
Dalam perjalanan pulang aku dan Firman hanya terdiam tidak ada yang bersuara di anatara kami, aku hanya termenung dengan menyenderkan kepalaku ke kursi belakang mengingat kejadian tadi. Ada rasa gelisah tentang apa yang dikatakan Firman saat itu, entah mengapa permintaan maafnya malah semakin hati ini takut setelah sekian lama aku berusaha untuk melupakanya dan menghindarinya kenapa dia kembali di saat keadaan semuanya berbeda.
"Dengan aku memaafkanya apakah hubungan ini akan sama seperti dulu? bukankah kita sudah berada di jalan masing-masing, banyak perubahan di antara aku dan dia yang membuat kami jadi berdeda. Akankah dia mau menerima perbedaan ini? banyak yang dia belum ketahui tentang diriku yang sekarang.
Tapi kenapa dia masih memanggilku dengan sebutan "yonk" ?, apakah dia masih menginginkanku?". Suara batin dan pikiranku yang terus saja bergelut.
"Berhenti disini saja pak!". titahku karna kulihat jalan menuju kontrakanku sudah dekat.
"Disini?". Ucap Firman dengan meminggirkan mobilnya.
"Apa ini rumahmu?". Firman kembali bertanya.
"Bukan pak, bukan yang ini tapi disana masih harus berjalan sedikit lagi tapi mobil bapak tidak bisa masuk karena jalanya terlalu sempit". Ucapku sambil menunjukan jalan yang berukuran kecil di hadapanku.
"Kalau begitu biar aku antar sampai rumahmu!". Tawar Firman.
"Gak usah pak, saya bisa sendiri, sebaiknya bapak pulang karena ini juga udah malam nggak enak dilihat tetangga". Aku menolak tawaran Firman karena bukan itu saja alasanku, tapi aku yakin sekarang Nia disana juga sedang menunggu penjelasanku, aku juga tidak mau dia malah semakin berpikiran yang tidak-tidak.
"Hhmm.., bukankah aku sudah minta maaf?", ucap Firman
"Bisakah semuanya kembali biasa-biasa saja?", tanya Firman
__ADS_1
"yaa aku tau tidak mudah untuk kita seperti dulu lagi, tapi setidaknya bisakah kamu untuk berhenti memanggilku bapak? kamu tau, setiap kali kamu memanggilku dengan sebutan itu aku merasa aku tuh sudah tua hee...". Dengan memasukan satu tangannya ke dalam saku samping celananya, Firman tertawa kecil aku tau dia sekarang mencoba menggodaku.
"Bukankah bapak emang sudah tua yaa? heee..?". Aku juga mencoba mencairkan suasana.
"Apa kamu sedang meledeku sekarang hhmm..?". Canda Firman.
Aku tidak menjawabnya, aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil.
"Kalau begitu saya permisi pak, dan sebaiknya bapak juga pulang". Titahku pada Firman.
"Hmmm baiklah", Firman mengangguk.
"Baru kali ini aku di usir oleh seorang wanita biasanya aku yang mengusir mereka, hee..". Firman bercanda dan tertawa lepas.
Firman lalu berjalan dan masuk ke dalam mobil dan aku juga berbalik serta mulai melangkah berjalan.
"Vidaa..!" Firman memanggilku dari dalam mobil.
"Iya pak!". Aku berbalik karena mendengar Firman memanggilku kembali, lalu aku sedikit menunduk supaya bisa melihatnya di dalam mobil.
"Aku senang bisa bertemu lagi dengan mu". Ucap Firman sambil melambaikan tangan disertai dengan sebuah senyuman, dan entah kenapa senyuman itu malah menusuk jantungku yang tiba-tiba saja berdetak sangat kencang.
__ADS_1
Firman sudah pergi dari hadapanku tapi aku masih berdiri mematung memandangi mobil Firman yang sudah akan menghilang dari pandanganku. Perasaanku saat itu campur aduk antara bahagia dan takut, bahagia karena kini aku melihatnya lagi tapi aku juga takut karena mungkin keadaanku yang tak bisa melihatnya lagi.
"Assalamu'alaikum..." Salamku saat tiba di kontrakan dan membuka pintu
"Wa'alaikumsalam...". Balas Nia yang berdiri tepat di belakang pintu.
"Kamu ngapain di situ jagain pintu?". Ucapku yang langsung duduk di kursi sambil memegang kepalaku yang rasanya akan pecah saat itu juga.
"Bukankah kamu berhutang padaku?". Ucap Nia yang masih berdiri di hadapanku dia juga melipatkan kedua tangan dan menyimpanya di bawah dadanya. Yaa aku tau dia sedang marah dan butuh penjelasan tentang apa yang terjadi tadi.
" Aahh oke baiklah, aku akan menceritakan semuanya tapi kamu harus janji, kalau mulut kamu itu jangan ember!!". Kataku
Setelah itu aku menceritakan semuanya pada Nia, dari pertama aku bertemu dengan Firman, terus kami pacaran hingga akhirnya dia menduakanku lalu kami putus dan sampai dimana aku meninggalkannya, tapi kini entah ini takdir atau bukan dengan tanpa sengaja kami bertemu lagi di tempat kerja yang sama.
Nia terdiam mematung dengan mulutnya yang terngangak dia seperti tidak percaya atas apa yang ku ceritakan padanya lalu dia menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya. Sepertinya dia tidak menyangka kalau direktur di kantor tempat ia bekerja adalah mantan pacarku, dan aku adalah cinta pertamanya yang selama ini jadi rumor di kantornya.
"Yaa ampun Vida, aku nggak nyangka sama semua cerita kamu ini aku pikir kisah ini hanya dalam novel saja dan apa yang di katakan pepatah itu ternyata salah kalau dunia itu tidak selebar daun kelor". Kata Nia yang masih duduk dan tak percaya.
"Sudahlah aku mandi dulu dan akan langsung tidur hari ini aku capek". Kataku sambil beranjak dari kursi menuju kamar.
Ke esokan harinya seperti biasa, aku bangun pukul 5 pagi melaksanakan kewajibanku dan langsung membuat sarapan, entah kenapa suasana hatiku saat ini sangat bahagia apalagi kalau tadi malam sebelum tidur aku sempat chat-an dengan adiku. Dia bilang kalau anaku baik-baik saja dan sekarang dia jadi lebih penurut meski sekarang agak sedikit bawel pada neneknya.
__ADS_1
Mendengar kabar dari rumah di kampung kalau semua baik-baik saja adalah sesuatu yang buat aku bahagia di tambah dengan mengingat kejadian tadi malam rasanya cukup kalau hari ini di awali dengan rasa kebahagiaan.