
5 tahun sudah aku menjadi istri Mas Wahyu dan kami sudah mempunyai anak perempuan yang sangat cantik namanya Nilam umurnya baru menginjak 2 tahunan. Kehidupan rumah tangga kami sangat bahagia meskipun dalam keadaan ekonomi yang pas pasan maklum hidup di kampung dengan berpenghasilan yang cukup untuk makan dan kebutuhan anak itu sudah dianggap lebih baik.
Mas Wahyu sangat baik dan penyayang tanggung jawabnya sebagai suami dan sikapnya yang lembut itu yang bisa membuatku bertahan meskipun dari hati yang paling dalam aku belum bisa mencintainya sepenuhnya. Namun aku selalu mengabdi padanya melakukan dan melayani tugas sebagai seorang istri mengurus kebutuhan suami dan anaku itulah yang terpenting saat itu.
Tiba dihari kejadian buruk itu menimpa keluarga kecilku. Tepat dijam 6 sore aku mendapat telepon dari sebuah rumah sakit " Hallo... Apa betul ini keluarga dari bpk. Wahyu ?" sebuah pertanyaan dari sebrang sana. " Iya betul... Ini dari siapa ya...?" jawabku dengan nada khawatir saat aku mendengar nama Mas Wahyu. " Maaf bu kami dari rumah sakit SY ingin memberitahukan bahwa bpk. Wahyu mengalami kecelakaan dan keadaanya sedang tidak sadarkan diri ".
Sontak saja aku menutup teleponya dan berlari sambil mengendong Nilam menuju rumah orang tuaku. Kebetulan karena rumah kami tidak terlalu jauh hnya terhalang 5 rumah saja.
__ADS_1
Sesampainya dirumah orang tuaku, aku menceritakan semuanya sekaligus menitipkan Nilam pada mereka. Dan dengan terburu buru aku langsung pergi menuju rumah sakit tersebut bersama ayahku. Namun sesampainya disana aku mendapat kabar yang ku anggap itu hanyalah mimpi buruk. " Maaf bu, karena bpk. Wahyu mengalami pendarahan yang cukup banyak di bagian kepala kami tidak bisa berbuat banyak. Dengan sangat menyesal kami mengatakan bpk. Wahyu telah meninggal ". Penjelasan dari dokter yang membuatku seakan akan ingin bangun jika ini hanya mimpi buruk.
Tubuhku bagaikan disambar petir lemah tak berdaya seluruh badanku bergetar jantungku serasa akan copot saat itu juga. Hati dan nafasku terasa sesak mendengar ucapan dokter itu. Ku jatuhkan tubuhku di lantai sesaat aku berfikir kalau ini hanya salah paham atau ini benar2 hanya mimpi buruk.
Namun ayah memeluku dari samping dengan matanya yang berkaca kaca.
Selesai dikuburkan di depan tanah merah yang masih penuh dengan taburan mawar merah, sambil memeluk Nilam aku masih terisak nangis aku masih tidak percaya dengan semua kejadian yang menimpaku waktu itu.
__ADS_1
" Maafkan aku Mas, maafkan atas semua kesalahanku. Maafkan aku karena selama kamu bersamaku, aku belum bisa jadi istri yang baik hikk...hikk..hikkk ". Tangisanku kembali pecah mengingat kenangan disaat saat aku bersamanya.
Sebuah rasa penyesalan yang teramat dalam dimana aku blm bisa sepenuhnya menjadi istri yang baik dan seutuhnya. Karena hatiku yang blm bisa menerima dan mencintainya.
Di hari ketujuh setelah kepergian suamiku, ada rasa rindu karena kehilangan semua perlakuan dan perhatianya. Apalagi Nilam yang saat itu belum terlalu mengerti dia terus menanyakan keberadaan papahnya.
" Mah papah ana mah...? papah ana...? dengan nada bawel dan cadelnya Nilam terus saja menanyakan papahnya. " Papah sedang pergi sayang... pergi ke atas sana...!!!" hanya itu yang bisa ku katakan pada Nilam aku tak kuasa menahan air mataku dan aku juga belum cukup kuat jika harus menceritakan semuanya.
__ADS_1
Tolong yang udah mamapir untuk like dan komenya donkπ Beri pendapat kalian mohon saran dan kritikanya karena ini karyaku yang pertama agar kedepanya bisa lebih baik..πππ