Cinta Seorang Mantan TKW

Cinta Seorang Mantan TKW
Tersadar


__ADS_3

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur berdampingan dengan Nia yang dari tadi sibuk teleponan dengan pacarnya, hari ini sungguh melelahkan buatku pekerjaan dan juga hati ku yang sepertinya sudah lelah untuk memikirkan semuanya.


Sikap Firman yang sudah terang-terangan padaku malah semakin buat aku bingung, melanjutkan hubungan yang dulu pernah putus tidak dapat aku terima begitu saja justru aku malah semakin susah untuk menerimanya banyak hal-hal baru yang harus aku terima dari Firman, dan juga ada keadaan baru dari Firman yang belum aku ketahui.


Astrid, kemana dia pergi?, jika memang mereka sempat mau bertunangan itu artinya hubungan yang terjalin dari dulu itu masih belum terputus, tapi kenapa pertunanganya batal?


Pertanyaan demi pertanyaan hadir di dalam pikiranku, sebelum aku metuskan apa yang harus aku lakukan untuk Firman sepertinya aku harus tau dulu jawaban dari semua pertanyaanku.


"Hmm..., apa aku harus menanyakan semuanya sama Rico?". Gumam batinku.


"Aahh..., jangan!, itu tidak baik". Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sendiri di atas bantal.


Selain itu aku juga tidak mau melibatkan Rico pada masalah aku dan Firman meskipun aku tau kalau Rico pasti tau tentang masalah batalnya pertunangan Firman dan Astrid.


Aku menatap ke atas langit-langit di dalam kamarku dan mengambil ponselku dari meja di samping tempat tidurku, aku buka gallery poto di ponselku dan kupandangi poto dan vidio anaku Nilam.


Yaa, di saat hati dan pikiranku sedang gelisah hanya itu yang bisa kulakukan sebagai obat agar aku bisa tersenyum serta suasana hatiku sedikit membaik.


"Vida..!". Panggil Nia yang berada di sampingku.


"Hemm..!". Jawabku yang masih fokus ke layar ponsel yang ku pegang.


"Kamu tau?, akibat kejadian tadi sore saat kamu di antara dua orang yaitu pak Firman dan pak Rico saat itu semua orang di sana membicarakanmu bahkan mereka menggosipkan mu yang tidak-tidak". Ujar Nia


Aku menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya.


"Iya aku tau itu?". Kataku singkat.


Iyaa, aku sadar akan hal itu karena aku juga sadar siapa aku, tapi biarlah orang-orang mau berbicara apa tentangku karena mereka sendiri tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.


"Kkrriiinnggg....!". Alerm jam berbunyi bertanda sudah jam lima pagi.


Aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu aku sholat subuh berdo'a dan memohon supaya kerjaanku hari ini di berikan kelancaran.

__ADS_1


Setelah semua kerjaanku selesai aku mengambil tas dari dalam kamarku, kulihat Nia sedang memoles wajahnya.


"Nia, aku berangkat dulu yaa?!", jangan lupa sarapan!". Pamitku pada Nia.


Jarum jam baru menunjukan pukul 06:25 menit masih terlalu pagi untuk aku berangkat.


"Lebih baik aku jalan kaki saja sampai lampu merah depan, lumayan bisa sambil olah raga". Gumamku sendiri.


Aku berjalan menyusuri pinggiran jalan raya yang saat itu masih terbilang sepi karena belum banyak orang berkendara, udaranya juga masih segar belum ada bau dari asap-asap kendaraan, sampai di perbatasan lampu merah baru aku menaiki angkot menuju kantor.


"Mudah-mudahan semuanya lancar, amiinn". Batinku berdo'a.


Setibanya di kantor aku langsung menuju lantai atas untuk mengerjakan tugasku, mbak Ningsih belum datang mungkin karena saat itu masih pagi.


Ruangan demi ruangan aku bersihkan, dan saat membersihkan ruangan terakhir yaitu ruangan pak Rico, mbak Ningsih membuka pintu dan tersenyum.


"Pagi mbak...!". Sapaku.


"Pagi juga!, sepertinya suasana hatimu sedang bahagia?". Tanya mbak Ningsih.


"Memang apa do'amu?". Tanya mbak Ningsih yang kemudian membantuku bekerja.


"Rahasia hee.., tapi yang pasti hari ini aku ingin melupakan sejenak pikiranku ban bisa bekerja dengan baik". Ungkapku.


"Amiinn...". Jawab mbak Ningsih.


Aku tersenyum lebar mendengar satu kata itu, sedikit tapi ada begitu banyak arti dan makna yang ada di dalamnya.


"Mbak aku buang sampah dulu ke bawah!". Pamitku sambil menenteng dua kantong plastik hitam di tanganku.


"Heemm..". Jawab mbak Ningsih.


Setelah lift terbuka aku berjalan menuju belakang kantor karena di situlah tempat sampah-sampah bergunukan yang nantinya ada mobil khusus yang memuatnya.

__ADS_1


Saat aku mencuci tanganku di sebuah keran air yang terletak tidak jauh dari gunukan sampah itu, terlihat Ella yang berjalan membawa kantong plastik yang sama.


Sebenarnya aku bukan tidak ingin menyapa atau tersenyum padanya, tapi dari lirikan matanya yang tajam sinis padaku membuat hati ini yakin kalau Ella tidak ingin aku sapa atau pun tersenyum sepertinya lebih baik aku pura-pura tidak melihatnya.


Ella lalu melempar kantong plastik tersebut tepat di gunukan sampah lalu dia menghampiriku untuk mencuci tangan. Karena aku sudah mencuci tanganku lebih dulu maka aku pergi melangkah meninggalkan Ella.


"Ternyata kamu pintar juga yaa?, tidak cukup satu tapi dua-duanya sekaligus. Kamu itu doyan apa serakah?". Kata Ella sinis sambil mencuci tanganya.


Sebenarnya aku tau apa permasalahanya hingga Ella mengatakan semua itu padaku, jadi aku memilih diam tidak menanggapi ejekan Ella tersebut.


"Kasihan yaa almarhum suamimu melihat istrinya disini kegatelan sama dua orang laki-laki sekaligus". Kata Ella lagi.


Degg...


Aku langsung menghentikan langkahku mendengar Ella menyebut almarhum suamiku, aku merasa tidak terima karena Ella menyebutnya saat itu.


Aku membalikan badanku dan melangkah mendekati Ella.


"Kamu boleh mengejek dan menghinaku disini, tapi tolong jangan bawa-bawa suamiku karena dia sudah tenang disana". Kataku


"Kamu yakin dia sudah tenang melihat tingkah mu di sini?". Tanya Ella sinis.


"Apa maksudmu?". Tanyaku balik.


"Biar suamimu tenang disana, sebaiknya kamu pergi urus anamu jangan hanya asyik pacaran disini, kamu lupa sama statusmu kalau kamu itu janda beranak satu". Kata Ella dengan jari telunjuknya yang menunjuk-nunjuk ke arah dadaku.


Aku terdiam mendengar kata-kata Ella tadi, entah kenapa apa yang di katakan Ella itu semuanya benar, aku menelantarkan anaku dan bekerja di sini, tapi apa yang ku lakukan disini aku malah memikirkan perasaanku sendiri sedangkan di sana Nilam, aku tidak tau perasaanya bagaimana.


Aku tidak membalas lagi perkataan Ella tadi karena benar atau tidak kata-kata Ella telah menyadarkanku akan semua hal yang terjadi. Selama ini aku hanya memikirkan Firman dan perasaanku tidak memikirkan anaku yang sudah jadi tanggung jawabku.


Hiikks...hikkss...hikkss...!


Aku berbalik dari hadapan Ella dan berjalan pergi namun langkahku terhenti saat aku lihat tepat di hadapanku ada Firman berdiri dan melihat ke arah wajahku yang sudah terisak menangis.

__ADS_1


Sepertinya Firman sudah berada di situ sejak tadi jadi dia mungkin mendengar semuanya.


__ADS_2