
Kami bertiga aku, Rico dan Firman yang tepat berada sejajar di hadapanku, suasana jadi aneh pandangan Firman terhadap kami yang menurutku dia tidak menyukainya matanya yang tidak lepas dari aku dan Rico.
On Firman...
Mobil Firman telah berhenti di parkiran khusus direktur, lalu dia keluar dan melangkah menuju pintu gedung kantor yang saat itu tepat di jam 7. 30. Langkah kakinya terburu-buru bukan karena ada rapat atau urususan kantor melainkan ia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Vida. Entah kenapa setelah ia bertemu dan kembali bersama Vida ia merasa hidupnya telah lengkap, karena tidak ada yang lebih berarti hanya dia yang bisa membuatnya bahagia.
Sesampainya di atas Firman kesana kemari mencari sosok Vida, dia mengecek keruanganya serta ruangan Rico namun yang di cari tetap tidak ada lalu dia bergegas ke pantri.
"Mungkin Vida ada di sana". Gumamnya
Namun setelah tiba disana Vida jg tidak ada. "Kemana dia..?". Ujarnya.
Firman berjalan kembali keruanganya namun tepat depan pintu dia berpapasan dengan Susi yang saat itu Susi baru aja datang.
"Ha.. Kok Pak Firman udah datang, tumben inikan masih pagi". Ujar Susi dalam hati. Dia sedikit kaget karena direkturnya itu sudah datang.
"Pagi Pak...!". Sapa Susi
" Ia pagi juga..". Jawab Firman
" Apa kamu melihat Vida apa dia sudah datang..?" Tanya Firman dengan penasaran.
" Ahh.. Iya Pak, tadi saya melihatnya dia sedang berada di belakang kantor mungkin sedang membuang sampah". Kata Susi yang memang sempat melihat Vida di belakang kantor sewaktu dia berjalan menuju lift.
" Tapi kenapa Bapak mencari Vida, apa ada masalah atau Vida membuat kesalahan". Tanya Susi penasaran.
" Ah tidak, aku hanya ingin bertemu dengannya". Jawab Firman.
__ADS_1
Sedikit heran dan mengerutkan alis Susi penasaran ada apa dengan mereka berdua. Sekertaris Firman ini memang sangat ingin tau ada apa dengan Firman dan Vida karena belakangan ini dia sering memergoki mereka sedang berdua, Susi curiga kalau mereka berdua ada apa-apanya, tapi Susi sendiri tidak berani menanyakannya pada Vida apalagi sama Firman atasanya sendiri jadi lebih baik dia mencari tau sendiri dan mengamati mereka berdua, Susi yakin suatu saat pasti dia akan tau sendiri.
Setelah lift terbuka Firman bergegas masuk dan memencet tombol paling bawah, entah kenapa hari ini dia sangat ingin bertemu dengan Vida.
Sesampainya di bawah Firman bergegas mencari Vida menuju belakang kantor, namun tidak beberapa saat dia sampai dia mendengar ocehan dan hinaan Ella terhadap Vida. Amarah Firman memuncak tak kala ia mendengar Vida direndahkan orang lain batinya tidak terima ingin rasanya ia berjalan menghampirinya, menampar dan memberi pelajaran terhadap Ella namun, ia urungkan karena ia sangat menghargai Vida orang yang sangat dia cintai, dia tidak mau mempermalukan Vida di depan orang lain dia memilih diam ada saatnya nanti untuk dia memeberi pelajaran sama Ella orang sudah berani menyakiti Vida.
Kedua tangan Firman mengepal dengan erat dia geram melihat pemandangan yang ada di hadapanya namun ia harus menahan amarahnya dan bersabar karena ini menyangkut harga diri Vida.
Tak lama Vida berbalik badan dengan beruraian air mata hatinya begitu hancur dengan kata-kata Vida, dia terkejut atas keberdaan Firman yang dari tadi berdiri melihat semuanya. Dengan cekatan Firman meraih tangan Vida dan membawanya ke ruanganya.
Sebenarnya Firman pun bingung sikap apa dan harus bagaimana menghadapi Vida sekarang dengan keadaan seperti itu justru dia harus berhati hati agar dia tidak tersinggung, Firman takut Vida malah menjauhinya karena perkataan Ella. Jadi dia lebih baik diam dan bersikap wajar saja.
Dan ya... Benar apa yang ada dalam fikiran Firman, Vida hanya terdiam dan menghindari tatapanya. Fiman mencoba lebih memperhatikanya namun Vida seakan ingin menjauh dan pergi meningalkanya.
"Tidak..., ini tidak boleh terjadi aku harus mencari cara agar semua kembali seperti semula, Vida sudah mulai luluh kembali padaku aku tidak rela jika dia harus kembali menjauh, aku tidak mau...!!". Batin Firman
"Ceklek...!". Pintu ruangan terbuka pertanda Rico sudah datang.
"Ada apa..?". Kata Rico sambil berjalan lalu duduk di hadapan Firman.
" Tolong kamu cari tau OB yang bernama Ella dan suruh dia kemari menghadapku". Perintah Rico.
"OB...?, Kenapa akhir-akhir ini kamu tertarik sama para OB disini?, apa semenarik itu ya sekarang OB di sini?, hee...!" Jawab Rico dengan rasa penasaran dan ya bukan Rico namanya kalau tidak bikin bosnya itu tambah marah, tapi semua itu tentu dengan nada humorisnya Rico tau kalau sahabatnya itu sedang kesal makanya dia sedikit mengajaknya bercanda.
Tidak butuh waktu lama Rico sudah mendapatakan apa yang Firman inginkan, Rico memang suka bercanda tapi dalam hal pekerjaan dia selalu gesit dan selalu memberikan hasil yang baik, untuk itulah Firman menjadikannya asistennya.
Di dalam ruangan Firman sudah ada Ella yang berdiri mematung mengahadap Firman , dengan kepala menunduk dan tanganya yang gemetaran sepertinya Ella sadar atas kesalahanya mengapa dia di panggil kesini menghadap bosnya itu.
__ADS_1
Sedangkan di sisi sebelah Firman, Rico berdiri menunggu sesuatu apa yang akan sahabatnya itu lakukan pada Ella.
" Kamu tau kenapa kamu dipanggil kemari?". Tanya Firman dengan tegas.
" I..i..iya Pak, saya tau". Jawab Ella dengan rasa takut.
"Oke.. bagus kalau kamu sudah tau, saya jd tidak perlu panjang lebar menjelaskanya". Kata Firman sambil memainkan pena nya.
" Pecat dia!". Perintah Firman pada Rico
Sebenarnya Rico tau kalau ujung-ujungnya bakal seperti ini, tapi mungkin bosnya itu ingin melihat reaksi dari wajah Ella nya sendiri dan mudah mudahan ini jadi pelajaran buat Ella agar tidak semena-mena terhadap siapapun.
"Tapi Pak saya minta maaf, tolong jangan pecat saya". Ella memohon pada Firman agar jangan di pecat.
Tapi semua orang tau watak Firman sekali keputusan yang dia buat sudah tidak bisa di ubah lagi.
Setelah memecat Ella Firman ingin semuanya selesai, ia berharap hubungannya dengan Vida kembali membaik.
Tapi, setelah apa yang dia lihat di hapanya saat ini Rico dan Vida berjalan berdua mereka seperti sudah akrab satu sama lain, tidak ada rasa canggung dimata Vida terhadap Rico begitu pula sebaliknya.
Ada sedikit rasa khawatir dalam hati Firman melihat kedekatan mereka berdua.
Of Firman...
Aku sedikit kaget melihat ada Firman dihadapanku dan Rico, namun keputusanku untuk menghindarinya sudah bulat aku gk mau nanti beredar gosip yang aneh aneh lagi.
" Mari Pak Rico...!?". Aku mengajak Rico untuk terus berjalan menuju kantin, dan aku memilih berjalan melalui Firman di hadapanku tanpa menatapnya lagi.
__ADS_1