Cinta Seorang Mantan TKW

Cinta Seorang Mantan TKW
Hati Yang Tidak Menentu


__ADS_3

Malam sudah semakin larut kulihat jam tangan yang kupakai di tangan kiriku sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Aku menghela nafas entah mengapa saat itu aku ingin segera cepat sampai rumah.


Duduk berdua bersama pak Rico di dalam mobil bukanlah hal yang baik untuk hatiku di tambah mengingat kejadian tadi dimana pak Rico memeluku sangat erat meskipun niatnya untuk menolongku tapi aku merasa ada sesuatu dari tatapanya saat itu.


Sesekali aku melirikan mataku ke arah pak Rico, tapi sepertinya pak Rico baik-baik saja tidak seperti aku yang gelisah karena merasa tidak nyaman atas kejadian itu.


"Aahhh yaa, sepertinya itu cuma perasaanku saja!". Gumam batinku .


Namun kali ini lirikan mataku tertangkap basah oleh pak Rico, dengan cepat ku palingkan wajahku ke arah jendela mobil.


"Apa kamu baik-baik saja?". Kata pak Rico.


"Hem, saya baik-baik saja pak, terima kasih karena tadi bapak sudah menolong saya". Ucapku dengan tersenyum.


Pak Rico tidak menjawabnya tapi dia membalasnya dengan senyuman yang merekah dari bibirnya.


"Oo ya.., apa kamu mau jadi temanku?". Tanya pak Rico.


"Teman?, maksud bapak?". Tanyaku balik.


"Iyaa teman, hmmm seperti teman ngobrol atau teman jalan-jalan seperti teman-teman kamu juga". Kata pak Rico


"Apa bapak yakin mau bereteman dengan saya?, saya kan cuma seorang OB, dan saya tahu pasti bapak sudah mengetahui semuanya tentang masa lalu saya, apa bapak tidak merasa malu kalau harus berteman dengan seorang mantan TKW?". Kataku.


"Kenapa aku harus malu, aku tidak pernah memandang orang dari masa lalunya atau pun statusnya karena buatku yang penting nyaman dan enak di ajak ngobrol". Ungkap pak Rico.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan pak Rico, aku sedikit kaget dengan pernyataanya ternyata benar apa kata orang-orang di kantor pak Rico adalah orang yang baik bahkan lebih baik dari perkiraanku.

__ADS_1


"Berhenti di depan gang pak!". Titahku.


"Oke..!". Kata pak Rico sambil meminggirkan mobilnya dan memberhentikanya tepat di gang menuju kontrakanku.


"Terima kasih karena pak Rico sudah mengantarkan saya pulang". Ucapku dengan senyuman, lalu aku keluar dari mobil pak Rico.


"Tunggu...!". Kata pak Rico


"Iya pak?". Kataku dari luar jendela mobil.


Pak Rico keluar dari dalam mobilnya


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi?". Kata pak Rico.


"Kenapa pak Rico mau berteman dengan saya?". Tanyaku balik.


Aku tersentuh mendengar ucapan pak Rico, baru kali ini ada orang yang mengerti dan mengakui semua perjuangan yang aku lakukan selama ini. Aku hanya terdiam dan tersenyum sepertinya aku tidak bisa lagi berdebat sama pak Rico.


"Tenang..., aku tidak akan mengambil hatimu karena aku tau hatimu sudah dimiliki Firman, heee". Kata pak Rico lagi dengan sedikit tertawa.


Saat mendengar perkataanya itu entah kenapa ada rasa bersalah tapi aku tidak mau percaya diri karena aku tau pak Rico hanya bersimpati padaku.


"Baiklah, aku mau berteman sama pak Rico". Jawabku sambil tersenyum.


"Oke..., kalau begitu karena kita sudah berteman, bisa tidak jangan memanggilku pak Rico, panggil saja Rico!". Kata pak Rico.


"Hemm baiklah Rico". Kataku sedikit tertawa.

__ADS_1


"Derrtt...derrtt...!". Suara panggilan dari poselku.


Aku langsung mengambilnya dari dalam tas dan mengangkatnya.


"Halo..!. Jawabku


"Iya halo.., apa kamu sudah sampai rumah?". Tanya Firman


"Iya, ini baru sampai". Kataku


"Syukur kalau gitu, aku hanya ingin tau apa Rico membawamu pulang dengan selamat atau tidak?!". Kata Firman


"Alhamdulilah pak Rico membawaku pulang dengan selamat". Kataku sambil melirik ke arah pak Rico di depanku.


"Iya sudah kalau gitu, sampai bertemu besok di kntor!". Ucap Firman.


"Hhmm, hati-hati di jalan!". Kataku lalu menutup telponnya.


Aku kembali terdiam di depan pak Rico.


"Kalau begitu aku pulang dulu!". Pamit pak Rico sambil berjalan masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan pak, ehh.., Rico!". Aku melambaikan tangan dan tersenyum, pak Rico pun pergi menghilang dari hadapanku.


"Apakah yang kulakukan ini sudah benar?". Gerutuku.


"Kenapa di saat hatiku masih belum menentu untuk Firman karena aku masih memikirkan Astrid, apa dia akan kembali atau tidak ke hidupnya Firman, kini malah datang seseorang yang katanya mau berteman denganku, Yaa.. mudah-mudahan cukup hanya berteman tidak lebih, karena Rico juga percaya kalau hatiku milik Firman yaaa milik Firman".

__ADS_1


__ADS_2