
"Kenapa dia disini..?". Batinku berkata, mataku yang enggan berpaling darinya serasa masih dalam mimpi tiba- tiba dia muncul di hadapanku.
"Assalamualaikum...". Sapanya dan berdiri melangkah menghampiriku.
"Wa..wa..alaikumsalam...". Jawabku gugup karena masih belum percaya dengan apa yang kulihat sekarang.
"Yuuk berangkat..!, mumpung masih gelap jalanan masih belum macet". Ajaknya sebari mengambil tas bawaanku.
"Maksudnya..?, kemana..?". Tanyaku bingung.
" Kamu mau pulang kampung kan...?, biarkan aku mengantarkanmu." Tawar Firman.
"Ohh.. iya, tapi tidak usah aku bisa naik bus kok!". Jawabku berusaha menolak ajakan Firman.
"Yonk..., tolong kali ini biarkan aku yang mengambil keputusan dari kemarin kita diem-dieman kayak orang tidak kenal, sekarang biarkan aku disisimu dan mengantarkanmu pulang, aku sangat merindukanmu...". Rintih Firman dan memegang pipiku.
Dengan terus menatap wajahnya tidak kusangka kalau aku sudah mengecewakanya.
Aku hanya menganggukan kepalaku yang bertanda dia boleh mengantarkanku pulang, dia kelihatan senang terlihat dari senyumannya yang tulus.
__ADS_1
Di sepanjang perjalan aku hanya terdiam sambil memandang pemandangan kota di pagi hari, belum banyak kendaraan berlalu lalang kesana kemari hanya beberapa pedagang pinggir jalan yang baru membuka dagangannya serta beberapa orang yang berolah raga berlari santai di pinggir trotoar.
Hari sudah mulai terang kabutpun sudah mulai menghilang terkalahkan dengan pancaran matahari yang sedikit demi sedikit nampak terang.
"Kamu udah sarapan belum...?". Tanya Firman membuka pembicaraan.
"Belum...!". Jawabku karena memang tadi belum sempat membuat sarapan.
"Gimana kalau kita cari sarapan dulu, karena aku juga belum sarapan tadi di rumah takut kamu keburu pergi". Ujar Firman dengan nada menyindir.
"Bapak tau dari mana kalau saya mau pulang hari ini..?". Tanyaku penasaran.
"Aku tau dari status Instagram sahabatmu Nia, yang katanya dia agak sedih karena kamu tidak bisa ikut ke Pantai bersamanya, lalu selanjutnya aku menyuruh Rico untuk cari tahu". Penjelasan Firman.
Aku hanya terdiam mendengar semua penjelasan nya karena memang benar, Nia sering bikin status di sosmednya, semua yang dirasakan Nia mau itu senang ataupun bahagia pasti di update status.
Tidak lama kemudian Firman memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran untuk kami sarapan, setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan kira-kira 3 jaman lagi kita sampai di tujuan.
Sebenarnya di sepanjang perjalanan aku ingin sekali menanyakan tetang Astrid, ada apa dengan mereka berdua dulu dan dimanakah Astrid sekarang, namun aku sidikit takut untuk menanyakanya aku takut dia tersinggung, namun aku masih penasaran dan jika hubungan aku dan Firman akan kembali seperti dulu aku ingin mencari tahu dulu semuanya biar semuanya jelas dan tidak ada salah faham nantinya.
__ADS_1
Terlihat Firman masih fokus menyetir dengan sesekali mengusap wajahnya, aku tau mungkin dia lelah dan mengantuk karena memang untuk menuju kampungku butuh 4-5 jam.
"Apa kamu lelah Man?, apa sebaiknya kita berhenti dulu dan istirahat". Kataku yang khawatir akan kondisinya.
"Iya..., sepertinya memang kita harus istirahat dulu". Jawabnya.
Lalu kita berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan, Firman yang kala itu langsung menyegarkan badanya serta menghirup udara puncak pegunungan karena kebetulan kita sudah sampai di daerah puncak, kira-kira sebentar lagi untuk sampai di kampungku.
Aku langsung memesankan nya segelas kopi dan dia pun datang duduk di sampingku. Sejenak setelah dia kelihatan baik-baik saja mau tidak mau aku harus menanyakanya, terserah nantinya dia mau menjawab apa tidak, yang jelas difikiranku kala itu aku harus menanyakanya.
"Man..., boleh aku bertanya?". Kataku ragu-ragu.
"Kamu mau bertanya apa Yonk, katakanlah aku siap menjawab...". Ujarnya sambil meraih tanganku kemudian dia menggenggam nya.
"Hmm.... Apa kabar dengan Astrid?". Kataku yang akhirnya berani menanyakanya.
Namun tiba-tiba saja raut wajah Firman berubah seketika dari awalnya senyum ceria kini berubah datar tak tentu.
"Ohhh Ya Allah...! apa dia marah?". Suara batinku ketakutan.
__ADS_1