
Setelah dua hari aku izin tidak masuk kerja kini keadaanku sudah baik-baik saja, ku putuskan untuk pergi bekerja hari ini meskipun tubuhku masih terasa lemah tapi aku merasa tidak enak kalau harus izin lama-lama.
"Vida kamu benar-benar sudah baikan?, lebih baik kamu istirahat aja dulu satu hari ini biar aku yang bicara nanti sama pak Hendri". Kata Nia yang sedang sibuk merias wajahnya.
"Aku sudah tidak apa-apa, sebentar lagi kan gajihan jadi aku harus semangat, heee...!". Jawabku dengan sedikit tertawa.
"Kamu jadi nanti pulang kampung dulu?". Tanya Nia
"Hmm jadi, karena aku sudah rindu berat sama anaku Nilam". Jawabku
"Gimana hubungan kamu sama pak Firman?, apa kalian baik-baik saja?". Tanya Nia lagi
"Kami baik-baik saja, layaknya boss dan bawahan tidak lebih dari itu". Jawabku.
"Bukankah pak Firman sangat perhatian sama kamu?, sepertinya dia masih mengharapkanmu". Kata Nia.
Seketika aktifitasku di meja makan berhenti setelah mendengar pertanyaan Nia, yaa aku sendiri sadar kalau Firman masih mengharapkanku buktinya dari semenjak aku izin bekerja karena sakit entah berapa kali dia menelpon atau mengirim pesan dan aku menjawab serta membalas pesanya hanya seperlunya saja untuk saat ini aku tidak mau Firman berharap lebih.
Aku menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya, masih ada rasa takut dalam hati ini aku takut kalau apa yang terjadi dulu akan terulang apalagi setelah aku mendengar kalau Astrid masih berhubungan denganya.
Kini aku hidup tidak sendiri yang bisa seenaknya mengambil keputusan untuk diriku sendiri, sekarang aku punya Nilam yang sebenarnya dialah yang harus banyak mendapatkan kasih sayang, perhatian dan perlindungan.
Semenjak papahnya meninggal Nilam selalu menanyakan keberadaan papahnya karena dia belum cukup mengerti akan arti dari nasibnya selama ini, yang Nilam tahu bahwa papahnya sekarang berada jauh dan suatu saat mungkin akan kembali.
Untung saat ini dia berada di antara kakek dan neneknya yang bisa menjaga dan memberikan kasih sayangnya terhadap cucunya itu, sehingga Nilam tidak pernah bersedih atau merasa kehilangan atas kepergian papahnya.
"Aku berangkat duluan ya..!". Aku beranjak dari tempat duduku dan segera pergi yang jelas aku ingin menghindari pertanyaan Nia tadi.
"Ehh..!!, kamu belum jawab pertanyaanku!!!", teriak Nia
"Selalu aja menghindar kalau di tanya masalah perasaan. Vida..Vida sampai kapan kamu akan begini?". Gerutu Nia
Tiba di kantor seperti biasa aku dan mbak Ningsih berada di lantai atas tepatnya di ruangan Firman mengerjakan tugas kami masing-masing. Saat itu Firman belum datang jadi aku dan mbak Ningsih bekerja sambil ngobrol dan tertawa.
"Ceklek...!!". Suara pintu terbuka.
Firman membuka pintu dan masuk keruangan, dia tersenyum saat menyadari keberadaanku di ruanganya.
"Selamat pagi pak!". Sapaan mbak Ningsih
"Pagi pak!". Tuturku setelah mbak Ningsih.
"Pagi juga mbak!". Jawab Firman.
__ADS_1
"Apa kamu sudah benar-benar sehat?". Tanya Firman.
"Alhamdulilah pak saya sudah sehat". Jawabku, aku merasa tidak enak karena ada mbak Ningsih di sisiku, karena lirikan matanya yang di tuju ke arahku lalu ke arah Firman sedikit aneh.
"Aku tadi pagi telpon kamu, tapi tidak angkat". Kata Firman
"Uhuukk..uhukkk...!!"
Tiba-tiba saja mbak Ningsih terbatuk setelah mendengar ucapan Firman, sepertinya dia menyadari akan sesuatu.
"Aahh.., maaf pak, pekerjaan kami sudah beres di sini kami permisi!". Aku langsung menarik tangan mbak Ningsih untuk keluar ruangan.
Mbak Ningsih hanya terdiam melihat sikapku saat itu, aku tau kalau dia pasti akan banyak bertanya setelah ini.
Mbak Ningsih melihatku dengan sinis sambil melipatkan kedua tanganya di atas dada.
"Apa kamu tidak mau menjelaskan sesuatu padaku?". Tanya mbak Ningsih sinis.
Aku hanya terdiam sambil menatapnya kembali, yaa mau tidak mau aku harus menceritakan semuanya sama mbak Ningsih sebelum mbak Ningsih berpikiran yang tidak-tidak.
"Mbak, sebenarnya aku..aku..aku adalah kekasih Firman yang meninggalkanya sewaktu SMA, dan aku juga orang yang menyebabkan keadaan Firman seperti sekarang". Ungkapku.
Tapi entah kenapa reaksi mbak Ningsih biasa-biasa saja dia bahkan sepertinya sudah tahu semuanya tentang siapa aku.
"Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri karena ini sudah nasib pak Firman".Kata mbak Ningsih dengan memegang kedua pipiku oleh telapak tanganya.
"Apa mbak Ningsih sudah tahu semuanya tentang aku?". Tanyaku kaget setelah mendengar ucapan mbak Ningsih.
"Hemmm, aku sudah mengetahui semuanya bahkan sebelum pak Firman tahu kalau kamu ada di sini". Kata mbak Ningsih.
"Maksud mbak?". Tanyaku heran.
"Yaa, aku mulai menyadarinya setelah aku melihat ijazah SMA di surat lamaranmu, di situ tertulis nama sekolahmu yang sama dengan sekolah SMAnya pak Firman, aku yang mendekatkanmu sama pak Firman barulah setelah kalian bertemu pak Firman menceritakan semuanya". Ungkap mbak Ningsih.
Sekarang aku baru menyadari akan semuanya kenapa mbak Ningsih begitu baik padaku dan juga dia tidak pernah bertanya sejak kejadian Firman pingsan.
"Lalu kenapa mbak pura-pura tidak tahu apa -apa, aku kan jadi malu". Kataku sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Karena aku ingin mendengar langsung darimu, untuk memastikan apa itu kamu atau bukan". Kata mbak Ningsih.
"Deertt...derrtt..!"
Ponselku berdering, tanda seseorang menelpon, lalu aku mengambilnya dari dalam saku celanaku.
__ADS_1
Firman....
Nama yang muncul di layar pnselku.
Aku melirik ke arah mbak Ningsih dan dia tersenyum.
"Iya halo..!". Aku menjawab
"Kamu lagi dimana...?". Tanya Firman
"Aku, aku lagi sama mbak Ningsih di aula". Jawabku
"Bisa kesini dulu sebentar?". Tanya Firman.
"Hemm, sebentar lagi aku kesana". Kataku lalu menutup telponya.
"Cieee..., sekarang bicaranya sudah aku... kamu..". Goda mbak Ningsih
Aku hanya tersenyum sambil berlalu pergi meninggalkan mbak Ningsih yang menertawaiku.
Tokk...tok...tok...!
Ceklek... Aku membuka pintu dan masuk ke ruangan Firman, saat itu seperti biasa dia sedang sibuk di meja kebesaranya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?". Tanyaku saat menghadap ke mejanya.
Firman lalu berhenti sama pekerjaanya dia lalu berdiri menghampiriku.
"Kemarin kamu bisa tidak memanggilku bapak, kenapa sekarang malah di ulang?". Kata Firman sambil mengambil tangan kananku dan di genggamnya.
"Ini di kantor saya harus profesional". Kataku dengan menarik tanganku kembali.
Firman lalu menatapku dan
"Brrukk...!"
Firman memeluku.
"Aku kangen sama kamu, aku kangen sama semua tentang kita dan aku juga MASIH MENCINTAIMU". Kata Firman yang terus memeluku.
Deggg...!!!
"Apa yang harus aku lakukan?". Gumam batinku.
__ADS_1