapnya itu.


Di jam istirahat Firman terus saja menelpon dan mengirim pesan, dia ingin aku menemaninya makan siang. Tapi aku mengabaikanya aku tidak mau orang-orang melihat kedekatanku dengan Firman aku takut mereka malah berpikiran yang tidak-tidak.


Sebenarnya aku juga ingin menghindari Firman untuk sementara waktu, aku ingin menata hati dan hidupku yang entah aku bisa apa tidak menerima Firman kembali dalam hidupku, dan juga Nilam, apa Firman bisa menerima Nilam sebagai anaknya sendiri?.


Sampai waktu jam pulang kantor Firman masih terus menghubungiku, aku menghela nafas lalu membuangnya.


"Aku lelah..!". Gumamku akhirnya aku mengalah lalu tanganku mengambil ponsel dari dalam tas.


Firman.


Tunggu aku di parkiran!


Dari semua pesan dari Firman hanya itu yang ku baca, yaa mau tidak mau aku harus menunggunya.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus bicara serius sama Firman, jika sikapnya seperti ini terus aku harus benar-benar menanyakan tentang Astrid, karena aku tidak mau di hantui sama bayang-bayang Astrid". Kata Hatiku.


"Doorr..!!". Seseorang mengagetkanku dengan menepuk bahuku.


Aku menoleh kebelakang melihat siapa yang di sana.


"Pak Rico..!!". Ucapku kaget.


"Apa kamu mau pulang?". Tanya pak Rico.


"Iya pak". Jawabku.


"Terus kenapa kamu masih disini?, sedang menunggu seseorang?". Tanya pak Rico lagi.


"Hemm.., iya pak!". Jawabku


"Saya sedang menungguuu...?". Kataku perlahan.


"Aahh..., Firman!". Kata pak Rico.


"Tuuh orangnya sudah datang, panjang umur juga dia". Kata pak Rico lagi dengan menunjuk ke arah Firman yang sedang berjalan menuju aku dan pak Rico.


"Kebetulan kamu di sini Co, ada yang mau saya diskusikan sama kamu masalah pembukaan cabang kita yang ada di kota B, gimana kamu ada waktu?". Tanya Firman ke pak Rico.


"Kalau begitu lebih baik saya pulang pak, saya takut ganggu?". Kataku yang melangkah pergi, namun lagi-lagi Firman menghentikanku.


"Kamu ikut denganku!, sekalian kita makan malam bersama". Kata Firman


Aku tidak bisa menolak ajakan Firman kali ini karena aku tau jika tanganku sudah di pegang olehnya susah untuk lepas lagi, dan pak Rico dia terus melihat ke arah tanganku yang di pegang Firman.


"Oke baiklah!, kita jalan masing-masing saja, kirim nama tempatnya kita ketemu disana!". Kata pak Rico yang berlalu pergi ke arah mobilnya.


Firman lalu menarik tanganku dan berjalan menuju mobilnya, kali ini tanpa di suruh aku masuk kedalam mobil Firman kami pun berangkat ke tempat yang di tuju. Sepertinya keinginanku untuk menanyakan soal Astrid hari ini tidak jadi karena mana mungkin aku menanyakanya di depan pak Rico.


Tiba-tiba saja mobil Firman berhenti di depan sebuah toko baju.


"Kenapa kita berhenti disini?". Tanyaku heran.


"Kamu harus ganti baju, aku tidak mau nanti orang-orang berfikiran macam-macam karena kamu pakai seragam OB". Jawab Firman.


Setelah semua selesai kami melanjutkan perjalanan dan tidak butuh waktu lama kami tiba di sebuah restoran.


Aku berjalan di samping Firman sambil tanganku yang terus di genggam olehnya. Sebenarnya aku tidak menginginkan hal seperti ini dulu tapi sepertinya keadaan yang membuat kami jadi seperti ini.


Dari kejauhan terlihat pak Rico sudah menunggu, kami pun berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Maaf sedikit terlambat". Kata Firman.


Kami lalu duduk tidak lama untuk Firman dan pak Rico untuk membahas masalah pekerjaan, mereka asyik sendiri dengan perdebatan yang aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka perdebatkan.


Namun saat itu terdengar suara ponsel milik Firman berbunyi bertanda ada panggilan masuk, Firman langsung menjawabnya tidak lama kemudian Firman lalu menutupnya.


"Co aku titip Vida sama kamu yaah?, tolong anterkan dia pulang!". Perintah Firman pada Rico.


"Tapi kamu sendiri mau kemana?". Tanya pak Rico.


"Mendadak aku ada urusan penting yang tidak bisa di tunda!". Alasan Firman


"Kamu pulang sama Rico yaa!, tenang aku percaya padanya dia orang yang baik". Kata Firman sambil menggenggam tanganku.


"Iya, tidak apa-apa!". Jawabku dengan tersenyum.


Firman lalu bergegas keluar dari restoran dia meninggalkan aku dan pak Rico berdua di tempat.


Untuk sesaat aku dan pak Rico hanya terdiam suasananya jadi hening dan sedikit canggung.


"Kita pulang sekarang?". Tanya pak Rico


"Iya, ayo!". Jawabku karena memang saat itu aku ingin sekali bergegas pergi dari hadapan pak Rico.


Kami berjalan bersamaan namun dengan sedikit jarak kira-kira 1 meter.


"Dimana mobil pak Rico?". Tanyaku karena aku tidak melihat di area parkir depan restoran.


"Ohh.., mobilku ada di sebrang sana!". Jawab pak Rico.


"Ohh iya..". Jawabku.


Namun saat aku ingin melangkah menyebrang tiba-tiba saja sebuah mobil muncul dari belakang.


"Ttiiit...ttiiiiiiiiittt....!". Suara klakson mobil.


"Vidaa..!, awaass..!". Teriak pa Rico


"Brruukkk...!"


"Braakk...!"


Tubuhku di tangkap oleh pak Rico dan kami berdua jatuh ke aspal jalan


"Deggg...!"

__ADS_1


Jantungku tiba-tiba saja berdebar saat tersadar kalau tubuhku ada dalam pelukan pak Rico, dan saat itu pula mata kami saling bertatapan.


"Ya.. Tuhan!, ada apa dengan jantungku!"


__ADS_2