
Pukul 6 pagi aku sudah mulai bersiap-siap selesai membuatkan sarapan untuk Nia aku langsung pergi berangkat karena aku bekerja sebagai OB otomatis aku harus berangkat lebih pagi sebelum para karyawan, tanpa menunggu Nia aku langsung pergi menggunakan angkutan umum tak terasa sudah 1bulan lamanya aku bekerja disana.
Dengan penuh semangat aku mulai bekerja dari mulai membereskan meja-meja kantor menyapu dan mengepel "kamu bekerja dengan sangat bagus Vida.." puji Mbak Ningsih. Mbak Ningsih adalah Senior dia yang mengajariku dan memberitahu apa2 aja yang harus aku kerjakan dia sering memujiku karena hasil pekerjaanku yang sangat baik akupun tidak pernah membantah apa yang di perintahkan olehnya, itulah kenapa dia sangat baik padaku dan akhir-akhir ini kami jadi sering bersama-sama.
Pagi itu Pak. Hendri memerintahkan Mbak Ningsih untuk membersihkan lantai 25 tepatnya adalah ruang direktur, Mbak Ningsih membawa lima orang OB untuk membantunnya dan sekaligus untuk melatih para OB baru seperti aku. Sesampainya diruang direktur kami disambut dengan sekertaris direktur yaitu Susi. "Oke Mbak, tolong bersihin semua ruang Pak Direktur yaa karena seminggu lagi beliau pulang" perintah Susi kepada Mbak Ningsih. "Baik Bu..!" Mbak Ningsih sambil mengangukan kepalanya. "Tolong kalian bekerja dengan hati2 yaa, karena Pak Direktur kita tidak suka dengan keruksakan, jangan ada debu2 sedikit pun karna Pak Direktur tidak suka hal2 yang kotor dan tidak rapi, hmmmm satu lagi kalian jangan mengubah apapun yang ada diruangan ini karena Pak Direktur juga tidak suka dengan perubahan, mengertiii...!!!" perintah Mbak Ningsih dengan pengarahanya. "Mengerti Mbak...!" jawab kami dengan serentak.
__ADS_1
Setelah mendengar pengarahan dari Mbak Ningsih semua berpencar mengerjakan pekerjaanya masing2, termasuk aku yang saat itu membersihkan meja dan kaca jendela.
Setela membersihkan kaca2 dan membersihkan debu2 dari sebuah lemari, aku beranjak hendak menuju meja direktur tapi langkahku terhenti kala melihat sebuah papan nama di atas meja M. FIRMAN ARDIANSYAH, S.Pd, M.E. "Nama itu..?" gumamku.
Jam sudah menujukan jam makan siang, dan akhirnya pekerjaan kami diruangan tersebut juga sudah beres.
__ADS_1
Semua orang berhamburan keluar ruangan untuk mengisi perut mereka masing-masing. Setelah menyimpan alat-alat pembersih aku pergi ke kantin lalu duduk di sebuah meja di pojok belakang karena pikiranku sangat kacau dan bingung saat itu aku hanya pesen segelas es teh manis saja selera makanku hilang setelah aku melihat sesuatu yang menurutku aneh. "Kamu nggak makan Da..?" suara Mbak Ningsih membuyarkan lamunanku entah sejak kapan dia ada dihadapanku. "Ahh nggak Mbak aku nggak lapar, maaf ya Mbak aku ke mushola dulu". Aku pamit sambil beranjak dari tempat dudukku tapi setelah beberapa langkah tiba2 "Bbbrruuuaakkk.....!!!" aku terjatuh karena tak sengaja menyandung kaki seseorang entah kenapa kaki itu ada disaat aku melangkah, saat aku lihat siapa yang punya kaki itu ternyata Ella yang sengaja menjulurkannya supaya aku terjatuh. "Oopss..!!! maaf aku gk sengaja..!" ujar Ella dengan nada sinis. Ella adalah seorang OB juga namun dia masuk lebih awal sebelum akhirnya aku datang. Entah kenapa dari hari pertama aku bekerja sampai sekarang tatapan dan sikap Ella menujukan seperti orang yang tidak suka.
Akupun bangun dan berdiri dihadapan Ella, Ella pun sama dia langsung berdiri menghadapku "Apa maksudnya ini La..?" aku mencoba bertanya dengan baik-baik pada Ella. "nggak maksud apa-apa, hanya ingin tau aja, apa saat kamu menjadi TKW diperlakukan seperti ini juga..?" jawaban Ella yaa semua OB tau kalau aku mantan TKW. Ucapan Ella saat itu benar-benar melecehkanku sebagai seorang mantan TKW. Aku hanya diam mencoba untuk sabar dengan mengepalkan kedua tanganku. "Seharusnya kamu itu bukan bekerja disini tapi di A*****b sana tuuhh mandiin onta haaaaa". Ledekan Ella lagi dan kali ini teman-temanya pun ikut tertawa.
Kali ini semua perkatanya begitu menyakitkan buatku sekujur tubuh ini bahkan bergetar setelah mendengarnya karena pikiranku sedang sangat kacau saat itu aku tidak bisa menahan emosi hingga hilang kesabaranku tiba tiba dengan reflek tanganku melayang ingin menampar Ella, tapi sebuah tangan lain menghadang menangkap tanganku.
__ADS_1